"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu
"xavi..!, ingat umur dong. Mau sampai kapan kamu begini?"
Nyonya wina pratama, wanita berusia 70 tahun nenek dan sekaligus orangtua satu-satunya yang xavier miliki, menatap cucu semata wayangnya itu gemas.
Xavier pria lajang penerus grup pratama jaya, kehilangan kedua orangtuanya saat berusia 15 tahun, dalam sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya.
Pria tampan berusia 34 tahun itu berulangkali menghembuskan nafasnya kesal, entah sudah yang keberapa kali, omanya memaksa dia menikah.
Bagaimana dia akan menikah, jika calon saja dia tak punya. 6 tahun lalu xavier memiliki tunangan yang cantik, catherine wijaya.
Namun wanita itu lebih memilih karier daripada menikah dengannya, seorang model internasional yang selalu wira-wiri baik di majalah model ataupun catwalk bertaraf internasional.
Cathy, mau menikah dengannya dengan syarat tidak memiliki anak. Dan tentu saja omanya sangat menentang, xavier paham maksud omanya. Namun sampai sekarang, wanita yang pernah dicintainya itu juga tidak menikah, cathy juga menunggu xavier.
Sesekali mereka masih sering bertemu, yah jelas tanpa sepengetahuan nyonya wina tentunya.
Tapi alasan sebenarnya mengapa xavier tak percaya diri untuk menikahi siapapun, kejadian 6 tahun silam kembali terngiang-ngiang di benaknya
One night stand, dengan seorang wanita yang dia sendiri tak mengenalnya.
Yang ia ingat hanya aroma wanita itu begitu manis, sampai detik ini ia berusaha mengingat wajah wanita itu, namun yang hadir hanya bayangan samar.
Rambut ikal, dengan aroma tubuhnya yang manis. Aroma mint tercium samar dari tubuh wanita itu.
Xavier kembali menghela nafasnya dalam-dalam. Tak ada petunjuk apapun, wanita itu tidak meninggalkan apapun padanya, walau hanya secuil petunjuk yang dapat xavier gunakan untuk mencari wanita itu.
Tak ada nama atau apapun, dan tentu saja cukup membuat xavier pratama berubah menjadi pribadi yang dingin karenanya.
Wanita sialan itu meninggalkan trauma yang sangat besar dalam hidupnya, membuatnya menjadi pria yang tak percaya diri.
"xavi..."
Xavier tersentak, menoleh. Tatapan nyonya wina kembali menyadarkannya.
"kalau kamu tak bisa menemukan siapapun untuk kamu nikahi, biar oma yang cari untukmu"
Lagi-lagi xavier menghela nafasnya kasar, dia berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya.
"pasti oma sudah punya calon yah!"
Nyonya wina mengangguk, "kalau pacar kamu mau memiliki anak, oma akan merestui kalian..tapi cathy memilih childfree"
"sudahlah oma..!" sambar xavier cepat, mata elang pria itu terlihat malas. Ia duduk di kursi meja kerjanya dengan anggun.
"aku tak keberatan untuk bertemu dengan calon dari oma, tapi aku nggak jamin kalau aku menerimanya"
"hhhhhh.." dengusan nyonya wina terdengar kasar, wajah tuanya terlihat kesal.
"trus untuk apa kamu ketemu dengan wanita itu, mau buat malu lagi? Sudah 10 kali kamu menolak wanita yang oma kenalkan, wanita bagaimana yang kamu cari?"
Xavier tersenyum tipis, namun tidak menjawab sama sekali. Sementara nyonya wina, omanya terlihat sangat kesal melihat reaksinya.
"kasih tahu oma kriteriamu, oma akan cari seperti yang kamu mau!"
Xavier tertegun, 'seperti yang kumau?'
"aku mau yang aromanya seperti mint" gumamnya berbisik.
Nyonya wina mengernyitkan keningnya, gumaman xavier tak terdengar.
"apa kamu bilang?"
Xavier menggeleng lesu, dengan malas dia bangun. Berdiri membelakangi omanya, menatap langit yang terlihat biru dari dinding kaca kantornya.
"pikirkan saran oma, xavi! tahun ini kamu harus menikah"
"oma...!" panggil xavier setengah protes, ia berbalik menatap lekat omanya.
Wanita tua itu sudah berdiri, sepertinya dia hendak pergi.
Kakinya sudah melangkah, namun sekali lagi dia menoleh ke arah cucu semata wayangnya itu.
"apa kamu mau keluarga pratama habis di kamu?, kamu ikhlas kalau keluarga pratama tak ada penerusnya"
"tapi om–"
"oma nggak terima alasan apapun, xavi!" sambar omanya cepat, wanita sepuh itu menggeleng cepat.
