NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ular berbisa

Wanita berambut pirang yang sangat ia kenal sesang menghalangi jalannya.seperti biasa wajahnya yang membuat kesal itu menatapnya penuh initimidasi.

"Oh tuhan... lihat siapa yang keluar dari sarang naga dengan begitu percaya diri," ucap Savhelicha, berdiri di ujung jalan keluar, menghalangi jalur Halra. Savhelicha tampak menakjunkan dengan gaun hitam ketat yang provokatif, namun wajahnya tampak lelah dan matanya sedikit bengkak, menyiratkan malam yang panjang dan penuh kegilaan—malam yang dihabiskannya bersama pria misterius bermasker, namun bayangan Sano tetap mendominasi pikirannya yang kini penuh dengan kecemburuan.

Tazam segera melangkah maju, berdiri di depan Halra dalam posisi defensif, siap menghadapi ancaman. Namun, Halra menepuk pelan bahu pengawalnya itu, memberi isyarat untuk mundur selangkah dan membiarkannya menangani situasi ini sendirian. Ini adalah perangnya, dan dia tidak membutuhkan tameng saat ini. Halra menatap Savhelicha dengan tatapan dingin dan merendahkan, sama sekali tidak terintimidasi oleh aura agresif wanita di depannya.

"Minggir!!," ucap Halra datar, suaranya dingin seperti es. "Aku sedang tidak punya waktu untuk melayani drama dari siapapun, apalagi seseorang yang sudah kehilangan posisi di manapun itu"

Savhelicha tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar pahit dan menusuk. Dia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka, menantang ruang pribadi Halra. "Kehilangan posisi? Oh, kau sangat salah, Halra. Aku tidak pernah kehilangan posisiku di dekat sumber kekuasaan. Aku hanya sedang mengambil jeda untuk menikmati... sesuatu yang lebih memuaskan daripada pria tua bangka itu. Sesuatu yang nyata dan bukan sekadar pajangan yang menyedihkan."

Savhelicha menatap Halra dari atas ke bawah, menilai, mencari celah kelemahan, namun Halra berdiri tegak dengan topeng ketenangannya. Senyum licik terukir di wajah Savhelicha.

"Ngomong-ngomong soal pria... aku dengar kau membuat kegaduhan besar di pesta Nathan Greck dengan gaun punggung terbuka itu. Sangat putus asa untuk mencari perhatian, bukan? Apakah Sano tidak memberimu cukup perhatian di ranjang sampai kau harus memamerkan punggungmu ke seluruh kota untuk mengemis perhatian pria lain?"

Hinaan itu telak. Halra merasakan darahnya mendidih mendengar nama Sano dikaitkan dengan hinaan murahan di depan publik. Dia teringat kembali keganasan Sano semalam, dan rasa sakit di hatinya bercampur dengan amarah yang meluap. Namun, dia berhasil mempertahankan ketenangannya—bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Dia tahu inilah yang diinginkan Savhelicha—memancing amarahnya agar terlihat emosional dan lemah di depan publik. Halra tidak akan memberikan kepuasan itu.

"Kau pikir kau tahu segalanya tentang pernikahanku, Savhelicha?" Halra mendekat, tatapannya kini berubah menjadi sedingin es, seolah mampu membekukan Savhelicha di tempatnya. "Kau menghabiskan waktumu untuk bergosip dan tidur di klub malam dengan pria-pria tidak dikenal, sementara aku... aku mengurus bisnis Wiragata dan memastikan posisiku sebagai Nyonya Wiragata. Kau sudah tidak relevan, Savhelicha. Kau hanyalah masa lalu yang membusuk dan mencoba mencium bau bangkai untuk tetap hidup. Sangat menyedihkan."

"Masa lalu yang membusuk?" Savhelicha mendesis, matanya membelalak karena amarah yang tersulut hebat. "Kau tidak tahu apa-apa tentang sejarah antara aku dan Sano. "...tau apa kamu jika aku dan sano sudah melakukan itu..."

Kami adalah pasangan yang sempurna. Kami terikat oleh takdir yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh pernikahan kontrakmu itu. Dan kau... kau hanyalah pengganti yang menyedihkan, wanita kampung yang beruntung yang kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Sano tidak pernah mencintaimu. Dia hanya menggunakanmu sebagai pajangan untuk menutupi kehancurannya—kehilangan kita."

Halra tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar meremehkan dan menusuk. "Pengganti? Mungkin. Tapi setidaknya aku adalah istri sahnya. Dan aku... aku punya hak penuh atas dirinya. Kau tahu, Savhelicha... Sano mungkin terlihat dingin dan tanpa emosi di depan publik, atau bahkan di depanmu. Tapi kau tidak tahu... kau tidak akan pernah tahu... bagaimana rasanya tidur bersama Sano di ranjang. Dia adalah pria yang paling perkasa, buas, dan posesif yang pernah ada. Dia menghabiskan sepanjang malam hanya untuk memuja setiap inci tubuhku, memastikan akulah satu-satunya miliknya yang sah,dia terus memanggil namaku dan hanya namaku di setiap kenikmatannya!"

Savhelicha tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata mendengar balasan yang begitu intim dan provokatif. Dia tidak menyangka Halra akan berani membalas dengan detail kehidupan ranjangnya yang privat. Wajah Savhelicha memerah padam, bukan karena marah, melainkan karena rasa cemburu yang membakar dan penghinaan yang luar biasa. Kata-kata Halra secara tidak langsung mengingatkannya pada kegilaan pria misterius yang baru saja menghabisinya semalam—sebuah pelarian yang menyedihkan karena bayangan Sano tetap mendominasi pikirannya, membuat penghinaan ini terasa dua kali lebih menyakitkan.

"Kau... kau berbohong!" Savhelicha hampir berteriak, suaranya bergetar karena emosi yang campur aduk. "Itu semua dusta! Sano tidak akan pernah melakukan itu padamu! Dia jijik pada wanita murahan yang mencoba menguasainya! Kau hanyalah wanita yang mencoba membual tentang sesuatu yang tidak kau miliki dan tidak akan pernah kau dapatkan darinya secara tulus!"

"Oh, benarkah?" Halra menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat dingin, sebuah seringai yang mematikan.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan terencana, Halra mengangkat tangan kanannya yang lentik. Jemarinya mencengkeram blazer putih gadingnya dan menarik kerah bajunya ke bawah, tepat di sisi lehernya. Dengan satu tekanan jari yang kuat, Halra menggosok concealer tebal yang menutupi tanda-tanda di kulitnya dengan keras, tanpa ragu.

Satu, dua, tiga gosokan. Lapisan makeup tebal itu luntur di depan mata Savhelicha yang terbelalak, memperlihatkan warna ungu kemerahan yang gelap dan mengerikan—sebuah cupangan yang dalam, pekat, dan jelas dari keganasan Sano semalam. Sebuah tanda kepemilikan yang brutal dan tak terbantahkan.

Halra perlahan melepaskan kerah bajunya, membiarkan tanda itu terlihat jelas di lehernya yang jenjang, kontras dengan blazer putihnya yang formal. Tanda itu adalah bukti nyata dari malam panasnya bersama Sano—sebuah tanda yang Sano sendiri bersumpah hanya diberikan kepada istrinya.

Halra mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan wajah Savhelicha yang kaku. Nada suaranya rendah, datar, namun penuh dengan racun keyakinan mutlak.

"Simpan delusimu itu, Savhelicha," ucap Halra tajam.

Halra menegakkan tubuhnya kembali, menatap Savhelicha dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Jadi, jangan bermimpi untuk bisa merebutnya kembali. Karena aku tidak akan pernah melepaskan pria yang begitu hebat di ranjang itu untuk wanita murahan sepertimu."

Dengan satu tatapan terakhir yang penuh kemenangan, Halra berbalik dengan anggun dan melangkah menuju mobilnya, meninggalkan Savhelicha yang mematung di tengah trotoar Hotel Wiragata, hancur lebur oleh rasa cemburu dan kekalahan telak.

Dengan satu tatapan terakhir yang penuh kemenangan, Halra melepaskan cengkeramannya pada kerah baju, menatap Savhelicha dengan tatapan seorang pemenang. Halra berbalik dengan anggun dan melangkah menuju mobilnya, meninggalkan Savhelicha yang mematung di tengah trotoar Hotel Wiragata.

Namun, kemenangan itu terasa hampa begitu pintu mobil tertutup rapat.

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Halra bersandar di jok kulit yang dingin. Topeng wanita kuat dan tanpa cela yang dia pasang di depan Savhelicha retak seketika, lalu hancur berkeping-keping. Jantungnya tidak lagi berpacu karena adrenalin kemenangan, melainkan karena kecamuk ketakutan yang dingin dan melumpuhkan.

Kata-kata Savhelicha tadi terngiang-ngiang di telinganya, berputar tanpa henti bagaikan kaset rusak yang menyiksanya.

"...tau apa kamu jika aku dan sano sudah melakukan itu..."

Kalimat itu menghujam ulu hati Halra lebih dalam daripada hantaman fisik apa pun. Meskipun dia telah membalas dengan menunjukkan bukti fisik keganasan Sano semalam—dan pengakuan Sano bahwa itu adalah "pertama kalinya"—keraguan itu merayap masuk, menyelinap di sela-sela pertahanannya yang baru saja dibangun.

Bagaimana jika Savhelicha benar? bisik keraguan di dalam kepalanya. Bagaimana jika "pertama kalinya" itu hanyalah kebohongan manis Sano untuk memuaskan atau memanipulasimu saat itu? Sano adalah pria yang licin. Dia bisa saja mengatakan apa pun untuk menguasaimu.

Halra menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang dingin. Bayangan wajah Sano yang buas semalam, yang berganti dengan bayangan wajah licik Savhelicha, membuat dunianya berputar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!