Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Sementara itu di ruang tamu, suasana jauh berbeda. Tante Silvi sedang gencar melancarkan aksi obrolan seputar urusan perempuan dewasa bersama Syifa. Wanita paruh baya itu dengan antusias menunjukkan layar ponselnya, memperlihatkan sebuah situs belanja daring yang menjual berbagai macam gaun tidur berbahan satin dan brokat tipis.
"Nih, Syif! Lihat, kalau yang model ini bagus sekali. Warnanya merah marun, imut tapi seksi, cocok sekali dengan kulit kamu yang putih. Tante belikan ya? Langsung tante check-out malam ini," ujar Tante Silvi bersemangat, menggeser layar ponselnya ke arah wajah Syifa.
Wajah Syifa seketika pias, matanya berkedip-kedip ngeri melihat potongan pakaian yang luar biasa minim itu. "Tidak usah, Tante. Jangan repot-repot," tolak Syifa halus, tangannya melambai panik.
Tante Silvi tertawa renyah, lalu menggenggam jemari Syifa dengan lembut. "Tante kasih tahu ya, Sayang. Kalau sudah menikah, tidak masalah menyimpan koleksi banyak 'pakaian dinas' seperti ini di lemari. Ini rahasia dapur supaya suami tidak bosan di kamar, juga untuk menyenangkan hatinya."
Syifa hanya bisa tersenyum kecut, tenggorokannya mendadak kering. "Hehe... iya, Tante."
"Di luar sana, sudah terlalu banyak wanita yang memakai baju seksi yang biasa dilihat oleh para suami secara tidak sengaja. Jadi, usahakan kalau suami pulang ke rumah, kita di dalam kamar juga pakai pakaian dinas seperti ini untuk menarik seluruh perhatiannya hanya pada kita," urai Tante Silvi panjang lebar memberikan wejangan pernikahan.
"Aduh, ini pasti cakep banget kalau kamu yang pakai, Sayang. Tante sekalian belikan sepuluh deh dengan model yang berbeda! Nanti dipakai ya kalau lagi berduaan sama Fadhlan. Dijamin suami kamu itu bakal makin jatuh cinta setengah mati sama kamu, Syif," imbuh Tante Silvi berapi-api.
‘Ya Allah, Tante Silvi... Syifa jadi segan sekali untuk menolaknya. Tapi kalau membayangkan harus memakai baju kurang bahan itu di depan Pak Dosen... ngga kebayang malunya seperti apa!’ jerit Syifa meratapi nasibnya dalam hati.
"Emm... Tante, sungguh, jangan repot-repot beli sebanyak itu," ucap Syifa lagi, berusaha memelas.
"Ah, kamu ini, sama Tante sendiri seperti dengan siapa saja. Tidak repot sama sekali kok. Oh iya, Syifa Sayang..." Kalimat Tante Silvi terputus saat layar ponsel suaminya yang tergeletak di meja menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk. "Tolong panggilkan Om Romi di belakang ya? Bilang kalau ini ada telepon penting dari temannya."
"Iya, Tante. Syifa tinggal sebentar ya, Tante," jawab Syifa lega, menggunakannya sebagai alasan untuk kabur dari wejangan pakaian seksi tersebut.
--
Syifa pun berjalan memutari sekat ruangan menuju arah taman samping. Namun, ketika langkah kakinya baru saja mendekati pintu kaca yang menghubungkan ke kolam renang, suara berat Paman Romi yang mengalun tegas menghentikan pergerakannya.
"Dengar, Fad. Itu sudah menjadi hakmu yang mutlak sebagai suami. Kalaupun kamu memaksanya, kamu tidak salah di mata agama," suara Paman Romi terdengar jelas dari balik celah pintu.
Syifa tercekat, langkah kakinya terkunci di lantai.
"Saya bisa saja melakukannya malam ini, Om," sahut suara Fadhlan, terdengar datar namun sarat akan beban. Pria itu menengadah, menatap langit malam yang bertabur bintang sisa hujan. "Tapi bagaimana dengan Syifa? Hanya dengan melihat respon dan ketakutannya saja, Fadhlan sudah tahu jawabannya. Saya tidak mau membangun hubungan di atas keterpaksaan."
