Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23 – PULANG
Setelah menyelamatkan Kayla, Lily langsung mengajak gadis itu menuju area tempat misi pembersihan zombie berada.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa cukup tenang. Sesekali mereka hanya mendengar suara angin yang berembus melewati bangunan-bangunan yang telah menjadi reruntuhan.
Lily melirik Kayla yang berjalan di sampingnya.
"Key, gue mau nanya deh. Lo dulu kok bisa gabung sama kelompok cowok-cowok brengsek itu?" tanya Lily penasaran.
Kayla terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan.
"Iya... aku sendirian. Dari kecil aku tinggal di panti asuhan. Waktu wabah zombie datang, hampir semua orang di sana meninggal... cuma aku yang selamat karena lagi sembunyi."
Kayla tersenyum pahit.
"Terus, beberapa hari kemudian ada sekelompok orang datang ke panti. Karena aku takut sendirian, akhirnya aku ikut mereka. Tapi... ya Kakak sendiri udah tahu gimana mereka memperlakukanku."
Lily menghela napas pelan.
"Kasihan juga hidup lo."
Kayla hanya menundukkan kepala.
"Yaudah, habis misi ini ikut gue aja."
Kayla langsung menoleh dengan mata membulat.
"Hah... serius, Kak?"
"Iya. Daripada lo hidup sendirian terus."
Senyum kecil akhirnya menghiasi wajah Kayla.
"Makasih, Kak..."
Lily hanya tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong, Kak Lily juga sendirian ya?"
"Oh, enggak. Gue tinggal sama keluarga gue. Ada bokap, nyokap, kakak-kakak gue, keluarga paman gue, sama beberapa orang lainnya."
"Oh..."
Wajah Kayla kembali dipenuhi keraguan.
"Kira-kira... mereka mau nerima aku nggak ya?"
Lily terkekeh kecil.
"Tenang aja. Mereka orangnya baik. Pasti nerima kok."
Mendengar jawaban itu, beban di hati Kayla sedikit berkurang.
Tak lama kemudian mereka mulai mendekati area yang dipenuhi aura kematian.
Lily menghentikan langkahnya.
"Key."
"Iya?"
"Lo tunggu di rumah itu aja."
Lily menunjuk sebuah rumah dua lantai yang kondisinya masih cukup bagus.
"Area zombienya udah dekat. Kondisi lo juga masih lemah. Gue takut nanti malah kenapa-kenapa."
Kayla terlihat ragu.
"Emm... oke."
Melihat ekspresi gadis itu, Lily langsung mengerti apa yang sedang dipikirkannya.
"Tenang aja. Gue bakal balik lagi. Gue cuma mau nyelesain misi sebentar."
Kayla akhirnya mengangguk.
"Iya, Kak."
Setelah memastikan Kayla masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya dari dalam, Lily langsung berlari menuju area zombie.
Beberapa menit kemudian...
Dari kejauhan, Lily sudah bisa melihat ratusan zombie berkeliaran memenuhi jalan.
Ia langsung bertanya kepada sistem.
"Sistem, kira-kira ada berapa zombie di sana?"
(DING!)
(Perkiraan sistem, jumlah zombie di area ini sebanyak 2.145 ekor.
- 1.040 Zombie Level 1.
- 1.104 Zombie Level 2.
- 1 Zombie Level 3.)
Perkiraan tingkat bahaya: Medium.
Lily mengangguk pelan.
"Masih sanggup."
Tak lama kemudian...
(DING!)
(Misi terpicu!
Basmi seluruh zombie di area ini.
Hadiah: 1 Kotak Berlian.
Terima misi YES / NO)
Sudah cukup lama sistem tidak memberinya misi.
Tanpa berpikir panjang, Lily langsung menekan tombol YES pada layar transparan di hadapannya.
Senyum lebar pun menghiasi wajahnya.
"Baiklah... saatnya panen hadiah."
Lily berjalan hingga jaraknya semakin dekat dengan gerombolan zombie.
Lalu...
Ia menarik napas dalam-dalam.
"HEI!! ZOMBIE KEPARAT!! KEMARI KALIAN!!"
Suara teriakannya menggema ke seluruh penjuru jalan.
"Groaaarr!"
"Roooaarr!"
"Graaaahhh!"
Raungan ribuan zombie langsung bersahut-sahutan.
Bukannya takut...
Lily justru tersenyum semakin lebar.
"Kemarilah... sumber hadiahku."
Dalam sekejap, ratusan zombie mulai berlari ke arahnya.
Lily mengangkat tangan kanannya.
Kilatan cahaya muncul.
Sebuah katana hitam langsung muncul dari ruang sistem dan mendarat tepat di genggamannya.
"Groaarr!!"
"Groaarr!!"
Raungan zombie semakin dekat.
Begitu jarak mereka hanya tersisa beberapa meter...
Syuut!
Tubuh Lily melesat bagaikan anak panah.
Sring!
Slash!
Buk!
Pluk!
Satu demi satu kepala zombie berjatuhan.
Katana di tangannya menari dengan indah, memotong setiap zombie yang mencoba mendekatinya.
Darah hitam berceceran ke segala arah.
Namun, tak setetes pun mengenai pakaian Lily.
Beberapa menit kemudian...
Zombie Level 1 dan Level 2 di sekitar area itu telah habis dibantai.
Kini hanya tersisa satu target.
Zombie Level 3.
Lily mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ke mana sembunyi lo..."
Namun...
Tiba-tiba...