"oma tunggu kabar dari kamu!, kalau dalam bulan ini oma nggak terima berita dari kamu, kamu harus menikah dengan calon yang oma siapkan"
Xavier terdiam, hanya mengamati langkah nyonya wina yang menjauh.
Xavier menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kesal, tangannya membuka kancing jasnya. Tangannya menekan interkom, dengusan kesal dari hidungnya masih terdengar.
"suruh leo masuk" perintahnya dingin, matanya menatap pintu masuk dengan sorot tajam.
"bagaimana permintaanku, sudah kamu kerjakan!" tanyanya langsung tanpa basa-basi, begitu leo, asisten pribadinya itu masuk.
Pria tampan berambut klimis dengan kaca mata itu terlihat sedikit gugup. Berdiri pria muda itu juga terlihat tidak tenang.
"informasi yang bapak kasih ke saya kurang detail pak" sahutnya dengan suara setengah mencicit, takut.
Siapa yang tidak takut pada xavier, auranya yang dingin dengan tatapan mata elangnya yang selalu tajam, selalu sukses mengintimidasi lawan bicaranya.
Xavier bukanlah pria yang hangat, ditambah dengan wajah tampan, mata kebiruan dengan garis rahang yang tegas, siapapun mengakui kalau dia adalah pria tampan.
Namun auranya terlalu dingin, walau bejibun karyawan wanita di kantornya mengakui ketampanannya, namun tak ada yang berani untuk coba-coba tebar pesona padanya.
"hhhhhhh..."
Terdengar desah nafasnya yang berat, xavier menatap leo yang berdiri gelisah di depannya.
"saya tanya ke bar itu pak, tapi mereka tidak pernah punya pekerja dengan ciri-ciri yang bapak berikan, baik enam tahun lalu ataupun sekarang"
"kamu yakin?" mata xavier memicing dengan alisnya yang naik sebelah.
"atau kamu yang malas mencarinya"
Leo menggeleng, maju selangkah mendekati bosnya.
"apakah bapak tidak bisa memberi tahu saya, siapa namanya?"
Lagi-lagi terdengar hembusan nafas xavier terdengar berat.
"kalau aku tahu siapa namanya, untuk apa aku memintamu mencarinya!"
Xavier menatap asistennya itu, tangannya mengibas meminta leo keluar.
"tapi kamu harus tetap mencarinya leo" perintahnya tepat sebelum leo berbalik hendak meninggalkannya.
Pria muda itu mengangguk patuh, dan dengan segera pergi dari sana.
Xavier berdiri lagi, menatap keluar, memandangi langit yang siang itu terlihat sangat cerah.
"perempuan sialan" gumamnya kesal.
"aku harus menemukanmu, dan kamu harus bertanggung jawab mengembalikan kepercayaan diriku"
Jujur xavier sangat ingin menemukan wanita itu, seumur hidupnya baru wanita itu yang berani meninggalkan dia dalam keadaan tidur di hotel setelah bercinta semalaman.
Xavier sakit hati, kepercayaan dirinya hilang tak berbekas setelah wanita itu meninggalkannya begitu saja.
Dia yang selalu dipuja-puja wanita kemanapun dia pergi, namun wanita itu meninggalkannya bagai barang bekas tak berguna tanpa mengatakan apapun.
Seandainya wanita itu hanya wanita panggilan biasa, mungkin xavier tak perlu kepikiran seperti ini. Namun ia tahu, wanita itu bukanlah wanita panggilan. Noda darah yang wanita itu tinggalkan di alas tidur saat itu membuktikannya.
Xavier tahu, wanita yang ia tiduri malam itu adalah gadis polos dan masih perawan.
Gadis itu pasif dan hanya menunggu xavier yang memulainya.
"arghhhhh"
Xavier meremas rambutnya frustasi, sungguh ia menyesali mengapa malam itu dirinya mabuk, sehingga tidak terlalu mengamati wajah wanita itu.
Dan dirinya juga tahu, betapa kasarnya ia malam itu. rasa bersalah hadir saat dia melihat darah perawan di seprai putih ranjang hotel itu, rasa sakit karena penolakan cathy ia lampiaskan dan ia menulikan telinganya walau wanita itu menjerit-jerit kesakitan.
"aku harus menemukanmu, harus..."
Bersambung...
Hai...hai..., ketemu lagi dengan karya baruku' kau milikku sayang'
dukung terus yah, kasih saran dan juga like dan votenya
Dukung saya agar semakin semangat berkarya 💪💪❤️❤️