Paman Romi menghela napas panjang, terdengar kecewa.
Fadhlan menoleh, menatap wajah pamannya dengan sorot mata sendu. "Maaf kalau keputusan saya ini sudah membuat Om kecewa. Mungkin... Kakek, Abi, dan Ummi juga akan kecewa dengan Fadhlan kalau tahu hal ini. Begitu juga dengan orang tua dan kakeknya Syifa."
"Sudahlah, Fad. Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah. Tapi, jelaskan pada Syifa apa arti pernikahan yang sebenarnya. Om tahu, mungkin anak itu merasa terpaksa menikah denganmu karena perjodohan ini," ujar Paman Romi lagi, menepuk lengan keponakannya. "Tapi sekarang dia adalah wanita yang sudah mempunyai suami. Dan seorang wanita yang sudah menikah, tidak boleh lepas begitu saja dari tanggung jawab dan kewajibannya."
Fadhlan terdiam, merenungkan setiap jengkal perkataan pamannya. Semua yang diucapkan Paman Romi adalah kebenaran mutlak. Namun pada kenyataannya, mempraktikkannya tidak pernah terasa mudah bagi Fadhlan yang terlanjur mencintai Syifa sedalam ini.
"Insya Allah, nanti pelan-pelan Fadhlan beri tahu Syifa, Om."
"Harus, Fad. Kalau bisa disegerakan. Tidak baik untuk seorang pria yang sudah menikah menunda haknya terlalu lama," tandas Paman Romi.
Di balik pintu kaca, Syifa mendengarkan setiap patah kata itu dengan dada yang mendadak sesak. Jantungnya seperti dihantam gada besar. Air matanya hampir menitik mendengar penuturan Fadhlan. Ada rasa bersalah yang luar biasa besar yang mendadak menghimpit relung hatinya. Selama beberapa hari ini, ia menganggap santai hubungan mereka, menggampangkan urusan ranjang, hanya karena Fadhlan adalah pria yang lembut dan tidak pernah menuntut apa-apa darinya. Ia tidak pernah tahu jika suaminya harus menahan beban batin sedalam itu di depan keluarga mereka.
Saat emosi Syifa sedang berkecamuk, Fadhlan yang hendak berbalik tidak sengaja menangkap siluet tubuh istrinya yang berdiri mematung di dekat pintu.
"Syifa?" panggil Fadhlan lirih, matanya membelalak terkejut.
Paman Romi ikut menoleh ke belakang, mendapati menantu keponakannya ada di sana.
Syifa tersentak dari lamunannya. Dengan cepat ia menghapus sudut matanya yang basah, mencoba menguasai diri dan memasang senyum seprofesional mungkin meski terasa sangat kaku. "Emm, Maaf, Om. Di dalam ada panggilan masuk di ponsel Om, kata Tante dari temannya Om Romi, penting."
"Oh, iya kah? Kalau begitu Om ke ruang tamu dulu ya, Fad, Syif," pamit Paman Romi, menepuk pundak Fadhlan sekali lagi sebelum melangkah masuk melewati Syifa.
Kini, tinggallah mereka berdua di area taman belakang. Syifa menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan, tatapan sendu yang sarat akan rasa bersalah dan kepasrahan. Fadhlan yang kebingungan melihat perubahan drastis pada raut wajah istrinya segera melangkah mendekat.
"Kamu kenapa? Tidak enak badan?" tanya Fadhlan lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Syifa yang tertutup jilbab, menyalurkan rasa khawatir yang tulus.
Syifa menggeleng pelan, kepalanya tetap menunduk. "Tidak, Mas."
"Lalu kenapa melihat saya seperti itu?"
Syifa buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari kontak mata yang bisa membongkar tangisnya. "Hm? Itu... mata Syifa tadi tidak sengaja kelilipan angin malam. S-saya ke ruang tamu dulu menemani Tante," dalih Syifa, lalu bergegas pergi dengan langkah terburu-buru.
