Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Sang Dokter
Langkah kaki Geovani terdengar bagaikan dentuman palu yang menghantam lantai marmer koridor mansion. Ia tidak berjalan dengan ketenangan klinis yang biasa ia pamerkan di ruang bedah. Kali ini, setiap derap langkahnya membawa hawa dingin yang sanggup membekukan udara di sekitarnya.
Briella yang sedang duduk di tepi ranjang segera menyembunyikan laptopnya di bawah bantal, namun sudah terlambat. Pintu kamar terbanting terbuka dengan kekuatan yang membuat engselnya mengerang nyaring. Geovani berdiri di sana dengan mata yang berkilat penuh murka, sementara napasnya memburu pelan.
"Kau pikir aku adalah pria bodoh yang bisa kau tipu dengan enkripsi murahan itu, Briella?" suara Geovani terdengar rendah namun sangat mematikan.
Briella mencoba bangkit, meskipun lututnya terasa lemas melihat kemarahan yang meluap dari sosok di depannya. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Geovani. Aku hanya sedang mengerjakan tugas kampusku seperti biasa."
Geovani melangkah maju, menjangkau bantal di atas ranjang dan menyambar laptop itu dengan satu gerakan kasar. Ia membanting perangkat elektronik tersebut ke atas meja hingga layarnya retak menjadi serpihan kecil. Wajahnya mendekat ke arah Briella, hanya menyisakan jarak beberapa senti yang menyesakkan.
"Prilly baru saja meneleponku sambil berteriak histeris karena sebuah kiriman anonim. Kau baru saja mencoba membakar rumah yang melindungimu, Little One," desis Geovani tepat di depan wajah Briella.
Briella memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam yang seolah sedang membedah isi kepalanya. "Mungkin itu adalah balasan karena kau telah mengurungku di sini. Aku punya hak untuk memberitahu dunia bahwa aku masih hidup."
"Kau tidak punya hak apa pun di sini kecuali hak yang aku berikan!" Geovani mencengkeram lengan Briella, memaksanya untuk berdiri dan menatapnya kembali.
Pria itu menarik Briella keluar dari kamar dengan paksa, tidak memedulikan rintihan kecil yang keluar dari bibir gadis itu. Mereka melewati lorong-lorong sunyi menuju sebuah ruangan di ujung koridor bawah tanah yang belum pernah dikunjungi Briella sebelumnya. Ruangan itu memiliki pintu baja yang berat dan tanpa jendela sedikit pun.
"Masuk ke dalam. Karena kau sangat suka bermain dalam kegelapan, maka aku akan memberikan apa yang kau inginkan," ujar Geovani sambil mendorong Briella masuk ke ruangan pengap tersebut.
Briella terjatuh ke lantai yang dingin, ia berbalik dan melihat Geovani berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tak tersentuh. "Geovani, jangan! Aku sedang mengandung anakmu, kau tidak bisa meninggalkanku di tempat seperti ini!"
"Anak itu akan baik-baik saja selama ibunya belajar cara untuk patuh. Kau butuh waktu untuk merenung, tanpa gangguan teknologi atau cahaya luar," Geovani meraih saklar lampu dan menekannya hingga ruangan itu menjadi gelap gulita.
Pintu baja itu tertutup dengan suara dentuman yang sangat berat, diikuti bunyi kunci otomatis yang berputar. Briella segera merangkak menuju pintu, memukul-mukul permukaannya yang keras dengan telapak tangannya. Namun, tidak ada jawaban dari luar, hanya kesunyian yang mencekam.
"Geovani! Buka pintunya! Aku takut kegelapan!" teriak Briella dengan suara yang mulai serak.
Ruangan itu benar-benar tanpa cahaya, sebuah kegelapan total yang membuat Briella kehilangan orientasi arah. Ia hanya bisa merasakan lantai beton yang dingin dan dinding yang seolah-olah mulai menghimpitnya. Satu-satunya hal yang menemaninya di sana adalah aroma parfum Geovani yang menyengat.
