NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Bayang Masa Lalu yang Tersisa

Matahari perlahan bergeser ke arah barat memperlihatkan bias warna jingga yang indah.

Langit sore di atas kota metropolitan tampak cerah menaungi kawasan perumahan mewah.

Di dalam kamar utama yang luas, Andra berdiri menatap pemandangan luar dari balkon kaca.

Pikiran pria itu masih berputar mengingat semua liku perjalanan hidup yang telah ia lewati.

Dari seorang suami yang dipandang sebelah mata hingga kembali memegang kendali penuh.

Namun, di balik ketenangan luar biasa itu, ada satu hal kecil yang masih mengganjal.

Beberapa orang kepercayaan Rian yang bertindak sebagai kaki tangan lapangan masih buron.

Mereka adalah komplotan bayaran yang sempat mengejar dan meneror Andra serta Kirana.

Meskipun pemimpin utama mereka sudah mendekam di penjara, ancaman tersembunyi tetap ada.

Andra tidak ingin meninggalkan celah sekecil apa pun yang bisa membahayakan keselamatan istrinya.

Ponsel satelit khusus di atas meja nakas mendadak bergetar memecah keheningan sore.

Andra segera berbalik badan, melangkah cepat menghampiri meja tempat ponsel itu berada.

Ia mengangkat panggilan tersebut dan mendengarkan laporan dari agen kepercayaannya.

"Lapor, Tuan Muda. Pergerakan sisa-sisa anak buah Rian berhasil terdeteksi malam ini," ucap suara di ujung telepon.

Alis Andra sedikit bertaut mendengar informasi penting tersebut dengan saksama.

"Di mana lokasi persembunyian mereka saat ini?" tanya Andra dengan nada tegas.

"Mereka bersembunyi di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan lama utara, Tuan."

"Mereka berencana melarikan diri ke luar negeri menggunakan kapal kargo ilegal malam ini."

Sudut bibir Andra terangkat membentuk senyuman tipis penuh arti mendengar laporan itu.

"Bagus. Jangan biarkan satupun dari mereka lolos dari wilayah perairan tersebut."

"Saya sendiri yang akan datang ke sana untuk menyelesaikan urusan ini sampai tuntas."

"Baik, Tuan Muda! Pasukan taktis sudah bersiap mengepung lokasi dari segala penjuru."

Sambungan telepon tertutup secara otomatis meninggalkan keheningan sesaat di dalam kamar.

Andra meletakkan kembali ponselnya di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang.

Ia membuka lemari pakaian khusus, lalu mengenakan jaket taktis hitam kesayangannya.

Saat ia berbalik hendak melangkah keluar kamar, pintu terbuka dari arah dalam.

Kirana muncul mengenakan pakaian rumah yang nyaman dengan tatapan mata penuh tanya.

Wanita itu melihat suaminya berpakaian rapi lengkap seolah hendak pergi keluar lagi.

"Mas... kamu mau pergi ke mana lagi menjelang malam begini?" tanya Kirana pelan.

Ada sedikit nada kecemasan yang terpancar jelas dari suara indahnya.

Andra mendekati istrinya, lalu memegang kedua bahu Kirana dengan penuh kelembutan.

"Ada urusan sebentar yang harus aku selesaikan di pelabuhan utara, Kir," jawab Andra jujur.

"Sisa-sisa anak buah Rian yang dulu meneror kita mencoba melarikan diri malam ini."

Mendengar kata pelabuhan utara, bayangan malam mencekam saat dikejar musuh kembali terlintas.

Kirana merapatkan genggaman tangannya di lengan jaket suaminya karena merasa khawatir.

"Apakah harus kamu sendiri yang turun tangan ke sana, Mas? Biarkan anak buahmu yang urus."

Andra tersenyum hangat, lalu mengecup kening istrinya sekilas untuk menenangkan.

"Aku harus memastikan sendiri ancaman itu benar-benar musnah dari hidup kita, Kir."

"Supaya tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan yang mengganggu tidurmu di masa depan."

Kirana menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang memancarkan ketegasan mutlak.

Ia tahu jika Andra sudah mengambil keputusan, sulit sekali untuk mengubahnya kembali.

"Baiklah kalau begitu... tapi berjanjilah kamu akan pulang dengan selamat, Mas," ucap Kirana tulus.

"Aku akan menunggu kepulanganmu di rumah ini bersama semua rasa cintaku."

"Janji, Kir," balas Andra mantap sambil memeluk tubuh istrinya erat-erat.

Beberapa menit kemudian, Andra melangkah keluar kamar meninggalkan rumah utama yang megah.