Fadhlan mematung di tempatnya, menatap punggung Syifa yang menjauh. ‘Anak itu kenapa lagi? Apa... dia mendengar semua pembicaraanku dengan Om Romi tadi?’ batin Fadhlan cemas.
Fadhlan segera menyusul masuk ke ruang tamu. Namun sesampainya di sana, Paman Romi dan Tante Silvi ternyata sudah bersiap-siap untuk pamit pulang karena urusan telepon mendadak tadi.
"Sayang, Tante sama Om pamit pulang dulu ya. Kalau ada waktu senggang, kamu sama Fadhlan harus main ke rumah Tante, loh!" Tante Silvi memeluk Syifa erat, yang dibalas anggukan patuh oleh Syifa.
"Insya Allah, Tante. Nanti kalau jadwal kuliah Syifa sudah longgar, kami pasti main ke rumah Tante dan Om," ujar Syifa lembut sembari mencium punggung tangan Tante Silvi dan Paman Romi secara bergantian.
"Fad, Om pulang dulu ya. Urusan pekerjaan," pamit Paman Romi.
"Iya, Om. Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah berkunjung," jawab Fadhlan mengantar mereka sampai ke depan pintu.
--
Setelah mobil paman dan tantenya membelah jalanan malam, Fadhlan memilih langsung kembali ke kamar atas terlebih dahulu. Pikirannya mendadak kalut, terngiang-ngiang akan nasihat Paman Romi tentang hak dan kewajiban. Ada secercah keinginan di hatinya, namun ego jantannya seketika surut oleh rasa ragu. Ia teramat takut jika Syifa akan menolaknya, terlebih mereka baru saja berbaikan dari kesalahpahaman sore tadi. Ia tidak ingin merusak kedekatan yang baru saja terbangun.
Sementara itu di lantai bawah, Syifa justru tengah termenung sendirian di meja makan dapur yang sepi. Ia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya di atas meja, meratapi kebodohannya.
"Ya Allah, Syifa jadi merasa bersalah sekali sama Mas Fadhlan," keluhnya lirih pada kesunyian ruangan. "Tapi... Syifa juga masih merasa takut dan belum siap sepenuhnya. Apa Syifa sudah termasuk golongan istri yang durhaka dan kufur pada suami sendiri Ya Allah?"
Syifa mengacak rambutnya frustrasi di balik jilbab. "Heuumm... berduaan dan dekat-dekatan seperti tadi saja rasanya jantung sudah mau copot, apalagi kalau harus melakukan 'itu' Aishh!" Syifa menepuk kedua pipinya dengan gemas, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang membuatnya merinding disko.
Lastri yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi belakang dan hendak kembali ke kamarnya, terkejut melihat nyonya mudanya masih duduk sendirian di kegelapan dapur.
"Non? Belum tidur?" tanya Lastri menghampiri.
Syifa tersentak, lalu buru-buru menegakkan tubuhnya dan tersenyum kikuk. "Eh, iya, belum, La. Ini lagi ingin minum air putih saja, mendadak haus, hehe."
"Mau Lastri buatkan cokelat panas atau minuman hangat yang lain, Non?" tawar Lastri tulus, berjalan mendekati meja makan.
"Eh, tidak usah, Lala. Terima kasih. Kamu langsung istirahat saja ke kamar, ini sudah larut malam, pasti kamu sudah lelah habis beres-beres."
Lastri tersenyum tipis. "Ah, Non, saya sudah biasa kok kerja jam segini. Tapi, Non sedang ada banyak pikiran ya? Atau lagi kangen sama Ummi dan Abi di kampung halaman?" tanya Lastri hati-hati, menangkap gurat kesedihan di mata Syifa.
Syifa menggeleng pelan, melempar senyum menenangkan. "Tidak kok, La."
"Terus, Non kenapa mukanya mendung begitu?"
"Tidak apa-apa, La. Ya sudah, saya masuk ke kamar dulu ya." Syifa bangkit berdiri membawa gelas kosongnya ke wastafel.
