NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 JALAN MENJAUH DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA

 

Lin Mo melangkah meninggalkan desa kecil itu tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Cahaya ungu keemasan yang samar namun kokoh menyelimuti tubuhnya perlahan meredup tersembunyi kembali ke dalam kedalaman kulitnya, namun kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya tak pernah berkurang sedikit pun. Setiap langkah kakinya terasa ringan dan mantap seakan tanah di bawah kakinya bukan lagi tanah biasa melainkan jalan yang terbentang khusus untuknya. Angin berhembus lembut menerbangkan ujung jubah lusuhnya yang berkibar pelan bagaikan sayap yang siap membawanya terbang tinggi menembus awan.

Lin Mo berjalan terus menuju arah utara. Di sana, jauh di ujung benua itu, berdiri Kekaisaran Langit — tempat asal leluhurnya dan tempat di mana musuh-musuh ayahnya sedang bersiap menantinya. Ia tahu bahwa perjalanan itu sangat jauh dan penuh bahaya. Ia tahu bahwa ribuan mata musuh kini sedang mengawasi setiap gerak-geriknya. Namun Lin Mo tidak takut. Karena di dalam dadanya kini mengalir kekuatan darah keturunan yang paling mulia dan paling agung. Dan di hatinya tumbuh tekad yang tak akan pernah patah walau dihantam badai sekuat apa pun.

Setelah berjalan selama tiga hari tiga malam tanpa henti, Lin Mo tiba di kaki pegunungan yang tinggi dan tertutup kabut putih tebal sepanjang tahun. Udara di sini terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Namun bagi Lin Mo, hawa dingin itu terasa sejuk dan menyegarkan. Energi qi di dalam tubuhnya berputar perlahan dan seketika menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Setiap kali sejumput energi qi melesat keluar dari tubuhnya, ia berubah wujud menjadi energi spiritual yang berwarna ungu keemasan lembut, menyebar ke sekeliling dan menolak hawa dingin yang menusuk itu seketika.

Lin Mo mendongak menatap puncak gunung yang tersembunyi di balik kabut putih tebal itu. Di sana, di puncak yang tertinggi, konon terdapat sebuah kuil kuno yang telah ditinggalkan ribuan tahun silam. Orang-orang menyebutnya Kuil Awan Putih. Tempat itu dikatakan suci namun juga penuh bahaya karena jarang ada orang yang mampu mencapai puncaknya dan kembali dengan selamat. Namun bagi Lin Mo, tempat itu seakan memanggil namanya dari kejauhan. Cahaya ungu keemasan di dadanya berdenyut lembut dan semakin terang semakin ia mendekat.

"Ada sesuatu di sana... Sesuatu yang menungguku..."

Lin Mo berbicara perlahan kepada dirinya sendiri. Tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah menanjak menyusuri jalan setapak yang curam dan licin menembus kabut putih yang semakin tebal. Semakin ia naik, semakin tebal kabut yang menyelimuti sekelilingnya hingga pandangannya terbatas hanya beberapa langkah ke depan. Namun Lin Mo tidak membutuhkan mata untuk melihat. Hatinya telah menjadi panduan yang jauh lebih akurat dan jauh lebih dapat diandalkan daripada mata apa pun. Energi qi di dalam tubuhnya seakan memiliki mata sendiri yang mampu melihat segala sesuatu di balik kabut tebal itu dengan sangat jelas.

Setelah mendaki hingga larut malam, Lin Mo akhirnya tiba di puncak gunung yang luas dan datar. Di tengah dataran itu berdiri sebuah kuil batu putih yang megah namun tampak tua dan sepi. Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran naga dan awan yang sebagian telah rusak dimakan waktu. Pintu utamanya terbuka lebar seakan telah menantinya sejak lama sekali. Cahaya bulan purnama yang terang benderang menyinari halaman kuil yang luas dan bersih dari rumput liar seakan tempat itu selalu dijaga meskipun tak ada penghuninya.

Lin Mo melangkah masuk ke dalam kuil itu dengan langkah yang tenang dan penuh hormat. Di aula utama yang luas dan tinggi, terdapat sebuah altar batu putih yang besar dan bersih. Di tengah altar itu terdapat sebuah batu giok berwarna ungu keemasan yang memancarkan cahaya lembut dan hangat. Saat Lin Mo berdiri tepat di hadapan altar itu, seketika itu juga batu giok itu bersinar terang benderang dan melayang perlahan turun menuju ke arahnya. Batu itu berhenti tepat di depan dadanya dan berputar perlahan memancarkan kehangatan yang seakan mengenal Lin Mo sejak ribuan tahun silam.

Suara yang berat dan luhur tiba-tiba bergema di seluruh ruangan kuil itu. Suara itu bukan datang dari luar, melainkan terdengar langsung di dalam hati Lin Mo seakan adalah suara leluhurnya sendiri yang berbicara dari masa lalu.

"Kau akhirnya datang... Keturunan terakhir dari garis darah yang paling murni... Batu peninggalan leluhur ini telah menunggumu selama ribuan tahun... Di dalamnya tersimpan warisan kekuatan dan pengetahuan leluhurmu... Terimalah... dan biarkan kekuatan itu menyatu dengan darah yang mengalir di dalam tubuhmu..."

