Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Sekedar untuk hiburan.
***
Ari seorang pemuda tampan penakluk wanita, suatu hari bertemu dengan gadis yang tak mudah ia taklukkan. Ia pun jatuh hati pada gadis polos bernama Vidya. Kesederhaan Vidya telah memikat hatinya dan iapun menikahi sang gadis.
Namun ternyata pernikahan tak mampu menghentikan petualangan cintanya. Ia merasa hambar dengan perasaannya terhadap Vidya. Diana, mantan kekasih terindah yang tak mampu ia hapus dari ingatannya, telah hadir menjadi orang ketiga dalam biduk rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu sahabat lama
"Kadang saya heran, saya waktu masih seusia kamu itu cantik lo, tapi kenapa suami saya bisa selingkuh?bahkan selingkuhannya yang hamil itu tidak lebih cantik dari saya. Dari situ saya belajar, bahwa perkara kecantikan itu tidak menjamin suami setia. Pernikahan ini sesuatu yang kompleks dan kadangkala rumit. Kita istri dituntut bisa membuat suami nyaman, membuat suami tenang, dll. Kalo dalam agama perintahnya: Kenyangkan suamimu dalam tiga perkara, Pertama kenyangkan matanya, kenyangkan perutnya dan kenyangkan bawah perutnya. Kadangkala kita berpikir, ribet amat jadi wanita. Enak dilaki-lakinya? Nggak gitu juga. Allah sudah mengatur sedemikian rupa posisi laki-laki dan wanita sesuai porsinya. Allah yang menciptakan kita semua jadi Allah tau karakter kita, Allah tau laki-laki itu seperti apa, nafsunya memang lebih besar dari wanita. Makanya Allah membolehkan laki-laki menikah sampai empat. Lagi-lagi kita mikir, enak donk jadi laki-laki?Nggak juga. Tanggung jawab mereka kelak berat di akhirat. Dosa yang diperbuat istri mereka ikut dimintai tanggung jawab. Dosa yang dibuat anak ya laki-laki alias bapaknya juga yang dimintai tanggung jawab kelak"
Vidya nampak menghela nafas mendengar penjelasan konselor tersebut.
"Tapi ibu akhirnya bercerai juga kan?" Vidya mengajukan pertanyaan.
"Iya terpaksa bercerai karena selingkuhannya hamil"
"Sayapun ingin bercerai bu"
"Oke saya teruskan dulu kisah saya pasca bercerai dengan suami. Tak mudah saya menjalani. Secara ekonomi, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja untuk membiayai hidup saya sendiri, kalaupun anak-anak dapat jatah dari bapaknya, tapi untuk diri sendiri saya harus bekerja. Diluar sana menyandang status janda itu berat, saya sering digoda oleh pria-pria yang beristri, jujur setelah sekian tahun menjanda, ada rasa kesepian, bahkan saya sempat hampir tergoda, saya hampir menerima pinangan untuk dijadikan istri kedua oleh laki-laki yang sudah memiliki anak dan istri. Luar biasa godaan dari pria-pria iseng saat posisi saya menjanda. Saya hampir tak kuat, dan hampir juga menjadi pelakor, ya karena itu tadi, ternyata berat menjadi janda itu. anak-anak juga kehilangan sosok ayahnya. Karena mereka hanya bisa bertemu satu kali dalam sepekan, itupun jika ayahnya sibuk, mereka ketemu hanya sebulan sekali" Ibu itu menghela nafas
"Saya memberikan nasehat ini bukan dari sisi psikologi semata, tapi dari pengalaman saya pribadi, bahwa menyandang status janda itu berat Nak Vidya, apalagi saya masih menarik saat itu. Jelas banyak laki-laki iseng yang mendekati saya yang hanya ingin menikmati tubuh saya tanpa berniat menikahi saya"
Vidya hanya diam mendengar nasehat panjang lebar dari konseler tersebut.
"Tapi semua keputusan kembali lagi pada Nak Vidya, saya hanya bisa memberi pandangan sesuai pengalaman yang pernah saya alami. Bukan berarti saya menyepelekan rasa sakit yang dialami oleh nak Vidya, cuma pertimbangkan kembali semuanya dari berbagai sudut pandang, banyak pasangan yang datang meminta saran dan nasehat, ada yang sudah suaminya selingkuh, masih bersikap cuek, tidak memberi nafkah, masih KDRT pula. Bila seperti itu masalahnya, mau tidak mau ya memang harus berpisah jalan satu-satunya, apa yang diharap kalo misal suaminya sudah seperti itu. Tapi kasus nak Vidya ini beda, suami diam-diam dibelakang melakukan perselingkuhan, namun sikap dia sama keluarga kan masih sangat baik serta bertanggung jawab. Ya saya sedih sebenarnya sama kenyataan yang terjadi di masyarakat kita ini, realitanya ya memang para suami itu rata-rata begitu, suka selingkuh, seribu satu yang benar-benar setia"
"Jadi menurut ibu saya harus memaafkan suami tanpa perlu memberinya pelajaran?"