"Iya, Non. Selamat malam, selamat istirahat."
"Selamat malam, La."
Lastri menatap kepergian Syifa dengan helaan napas prihatin. ‘Hmm, kasihan Non Syifa. Pasti dia sebetulnya ingin sekali cerita atau berbagi beban, tapi mungkin takut kalau Den Fadhlan sampai tahu,’ batin Lastri menebak-nebak sebelum mematikan lampu dapur.
...----------------...
Di dalam kamar utama, Fadhlan berjalan mondar-mandir seperti setrikaan di depan tempat tidur. Perasaannya gelisah tidak karuan menanti kepulangan istrinya dari lantai bawah.
‘Astaghfirullah, dia pasti mendengar pembicaraanku dengan Om Romi. Tatapan matanya sebelum masuk tadi sangat berbeda,’ tebak Fadhlan dalam hati, merutuki kecerobohannya yang tidak memeriksa sekitar sebelum berbicara.
Cklek!
Suara pelan handel pintu yang ditekan membuat Fadhlan menghentikan langkahnya. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Syifa yang melangkah masuk dengan sangat perlahan.
Kondisi kamar saat itu sudah temaram. Fadhlan sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur berwarna kuning hangat di atas nakas samping tempat tidur. Syifa yang mengira suaminya sudah terlelap, berjalan mengendap-endap tanpa alas kaki agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur Fadhlan.
Namun, tebakan gadis itu meleset total. Di tengah remangnya cahaya, siluet tubuh tegap suaminya justru tengah duduk tegak di tepi ranjang, menatap lurus ke arahnya.
"Kenapa jalannya mengendap-endap seperti itu? Kakimu sakit?" suara berat Fadhlan yang tiba-tiba memecah keheningan sukses membuat Syifa melompat kecil karena terkejut.
"Astaghfirullahaladzim, Pak Dosen! Bapak belum tidur?!" pekik Syifa spontan sembari mengelus dadanya yang berdegup kencang akibat kaget melihat siluet hitam Fadhlan.
Mendengar sebutan itu keluar lagi dari mulut istrinya, Fadhlan mengembuskan napas dongkol. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, menarik selimut hingga sebatas dada. "Saya suami kamu di rumah ini, Asyifa. Bukan dosen kamu," gerutunya pelan dengan nada merajuk yang kentara.
Syifa langsung menggigit bibir bawahnya menyesal. ‘Aduh, Syifa! Kenapa pakai lupa lagi, sih! Sudah tahu dia paling tidak suka dipanggil Pak Dosen kalau sudah di dalam rumah!’ rutuknya dalam hati.
"Iya, Mas... maaf, Syifa lupa," cicit Syifa bersalah.
"Tidur. Sudah malam," ujar Fadhlan pendek, membalikkan badannya memunggungi Syifa, memasang mode merajuk tingkat tinggi.
"Iya, ini Syifa juga mau tidur kok." Syifa berjalan ke sisi lain tempat tidur, melepas jilbab instannya dan menaruhnya di gantungan pakaian, menampilkan rambut hitam panjangnya yang sebatas punggung. Ia kemudian naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Fadhlan.
"Selamat malam, Mas," lirih Syifa pelan.
Mereka berbaring saling membelakangi, menyisakan jarak kosong di tengah kasur yang luas. Karena tidak ada jawaban lisan dari Fadhlan, Syifa mengira suaminya yang kelelahan sudah terlelap begitu cepat masuk ke alam mimpi.
Syifa menghela napas, mulai membaca doa tidur di dalam hati dan perlahan memejamkan kedua kelopak matanya yang terasa berat. Namun baru saja matanya terpejam, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari arah belakang, menarik tubuh mungilnya tanpa jarak hingga menempel pada dada bidang Fadhlan.
"Ehh..." Syifa tersentak, napasnya tertahan.
"Jangan bergerak. Tetap seperti ini, sebentar saja," bisik Fadhlan dengan suara rendah yang bergetar tepat di tengkuk Syifa.
