NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Pasangan

Pagi itu suasana kelas 7D terasa jauh lebih ramai daripada biasanya. Bahkan sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, hampir seluruh siswa sudah memenuhi ruang kelas dengan obrolan yang tidak jauh dari kegiatan latihan tari daerah yang akan dilaksanakan sore nanti. Ada yang terlihat sibuk membahas gerakan tari yang pernah mereka pelajari, ada pula yang saling bertanya mengenai pasangan masing-masing. Sesekali terdengar suara tawa yang memenuhi ruangan, membuat pagi itu terasa begitu hidup dan penuh semangat.

Aku yang duduk di bangkuku hanya memperhatikan keramaian itu sambil sesekali memandang ke luar jendela. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui sela-sela kaca membuat suasana kelas terasa hangat, tetapi pikiranku justru dipenuhi rasa bingung. Sejak semalam aku terus memikirkan satu hal yang belum juga menemukan jawaban. Dalam latihan tari nanti setiap peserta diwajibkan memiliki pasangan, sedangkan sampai pagi itu aku masih belum tahu harus berpasangan dengan siapa.

Belum sempat aku menemukan jawabannya, Vita Lestari datang menghampiriku dengan langkah tergesa-gesa. Dari raut wajahnya aku langsung mengetahui bahwa ia sedang memikirkan hal yang sama. Ia menarik kursi di sampingku, lalu duduk sambil mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita.

"Hitas, aku bingung sekali," katanya dengan wajah yang terlihat gelisah. "Dari tadi aku tanya-tanya teman laki-laki, ternyata mereka hampir semuanya sudah punya pasangan. Kalau begini kita cari pasangan di mana lagi?"

Aku tersenyum kecil mendengar keluhannya. Sebenarnya aku ingin menenangkannya, tetapi di dalam hati aku pun merasakan kebingungan yang sama. Mataku kembali menyapu seluruh isi kelas. Beberapa teman laki-laki tampak sudah bercanda dengan pasangan mereka masing-masing, sementara yang lain terlihat sibuk berbincang mengenai latihan yang akan segera dimulai.

"Cari saja dulu, Vit," jawabku pelan sambil mencoba tetap terdengar tenang. "Murid di sekolah ini banyak. Masa semuanya sudah punya pasangan?"

Vita langsung menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Memangnya kamu sendiri sudah tanya siapa?"

Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil. Tanpa sadar aku menggigit ujung kukuku, kebiasaan yang sering muncul setiap kali merasa gugup atau bingung.

"Belum juga."

Mendengar jawabanku, Vita hanya menggeleng sambil tertawa.

"Dasar Hitas. Kita sama-sama bingung, ternyata sama-sama belum berusaha."

Aku ikut tersenyum mendengar ucapannya. Memang benar, sejak kemarin aku terlalu sibuk memikirkan siapa yang akan menjadi pasangan hingga lupa benar-benar mencarinya.

Pandanganku kemudian berhenti pada salah seorang teman laki-laki yang sedang duduk beberapa bangku di depan. Namanya Galang. Kami pernah berada di kelas yang sama ketika masih SD, dan kini kembali dipertemukan di kelas 7D. Meskipun kami tidak terlalu akrab, setidaknya kami sudah saling mengenal sehingga aku merasa tidak terlalu canggung jika harus mengajaknya berbicara.

Aku menoleh kepada Vita.

"Vit, tunggu sebentar ya."

"Mau ke mana?"

"Mau tanya Galang."

Vita mengikuti arah pandangku, lalu menganggukkan kepala pelan.

Aku berjalan menghampiri bangku Galang. Saat itu ia sedang berbincang santai dengan beberapa temannya. Ketika melihatku datang, ia menghentikan obrolannya dan menoleh dengan wajah sedikit heran.

"Iya, Hitas?"

Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya menyampaikan maksudku.

"Galang, kamu ikut latihan tari daerah nanti sore, tidak?"

Ia tampak berpikir beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum kecil.

"Hmm... ikut saja, lah."

Jawaban itu membuatku sedikit lega.

"Kalau begitu... nanti kita jadi pasangan latihan, ya?"

Galang menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara.

"Boleh."

"Jangan lupa datang latihan sore."

"Iya."

Percakapan kami memang berlangsung singkat, tetapi setidaknya aku tidak lagi bingung memikirkan pasangan. Aku segera kembali ke bangkuku sambil membawa sedikit rasa lega.

"Gimana?" tanya Vita yang sejak tadi memperhatikanku.

"Sudah dapat pasangan."

"Siapa?"

"Galang."

Senyum di wajah Vita perlahan memudar. Ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata dengan nada ragu.

"Hitas, kamu yakin sama Galang? Kamu kan tahu sendiri, dari dulu dia memang suka bercanda. Waktu SD saja kalau belajar sering tidak fokus. Aku takut nanti waktu latihan dia juga begitu."

Ucapan Vita membuatku ikut terdiam beberapa saat. Apa yang dikatakannya memang bukan tanpa alasan. Aku juga mengenal Galang sebagai anak yang cukup usil dan sering membuat suasana kelas menjadi ramai. Namun, karena belum memiliki pilihan lain, aku memilih untuk mencoba percaya bahwa kali ini ia akan bersikap lebih serius.

"Ya, mau bagaimana lagi," jawabku sambil tersenyum tipis. "Yang penting sekarang aku sudah punya pasangan. Soal nanti dia serius atau tidak, kita lihat saja waktu latihan."

Vita akhirnya menganggukkan kepala meskipun wajahnya masih menyimpan sedikit keraguan. Bel pelajaran pertama pun berbunyi, membuat seluruh siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Guru memasuki kelas dan pelajaran dimulai seperti biasa, tetapi pikiranku sesekali masih melayang pada latihan sore nanti. Entah mengapa, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Aku berharap semua berjalan lancar, meskipun jauh di dalam hati masih tersimpan rasa khawatir yang perlahan mulai tumbuh.

Saat itu aku sama sekali belum mengetahui bahwa keputusan sederhana memilih Galang sebagai pasangan latihan akan menjadi awal dari sebuah pertemuan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!