Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : API YANG MEMBAKAR RUANG
THE ORIGIN : ZERO
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 21 : API YANG MEMBAKAR RUANG
Pasukan Black Cross telah memundurkan barisan mereka sesuai perintah dari sang pemimpin, menyisakan panggung kehancuran itu hanya untuk dua monster yang kini berdiri saling berhadapan.
Arlandi Varga menepuk pelan debu yang bahkan tidak menempel di bahu jasnya. Senyum miringnya mengembang, matanya menatap sang Ketua Black Cross dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan dan meremehkan.
"Kau tahu apa yang paling menggelikan dari kalian, para tikus jalanan?" Kata Arlandi, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Suaranya terdengar santai, namun sarat akan racun ejekan.
"Kalian bersembunyi di gorong-gorong busuk selama lebih dari satu tahun, berlagak seperti bayangan yang mematikan. Tapi begitu kalian berani keluar dari lubang... bum! Wakil Ketua kesayangan kalian langsung tertangkap layaknya hewan bodoh yang masuk perangkap."
Arlandi memutar-mutar koin perak di sela-sela jarinya, menertawakan musuhnya secara terbuka.
"Menyedihkan. Aku sampai bingung, apakah Black Cross ini sebenarnya organisasi kriminal yang ditakuti, atau sekadar perkumpulan para pengecut yang takut mati?"
Sang Ketua tidak langsung merespons. Ia berdiri tegak tak tergoyahkan. Mantel gelapnya berkibar ditiup angin malam yang mulai memanas akibat aura yang bocor dari pori-pori kulitnya. Di balik topeng besinya, sepasang mata sang Ketua memancarkan kilatan merah yang sangat dingin.
"Pengecut?" Suara sang Ketua terdengar berat, tenang, namun menembus jarak layaknya bilah pedang.
"Sungguh kalimat yang sangat ironis keluar dari mulut pria yang sampai detik ini masih kencing di celana jika mendengar nama Guardian Peringkat Pertama."
Senyum angkuh di bibir Arlandi luntur seketika. Putaran koin perak di sela jarinya terhenti. Urat di pelipis Sang Penakluk Ruang itu berkedut keras.
"Setidaknya, aku bersembunyi untuk membangun kekuatan." lanjut sang Ketua, nada suaranya kini dipenuhi sarkasme mutlak yang menampar telak harga diri musuhnya.
"Sementara kau? Seluruh dunia tahu bagaimana Guardian Alpha Peringkat Dua dari Indonesia lari terbirit-birit layaknya anjing ketakutan di tengah misi internasional tahun lalu. Kau meninggalkan rekan-rekanmu, yang mati dibantai, hanya untuk menyelamatkan lehermu sendiri."
Suhu di sekeliling sang Ketua mendadak naik drastis, membuat aspal di bawah kakinya mulai meleleh.
"Kau mencoreng nama Guardian negaramu hanya karena nyalimu menciut di hadapan bahaya sesungguhnya" kekeh sang Ketua pelan, menatap lurus ke arah Arlandi.
"Jadi, Arlandi... di antara kita berdua, siapa anjing pengecut yang sesungguhnya?"
KRAAAK!
Koin perak di tangan Arlandi hancur menjadi serbuk halus akibat remasan tangannya yang gemetar karena amarah murni. Aib terbesar dan trauma psikologisnya baru saja ditelanjangi dan diinjak-injak oleh seorang pemimpin kriminal di depan publik.
Rasa bosan Arlandi menguap tak bersisa, digantikan oleh raut psikopat yang kehilangan kewarasannya.
"Aku... akan memastikan tulang-tulangmu hancur menjadi debu yang bahkan tidak memiliki dimensi ruang!" raung Arlandi.
Ia menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap mata, sosoknya menghilang dari pandangan, tertelan oleh celah ruang yang ia ciptakan sendiri.
SRAAAK!
Udara di belakang sang Ketua mendadak terbelah. Kaki Arlandi yang terbungkus Mana gravitasi seratus kali lipat menghantam telak
punggung sang Pemimpin Black Cross.
Ledakan gravitasi itu begitu kuat hingga membuat dasar kawah ambles sedalam tiga meter. Namun, sang Ketua hanya bergeser beberapa inci.
Mantel hitamnya terbakar habis, memperlihatkan otot-otot lengannya yang bersinar kemerahan layaknya besi yang baru diangkat dari tungku penempaan.
"Lambat," desis sang Ketua.
Sang Ketua memutar tubuhnya dan mengayunkan tebasan api horizontal yang suhunya mampu membelah baja. Namun serangannya hanya menembus udara kosong. Arlandi sudah berteleportasi kembali, muncul tiga puluh meter di udara, melayang dengan gaya gravitasi yang ia manipulasi sendiri.
"Kau pikir kau bisa menantangku?!" Arlandi merentangkan tangannya, melepaskan distorsi ruang tak kasat mata dari berbagai sudut buta atas, bawah, kiri, kanan.
"Kau tidak bisa mengenai sesuatu yang tidak ada di ruang yang sama denganmu!"
Sang Ketua terdiam di tengah kawah. Ia memejamkan mata di balik topeng besinya.
"Kau....!, terlalu berisik anjing pecundang "
Sang Ketua membuka matanya. Kilatan merah menyala menembus pekatnya malam. Ia tidak merapal mantra panjang atau mempersiapkan kuda-kuda. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang terbungkus api ke arah langit.
