Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Topeng dan Luka
Luka yang satu ini belum pernah benar-benar sembuh.
Aku memikirkan kalimat itu sepanjang perjalanan pulang dari Menteng.
Reynard tidak banyak bicara. Setelah Hendra menahannya di ruang kerja, ia keluar dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Ketika kutanya, ia hanya berkata, "Belum pasti."
Belum pasti apa?
Petunjuk tentang ibunya?
Atau luka lama yang terlalu sakit untuk dibuka?
Aku tidak memaksa.
Pada hari kedua puluh delapan, hujan turun sejak sore. PIK villa terasa lebih dingin, AC sudah diturunkan, tapi udara tetap menusuk. Leo mengirim pesan ke Pak Hadi agar obat malam Reynard tidak terlambat.
Itu tanda buruk.
Menjelang tengah malam, Si Kepo membangunkanku.
[Peringatan.]
[Target mengalami serangan Racun Dingin.]
Aku langsung duduk.
"Di mana?"
[Kamar utama.]
Aku berlari keluar tanpa memikirkan sandal. Koridor gelap, hanya lampu lantai menyala kuning. Di depan kamar Reynard, Anto dan Pak Hadi sudah berdiri tegang.
"Nyonya Muda," kata Pak Hadi, "Tuan Muda meminta tidak diganggu."
"Dia sadar?"
Pak Hadi terdiam.
Jawaban itu cukup.
"Leo sudah dihubungi?"
"Dalam perjalanan. Perkiraan satu jam."
Satu jam.
Dalam kondisi seperti ini, satu jam terdengar seperti seumur hidup.
"Obat malam?"
"Sudah diminum, tapi tubuh Tuan Muda menolaknya."
Aku melihat nampan kecil di tangan Sari. Ada termometer, obat cadangan, dan handuk yang belum dipakai. Semua orang sudah bergerak, tapi tidak ada yang berani masuk karena perintah Reynard.
Pria itu benar-benar bisa membuat seluruh rumah patuh bahkan ketika hampir pingsan.
Menyebalkan.
Aku membuka pintu.
Kamar Reynard gelap, hanya lampu samping tempat tidur menyala redup. Ia duduk setengah rebah di ranjang, kemeja putihnya basah oleh keringat, napasnya berat. Topeng Perak masih menempel di wajahnya, tapi tangan kirinya mencengkeram selimut begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
"Reynard."
"Keluar."
Suaranya serak.
"Tidak."
"Keira."
"Marah nanti. Sakit dulu."
Ia mencoba bangun, lalu tubuhnya menggigil. Aku cepat menahan bahunya.
Kulitnya panas.
Panas, tapi jari-jarinya sedingin es.
[Suhu tubuh tidak stabil.]
[Nyeri saraf aktif.]
[Area luka lama terpicu.]
Luka lama?
Leo pernah menyebut trauma. Tapi melihatnya seperti ini membuat kata trauma terasa terlalu kecil.
Aku menempelkan telapak tangan ke dahinya.
Panasnya membuatku kaget.
"Dia demam tinggi," kataku pada Sari di pintu. "Air hangat, pakaian ganti, dan hubungi Leo lagi. Pakai video call kalau perlu."
"Baik, Nyonya Muda."
Reynard mencoba menarik tanganku. "Jangan perintah mereka."
"Aku sedang menggunakan izin darurat Nyonya Muda."
"Tidak ada izin itu."
"Mulai malam ini ada."
Ia ingin membantah, tapi menggigil lebih dulu.
Aku menang.
Aku mengambil handuk hangat dari Sari yang menyusul masuk, lalu duduk di sisi ranjang.
"Aku bantu bersihkan keringatmu."
"Tidak perlu."
"Aku tidak sedang meminta izin."
Matanya membuka sedikit.
Di balik topeng, pandangannya kabur. "Kau akan takut."
Aku berhenti.
Kalimat itu bukan perintah.
Itu keyakinan lama.
Aku melepas napas pelan. "Coba saja."
Anto dan Pak Hadi keluar setelah obat dari Leo diminumkan. Sari menaruh baskom air hangat, lalu ikut mundur. Kamar itu tinggal kami berdua dan suara hujan.
Aku membuka kancing kemejanya satu per satu.
Tanganku gemetar, bukan karena malu.
Karena marah pada siapa pun yang pernah membuat pria ini percaya tubuhnya harus disembunyikan seperti bukti kejahatan.
Ketika kain kemeja terbuka, napasku berhenti.