"Ya kurang lebih seperti itu, jika memang mampu bertahan, ya cobalah bertahan dan saling perbaiki apa yang kurang dari kita. Dan yang terpenting adalah meminta kepada Sang pimilik hati, agar suami bisa setia, Allah yang maha membolak balikkan hati, bisa jadi saat ini suami pengkhianat siapa tau esok dia bisa setia?mintalah pada Allah"
Tenggorakan Vidya terasa kering. Bibirnya kelu dan seolah tercekat hingga tak bisa lagi berkata-kata. Dalam hati ia ingin memberi pelajaran kepada suaminya agar tak lagi semena-mena pada hatinya.
"Mungkin hanya nasehat itu yang biasa saya sampaikan, selebihnya mintalah petunjuk pada Allah. Semoga bisa mengambil keputusan yang terbaik"
"Insya Allah bu, saya permisi dulu, terima kasih" Vidya mengulurkan tangan dan kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
Saat ia berada diparkiran, ia melihat sosok yang ia kenal, perempuan bergamis dan berkhimar panjang itu tengah turun dari mobil yang sedang parkir tak jauh dari tempat Vidya berdiri.
"Loh...Mey...????Ya Allah kamu rupanya? Gak nyangka kita bisa ketemu disini?" Vidya bergegas menghampiri perempuan tersebut. Mereka kemudian bercipika-cipiki dan berpelukan sangat lama.
"Ya allah lama banget kita ga ketemu Vid..kamu apa kabar?" ucap Mey seraya tak berhenti menatap wajah sahabat lamanya itu dengan mata berbinar.
"Ngapain kamu disini?" Mereka bertanya secara bersamaan.
"Siapa yang harus jawab duluan nih?" Mey tertawa.
"Hmmmm...kayaknya kita perlu cari tempat yang nyaman untuk ngobrol?" usul Vidya.
"Tapi aku ada perlu dulu ke dalam, kamu kalo gak keburu, tunggu aku aja. Nanti kita ngobrol-ngobrol, gimana?"
Vidya memilih masuk kembali ke dalam kantor urusan agama tersebut dan ia menunggu dikursi tunggu yang ada di ruangan paling depan, sedangkan Mey terlihat masuk ke dalam ruangan yang tadi baru saja dimasuki oleh Vidya, agak lama Vidya menunggu. Sekitar 20 menit kemudian Mey terlihat keluar dari ruangan tersebut.
Mereka kemudian memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Sebuah cafe dengan konsep klasik menjadi pilihan mereka untuk sekedar memesan minuman ringan. Mereka kemudian duduk di sebuah kursi yang berbahan jati dengan ukiran khas jepara.
"Jadi gimana kabarmu selama ini, Mey? Aku tadi ngirim inbox di akun Facebook mu tapi kamu ga balas" Ucap vidya sesaat setelah mereka memesan minuman di cafe tersebut.
"Oh, aku udah lama gak update fb Vid..maklum lah, rempong, pulang kerja uda capek masih ngurusi pekerjaan rumah sama ngurus bocah-bocah" jawab Mey.
"Loh kamu kerja lagi tah Mey?" Vidya bertanya karena selama ini yang ia tau, sejak menikah dan memiliki anak, Mey sudah resign dari pekerjaannya.
"Hufttttt..." Mey terlihat menarik nafas panjang.
"Eh btw, kamu ngapain disana tadi Mey?"
Lagi-lagi Mey hanya mendesah lirih
"Panjang sekali ceritanya, Vid.." mata Mey terlihat menerawang jauh.
"Jadi aku udah lama cerai dengan suamiku" Ia tertunduk dan matanya terlihat mulai berkabut.
"Mey, sorry aku gak dengar kabar" Vidya menggenggam tangan sahabat lamanya itu.
"Gak papa Vid..mungkin udah jalan hidupku begini" mata Meylani terlihat mulai berkaca-kaca
"Apa yang terjadi pada kalian sampai kalian memutuskan bercerai?"
Bersambung
Yuk baca karya pertamaku " Aku Seorang Mafia" silahkan cek di profilku. semangat berkarya author ♥️