Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG SAMAR DAN PERJALANAN YANG BARU
Selama beberapa hari berikutnya, mereka bekerja keras mengumpulkan segala bukti dan informasi yang ada. Mereka memeriksa catatan-catatan lama, bertanya kepada orang-orang yang mungkin tahu sesuatu, dan menelusuri jejak-jejak yang ditinggalkan selama bertahun-tahun yang lalu. Pekerjaan ini tidak mudah, karena banyak hal yang sudah hilang, diubah, atau bahkan dihapus dengan sengaja, seolah-olah orang itu benar-benar ingin memastikan tidak ada yang bisa menemukan kebenaran di balik segala perbuatannya.
Sore itu, matahari sudah mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang masuk lewat celah jendela ruangan tempat mereka bekerja. Meja di depan mereka sudah dipenuhi dengan tumpukan kertas, peta, dan catatan-catatan yang berisi keterangan dari berbagai tempat dan waktu. Wajah-wajah mereka terlihat lelah, tapi di mata mereka masih ada semangat yang menyala terang, karena mereka tahu apa yang sedang mereka perjuangkan ini adalah hal yang benar dan sangat penting.
“Lihat ini,” ujarRaka sambil menunjuk ke salah satu lembaran kertas tua yang sudah agak kusam dan warnanya mulai memudar.
“Dari catatan ini terlihat jelas, bahwa hampir semua peristiwa buruk yang pernah terjadi di negeri ini selama dua puluh tahun terakhir, entah itu kerusuhan, pencurian harta milik umum, atau bahkan perselisihan di antara kelompok-kelompok masyarakat, semuanya ada kaitannya dengan dia. Entah secara langsung maupun tidak langsung, ia selalu ada di belakangnya.”
Gubernur William mengangguk pelan, sambil memijat pelipisnya yang terasa pening karena terlalu lama memikirkan dan memeriksa segala hal ini.
“Aku tidak menyangka sama sekali... selama ini aku mengira ia adalah orang yang paling bisa diandalkan, orang yang selalu memikirkan kepentingan orang banyak. Ternyata semua itu hanyalah topeng belaka, yang ia pakai untuk menutupi sifat aslinya yang sebenarnya. Ia pandai sekali memainkan peranannya, sampai tidak ada seorang pun yang pernah mencurigainya sedikit pun.”
“Memang begitulah cara kerjanya,” tambah Rian yang duduk di sisi lain, wajahnya terlihat serius dan penuh rasa menyesal. “Ia tidak pernah terlihat melakukan sesuatu yang salah secara terang-terangan. Ia selalu memakai orang lain sebagai perisai dan alatnya. Kalau ada yang berhasil, dialah yang akan mendapatkan pujian dan keuntungan. Tapi kalau ada yang gagal atau terungkap, orang lainlah yang akan disalahkan dan menanggung segala akibatnya. Kakakku dan orang-orang lain itu hanyalah pion-pion kecil saja dalam permainannya yang besar ini.”
Alana yang sejak tadi diam sambil membaca satu per satu berkas yang ada, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Ada ekspresi terkejut dan juga khawatir yang terlihat di wajahnya.
“Ada sesuatu yang harus kita ketahui,” beritahu Alana dengan suara yang membuat semua orang langsung menoleh dan memusatkan perhatian padanya.
“Di sini tertulis, bahwa ia tidak hanya mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan saja. Ia juga sedang mengembangkan sesuatu yang sangat berbahaya, sesuatu yang kalau sampai selesai dan digunakan, bisa menimbulkan kerusakan dan penderitaan yang luar biasa besar bagi banyak orang.”
“Apakah itu?” tanya Raka cepat, suaranya langsung berubah tegang.
“Belum jelas tertulisnya apa persisnya,” jawab Alana sambil menggelengkan kepalanya. “Hanya ada keterangan samar-samar saja, bahwa benda atau kekuatan itu akan membuat siapa saja yang memilikinya menjadi orang yang paling berkuasa, yang tidak bisa dikalahkan atau dihentikan oleh siapa pun juga. Dan dari catatan ini juga, diketahui bahwa ia sedang menyimpannya dan mengembangkannya di sebuah tempat yang tersembunyi, jauh di dalam daerah pegunungan yang terjal dan jarang orang yang pernah datang ke sana.”