Sebuah mobil taktis hitam sudah menanti di halaman depan dengan mesin menyala halus.

Andra masuk ke dalam kursi penumpang belakang, dan kendaraan itu langsung melesat pergi.

Perjalanan malam membelah jalanan kota menuju pelabuhan lama utara dimulai dalam senyap.

Di dalam kabin mobil, Andra memeriksa ulang perlengkapan taktis miliknya dengan cermat.

Tidak ada rasa gentar sedikit pun di dalam dada pria itu menghadapi sisa musuhnya.

Ini adalah babak pembersihan terakhir sebelum hidup mereka benar-benar bersih dari teror.

Sesampainya di kawasan pelabuhan utara, suasana sekitar tampak sangat gelap dan sepi.

Hanya ada deru ombak laut hitam yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga kayu usang.

Sebuah gudang tua berkarat dengan lampu temaram berdiri kokoh di dekat bibir air.

Mobil yang ditumpangi Andra berhenti di balik tumpukan kontainer kosong agak jauh dari lokasi.

Beberapa agen pengawal berpakian serba hitam sudah siaga menunggu kedatangan sang pemimpin.

Mereka membungkuk hormat saat Andra membuka pintu mobil dan melangkah turun.

"Laporan situasi di dalam gudang, komandan lapangan?" tanya Andra singkat.

"Target berjumlah lima orang sedang bersiap naik ke atas kapal kargo kecil, Tuan," lapor agen itu.

"Semua jalur pelarian sudah kita blokade rapat. Mereka tidak punya jalan keluar."

Andra menganggukkan kepalanya puas mendengar ringkasan situasi taktis tersebut.

"Bagus. Ikuti instruksi saya, kita bergerak senyap tanpa menarik perhatian warga sekitar."

Mereka berjalan perlahan mendekati bangunan gudang tua di tengah terjangan angin laut malam.

Suara percakapan kasar terdengar dari balik dinding kayu gudang yang sudah reyot.

"Cepat masukkan barang-barang itu ke dalam perahu! Polisi bisa datang kapan saja!" teriak seseorang.

Itu adalah suara salah satu orang kepercayaan Rian yang memimpin pelarian tersebut.

Andra memberi gestur tangan kepada para pengawalnya untuk mengambil posisi penyergapan.

Dengan gerakan kilat tanpa suara, pintu utama gudang tua itu didobrak paksa dari luar.

BARRR...!

Suara hantaman pintu kayu yang roboh memecah keheningan malam di dalam pelabuhan.

Kelima buronan di dalam gudang terkaget hebat hingga menjatuhkan tas bawaan mereka.

"Siapa kalian?!" geram pemimpin buronan sambil mencabut senjata tajam dari pinggangnya.

Mata pria itu terbelalak lebar saat melihat sosok Andra berjalan masuk melangkah tenang.

Wajah buronan itu langsung pucat pasi mengenali pria yang dulu sempat ingin mereka habisi.

"An... Andra?! Bagaimana mungkin kau bisa ada di tempat ini?!" teriaknya histeris.

Andra berhenti melangkah tepat di bawah sorot lampu gudang yang bergoyang pelan.

Ia menatap rendah ke arah para penjahat kelas kakap yang kini terjebak tak berdaya.

"Kalian pikir bisa melarikan diri begitu saja setelah menghancurkan hidup orang lain?" tanya Andra dingin.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, para buronan itu mencoba menyerang membabi buta menggunakan senjata.

Namun, gerakan mereka terlalu lambat dan amat kekanak-kanakan di hadapan agen profesional.

Dalam hitungan detik, seluruh sisa anak buah Rian berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.

Mereka tersungkur tak berdaya di atas lantai kotor gudang dengan tangan terborgol besi.

Andra melangkah mendekati pemimpin buronan yang meringkuk kesakitan di lantai.

Ia menatap tajam ke bawah sambil merapikan ujung lengan jaket taktisnya.

"Perjalanan kalian berakhir di sini malam ini," ucap Andra dengan nada berat penuh wibawa.

Ia memberi tanda kepada pasukan pengawal untuk segera menyeret para penjahat itu keluar.

Satu per satu buronan berbahaya tersebut digelandang masuk ke dalam mobil tahanan.

Ancaman terakhir yang selama ini membayangi kehidupan rumah tangga mereka resmi musnah.

Andra menarik napas panjang menikmati udara malam pelabuhan yang kini terasa jauh lebih segar.

Ia berbalik badan, lalu berjalan kembali menuju mobil taktis untuk segera pulang.

Kini, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mampu merusak kebahagiaan mereka.

Andra meluncur pulang menemui istri tercinta di istana megah dengan kemenangan mutlak.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!