Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA RAHASA TIDAK LAGI MENJADI RAHASIA (2)
Pada jam istirahat pertama, sebuah foto sudah beredar di grup percakapan siswa. Foto itu memperlihatkan Naya membawa tas Nara sambil berjalan di sampingnya. Dari sudut pengambilan gambar, mereka terlihat sangat dekat. Di bawah foto tersebut terdapat sebuah tulisan.
Kapten basket sekolah kita sudah punya penjaga pribadi?
Tidak sampai lima belas menit, berbagai komentar muncul. Ada yang menganggap mereka berpacaran. Ada yang mengatakan Naya hanya membantu karena Nara cedera. Ada pula yang mulai mempertanyakan sejak kapan keduanya dekat. Naya baru mengetahui hal itu ketika Kimi renangnya menunjukkan layar ponsel.
“Nay, ini kamu, kan?”
Naya menatap foto tersebut. Dadanya langsung terasa tidak nyaman.
“Siapa yang mengunggah?”
“Tidak tahu. Sudah tersebar ke beberapa grup.” Kimi menggulir layar ponselnya kembali.
“Komentarnya juga banyak.”
Naya tidak ingin membaca. Namun, beberapa kalimat telanjur terlihat.
Pantas saja Nara sekarang jarang merespons penggemar. Siapa dia? Anak klub renang? Sejak kapan mereka dekat?
Memangnya air dan darat bisa bersatu ya? Bagaimana bisa?
Ada satu komentar yang membuat tangan Naya membeku.
Dia sengaja mendekati Nara setelah Nara menang turnamen, ya?
Naya menjauh dari ponsel Kimi.
“Aku harus ke perpustakaan.” Ia meninggalkan kelas sebelum jam istirahat benar-benar berakhir.
"Naya!" Teriakan Kimi tak digubrisnya sama sekali. Langkah kakinya terus melaju menuju perpustakaan.
Perpustakaan masih sepi. Naya mengambil tempat biasa mereka di dekat jendela, tetapi tidak membuka buku. Ia hanya duduk sambil memandang halaman sekolah. Ia tahu komentar orang lain seharusnya tidak penting. Mereka tidak mengetahui bagaimana hubungan Nara dan Naya dimulai. Mereka tidak tahu tentang salah paham yang terjadi diantara dirinya dan Nara, permintaan maaf Nara yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya, pertandingan, cedera, percakapan panjang di toko buku atau bagaimana ia melihat sisi lain seorang Nara yang begitu serius belajar tentang bisnis keluarganya. Namun, tetap saja kata-kata itu mengganggunya.
Bukan karena ia meragukan perasaan Nara. Ia justru takut orang-orang akan menganggap dirinya memanfaatkan kedekatan tersebut. Naya tidak pernah ingin dikenal karena Nara. Ia ingin tetap menjadi dirinya sendiri. Seorang anggota klub renang yang menyukai buku dan tidak terlalu senang berada dalam keramaian, dan tidak pernah tertarik menjadi bahan pembicaraan sekolah.
Pintu perpustakaan terbuka beberapa menit kemudian. Nara masuk dengan tongkat penopang. Langkahnya lambat, tetapi ekspresinya terlihat tergesa. Ia langsung menuju meja Naya. “Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahu?”
Naya menatapnya. “Bagaimana Kakak tahu aku di sini?”
“Temanmu Kimi yang bilang.” Nara duduk di kursi di hadapannya dengan sedikit kesulitan.
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa Kak.”
“Naya.” Suara Nara terdengar lebih rendah dari biasanya.
“Aku hanya ingin membaca buku.”
Nara yang melihat di meja Naya tidak ada buku satupun hanya menghela napas, “Bukumu bahkan belum kamu ambil dari rak buku."
Naya terdiam. Nara meletakkan ponselnya di atas meja. Foto yang beredar terlihat di layar.
“Kamu melihat ini?”
Naya mengangguk.
“Dan komentar-komentarnya?”
Kembali, Naya mengangguk. Nara kembali mengembuskan napas pelan.
“Aku akan mencari tahu siapa yang mengunggah.”
“Untuk apa?”
“Memintanya menghapus.”
“Foto itu sudah tersebar.”
“Aku tetap bisa…”
“Kak.” Nada suara Naya membuatnya berhenti.
“Aku tidak ingin Kakak membuat masalah.”
“Aku tidak akan membuat masalah.”
“Kakak terlihat seperti sedang bersiap membuat masalah.”
“Aku hanya tidak suka mereka membicarakanmu seperti itu.”