'Hmm kenapa orang satu ini hobi sekali membuat jantungku mau copot sih!’ jerit Syifa berteriak dalam diam, tubuhnya mendadak kaku seperti batu.
Fadhlan membenamkan wajahnya di sela-sela rambut panjang Syifa. Pria itu mencium puncak kepala istrinya dengan lembut, lalu perlahan menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari rambut Syifa, aroma terapi bunga lavender yang menenangkan, yang seketika menjadi candu baru bagi Fadhlan. Hembusan napas hangat Fadhlan di sela rambutnya membuat Syifa menggeliat kegelian.
"Ge-li, Mas..." protes Syifa, mencoba menggeser tubuhnya.
Fadhlan tidak menghiraukan protes halus itu. Ia justru menurunkan kecupannya ke area tengkuk Syifa yang sensitif, membuat istrinya kian bergidik menahan sensasi aneh yang menjalar ke tulang belakangnya.
‘Ya Allah, tolong jangan malam ini... Syifa masih malu sekali,’ batin Syifa panik. "Mas!" Syifa memutar sedikit tubuhnya lalu mencubit pelan lengan Fadhlan yang melingkar di perutnya.
"Akh! Sayang... sakit, loh," pekik Fadhlan dengan nada manja yang dibuat-buat, persis seperti anak kecil yang sedang mengadu.
Mendengar nada manja itu, hati Syifa mendadak meleleh. Siapa yang menyangka jika Pak Fadhlan, dosen statistik yang terkenal killer, dingin, dan kaku di area kampus, ternyata memiliki sisi manja yang luar biasa menggemaskan saat berada di atas ranjang bersama istrinya.
"Ya habisnya, Mas jahil duluan," rajuk Syifa memalingkan muka.
Fadhlan justru semakin mempererat pelukannya, menenggelamkan tubuh Syifa dalam dekapan protektifnya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Syifa, lalu berbisik dengan nada yang teramat lembut dan tulus, "Jangan dimasukkan ke dalam hati ya, perkataan Om Romi dan Tante Silvi tadi di bawah.
Syifa tertegun, matanya mengerjap di kegelapan
.
Fadhlan mengecup lembut pipi Syifa yang terasa halus. "Pelan-pelan saja, Sayang. Kita coba pendekatan di antara kita berdua pelan-pelan, ya? Saya tidak akan memaksa apa pun sebelum kamu benar-benar siap menerima saya seutuhnya sebagai suamimu."
Mendengar untaian kalimat penuh kelonggaran dan pengertian dari Fadhlan, batin Syifa terasa seperti diaduk-aduk. Rasa canggung dan rasa bersalah yang teramat besar kembali menghantam dadanya. Air matanya hampir saja menetes lagi.
"T-Terima kasih, Mas..." tutur Syifa dengan suara yang mulai serak, kepalanya menunduk sedih di atas bantal. "Pasti sulit sekali ya bagi Mas Fadhlan untuk terus menunggu Syifa seperti ini?"
"Tidak sama sekali," jawab Fadhlan tanpa keraguan sedikit pun. Ia mengusap helai rambut Syifa dengan sayang. "Selama yang saya tunggu itu adalah kamu, Asyifa Humaira... seribu tahun pun akan saya lalui dengan sabar."
Blush!
Tanpa bisa dibendung lagi, kedua pipi Syifa mendadak panas merona akibat gombalan maut suaminya. Detak jantungnya bertingkah abnormal, seakan ada ribuan bunga mawar yang mendadak bermekaran serentak di dalam rongga dadanya. ‘Ya ampun... apa begini rasanya digombali sama kekasih sendiri?’
Fadhlan yang memiliki kepekaan tinggi tentu sudah bisa menebak jika istrinya saat ini tengah salah tingkah di dalam pelukannya.
"Kenapa diam saja? Hmm? Sudah mengantuk?" goda Fadhlan sengaja memancing reaksi.