Syuuut!!
Sebuah bayangan melesat dari sisi kanan dengan kecepatan luar biasa.
"?!"
Syuuut!!
Refleks Lily langsung mengangkat katananya.
Trang!!
Gelombang kekuatan yang luar biasa menghantam tubuhnya.
Brakkk!!
Tubuh Lily terpental hingga menghantam dinding sebuah gedung yang sudah retak.
"Hoek!"
Seteguk darah segar keluar dari mulutnya.
Lily mengusap darah di sudut bibirnya sambil meringis.
"Shhh... sialan. Jadi ini Zombie Level 3? Ternyata bertipe kecepatan."
Tatapannya kembali mengarah ke depan.
Tak jauh darinya berdiri seekor zombie dengan tubuh lebih ramping dibanding zombie biasa. Matanya merah menyala, sementara kedua kakinya tampak jauh lebih kekar sehingga mampu bergerak dengan kecepatan yang mengerikan.
Tanpa memberi kesempatan Lily berpikir...
Syuuut!!
Zombie itu kembali menghilang dari tempatnya.
Lily ikut melesat.
Syuut!!
Sring!!
Trang!!
Kecepatan keduanya hampir mustahil diikuti oleh mata manusia biasa.
Mereka saling berpapasan berkali-kali, tetapi tidak ada satu pun serangan yang berhasil mengenai sasaran.
"Cih..."
Lily mengerutkan kening.
"Zombie sialan... gimana cara ngebunuh lo?"
Di tengah pertarungan...
Zombie itu justru mengeluarkan suara aneh.
"Khek... khek... khek..."
Seolah sedang mengejek Lily yang belum berhasil mengenainya.
Mendengar suara itu, urat di pelipis Lily langsung berkedut.
"Keparat! Zombie tai! Gue bunuh lo!"
Lily segera menyimpan kembali katananya ke ruang sistem.
Sebagai gantinya, ia mengeluarkan sebuah kipas besi.
Tanpa menunggu lama...
Sringgg!!
Kipas itu dilempar dengan kecepatan tinggi.
Zombie tersebut langsung menghindar.
Namun...
Saat perhatiannya terfokus pada kipas besi...
Lily sudah lebih dulu muncul dari arah berlawanan.
Katana kembali berada di tangannya.
"Hehe... sekarang lo yang kesusahan, kan? Makanya jangan sombong."
Zombie itu baru menyadari jebakan Lily.
Ia berusaha menghindar.
Namun sudah terlambat.
Sring!!
Syuuut!!
Plugg!!
Katana Lily melintas cepat.
Dalam satu tebasan sempurna...
Kepala Zombie Level 3 langsung terpisah dari tubuhnya.
Bug!!
Tubuh zombie itu roboh ke tanah tanpa bisa bergerak lagi.
Lily menghela napas panjang.
"Huft... capek banget, gilak."
Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok gedung sambil mengatur napas.
"Zombie Level 3 aja sekuat ini. Gimana nanti kalau ketemu Level 4 atau bahkan Level 5? Bisa-bisa gue yang mati."
Setelah beristirahat beberapa menit, tenaga Lily kembali pulih.
Ia berjalan menghampiri bangkai Zombie Level 3.
Saat melihat kepalanya, Lily sedikit terkejut.
"Hah?"
Berbeda dari zombie biasa yang kristalnya berada di dalam tengkorak...
Kristal milik Zombie Level 3 justru menonjol keluar dari dahinya.
Lily tersenyum puas.
"Lumayan... bisa buat nambah kemampuan kecepatan."
Dengan hati-hati ia mencungkil kristal tersebut lalu menyimpannya ke dalam ruang sistem.
Sementara itu, seluruh kristal milik Zombie Level 1 dan Level 2 telah otomatis dikumpulkan oleh sistem.
Tak lama kemudian...
DING!!
Selamat! Tuan Rumah telah menyelesaikan misi.
Apakah Tuan Rumah ingin membuka hadiah sekarang?
YES / NO
Lily menggeleng.
"Nanti aja. Bukanya di rumah."
Layar transparan itu pun menghilang.
Karena misinya telah selesai, Lily segera berbalik meninggalkan area tersebut.
Ia harus menjemput Kayla.
Beberapa saat kemudian...
Lily akhirnya tiba di rumah tempat Kayla bersembunyi.
Ia berdiri di depan pintu lalu mengetuknya pelan.
"Key, ini gue. Buka pintunya."
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam.
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka.
Begitu melihat Lily berdiri dengan selamat, mata Kayla langsung berkaca-kaca.
"Kak Lily..."
"Aku kira Kakak ninggalin aku..."
Lily menggaruk belakang kepalanya.
"Lah, kan gue udah bilang suruh nunggu di sini. Berarti gue pasti balik lagi."
Kayla mengusap kedua matanya sambil tersenyum malu.
"Iya... maaf."
Lily terkekeh kecil.
"Udah, ayo pulang."
Kayla mengangguk semangat.
"Iya, Kak."
Keduanya pun mulai berjalan meninggalkan rumah itu.
Langkah mereka mengarah kembali menuju Pangkalan B.
Di perjalanan pulang, matahari mulai tenggelam di balik reruntuhan gedung-gedung tinggi.
Hari itu, Lily berhasil menyelesaikan misinya, memperoleh hadiah baru, sekaligus membawa pulang seorang anggota baru bernama Kayla.
Maaf kalo banyak typo
Okey see you next chapter guysss ☺️☺️