“Kalau Kakak marah, pembicaraannya akan semakin besar.”
Nara mengepalkan tangan di atas meja. “Apa aku harus diam saja?”
Naya menatapnya. “Inilah yang kutakutkan sejak tadi pagi ketika Kakak terang-terangan memanggilku untuk mendekat padamu.”
Nara terlihat terluka mendengar kalimat itu. Naya segera melanjutkan, “Bukan tentang Kakak. Tapi tentang perhatian orang-orang.”
“Aku bisa mengumumkan kebenarannya.”
“Kebenaran apa?”
Nara membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. “Aku bisa mengatakan bahwa kita dekat sebelum turnamen,” Lanjut Nara. “Dan kita sekarang adalah sepasang kekasih.”
“Itu tetap akan membuat mereka bertanya-tanya.”
“Kalau begitu aku akan mengatakan bahwa aku yang mendekatimu.”
Naya mengerutkan kening. “Kakak tidak perlu membela seolah aku sedang dituduh melakukan kejahatan.”
“Mereka mengatakan kamu mendekatiku karena aku memenangkan turnamen basket.”
“Biarkan.”
“Aku tidak bisa membiarkannya.”
Naya menunduk. “Kenapa?”
“Karena itu tidak benar.”
Suara Nara terdengar lebih pelan.
“Dan karena kamu tidak pantas diperlakukan seperti seseorang yang hanya mengejar popularitas.” Naya mengangkat wajah. Tatapan Nara dipenuhi kemarahan, tetapi bukan kepada dirinya. Untuk pertama kalinya, Naya melihat sisi lain dari ketenaran Nara. Selama ini, ia hanya menganggap lelaki itu menikmati seluruh perhatian yang datang. Namun, ternyata popularitas juga memiliki sisi yang tidak dapat dikendalikan. Orang-orang merasa berhak mengomentari hidupnya. Membuat kesimpulan. Menentukan siapa yang pantas berada di dekatnya.
Naya menarik napas panjang. “Aku tidak ingin Kakak mengumumkan apa pun.”
Nara terdiam mendengarkan kalimat Naya.
“Tapi aku juga tidak ingin bersembunyi.”
“Apa maksudmu?”
Naya melihat foto di layar ponsel. “Besok, kita tetap berjalan seperti biasa.”
“Bersama?”
Naya mengangguk. “Kalau mereka bertanya, kita jawab seperlunya.”
Nara memperhatikan wajahnya. “Kamu yakin?”
“Belum sepenuhnya.”
“Itu berarti tidak yakin.”
“Aku sedang berusaha.”
Nara mengulurkan tangan di atas meja. Naya menatapnya.
“Aku tidak akan memegang tanganmu di depan semua orang,” kata Nara. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
Naya meletakkan tangannya di atas telapak Nara. Jari mereka saling menggenggam namun berusaha tidak tertangkap oleh pandangan pustakawan.
“Aku tahu,” katanya.
Nara mengusap punggung tangan Naya lembut dengan ibu jarinya.
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
“Aku tidak menyukaimu karena kamu memperhatikanku setelah aku menang.”
Naya tersenyum kecil. “Aku tahu.”
“Aku menyukaimu ketika kamu masih menganggapku sangat menyebalkan.”
“Aku masih menganggap Kakak menyebalkan.”
“Bagus. Berarti perasaanmu tulus.”
Naya tertawa pelan. Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk dalam keheningan yang nyaman.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Seseorang berdiri di ujung rak buku.
Keira.
Gadis itu tampaknya baru memasuki perpustakaan dan tidak sengaja melihat mereka. Tatapannya turun ke arah tangan Nara dan Naya yang saling bergenggaman tangan. Wajahnya berubah. Naya segera menarik tangannya. Nara ikut menoleh. Keira berjalan mendekat dengan langkah lambat.
“Jadi benar?” tanyanya.
Nara menatapnya tenang. “Apa yang benar?”
“Kakak dekat dengannya?”
Nara tidak menyukai cara Keira menunjuk Naya seolah gadis itu tidak memiliki nama.
“Namanya Naya.”
Keira mengatupkan bibir. “Semua orang membicarakan kalian.”
“Aku tahu.”
“Kenapa Kakak tidak pernah mengatakan apa-apa?”
Nara mengerutkan kening. “Aku tidak harus mengatakan kehidupan pribadiku kepada siapa pun.”
“Aku bukan siapa-siapa?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak terasa berat. Naya merasa seolah berada di tengah percakapan yang seharusnya tidak melibatkannya.
Nara, sebaliknya, tetap memandang Keira.
