NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Terlalu Dekat

"Silakan coba."

Kalimat Felicia membuat Clarissa kehilangan jawaban.

Itu jauh lebih memuaskan daripada membuatnya berteriak.

Yesika tetap tersenyum, tetapi tatapannya sudah bergeser ke kamera resmi. Ia tahu rekaman hari itu tidak bisa dipakai untuk menjatuhkan Felicia. Jika dipotong sembarangan, Nathan Salim punya akses pada versi penuh. Jika dibiarkan utuh, Felicia terlihat seperti penyelamat pasangan lemah.

Kalah bukan hanya soal skor.

Kalah adalah ketika alat yang disiapkan untuk melukai berbalik menjadi bukti.

Saat kerumunan mulai bubar, Nathan mendekat.

"Feli," panggilnya.

Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat beberapa siswa menoleh.

Felicia berhenti. "Ketua OSIS."

Nathan menatapnya sebentar, seolah sapaan itu terlalu jauh, lalu kembali pada ekspresi tenang. "Ada beberapa hal tentang rekaman dan perubahan aturan yang perlu dikonfirmasi. Bisa ikut sebentar?"

Sis langsung aktif. "Tuan Rumah, kesempatan private moment!"

"Kamu terlalu senang."

"Ini bagian dari misi!"

Felicia menatap Nathan. "Bisa."

Ruang media OSIS berada di lantai dua gedung aula. Tidak besar, tetapi rapi. Ada komputer editing, rak kamera, kabel yang digulung dengan label, dan papan jadwal konten media sosial Akademi Bintang Mulia. Dari jendela, lapangan terlihat di bawah, mulai kosong setelah acara selesai.

Nathan menutup pintu, tetapi tidak menguncinya.

Detail kecil.

Ia sopan bahkan saat menciptakan ruang privat.

"Duduklah," katanya.

"Kamu selalu memberi perintah sehalus itu?"

Nathan berhenti di depan komputer. "Kedengarannya seperti perintah?"

"Kedengarannya seperti orang yang terbiasa dituruti."

Ia menyalakan monitor. Cahaya layar menyentuh wajahnya, membuat mata emasnya terlihat lebih pucat. "Kalau begitu, maaf."

Felicia duduk di kursi sampingnya. "Aku tidak bilang tidak suka."

Nathan tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke tangan kanan Felicia yang terletak di atas pangkuan.

Memar di pangkal ibu jari sudah lebih gelap daripada pagi tadi. Pertandingan ganda campuran memang ia mainkan dengan tangan kiri, tetapi gerakan menutup seluruh lapangan tetap membuat bahu dan pergelangan kanan ikut tertarik.

Nathan membuka laci kecil di bawah meja editing dan mengeluarkan cold pack sekali pakai.

"OSIS menyimpan ini untuk panitia yang cedera," katanya, seolah perlu memberi alasan kenapa ia memperhatikan.

Felicia melihat cold pack itu. "Kamu selalu menyiapkan semua kemungkinan?"

"Tidak semua." Nathan meremas kantong sampai bagian dalamnya pecah dan dingin menyebar. "Hanya yang bisa kuprediksi."

"Aku bisa diprediksi?"

Ia berhenti sebentar. "Belum."

Jawaban itu membuat Felicia tersenyum.

Nathan membungkus cold pack dengan tisu bersih sebelum menyerahkannya. Ia tidak menyentuh kulit Felicia. Perhatiannya berhenti tepat di batas sopan, rapi sekali, hampir terlalu rapi.

Felicia tidak mengambilnya langsung.

"Pasangkan," katanya.

Jari Nathan menegang.

Sis langsung berbisik, "Serangan langsung. Tuan Rumah, ini serangan langsung."

Nathan memandang Felicia, mencari tanda bahwa ia sedang bercanda. Ia tidak menemukannya.

"Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu," tambah Felicia.

Kalimat itu bekerja lebih baik daripada perintah.

Nathan mengambil napas pelan, lalu berlutut setengah di samping kursinya agar posisi tangan mereka sejajar. Ia meletakkan cold pack di punggung tangan Felicia dengan hati-hati, seolah benda itu bisa melukai kalau ditekan terlalu keras.

Dingin menyentuh kulit.

Jari Nathan menyentuh tepi tisu, bukan tangannya. Namun dari jarak sedekat itu, Felicia bisa melihat bulu matanya bergerak setiap kali ia menahan napas.

"Terlalu dingin?" tanyanya.

"Tidak."

"Terlalu kuat?"

"Tidak."

"Kalau sakit, bilang."

"Nathan."

Ia mengangkat mata.

Felicia tersenyum. "Aku tidak serapuh itu."