‘Ih, mode menyebelkannya kambuh lagi! Dia tidak tahu apa kalau istrinya ini sedang menahan malu setengah mati!’ gerutu Syifa kesal dalam hati. "Belum ih, Mas!" ketusnya ketus.
"Asyifa Humaira..." panggil Fadhlan lagi, nadanya merendah sarat akan afeksi.
"Hemm? Kenapa, Mas?"
"Ya Humaira... saya ingin melihat wajah cantikmu sebentar saja, sebelum kita tidur," ujar Fadhlan, memberikan serangan gombalan bertubi-tubi yang sukses membuat pertahanan Syifa runtuh berkeping-keping.
‘Panas dingin kalau kelamaan digombali terus sama Pak Fadhlan!' Sifat aslinya benar-benar beda 180 derajat kalau sudah berduaan begini!’ batin Syifa menjerit pasrah.
Mau tidak mau, demi menuruti permintaan suaminya, Syifa perlahan memutar tubuhnya, beralih menghadap ke arah Fadhlan. Kini mereka berbaring saling berhadapan dalam jarak yang teramat dekat. Fadhlan mengikis jarak yang tersisa, merapatkan tubuh mereka hingga hembusan napas mereka saling berkejaran di udara.
Fadhlan menatap lekat-lekat netra mata istrinya. Ia mengamati setiap inci pahatan kelopak mata, hidung kecil, hingga turun ke bibir mungil Syifa yang ranum di bawah temaramnya lampu tidur. Tidak ada satu detik pun pandangannya teralihkan, seolah Syifa adalah mahakarya terindah yang pernah ia lihat.
Chu~
Sebuah kecupan singkat namun penuh penekanan kembali mendarat di bibir mungil Syifa, meninggalkan sensasi sengatan listrik yang menyenangkan.
"Manis," bisik Fadhlan dengan senyuman tulus yang menawan, menatap lekat bibir istrinya yang sedikit terbuka karena terkejut.
"Saya sangat merindukanmu, Syifa. Dan tolong... jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan saya, atau sampai tergoda oleh lelaki lain di luar sana, hmm?" ucap Fadhlan lagi, mengeratkan pelukannya pada pinggang Syifa, seolah menegaskan bahwa gadis ini adalah miliknya seutuhnya.
Mendengar penuturan itu, hati Syifa bergetar hebat. ‘Masya Allah... sungguh indah makhluk ciptaan-Mu ini. Hamba seperti dibuat jatuh cinta berkali-kali pada pria yang sama malam ini,’ puji Syifa dalam hati, menatap pahatan wajah Fadhlan yang tampak begitu karismatik dari dekat.
"M-Mas... ayo tidur. Besok Mas Fadhlan harus berangkat kerja ke kampus pagi-pagi, kan?" tanya Syifa gugup, berusaha mengalihkan topik demi menyelamatkan kesehatan jantungnya yang sudah di ambang batas.
"Jawab dulu pertanyaannya, Sayang," tagih Fadhlan menuntut kepastian.
"Hmm... iya."
"Iya apa? Tidak ada kalimat lanjutannya?" Fadhlan menyipitkan matanya, menuntut jawaban yang lebih lengkap.
Syifa mendengus pasrah, wajahnya kian memerah. "Iya ih, Mas! Insya Allah... Syifa tidak akan pernah tergoda sama pria lain di luar sana."
‘Lagian, bagaimana mau tergoda sama cowok lain? Suami sendiri saja ketampanan dan perilakunya sudah paket komplit kiriman dari Allah! Harusnya kan aku yang bilang begitu supaya Pak Fadhlan tidak melirik mahasiswi atau dosen-dosen cantik di kampus sana!’ gerutu Syifa dalam benaknya.
Fadhlan tersenyum puas mendengar jawaban itu. Namun, sedetik kemudian seringai jahil kembali terukir di sudut bibirnya. "Tapi... kamu masih berhutang sesuatu malam ini."
Syifa mengernyitkan dahinya bingung. "Hutang? Hutang apa? Perasaan Syifa tidak punya hutang sama Mas Fadhlan," tanyanya kebingungan polos.
...****************...