“Aku menghargaimu sebagai teman sekolah dan pendukung tim basket,” katanya. “Tapi aku tidak pernah menjanjikan hubungan lebih dari itu.”
“Aku selalu datang ke pertandingan Kakak.”
“Aku berterima kasih.”
“Aku membuatkan hadiah.”
“Aku juga berterima kasih.”
“Lalu dia melakukan apa?”
Nara berdiri terlalu cepat. Kakinya langsung terasa sakit, tetapi ia tetap menopang tubuh menggunakan tongkat.
“Naya tidak harus melakukan apa pun untuk pantas berada di dekatku.” Suara Nara cukup keras hingga pustakawan mengangkat kepala. Naya ikut berdiri.
“Kak, duduk, Kakak masih dalam pemulihan dari cidera.” Naya berusaha mengingatkan kondisi Nara saat ini.
Namun, Nara tidak mengalihkan tatapan dari Keira. “Jangan membandingkan dirimu dengannya. Dan jangan menyalahkannya karena sesuatu yang tidak pernah kujanjikan kepadamu.”
Mata Keira mulai berkaca-kaca dalam diam. Nara menarik napas, berusaha menenangkan suaranya. Bagaimanapun yang dihadapinya adalah perempuan. Ia tak boleh terlalu kasar kepadanya.
“Aku minta maaf kalau sikapku dulu membuatmu salah paham.” Nara mulai menurunkan ada suaranya. Kalimat itu terdengar begitu sulit diucapkan. Namun Nara tetap melanjutkan. Ia tak mau kesalahpahaman ini semakin menjadi-jadi sehingga menyakiti banyak pihak. “Aku yang salah selama ini terlalu menikmati perhatian darimu dan yang lainnya tanpa memikirkan akibatnya.”
Naya menatap Nara penuh ketakjuban. Nara benar-benar mengakui bagian kesalahannya.
“Tapi sekarang aku ingin bersikap lebih jujur dan jelas,” lanjutnya. “Aku tidak ingin membuat siapa pun menunggu sesuatu yang tidak akan terjadi.”
Air mata Keira akhirnya jatuh. Ia menghapusnya cepat-cepat. “Jadi Kakak menyukai Naya?”
Nara tidak langsung menjawab. Ia melirik Naya. Naya terlihat gugup, tetapi tidak menggeleng. Nara kembali menatap Keira.
“Iya.”
Satu kata itu membuat jantung Naya berdebar keras seolah memberikan kekuatan lebih untuk melakukan pembelaan. Keira menggigit bibirnya.
“Dan kalian berpacaran?”
“Benar, kami berpacaran.” Sahut Naya tidak mau hanya berlindung dibalik Nara. Terlebih lagi Nara mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Tangannya sebenarnya gemetaran namun ia berusaha menyembunyikannya agar terlihat kuat. “Mungkin kamu tidak tahu bahwa aku mengenal Kak Nara jauh sebelum masuk ke sekolah ini. Jadi aku mendekatinya bukan karena Kak Nara sebagai tim basket yang memenangkan pertandingan final bergengsi yang selama ini direbut oleh SMA Cakra Mandala. Jika setelah aku menjelaskan hal ini masih ada hal miring tentang kami, akan kupastikan bahwa kamulah pihak yang menyebarkan rumor itu.”
Suasana menjadi hening. Keira memandang mereka bergantian. Kemudian ia mengangguk kecil. “Aku mengerti…” Ia berbalik dan berjalan keluar dari perpustakaan. Naya ingin mengejarnya, tetapi Nara memegang lengannya.
“Biarkan saja dia.”
“Aku merasa bersalah.”
“Itu bukan kesalahanmu.”
“Tapi dia terluka.”
Nara menatap pintu yang baru saja tertutup. “Ini salahku sendiri karena terlalu lama membiarkan batasnya tidak jelas.”
Ia duduk kembali dengan hati-hati. “Aku seharusnya bersikap seperti ini sejak dulu.”
Naya ikut duduk. “Kakak sudah meminta maaf.”
“Itu tidak langsung menghapus semuanya.”
“Tidak. Tapi itu tadi awal yang baik.” Nara menatapnya. “Aku merasa tersanjung seorang Naya mengatakan bahwa bangga menjadi kekasihku di depan orang lain.”
Wajah Naya langsung memerah. Ia pun segera menutup wajahnya dengan kesepuluh jarinya, “Kakak baru saja membuat seseorang menangis dan masih sempat memikirkan itu?”
“Pastinya.” Nara tidak dapat menutupi rasa bahagianya.