Mendengar itu, suasana di ruangan itu seketika menjadi sunyi dan berat. Mereka semua sadar, bahwa apa yang sedang mereka hadapi ini bukanlah masalah yang kecil atau biasa saja. Kalau sampai apa yang sedang disiapkan oleh orang itu benar-benar ada dan berhasil diselesaikan, maka dampaknya akan sangat mengerikan, dan akan sangat sulit sekali bagi mereka untuk menghentikannya nanti.
“Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” kata Raka setelah beberapa saat hening. “Semakin lama kita diam saja, semakin besar pula bahaya yang akan mengancam kita dan orang-orang yang kita cintai. Kita harus pergi ke tempat itu, mencari tahu apa sebenarnya yang sedang ia siapkan, dan menghentikannya sebelum semuanya terlambat.”
“Tapi tempat itu bukanlah tempat yang mudah untuk dicapai,” tutur Gubernur William dengan nada yang penuh pertimbangan.
“Daerah pegunungan itu terkenal sangat sulit untuk dilewati, jalannya terjal dan berbahaya, dan juga konon di sana sering terjadi hal-hal yang aneh dan tidak wajar. Belum lagi, pastilah tempat itu sudah dijaga dan dipersiapkan sedemikian rupa, supaya orang luar tidak bisa masuk dengan mudah.”
“Aku tahu itu, Gubernur,” jawab Raka dengan tegas. “Tapi apa pun yang terjadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus pergi ke sana. Dan aku juga tidak akan membiarkan orang lain saja yang pergi menghadapi bahaya ini. Aku sendiri yang akan berangkat ke sana.”
Mendengar kata-kata itu, tangan Alana yang sedari tadi memegang lengan Raka langsung digenggamnya lebih erat. Ia menatap wajah orang yang dicintainya itu, matanya terlihat penuh kekhawatiran, tapi juga ada ketegasan yang tidak bisa diubah.
“Kalau kau pergi, maka aku pun ikut serta,” katanya dengan suara yang tenang tapi pasti.
“Kau pikir aku akan diam saja di sini menunggu, sementara kau pergi menghadapi bahaya yang tidak diketahui ujung pangkalnya? Tidak akan pernah, Raka. Kita sudah berjanji, apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama, bukan? Aku tidak akan membiarkan kau pergi sendirian ke tempat yang berbahaya itu.”
Raka menatap wajah Alana dalam-dalam. Ia bisa merasakan ketulusan dan kekuatan yang ada di dalam kata-kata gadis itu. Ia tahu betul bahwa tidak ada gunanya melarangnya, karena Alana bukanlah orang yang akan mundur atau menyerah begitu saja.
“Baiklah, sayangku,” katanya akhirnya sambil tersenyum tipis, dan ia membalas genggaman tangan gadis itu dengan lembut. “Kita akan pergi bersama. Seperti biasa, kita hadapi semuanya berdua. Tapi aku minta satu hal saja, apapun yang terjadi nanti, apapun bahaya yang datang, kau harus selalu menjaga dirimu sendiri, dan selalu berada di dekatku. Aku tidak akan sanggup kalau sampai ada apa-apa dengan dirimu.”
Alana tersenyum, senyum yang menenangkan hati, lalu ia mengangguk.
“Aku janji. Dan kau pun juga harus berjanji hal yang sama padaku, ya?”
“Aku berjanji,” jawab Raka tanpa ragu sedikit pun.
“Kalau begitu, aku juga ikut serta,” kata Rian yang tadi hanya mendengarkan saja. “Tempat yang kalian bicarakan itu, aku pernah mendengarnya dari cerita kakakku dulu. Aku tahu sedikit tentang jalannya dan keadaan di sana. Kehadiranku mungkin bisa membantu kalian, dan selain itu, inilah kesempatanku untuk benar-benar menebus segala kesalahan yang sudah aku perbuat di masa lalu. Aku tidak mau tinggal diam saja sementara kalian berjuang dan berkorban demi kebaikan banyak orang.”
Gubernur William menatap mereka satu per satu, ada rasa bangga dan juga rasa haru yang terlihat di wajahnya.
“Kalau begitu, aku pun akan ikut serta. Aku sudah tua, dan mungkin tenagaku tidak sekuat kalian lagi, tapi pengalaman dan pengetahuanku mungkin bisa berguna untuk kalian. Dan lagi, orang ini adalah orang yang aku kenal baik, aku yang pernah menganggapnya sebagai teman dan saudara sendiri. Aku juga merasa bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan selama ini, dan aku ingin melihat sendiri bagaimana akhirnya semua ini.”
“Tapi Gubernur, itu terlalu berbahaya untuk kau lakukan,” kata Raka dengan nada khawatir.
