Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bugh!
Argh!
"Sania! Apa yang kau lakukan? Dia Ayahmu!" bentak wanita paruh baya itu ketika Rania melayangkan pukulan dengan rotan di tangannya menghantam tubuh sang suami.
Kedua adiknya ternganga tak percaya, menatap kakak perempuan mereka yang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berani. Adik perempuan yang sudah beranjak remaja, menatap Sania penuh benci. Sementara yang laki-laki, masih kecil justru tersenyum kagum.
Rania tersenyum miring, darah yang hampir mengering di sudut bibirnya menjadikan ia seperti sosok pemangsa yang mengerikan. Ia berjalan pelan, mendekati sepasang paruh baya yang masih meringkuk di lantai.
"Aku hanya sekali memukulmu dan kau sudah ketakutan seperti itu. Bagaimana denganku yang setiap hari kau siksa? Setiap hari kau peras untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Mereka sudah besar, tidak seharusnya bergantung kepadaku. Sudah saatnya kalian mencari uang untuk diri kalian sendiri. Aku tidak akan pernah menjadi sapi perah kalian lagi!" sengit Rania seraya melempar rotan ke sisi mereka.
Ia menatap tajam kepada mereka, dendam Sania di dalam hatinya terus bergejolak. Memintanya untuk menuntaskan apa yang tak pernah bisa ia lakukan. Sayang, kedatangan Rania adalah untuk melindungi anaknya dari masa depan yang suram. Dia akan menjadi penjahat jenius di masa depan yang tak seorang pun bisa melawannya.
Rania berbalik melangkah pergi dari rumah yang lebih pantas disebut gubuk itu. Namun, beberapa langkah kakinya akan keluar, sebuah tangan besar hendak menariknya kembali.
Rania melirik, tangannya dengan sigap menangkap tangan besar itu dan membantingnya ke depan. Membuat semua orang semakin terkejut karenanya.
Bugh!
Argh!
Sang kakak menjerit sakit, memegangi pinggangnya yang terasa nyeri karena menghantam tanah. Adik perempuannya berdiri dari kursi, bersama sang adik laki-laki yang tersenyum semakin lebar. Rania menatapnya dengan bengis. Dia laki-laki dewasa yang bergantung kepada Sania. Sungguh memalukan. Ia tersenyum mencibir, menatap sang kakak yang menjerit di atas tanah.
"Sungguh memalukan! Seorang laki-laki dewasa yang sudah mampu mencari uang sendiri, masih menadahkan tangannya kepada seorang gadis kecil yang lemah. Kau yang tidak berguna ini masih ingin menikah? Ku rasa hanya gadis bodoh yang akan menerimamu sebagai suaminya," cibir Rania seraya melangkah sembari menginjak salah satu kakinya.
Argh!
"Kakiku!"
Ia kembali menjerit sembari memegangi kakinya yang terasa hampir patah. Rania tak peduli, ia terus berjalan keluar ingin memastikan tempatnya bereinkarnasi.
"Sania!" Suara bentakan itu lagi, membuat Rania geram.
Ie berbalik menatap orang tua itu yang membantu sang kakak untuk bangun. Dengan tertatih ia berdiri, berpegangan pada ibunya dengan salah satu kaki yang diangkat. Matanya tetap menyala, menatap Rania tak suka. Entah, di dalam hati ia bertanya sendiri. Apakah mereka benar-benar keluarga gadis bernama Sania itu?
"Kau tidak bisa pergi dari sini! Bagaimana pun bos Kamsah sudah membelimu. Dia menyukaimu sudah lama sekali. Tapi, kau justru jual mahal kepadanya. Memangnya ada laki-laki yang mau kepada gadis yang bau amis ikan setiap hari? Dia sudah memberiku uang yang tidak sedikit, sebentar lagi mereka akan datang menjemputmu," ucap Kakak laki-laki Sania seraya mencibirkan bibirnya.
Mereka kira Rania akan takut seperti sanua dulu. Akan menjatuhkan diri berlutut, memohon ampun dan kemudian bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan uang, agar tidak dijual kepada laki-laki tua yang sering menggodanya itu.
Namun, yang mereka lihat justru senyum sengit yang angkuh, tak ada wajah memelas meminta bekas kasihan seperti sebelumnya. Rania menghendikan bahu, sikapnya tak peduli sama sekali.
"Aku tidak peduli. Hidupku sekarang aku sendiri yang menentukan. Tapi, ku rasa kali ini pun kau membohongiku seperti sebelum-sebelumnya. Hanya untuk membuatku menyerah, bukan?" Rania melipat kedua tangan di perut, ia ingin melihat apakah mereka memang mempunyai yang itu.
Jika iya, dia harus mengambilnya untuk dapat pergi dari tempat tersebut. Tanpa terduga, sang kakak mengeluarkan sebuah amplop cukup besar dan tebal dari dalam jaketnya. Rania menurunkan tangan dengan tubuh menegang kegirangan.
"Lihat! Uang ini bos Kamsah memberikannya kepadaku. Akan aku gunakan untuk melamar kekasihku. Kau harus diam di rumah menunggu calon suamimu datang menjemput," katanya dengan sombong.
Ketiga pasang mata itu berbinar melihat uang yang begitu banyak. Mereka berbahagia di atas derita Sania. Hal itu membuat Rania tak senang. Ia melangkah mendekat tanpa sepengetahuan mereka.
"Kau hebat sekali bisa mendapatkan uang sebanyak ini," puji sang ibu sembari mengelus amplop coklat itu.
"Tentu saja. Katanya, bos Kamsah juga akan menanggung biaya pernikahanku juga sekolah mereka. Asalkan Sania benar-benar menjadi istrinya," sahut sang kakak membuat Rania tak tahan.
Hap!
Eh?
"Kembalikan!"
Wanita bertubuh tambun itu mengejar uang di tangan Riana. Tanpa mereka duga, uang itu kini sudah berpindah tangan.
Tak hanya wanita itu, ayah, kakak, serta adik perempuannya pun ikut menyerbu untuk merampas kembali uang tersebut.
"Stop!"
Suara Riana yang tegas menghentikan aksi kejar-kejaran mereka. Ia berdiri berkacak pinggang, menatap mereka berempat yang kelelahan mengejar.
"Bukankah kalian sudah menjual ku? Artinya uang ini adalah uangku. Jika kalian tidak mengizinkan aku memegang uang ini maka aku tidak akan menyerahkan diriku kepada laki-laki tua itu," ucap Riana mengancam.
Mereka bimbang, sangat menyayangkan uang tersebut. Setelah membicarakan sebuah rencana, akhirnya mereka setuju.
"Baik, tapi kau harus benar-benar menyerahkan diri kepada bos Kamsah," sahut sang ibu, matanya melirik amplop coklat di tangan Riana.
"Baik. Setuju!" katanya pasti.
Brak!
"Minggir!"
"Bos Kamsah datang!"
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