Lin Mo mengulurkan tangan kanannya perlahan dan menyentuh permukaan batu giok yang hangat itu. Saat ujung jari-jemarinya menyentuh batu itu, seketika itu juga cahaya ungu keemasan meledak menyelimuti seluruh tubuhnya. Aliran energi yang begitu besar dan begitu murni seketika mengalir masuk ke dalam tubuhnya menyatu dengan energi qi yang sudah ada di dalam dirinya. Lin Mo merasakan seakan tubuhnya sedang meleleh dan dibentuk ulang menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dan jauh lebih murni dari sebelumnya. Ribuan pengetahuan kuno tentang cara mengolah energi, menerobos tingkat, dan menggunakan kekuatan keturunan seketika mengalir masuk ke dalam benaknya seakan telah menjadi bagian dari ingatannya sendiri sejak lahir.

Lin Mo berdiri diam dalam keadaan bercahaya selama berjam-jam penuh hingga cahaya itu perlahan meredup kembali. Saat ia membuka matanya perlahan, sepasang matanya kini memancarkan cahaya ungu keemasan yang jauh lebih dalam dan jauh lebih murni dari sebelumnya. Energi qi di dalam tubuhnya kini telah tumbuh berkali-kali lipat lebih besar dan lebih kuat. Ia merasa seakan mampu menembus langit dan berjalan di atas awan dengan kekuatan yang kini dimilikinya.

Namun tepat saat Lin Mo hendak melangkah keluar dari kuil itu, tiba-tiba ia mendengar suara pertarungan dan teriakan yang datang dari halaman depan kuil. Suara senjata yang beradu berdenting keras diiringi suara angin yang menderu kencang membawa hawa pembunuhan yang tajam dan mematikan. Lin Mo mengerutkan keningnya perlahan. Ia tak menyangka akan ada orang lain yang mampu mencapai puncak gunung yang tersembunyi itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia melangkah cepat keluar menuju halaman depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampainya di halaman depan, Lin Mo melihat sekelompok orang berpakaian hitam yang jumlahnya belasan orang sedang mengepung seorang pemuda yang tampak berjuang sekuat tenaga namun perlahan mulai terdesak. Pemuda itu mengenakan jubah biru yang kini penuh luka dan noda darah. Di tangannya ia memegang sebilah pedang panjang yang masih memancarkan cahaya biru lembut namun perlahan mulai meredup. Wajahnya tampak pucat dan penuh keringat namun matanya tetap bersinar tajam dan tak menyerah sedikit pun meskipun terluka dan terdesak.

Pemimpin orang-orang berpakaian hitam itu melangkah maju perlahan sambil tersenyum sinis penuh kebencian dan kemenangan. Ia memegang sebilah pedang lebar yang berkilauan tajam dan menatap pemuda yang terdesak itu dengan pandangan yang penuh penghinaan.

"Serahkan benda itu... dan kami mungkin akan membiarkanmu mati dengan cepat... Jika tidak... Jangan salahkan kami jika kami membuatmu menderita sebelum nyawamu kami cabut..."

Pemuda berjubah biru itu meludahkan darah segar ke tanah dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam dan penuh kebencian. Suaranya terdengar berat dan tersendat namun tetap teguh dan tak takut sedikit pun.

"Kalian bermimpi... Selama aku masih bernapas... Kalian tak akan pernah mendapatkannya... Dan jika kalian ingin mengambilnya... Kalian harus melangkahi mayatku terlebih dahulu..."

Pemimpin orang-orang berpakaian hitam itu tertawa keras penuh ejekan. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerang bersama-sama.

"Baiklah... Kalau begitu kami akan mengabulkan keinginanmu... Serang! Bunuh dia dan ambil benda itu!"

Belas orang berpakaian hitam itu melesat menyerang bersamaan dengan senjata tajam yang berkilauan mematikan. Pemuda berjubah biru itu mengangkat pedangnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya untuk menangkis serangan itu. Namun tenaganya sudah terlalu banyak habis dan luka-lukanya terlalu berat. Ia tahu bahwa kali ini tak ada harapan untuk selamat. Namun ia tetap bersiap bertahan hingga tetes darah terakhir.

Namun tepat saat senjata-senjata tajam itu hampir menyentuh tubuh pemuda itu, seketika itu juga sebuah cahaya ungu keemasan melesat dari arah belakang menghantam senjata-senjata itu hingga terpental berhamburan ke segala arah. Bunyi dentuman yang keras bergema di udara hingga membuat tanah di halaman kuil itu ikut bergetar. Semua orang terkejut dan berhenti bergerak seketika menatap ke arah datangnya cahaya itu.

Di sana, berdiri seorang pemuda berpakaian sederhana namun tegak lurus bagaikan pohon pinus yang tak tergoyahkan oleh badai. Cahaya ungu keemasan yang lembut namun kokoh perlahan bersinar dari tubuhnya menyapu sekeliling. Sepasang matanya menatap mereka dengan pandangan yang tenang namun begitu tajam dan begitu berwibawa hingga membuat seluruh tubuh mereka kaku ketakutan seketika. Lin Mo melangkah maju perlahan berdiri di hadapan pemuda berjubah biru itu dan menatap belasan orang berpakaian hitam itu dengan suara yang rendah namun bergema di seluruh penjuru halaman kuil.

"Mundur... Atau kalian semua akan mati..."

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!