“Usia kau sudah tidak muda lagi, dan perjalanan ini pasti akan sangat melelahkan serta penuh risiko. Kami khawatir ada apa-apa dengan dirimu.”
“Raka, dengarkan aku,” kata Gubernur William sambil menepuk bahu pemuda itu dengan lembut tapi tegas. “Hidup ini tidak diukur dari berapa lama kita bisa hidup, tapi dari bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri. Kalau aku hanya diam saja di sini sementara orang-orang yang aku sayangi pergi menghadapi bahaya, maka aku tidak akan pernah merasa tenang dan bahagia selama sisa umurku nanti. Biarkan aku ikut serta, ini adalah keinginanku, dan aku yakin aku bisa berguna bagi kalian.”
Melihat tekad yang sudah bulat dari orang-orang yang ada di hadapannya, Raka akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Kalau itu sudah menjadi keinginan kalian, maka aku tidak bisa melarangnya lagi. Kita akan berangkat bersama-sama, sebagai satu kesatuan. Dan aku yakin, dengan kita bersatu hati dan saling menjaga satu sama lain, kita akan bisa melewati segala rintangan dan bahaya yang ada di depan sana.”
Selama dua hari ke depan, mereka sibuk mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk perjalanan yang panjang dan berat ini. Mereka menyiapkan bekal makanan, pakaian, peralatan untuk bertahan hidup di alam bebas, dan juga perlengkapan untuk melindungi diri kalau sampai ada bahaya yang menyerang. Semua dilakukan dengan hati-hati dan terencana, karena mereka sadar bahwa mereka akan pergi ke tempat yang tidak ada yang tahu pasti apa yang akan mereka temukan di sana.
Malam sebelum keberangkatan, Raka dan Alana pergi berdua ke tempat kesukaan mereka, tempat di mana Raka pernah melamar Alana, tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan indah dan berharga bagi mereka berdua. Langit malam itu terlihat sangat indah, penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, dan cahaya bulan yang menyinari seluruh tempat dengan cahayanya yang lembut dan menyejukkan.
Mereka berjalan berdampingan, tangan mereka tidak pernah terlepas satu sama lain, seolah-olah mereka ingin merasakan kehadiran satu sama lain sekuat mungkin, sebelum mereka berangkat menghadapi hal-hal yang tidak terduga nanti.
“Alana,” kata Raka pelan, memecah keheningan yang ada di antara mereka. “Kau tahu, kadang-kadang aku berpikir, apakah kita akan pernah bisa hidup dengan tenang dan damai, tanpa ada masalah dan bahaya yang selalu datang mengganggu kita? Sepertinya baru saja kita melewati satu kesulitan, langsung saja datang kesulitan yang lain yang lebih berat dan lebih berbahaya lagi.”
Alana berhenti berjalan, lalu menoleh dan menatap wajah orang yang dicintainya itu dengan pandangan yang lembut dan penuh pengertian.
“Raka, hidup itu memang seperti itu, kan? Tidak ada yang benar-benar sempurna, dan tidak ada yang selamanya berjalan mulus saja. Tapi justru karena ada kesulitan dan tantangan itulah, kita jadi bisa menghargai apa yang kita miliki, dan kita jadi semakin kuat dan semakin mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Dan yang paling penting, aku bersyukur karena aku bisa melewati semuanya ini bersamamu. Selama aku ada di sisimu, aku tidak merasa takut atau ragu sedikit pun, karena aku tahu kita bisa menghadapi apa saja bersama-sama.”
Raka tersenyum, lalu ia menarik Alana ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu erat sekali, seolah ia ingin menyatukan seluruh jiwa dan raga mereka menjadi satu.
“Terima kasih, sayangku. Terima kasih karena selalu ada untukku, karena selalu mengerti dan mendukungku. Kadang aku merasa, dirimulah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku. Tanpa dirimu, hidupku pasti akan terasa hampa dan tidak ada artinya sama sekali.”
Alana menempelkan wajahnya di dada Raka, mendengar detak jantung orang itu yang berdetak dengan teratur dan kuat, detak jantung yang selalu membuatnya merasa aman dan tenteram.
“Dan aku juga merasa hal yang sama, Raka. Kaulah kekuatanku, kaulah cahayaku, dan kaulah segalanya bagiku. Apapun yang akan terjadi dalam perjalanan ini nanti, aku ingin kau ingat satu hal saja, bahwa aku sangat mencintaimu, lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Dan tidak ada yang bisa mengubah perasaanku ini, selamanya.”