Parfum itu terasa memenuhi setiap sudut ruangan, seolah-olah Geovani sengaja menyemprotkannya untuk mengingatkan Briella akan kehadirannya. Bau kayu cendana dan aroma maskulin yang dominan itu meresap ke dalam indra penciumannya, membuat Briella merasa Geovani sedang mengawasinya dari setiap sudut kegelapan.
"Kau benar-benar iblis, Geovani. Kau menghukumku dengan aromamu sendiri agar aku tidak bisa melupakanmu," isak Briella sambil meringkuk di sudut ruangan.
Jam demi jam berlalu dalam kesunyian yang menyiksa indra pendengaran Briella. Ia mulai membayangkan bayangan-bayangan hitam yang bergerak di dalam kegelapan tersebut. Perutnya terasa sedikit melilit karena stres yang memuncak, namun ia berusaha mengelus perutnya untuk menenangkan janin yang ada di dalamnya.
"Maafkan Ibu, Nak. Kita terjebak dengan seorang pria yang tidak memiliki nurani," bisik Briella dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Aroma parfum Geovani semakin terasa menusuk, seolah pria itu sedang berdiri tepat di belakangnya. Briella menutup matanya rapat-rapat, namun indra penciumannya terus dipaksa untuk menghirup jejak sang dokter. Ini adalah bentuk hukuman psikologis yang jauh lebih menyakitkan daripada cambukan fisik mana pun.
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku hanya ingin sedikit kebebasan," keluh Briella pada dinding-dinding yang bisu.
Di luar ruangan, Geovani berdiri menatap monitor pengawas dengan mode infra merah. Ia melihat Briella meringkuk di pojok ruangan, gemetar ketakutan dalam kegelapan yang ia ciptakan. Tangannya mengepal kuat, menahan gejolak di dadanya yang ingin segera membuka pintu dan memeluk gadis itu.
"Ini demi kebaikanmu sendiri, Briella. Jika Prilly menemukanmu karena kecerobohanmu, aku tidak akan bisa menjamin kau tetap utuh," gumam Geovani pada layar monitor.
Geovani mengambil botol parfumnya dan menyemprotkan sedikit ke udara di ruang kendali, seolah ingin ikut merasakan apa yang dirasakan Briella. Amukannya tadi memang nyata, namun ketakutannya kehilangan aset berharganya itu jauh lebih nyata lagi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kau akan belajar untuk hanya bergantung padaku. Hanya padaku, tidak pada internet atau siapa pun di luar sana," lanjut Geovani dengan nada yang penuh obsesi.
Di dalam kamar gelap, Briella mulai merasa sesak napas. Kegelapan itu mulai memicu trauma masa lalunya saat ia disiksa oleh keluarga Adijaya. Ia merasa seolah-olah Prilly sedang berdiri di sana dengan cambuk di tangannya, namun yang ia hirup bukanlah bau darah, melainkan aroma parfum Geovani.
"Keluar ... aku ingin keluar," suara Briella melemah, ia mulai kehilangan kesadaran karena kelelahan emosional yang luar biasa.
Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, mencoba mencari sisa-sisa kewarasan yang masih ia miliki. Aroma Geovani seolah menjadi satu-satunya jangkar yang membuatnya tidak benar-benar tenggelam dalam kegilaan. Ironisnya, pria yang menyiksanya adalah pria yang aromanya memberikan rasa aman yang aneh di tengah ketakutan ini.
"Kau menang, Geovani. Kau telah menjadikanku boneka yang benar-benar hancur," lirih Briella sebelum ia akhirnya jatuh terlelap di atas lantai beton yang membeku.
Kegelapan tetap menyelimuti ruangan itu, menjadi saksi bisu atas amukan sang dokter dan penderitaan tawanannya. Di puncak bukit Etheria, sang iblis telah menegaskan kekuasaannya dengan cara yang paling kejam, memastikan bahwa tidak akan ada lagi surat atau pesan yang keluar dari bentengnya tanpa seizinnya.
Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Briella, sebuah hukuman yang akan membekas selamanya di dalam ingatannya. Ia belajar satu hal penting malam ini; bahwa di bawah atap mansion Geovani, cahaya adalah kemewahan, dan aroma parfum pria itu adalah satu-satunya teman yang diperbolehkan untuk menemaninya dalam penderitaan.