Langit malam di atas Sektor 4 seketika mendidih. Awan-awan hitam tersibak paksa oleh fluktuasi Mana yang luar biasa masif. Udara bergetar hebat saat puluhan formasi sihir api raksasa berlapis-lapis terbentuk secara bersamaan, menutupi seluruh cakrawala Sektor 4.
Dari balik pusaran formasi tersebut, puluhan meteor berukuran sebesar bongkahan gedung meluncur turun dengan kecepatan memecah suara. Sang Ketua tidak hanya memanggil satu, melainkan menyemburkan hujan meteor secara beruntun tanpa henti layaknya senapan mesin berskala bencana alam.
Panas yang dihasilkan membuat aspal di kawah langsung menggelegak. Pasukan Black Cross di kejauhan menahan napas, terpaksa mundur lebih jauh untuk menghindari gelombang panas dari langit yang seolah sedang runtuh.
Namun, Arlandi yang melayang tepat di tengah titik pusat jatuhnya meteor-meteor itu justru tertawa terbahak-bahak. Matanya membelalak dipenuhi arogansi.
"Trik murahan!" raung Arlandi.
Ia merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Tidak ada sedikit pun niat untuk menghindar di matanya. Urat-urat di lehernya menonjol saat ia memadatkan seluruh sirkuit sihir ruang di sekelilingnya.
Ruang di atas kepala Arlandi mendadak retak layaknya cermin raksasa yang pecah, membentuk jaring-jaring tak kasat mata dari celah Event Horizon.
Saat gelombang pertama dari puluhan meteor raksasa itu menghantam pertahanan Arlandi, pemandangan yang melanggar akal sehat pun terjadi.
ZRAAAASSH! Meteor-meteor yang menyala terang itu tidak meledak atau menghancurkan area. Saat bersentuhan dengan sihir Arlandi, bongkahan-bongkahan raksasa itu langsung menghilang seperti tertelan oleh lubang hitam
yang tak berdasar.
Arlandi tertawa penuh kemenangan di tengah badai meteor yang lenyap di atas kepalanya.
"Sudah kubilang, trik murahan! Berapa banyak pun batu yang kau lemparkan, aku hanya perlu membuangnya menghancurkannya. Kau hanya membuang-buang Mana-mu, Ketua!"
Di dasar kawah, sang Ketua perlahan menurunkan tangannya. Api yang menyelimuti tubuhnya tidak memudar, melainkan semakin memadat, mengubah warnanya dari merah pekat menjadi biru keputihan.
"Sihir Gravitasi dan Dimensi sangat merepotkan. Tapi mereka tetaplah sebuah sihir, Arlandi," ucap sang Ketua.
Suaranya bergema aneh, tidak lagi terdengar marah, melainkan penuh dengan kepastian.
"Apa yang terjadi jika kau terus memompa panas ekstrem ke dalam ruangan yang tertutup?"
Tawa Arlandi terhenti seketika.
Tiba-tiba, suhu di udara melonjak ke tingkat yang mengoyak batas kewajaran. Jaring-jaring ruang kehitaman yang diciptakan Arlandi untuk menelan meteor-meteor itu mendadak bergetar hebat. Ujung-ujung retakan dimensinya mulai memancarkan cahaya jingga terang yang menyilaukan.
Arlandi membelalakkan matanya. Insting bertahannya menjerit. Ia mencoba menutup portal-portal tersebut, namun sirkuit sihirnya menolak untuk merespons.
"S-sial! Apa yang—"
"Suhu ekstrem tidak hanya membakar materi,"
Potong sang Ketua dengan dingin, mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.
Di dalam dimensi buatan Arlandi, puluhan bongkahan meteor super panas yang tertelan tadi telah terkumpul dan menciptakan reaksi termal berantai. Panasnya tak lagi bisa ditampung oleh dinding dimensi sang Penakluk Ruang.
KRAAAAK... PRANGGG!
Pemandangan yang belum pernah tercatat dalam sejarah Asosiasi pun terjadi. Portal ruang tak kasat mata itu mencair dan pecah berkeping-keping layaknya kaca rapuh yang disiram lahar.
BOOOOOOMMMMM!
"ARRRGGGHHH!"
Jeritan kesakitan Guardian Peringkat Dua itu tenggelam dalam deru ledakan. Tubuhnya terhempas dari udara layaknya burung dengan sayap yang terbakar hangus. Jas mahalnya terkoyak, kulitnya melepuh parah. Ia menghantam aspal dasar kawah dengan sangat keras hingga menciptakan kawah baru sedalam lima meter.
Tanpa membuang sedetik pun waktu, sang Ketua melesat menembus asap ledakan.
"Neraka Ekstrem: Domain Magma!"
Sang Ketua menghentakkan kakinya yang berlapis api biru. Seketika itu juga, tanah, aspal, dan beton di radius ratusan meter di dasar1 kawah mencair. Arena pertarungan itu berubah menjadi lautan magma yang bergejolak ganas, siap menelan apa saja yang berani berpijak.
Arlandi terbatuk memuntahkan darah. Menyadari pijakannya berubah menjadi lahar, ia mati-matian membalikkan gravitasi pada tubuhnya untuk kembali melayang di udara dengan napas terengah-engah.
Wajah sombongnya telah hancur total, digantikan oleh raut psikopat yang murni dipenuhi kepanikan dan rasa terhina yang membakar jiwanya.
"KAU... KAU BERANI MEMBAKAR DIMENSIKU?!" Teriak Arlandi.
Aura ungu pekat meledak dari tubuhnya dengan intensitas yang merusak pembuluh darahnya sendiri. Ia telah melewati batas kewarasannya.
"MATI KAU, SERANGGA!"
BAB 21 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•