Raka menundukkan kepalanya, lalu mencium kening, pipi, dan akhirnya bibir Alana dengan lembut dan penuh rasa cinta. Ciuman itu bukan hanya sekedar ungkapan perasaan, tapi juga menjadi janji dan kekuatan bagi mereka berdua, untuk terus berjuang dan bertahan dalam keadaan apa pun juga.
“Dan aku juga mencintaimu, Alana. Lebih dari yang bisa aku ucapkan dengan kata-kata apa pun juga,” bisiknya di telinga gadis itu.
><><><><
Keesokan harinya, tepat saat matahari mulai terbit dan memancarkan sinarnya yang keemasan, mereka pun berangkat. Masyarakat kota yang sudah mendengar tentang keberangkatan mereka datang mengantar dan mendoakan keselamatan mereka. Semua orang merasa berterima kasih dan berhutang budi pada mereka, karena apa yang mereka lakukan ini bukan hanya untuk kepentingan diri mereka sendiri, tapi juga untuk keselamatan dan kebaikan semua orang.
Perjalanan di awalnya masih terasa mudah dan menyenangkan. Jalan yang mereka lewati masih berupa dataran dan perbukitan yang indah, dengan pemandangan alam yang hijau dan asri. Burung-burung berkicauan di antara dahan pohon, dan angin yang berhembus terasa segar dan menyejukkan. Tapi semakin jauh mereka berjalan, semakin jauh dari pemukiman penduduk, maka keadaan pun mulai berubah.
Jalan yang tadinya lebar dan mudah dilewati, kini menjadi semakin sempit, terjal, dan penuh bebatuan. Pepohonan tumbuh semakin rapat dan tinggi, sehingga cahaya matahari sulit untuk menembus masuk, membuat suasana di sekitar menjadi gelap, sejuk, dan terasa agak mencekam. Suasana yang tadinya penuh suara-suara hewan dan alam, kini menjadi sunyi senyap, seolah-olah tempat ini sudah lama tidak ada makhluk hidup yang melaluinya.
Mereka berjalan terus tanpa henti, hanya beristirahat sejenak kalau sudah benar-benar lelah atau kalau sudah tiba waktu untuk makan dan beribadah. Selama perjalanan itu, mereka saling membantu dan saling menjaga satu sama lain. Kalau ada yang merasa lelah, yang lain akan membantu dan menyemangatinya. Kalau ada yang tidak tahu arah jalan, yang lain akan memandu dan menunjukkan jalannya. Semua dilakukan dengan rasa kekeluargaan dan persatuan yang kuat.
Pada hari ketiga perjalanan, saat mereka sedang berjalan melewati sebuah lembah yang dalam dan dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, tiba-tiba tanah di sekitar mereka mulai bergetar dengan hebat. Suara gemuruh yang keras terdengar dari atas, dan sesaat kemudian, bebatuan dan tanah dari atas tebing mulai runtuh dan jatuh menimpa jalan yang mereka lewati.
“Hati-hati! Ada longsor!” seru Raka dengan suara keras, memberi peringatan kepada semua orang.
Tanpa membuang waktu sedikit pun, mereka segera berlari menuju ke tempat yang aman, menghindari bebatuan yang jatuh berhamburan di mana-mana. Debu yang tebal beterbangan ke mana-mana, membuat pandangan menjadi kabur dan sulit untuk bernapas. Suara benda-benda yang jatuh dan bertabrakan itu terdengar sangat menakutkan, seolah-olah alam sedang marah dan ingin menghancurkan siapa saja yang berani melewati tempat itu.
Mereka berlari sekuat tenaga, tapi jalan di depan sudah tertutup oleh bebatuan yang jatuh, sedangkan dari belakang juga masih terus ada bebatuan yang turun. Mereka terjebak di tengah-tengah, dan keadaan menjadi semakin berbahaya dan menegangkan.
“Di sini! Ada gua kecil di sisi tebing itu!” teriak Alana yang melihat sesuatu di antara debu dan kegelapan.
Segera saja mereka bergerak menuju ke arah yang ditunjukkan Alana itu. Benar saja, ada lubang kecil di dinding tebing yang cukup untuk mereka masuki dan berlindung. Mereka masuk ke dalam sana, dan baru beberapa saat kemudian, longsoran batu yang besar sekali menimpa tempat yang baru saja mereka lewati. Kalau saja mereka terlambat sedikit saja, pasti mereka sudah tertimbun dan tidak ada keselamatan sama sekali.