Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Simbol Ular Hitam
Edwin langsung mengernyit khawatir melihat kondisi Rosline yang memang terlihat sangat lemas sekarang. “Dia belum istirahat sejak tadi?” tanyanya serius.
Daniel yang baru kembali ke ruang tengah langsung menjawab pelan, “Nona Rosline sempat ketakutan di mobil, Tuan. Keadaan tadi cukup buruk.”
Rosline langsung menunduk malu. “Sa-saya tidak selemah itu…”
Namun kalimatnya justru terdengar kecil dan tidak meyakinkan.
Kakek Alberto mendecak pelan sambil menepuk tangan Rosline. “Sudah jelas wajahmu seperti mau pingsan begitu.”
Rosline makin salah tingkah.
Sedangkan Bara masih berdiri tepat di depannya dengan tatapan tajam memperhatikan wajah pucat gadis itu beberapa detik.
“Tadi kau makan apa?” tanyanya tiba-tiba.
Rosline berkedip bingung. “Eh?”
“Sejak siang.”
Rosline langsung menunduk pelan. “Belum sempat makan…”
Rahang Bara langsung mengeras sedikit.
Edwin bahkan memijat pelipisnya frustrasi. “Rosline…” desahnya pelan. “Di situasi seperti tadi kau tetap tidak makan?”
Rosline langsung panik menggeleng cepat. “Saya tidak lapar."
“Kau bahkan hampir pingsan di minimarket.” ucap Bara dingin.
Rosline langsung terdiam malu. Dan sebelum suasana makin aneh…
Krruukk…
Perut Rosline kembali berbunyi kecil di tengah ruang tengah yang hening. Semua orang langsung diam.
Wajah Rosline langsung merah padam.
Daniel buru-buru menunduk pura-pura batuk menahan tawa. Bahkan sudut bibir Edwin sempat bergerak tipis.
Sedangkan Kakek Alberto justru tertawa keras. “Hahaha! Astaga gadis ini!”
Rosline langsung ingin menghilang dari dunia. “Ma-maaf…”
Namun Bara justru mendengus pelan sebelum akhirnya berkata singkat pada salah satu pelayan yang berjaga.
“Siapkan makanan hangat.”
“Baik, Tuan.”
Rosline langsung buru-buru menggeleng. “Ti-tidak perlu repot Tuan! Saya masih punya mi instan...”
“Tidak boleh.” potong Edwin cepat.
Rosline langsung menoleh kaget.
Edwin menghela napas pelan. “Setelah syok seperti tadi, kau tidak boleh makan sembarangan dulu.”
“Ta-tapi..”
“Makan yang benar.” kali ini Bara yang bicara dingin.
Rosline langsung diam lagi.
Entah kenapa… dua bersaudara itu mendadak kompak membuatnya tidak berani membantah.
Beberapa menit kemudian salah satu pelayan datang membawa sup hangat dan teh panas ke ruang tengah. Aroma makanan langsung menyebar memenuhi ruangan.
Rosline yang tadinya malu akhirnya mulai lapar sungguhan sekarang.
“Cepat makan.” gerutu Kakek Alberto. “Kalau kau pingsan nanti cucuku makin stres.”
Rosline langsung tersedak kecil. “Ha-hah?”
Edwin spontan menahan batuknya sendiri.
Sedangkan Bara hanya menatap datar ke arah Kakek Alberto. “Opa.”
“Apa?” balas pria tua itu santai. “Aku tidak salah bicara.”
Rosline langsung makin salah tingkah dan buru-buru fokus pada sup di depannya.
Namun baru beberapa suapan…
Drrttt.
Salah satu monitor keamanan di ruang tengah tiba-tiba berbunyi.
Semua orang langsung menoleh cepat.
Salah satu penjaga keamanan terlihat muncul di layar CCTV sambil berbicara tergesa lewat alat komunikasi.
“Tuan Bara.” suara pria itu terdengar tegang. “Ada kendaraan mencurigakan berhenti sekitar dua ratus meter dari gerbang utama mansion.”
Suasana langsung berubah dingin lagi.
Rosline refleks menegang sambil memegang sendoknya erat.
Sedangkan tatapan Bara berubah tajam seketika. “Berapa kendaraan?” tanyanya rendah.
“Dua mobil hitam, Tuan.”
Edwin langsung berdiri dari sofa. “Aku akan cek kamera luar.”
Namun sebelum Edwin bergerak lebih jauh…
Rosline tiba-tiba refleks memegang ujung lengan bajunya tanpa sadar.
Pria itu langsung menoleh.
Wajah Rosline terlihat pucat lagi sekarang. “Ja-jangan keluar…” gumamnya pelan nyaris seperti memohon. “Kalau itu Black Viper bagaimana?”
Edwin langsung terdiam sesaat saat Rosline mencengkeram lengan bajunya.
Tatapan pria itu perlahan melembut melihat wajah pucat gadis di depannya. Rosline benar-benar terlihat ketakutan sekarang. Jemarinya bahkan sedikit gemetar saat memegang lengannya.