"Aku tahu." Suaranya lebih pelan. "Tapi aku tetap ingin memastikan."

Jari Nathan yang berada di mouse berhenti.

Sis berbisik, "Reaksi kecil. Napas berubah."

Felicia tidak perlu diberi tahu. Ia melihatnya sendiri. Leher Nathan menegang sedikit, tetapi wajahnya tetap rapi. Orang ini tidak seperti Jayden yang terbakar terang, atau Calvin yang membiarkan gelapnya terlihat jika pintu dikunci. Nathan menyimpan semuanya di bawah lapisan sopan santun.

Lapisan seperti itu biasanya mudah retak jika disentuh di tempat yang tepat.

Video pertandingan mulai diputar.

Nathan mempercepat bagian awal, lalu berhenti pada detik ketika panitia mengubah aturan. "Siswa ini menerima pesan sebelum mendekati wasit. Aku belum tahu dari siapa."

"Kamu akan mencari?"

"Ya."

"Untuk apa?"

Nathan menoleh. "Karena itu tidak adil."

Felicia menyandarkan dagu di tangan. "Aku tetap menang."

"Itu tidak menghapus pelanggaran prosedur."

"Kamu marah?"

Pertanyaan itu membuat Nathan diam lebih lama.

"Aku tidak suka melihat orang menggunakan sistem yang seharusnya netral untuk mempermalukan seseorang," jawabnya akhirnya.

"Seseorang?"

Matanya bergerak ke wajah Felicia. "Kamu."

Bagus.

Lebih jujur daripada sebelumnya.

Felicia mengulurkan tangan ke mouse sebelum Nathan sempat memutar ulang video. Jari mereka hampir bersentuhan. Nathan menarik tangannya setengah senti, refleks yang terlalu halus untuk disebut menghindar, tetapi cukup jelas untuk dibaca.

Felicia berhenti.

"Takut?"

"Tidak."

"Lalu kenapa mundur?"

Nathan menatap jarak kecil di antara tangan mereka. "Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman."

Felicia tertawa pelan.

Nathan memandangnya, sedikit bingung.

"Kamu lihat aku menjatuhkan orang, menang turnamen, mengalahkan dua pemain klub sendirian, dan kamu pikir sentuhanmu yang akan membuatku tidak nyaman?"

Wajah Nathan memanas sangat halus.

Sis mendesah dramatis. "Ikan mulai kekurangan oksigen."

Felicia mencondongkan tubuh, mengambil mouse dari bawah jari Nathan. Kali ini punggung tangannya menyentuh punggung tangan Nathan dengan sengaja.

Singkat.

Ringan.

Cukup.

Napas Nathan tersangkut.

Ia tidak menarik tangan lagi.

"Feli," katanya pelan.

"Hmm?"

"Kamu melakukan ini dengan sadar."

"Tentu."

"Kenapa?"

Felicia memutar video ke bagian ketika dirinya berkata, "Melindungi." Lalu ia menoleh. Jarak mereka kini tidak lebih dari satu telapak tangan.

"Karena kamu menarik saat berusaha tetap tenang."

Mata Nathan melebar sedikit.

Tidak banyak. Hanya cukup untuk membuat topeng sempurnanya tampak manusia.

Felicia mengangkat tangan dan menyentuh pin Ketua OSIS di dada kiri blazer Nathan. Bukan kulit. Hanya logam kecil yang dingin. Tetapi Nathan berdiri diam seperti sentuhan itu tepat mengenai tulang rusuknya.

"Simbol kekuasaan," kata Felicia. "Rapi. Bersih. Berat."

"Itu hanya pin."

"Tidak. Itu cara sekolah ini mengizinkanmu memerintah tanpa terlihat memerintah."

Nathan menelan ludah.

Felicia melepaskan pin itu. "Kamu cocok memakainya."

Pujian itu membuatnya lebih kacau daripada godaan.

Sis berbisik cepat, "Detak jantung target naik. Tidak ada pergerakan bintang, tapi data emosional meningkat."

Nathan memalingkan wajah ke layar, mencoba kembali pada video. "Aku akan mengirim rekaman lengkap ke arsip OSIS. Kalau ada potongan yang dipakai untuk menyerangmu, versi penuh bisa dipublikasikan."

"Kamu melindungiku?"

"Aku melindungi prosedur."

"Nathan."

Ia menoleh terlalu cepat.

Felicia tersenyum. "Jawaban yang buruk."

Untuk sesaat, ruangan itu sangat sunyi.

Lalu pintu ruang media OSIS terbuka.

"Nat, lo lihat kunci mobil gue nggak..."

Suara itu berhenti.

Jayden Hartono berdiri di ambang pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!