“Kakak tidak berubah sebanyak yang kukira.”
***
Keesokan harinya, foto baru beredar di grup sekolah. Bukan foto yang diambil diam-diam.Foto itu diambil oleh Ekky setelah latihan tim. Nara duduk di pinggir lapangan dengan kaki terangkat, sementara Naya berdiri di sampingnya sambil memegang buku yang sedang mereka baca bersama. Di belakang mereka, seluruh anggota tim basket berpose dengan piala kejuaraan. Ekky mengunggah foto tersebut melalui akun resmi tim dengan keterangan:
Kapten kami sedang dalam masa pemulihan. Terima kasih kepada semua yang mendukung tim kami sejak awal, termasuk orang-orang yang terus mengingatkan kami untuk bermain dengan kepala dingin dan saling percaya satu sama lain.
Tidak ada nama Naya dalam tulisan itu. Tidak ada penjelasan mengenai hubungan mereka. Namun, Nara dan Naya berdiri bersama tanpa bersembunyi. Komentar kembali muncul. Sebagian masih penasaran. Sebagian menggodanya. Namun, banyak pula yang hanya mengucapkan selamat dan berharap Nara segera pulih. Naya membaca komentar itu saat duduk di perpustakaan.
“Aku kira semuanya akan menjadi lebih buruk,” kata Naya sambil menghela napas.
Nara duduk di hadapannya sambil membuka buku yang dibelinya bersama Naya yang sudah penuh coret-coretan dan tempelan post-it hasil gemblengan sepupunya. Ganendra. “Orang akan bosan kalau kita tidak memberi mereka drama.”
“Meskipun kalau dipikir-pikir kejadian kemarin itu cukup dramatis.” Naya membuka halaman berikutnya buku yang sedang dibacanya. “Untung saja kita tidak pecat menjadi anggota yang bisa dibilang tetap oleh Ibu pustakawan disana.
“Itu bukan salahku.”
Naya mengangkat alis merespon ucapan Nara.
“Baiklah, aku mengakuinya.” Kata Nara sambil mengangkat kedua tangannya. “Sebagian salahku. Lagipula di sekolah ini sangat menjunjung tinggi adab dan talenta para siswa-siswinya serta melarang adanya pem-bully-an dalam bentuk apapun. Jika itu terjadi maka siswa atau siswi itu akan langsung mendapatkan kartu merah dan dikeluarkan dari sekolah ini. Dan jika hal itu terjadi bersiaplah tidak ada satupun sekolah di negeri ini yang akan menerima mereka kecuali mereka harus keluar negeri. Hal itu sudah menunjukkan betapa kuatnya aliansi dan reputasi Yayasan Sekolah Perguruan TA ini.”
Naya tersenyum. Ia melihat foto di layar sekali lagi. Dalam foto itu, Nara tidak berdiri di tengah. Piala bahkan dipegang oleh Gilang dan Ekky. Namun, tatapan Nara mengarah kepadanya, bukan kepada kamera. Naya mematikan layar ponsel.
“Kak.”
“Hm?”
“Apakah Kakak menyesal?”
“Karena apa?”
“Karena sekarang semua orang tahu kita berpacaran.”
Nara menutup bukunya. “Tidak menyesal sama sekali.”
“Tidak takut penggemar Kakak berkurang?”
“Aku bermain basket, bukan menjual harapan. Lagipula sebentar lagi aku harus mengundurkan dari Tim Basket dan memberikan tongkat estafet kapten kepada Junior tingkat dibawah kami, dalam hal ini rencananya akan diberikan kepada Gilang setelah mendiskusikannya dengan Ekky sebelumnya.”
Naya melanjutkan bacaan bukunya. Mereka mulai membaca dalam diam. Di luar perpustakaan, mungkin masih ada orang yang membicarakan mereka. Mungkin akan ada komentar baru, foto baru, atau pertanyaan lain yang harus dijawab. Tapi ia tidak perduli.
Nara tidak lagi membutuhkan seluruh sekolah untuk memahami hubungannya dengan Naya. Naya juga tidak lagi merasa harus membuktikan bahwa dirinya pantas berada di dekat Nara. Mereka hanya perlu memahami satu sama lain.
Perpustakaan terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Naya menatapnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada lelucon dalam ekspresi Nara. Mereka saling bertatapan sambil tersenyum tanpa suara dan menikmati waktu sejenak milik mereka berdua.
Di luar jendela, suara bel masuk mulai terdengar. Mereka harus kembali ke kelas. Namun, untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Nara dan Naya tetap duduk dengan tangan saling bergenggaman tangan.
***