Beberapa detik suasana ruang tengah mendadak hening.
Lalu Edwin menghela napas pelan sebelum menepuk lembut tangan Rosline yang masih mencengkeram lengannya. “Aku tidak akan pergi jauh.” ucapnya tenang. “Aku hanya memeriksa kamera keamanan.”
Rosline langsung tersadar dan buru-buru melepaskan tangannya. “Ma-maaf…”
Namun sebelum Edwin sempat melangkah…
“Duduk saja.” Suara Bara terdengar dingin dari belakang.
Semua orang langsung menoleh.
Bara kini berdiri sambil menatap monitor CCTV dengan wajah tanpa ekspresi. Aura pria itu kembali berubah tajam dan menekan.
“Aku yang akan lihat.” lanjutnya rendah.
Edwin mengernyit tipis. “Kau baru saja kembali.”
“Aku tidak butuh istirahat.”
Nada suara Bara terdengar datar, tapi jelas tidak memberi ruang untuk dibantah.
Daniel langsung mendekat sedikit. “Tuan, saya bisa pergi memeriksa.”
“Tidak.” potong Bara cepat. "Kau tetap di dalam.”
Tatapan pria itu kembali ke monitor CCTV beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menuju ruang keamanan.
Namun saat melewati Rosline, langkahnya tiba-tiba berhenti sebentar.
Pria itu melirik mangkuk sup di tangan Rosline yang bahkan belum setengah habis. “Makan sampai habis.” ucapnya dingin.
Rosline langsung berkedip gugup. “I-iya…”
Baru setelah itu Bara kembali berjalan pergi.
Edwin memperhatikan punggung kakaknya beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk lagi di dekat Rosline. Sedangkan Kakek Alberto hanya mendengus kecil sambil menggeleng pelan.
“Anak keras kepala.” gerutunya.
Rosline diam-diam melirik ke arah lorong tempat Bara menghilang tadi. Entah kenapa… sejak ancaman Black Viper muncul, aura pria itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Dan jujur saja… itu membuat Rosline semakin khawatir.
Beberapa menit kemudian…
Monitor CCTV kembali berbunyi. Semua orang refleks menoleh. Kini wajah Bara muncul di layar dari ruang keamanan mansion. Tatapannya tajam memperhatikan rekaman kamera luar.
“Kendaraan itu belum bergerak?” tanyanya dingin lewat alat komunikasi.
“Sampai sekarang masih diam di tempat, Tuan.” jawab salah satu penjaga.
Edwin langsung menyipitkan mata. “Mereka sengaja memancing reaksi kita.”
Bara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata rendah, “Perbesar gambar plat mobil.”
Petugas keamanan segera menjalankan perintah itu. Namun tepat saat gambar diperbesar, ratapan Bara langsung berubah sangat dingin.
Edwin yang ikut melihat layar juga langsung mengernyit tajam. “Itu…”
Kakek Alberto perlahan menyipitkan mata tuanya. “Aku mengenal simbol itu.”
Rosline ikut menoleh bingung ke arah layar.
Di bagian depan salah satu mobil hitam itu… terlihat simbol ular hitam melingkar berwarna merah gelap.
Dan entah kenapa, suasana ruang tengah langsung terasa jauh lebih mencekam dibanding sebelumnya.
Tatapan Kakek Alberto masih tertuju tajam pada layar CCTV.
“Simbol ular hitam itu…” gumam pria tua itu pelan. “Sudah lama aku tidak melihatnya.”
Rosline langsung menelan ludah gugup. “Itu benar-benar simbol Black Viper?”
Edwin mengangguk kecil dengan wajah serius. “Mereka sengaja menunjukkannya.”
“Ancaman.” lanjutnya dingin. “Mereka ingin kita tahu kalau mereka sedang mengawasi mansion ini.”
Rosline langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.
Sedangkan di layar monitor, Bara masih berdiri di ruang keamanan dengan wajah tanpa ekspresi. Namun justru itu yang membuat auranya terasa lebih menekan sekarang.
“Perbesar kamera sisi kiri.” perintahnya dingin.
Gambar CCTV langsung berganti. Kini terlihat dua mobil hitam parkir di pinggir jalan gelap tidak jauh dari gerbang mansion. Lampu mobil mati. Tidak ada satu pun orang keluar dari kendaraan itu.
Suasananya justru terasa lebih menyeramkan.
Daniel mengernyit kecil. “Mereka seperti sengaja menunggu.”
“Tentu.” Bara menyandarkan satu tangan di meja ruang keamanan. “Mereka ingin melihat reaksi kita.”
Edwin langsung berdiri lagi. “Aku akan kirim tim keluar untuk memeriksa.”
Namun suara Bara langsung memotong tajam.
“Tidak usah.”
Edwin menoleh. “Kalau kita diam saja, mereka akan terus mengawasi mansion.”
Tatapan Bara berubah dingin. “Dan kalau itu jebakan?”
Suasana langsung hening.