Di dada kiri ada bekas luka tipis. Di bahu, jaringan kulit tidak rata. Saat aku membantunya duduk sedikit untuk mengganti baju, punggungnya terlihat.
Luas.
Bekas terbakar menyebar dari bahu kiri ke tengah punggung, tidak sepenuhnya rata meski sudah lama sembuh. Kulit itu tampak seperti peta yang digambar api.
Aku menggigit bibir sampai sakit.
[Data trauma: masa kecil.]
[Kemungkinan pelaku: Veronica.]
Dunia di kepalaku menjadi merah.
Veronica.
Wanita itu bukan hanya meracuni hidupnya. Ia pernah membakar tubuh anak kecil.
Potongan data muncul terlalu cepat, seperti pintu yang dibuka sedikit lalu ditutup lagi.
[Usia kejadian: anak-anak.]
[Lokasi tidak stabil.]
[Sumber panas: cairan / api.]
Aku hampir kehilangan kendali.
Di depanku bukan Tuan Muda Wijaya, bukan Topeng Perak, bukan pria yang bisa menjatuhkan proposal Brandon dalam tiga kalimat.
Di depanku ada anak kecil yang pernah terluka dan tidak ada orang dewasa cukup cepat menyelamatkannya.
"Jangan lihat," bisik Reynard.
Aku menempelkan handuk hangat dengan hati-hati. "Aku sedang merawat, bukan menghakimi."
Ia tertawa lemah. Suaranya pecah. "Semua orang melihat."
"Aku bukan semua orang."
Kalimat itu membuatnya diam.
Aku tidak tahu apakah kata-kataku cukup. Mungkin tidak ada kalimat yang cukup untuk menutup luka bertahun-tahun. Tapi malam itu aku bisa melakukan hal kecil: tidak mundur, tidak memalingkan wajah, tidak membuatnya merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disesali.
Aku membersihkan keringat di bahunya, mengganti kompres, lalu mengambil obat penurun panas sesuai catatan Leo. Setiap kali tubuhnya menggigil, aku menahan tangannya.
Pada serangan paling buruk, ia mencengkeram pergelangan tanganku.
Kuat.
"Sakit?" tanyaku.
Ia tidak menjawab.
Matanya tertutup, tapi mulutnya bergerak pelan.
"Mama..."
Hatiku remuk.
Ini bukan Veronica.
Ini ibunya yang hilang.
Aku menunduk dekat telinganya. "Aku di sini."
Mungkin ia tidak mendengar.
Mungkin ia mendengar.
Genggamannya tidak lepas.
Sepanjang malam aku duduk di sisi ranjang, mengganti kompres, memeriksa suhu, dan memaki Si Kepo dalam hati setiap kali panelnya memberi angka yang membuatku ingin menangis.
Leo akhirnya tiba sebelum subuh, rambutnya berantakan, wajahnya galak.
"Minggir."
Aku langsung memberi ruang, tapi Reynard tidak melepas tanganku.
Leo melihat genggaman itu, lalu melihatku. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak bercanda.
"Bagus. Kalau dia sadar cukup untuk malu, berarti belum mati."
"Om Leo!"
"Apa? Aku sedang memberi kabar baik."
Ia memeriksa nadi, suhu, dan respons mata. Lalu menyuntikkan obat kecil yang sudah disiapkan dari kotak hitamnya.
"Serangan dipicu stres dan udara dingin," katanya pelan. "Ada kabar dari Hendra?"
Aku tidak menjawab.
Leo mengerti.
"Tentu saja."
Ia menatap Reynard yang setengah sadar. "Bocah keras kepala. Begitu dengar soal ibunya, tubuh langsung perang."
[Stabilitas meningkat.]
[Risiko akut menurun.]
Menjelang subuh, demamnya akhirnya turun.
Aku sangat lelah sampai tidak sadar kapan kepalaku jatuh ke sisi ranjang.
Ketika Reynard membuka mata, langit di luar masih abu-abu.
Tanganku masih berada dalam genggamannya.
Ia melihat handuk, obat, kemeja bersih, dan aku yang tertidur dengan posisi leher sangat tidak manusiawi.
Lama sekali ia tidak bergerak.
Lalu dengan tangan yang masih lemah, ia menyentuh ujung rambutku.
"Terima kasih," bisiknya.
Aku bergerak sedikit dalam tidur.
Ia menatapku, suara berikutnya hampir hilang di antara hujan.
"Terima kasih karena tidak takut."
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih