kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Badawa ingin rasanya membawa Jaka Srenggi secepatnya dari tempat itu, tapi melihat Jaka Srenggi yang makan begitu lahap membuat Badawa memilih untuk meningkatkan kewaspadaannya.
"Jika bukan karena Jaka aku bisa dengan mudah meloloskan diri, tapi keadaan akan lain. Dari pancaran energinya lawan kali ini cukup merepotkan, apa mereka suruhan dari topeng hitam? Atau dia hanya pemburu hadiah??" gumam Badawa berpikir dan bertanya pada diri sendiri.
"Guru kenapa? Wajah guru tampaknya kelihatan sangat tegang??" tanya Jaka Srenggi yang melihat wajah waspada dari gurunya.
"Dasar bocah masih bau kencur, nyawanya sudah terancam masih saja sangat santai," kata Badawa dalam hatinya.
"Tidak ada, cepat kau selesaikan makanmu, Setelah itu kita lanjutkan perjalanan," kata Badawa memaksa Jaka Srenggi untuk mempercepat makannya.
Seperti yang dirasakan oleh Badawa, sekitar seratus meter dari mereka dua orang manusia sedang memperhatikan gerak gerik mereka. Mereka pasangan suami istri. Di dunia persilatan mereka di juluki sepasang merpati iblis.
Sepak terjang sepasang merpati iblis juga tak tanggung-tanggung, mereka pernah menghancurkan satu perguruan, meskipun perguruan kecil tapi itu sudah cukup melambungkan nama mereka di dunia persilatan.
Saat Badawa dan Jaka Srenggi meninggalkan desa yang mereka singgahi salah sepasang merpati iblis sudah merasakan kehadiran mereka. Dan saat Badawa mencari makan mereka menemukan jejaknya.
"Bagaimana kakang, apa kita serang sekarang??" tanya Mintarsih istri dari Jantur si merpati Iblis.
"kakang ragu, karena si muka mayat sangat lah sakti," kata Jantur
"Kenapa kakang jadi penakut seperti ini? Julukan kakang bukan isapan kosong belaka," kata Mintarsih memberi semangat pada suaminya.
"Tapi .... .!'
"Bayarannya kakang seribu keping uang emas,
dengan koin emas itu kita bisa mendirikan perguruan kecil, bukankah itu keinginan dan cita-citamu, kakang!'
"Memang benar, tapi melawan muka mayat tak semudah yang kau bayangkan. Kemampuannya kakang dengar sudah mendekati pendekar dewa."
"Alah, itu hanya rumor saja kakang, aku tak yakin, jika dia sehebat itu tak mungkin dia terus bersembunyi. Aku yakin itu hanya kabar burung saja kakang!' kata Mintarsih.
Jantur melihat istrinya dan melihat keseriusan di mata istri nya itu.
"Baik, kalau kau memang sudah tak peduli dengan hidup kita," ucap Jantur.
"Bukan tak peduli kakang, hanya saja aku merasa ini peluang yang sangat besar untuk mengubah hidup kita! Apa kakang tak yakin dengan kemampuan kita??"
"Kakang selalu yakin dengan kemampuan kakang, baiklah ayo ... .!" Ajak Jantur.
Sepasang merpati iblis melesat dan terbang menuju tempat Jaka Srenggi dan Badawa beristirahat. Saat jarak sudah semakin dekat Badawa pun semakin waspada.
"Mereka datang," desis Badawa.
"Siapa guru??" tanya Jaka Srenggi yang bersandar setelah menyelesaikan acara makannya.
"Pastinya guru tak tahu, tapi mereka memiliki kemampuan yang tak biasa, bersiaplah Jaka,
kali ini kawan kita bukan lawan yang biasa lagi,"
Melihat seriusnya ucapan Badawa, Jaka Srenggi berdiri dan menunggu lawan yang dimaksud oleh gurunya itu.
Dalam beberapa tarikan napas dua sosok berpakaian ungu mendekat dan semakin dekat. dan berdiri tak jauh dari depan Jaka Srenggi dan Badawa. Dari cara mereka yang turun tanpa suara di tanah sudah menandakan jika ilmu meringankan tubuh mereka sudah lah sangat tinggi dan tak bisa di pandang sebelah mata.
"Rernyata sepasang merpati iblis, ada apa ini? Aduh maaf makanan kami sudah habis," kata Badawa berbasa-basi.
"kakek peot, kami kemari bukan untuk makan,
tapi untuk membawa kepala kalian berdua," jawab Mintarsih langsung mengatakan tujuan mereka.
"Apalah arti kepala tua ku ini untuk kalian?
Seperti nya tak bisa untuk jadi pajangan kalian," kata Badawa yang terus mencoba memancing Mintarsih.
Badawa sudah mendengar siapa itu sepasang merpati iblis, dan yang paling mudah emosi adalah Mintarsih, sang merpati betina.
"Tak berguna katamu? sangat berguna dan itu akan membuat kami kaya raya," jawab perempuan itu.
"Begitu ya? Tapi aku tak mungkin memberikan kepala ku begitu saja, aku masih menyayangi kepala ku ini. Bahkan sangat aku sayangi," ucap Badawa.
"Jika kau tak memberikan, maka kau boleh pergi, tapi tinggalkan bocah itu kami kami," kali ini Jantur yang berbicara.
"Kalian boleh mengambilnya jika kalian mampu, itu pun aku tak akan tinggal diam."
"He nenek peot, kau pikir aku takut padamu!" kata Jaka Srenggi yang tiba-tiba bicara yang langsung membuat emosi Mintarsih baik sampai ke ubun-ubun kepalanya.
"Bocah keparat, aku akan menguliti mu! Akan ku penggal kepalamu!' mata Mintarsih sudah merah karena menahan amarah.
"Iau pikir aku akan diam saja? Aku akan meladeni mu, nenek peot," lagi lagi Jaka Srenggi membuat Mintarsih emosi.
"Hati-hati Jaka!" seru Badawa saat melihat Mintarsih sudah menyerang Jaka Srenggi. Badawa ingin menghadang tapi Jantur juga melesat ke arah Badawa.
"Aku lawan mu muka mayat, merpati iblis ingin mencoba nama besar mu," kata Jantur menantang Badawa.
Jantur langsung mempergunakan jurus terbaik yang dia miliki. Jurus-jurus dari kepak sayap merpati. tapi lawannya bukanlah lawan sembarangan, muka mayat juga sudah memiliki nama besar di dunia persilatan. muka mayat meladeni dengan jurus dari tangan api yang dia kuasai.
Mintarsih yang sudah sampai di depan Jaka Srenggi juga menggunakan jurus kepak sayap merpati, jurus yang penuh dengan trik dan tipuan. Jaka Srenggi seperti Badawa juga melawan dengan jurus tangan api. dua pertarungan terjadi di tempat itu.
Jaka melawan sekuat tenaganya, meskipun itu terlihat percuma di hadapan Mintarsih. Gerakan Mintarsih sangat cepat dan rapi, dan selalu mengancam ke tempat vital Jaka Srenggi.
Jari api tak berguna, Jaka Srenggi meningkatkan ke tapak api, Jaka Srenggi memukul ke depan Mintarsih sudah di samping, saat Jaka Srenggi menyerang ke samping, Mintarsih sudah berada di depan, Mintarsih seperti mempermainkan Jaka Srenggi.
Sambil menghindar Mintarsih tertawa dan terus mempermainkan emosi Jaka Srenggi.
"Tinju api!'
Tangan Jaka berubah menjadi merah seperti bara api. dia menyerang dan kali ini Mintarsih tak berniat menghindar lagi. Tangan lentik Mintarsih menahan pukulan dari Jaka Srenggi.
Blarrrr!
Ledakan pun terdengar, dan bersamaan dengan itu satu sosok berbaju biru terlempar jauh hampir sepuluh meter. dan itu tubuh Jaka Srenggi
Brakkkkkkk!
Tubuh Jaka Srenggi baru berhenti terlempar setelah menabrak sebatang pohon besar.
"Bagaimana bocah? Apa kau masih ingin meladeni ku??" tanya Mintarsih yang berjalan santai ke arah Jaka Srenggi.
"Jaka Srenggi!' Teriak Badawa.
"Berani mengalihkan perhatian saat bertarung?? kau sungguh berani," kata Jantur.
Badawa bisa saja mengalahkan Jantur, tapi sepertinya merpati iblis hanya mengukur waktu saja, dia ingin memberi waktu pada Mintarsih untuk bisa membunuh Jaka Srenggi terlebih dahulu.
"Sialan!"
Udara tiba-tiba berubah menjadi panas.