NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PUING DAN PEMBALASAN

Laju mobil Reihan membelah jalanan SCBD dengan kecepatan yang membahayakan, namun Laluna tidak peduli.

Pikirannya hanya terpaku pada asap yang mengepul di layar ponselnya tadi. Saat mobil berhenti mendadak di depan ruko, Laluna langsung melompat keluar bahkan sebelum mesin mati sempurna.

Bau hangus menyengat hidung. Dua mobil pemadam kebakaran terparkir di depan toko, dan beberapa petugas sedang menggulung selang. Garis kuning polisi melintang, memisahkan kerumunan orang dari ruko yang kini tampak menyedihkan.

Jendela belakangnya pecah, dan dinding putih estetis yang dulu ia banggakan kini tertutup jelaga hitam.

"Nona Laluna!" Dimas berlari menghampiri, wajahnya coreng-moreng oleh debu.

"Syukurlah semua karyawan sudah keluar. Hanya ada luka ringan karena panik, tapi dapur... dapur hancur total."

Laluna berdiri mematung.

Ia menatap mikser besar pemberian pertama Reihan yang kini tergeletak hangus di antara puing-puing plafon yang jatuh.

Semua oven, stok tepung premium yang baru datang, dan resep-resep yang ia tulis tangan... semuanya musnah dalam hitungan menit.

Reihan berdiri di sampingnya, tangannya melingkar protektif di bahu Laluna. Aura dingin yang biasanya terkendali kini berubah menjadi amarah yang pekat.

"Siapa yang melakukannya?"

suara Reihan terdengar seperti desis es yang retak.

"Seseorang sengaja memicu kebocoran gas di bagian belakang, Tuan," jawab Dimas pelan.

"Kami menemukan botol pemantik di dekat pintu servis."

Laluna tidak menangis.

Ia justru merasa ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, digantikan oleh kedinginan yang menyerupai Reihan.

Ia berbalik, menatap Reihan dengan mata yang kering namun tajam.

"Dia ingin aku hancur agar kau kehilangan fokus, Reihan," ucap Laluna, suaranya sangat stabil hingga mengejutkan dirinya sendiri.

"Malik berpikir bahwa dengan membakar toko ini, dia bisa membakar nyaliku."

Reihan menangkup wajah Laluna.

"Luna, aku akan membangun kembali toko ini sepuluh kali lebih besar. Aku akan—"

"Tidak," potong Laluna.

"Jangan bangun kembali dulu. Jika kita membangunnya sekarang, dia akan membakarnya lagi. Kita harus mematikan sumber apinya lebih dulu."

Malam itu, mereka tidak kembali ke apartemen. Reihan membawa Laluna ke sebuah "safe house" di pinggiran Jakarta, sebuah rumah minimalis dengan pengamanan tingkat tinggi yang bahkan tidak diketahui oleh dewan direksi.

Reihan menghabiskan sepanjang malam di ruang kerja, melakukan panggilan telepon yang tidak terhitung jumlahnya. Melalui pintu yang sedikit terbuka, Laluna bisa mendengar Reihan menggerakkan seluruh bidak catur korporatnya.

Ia memanggil firma hukum internasional, detektif swasta, hingga kolega lamanya di kementerian.

Pukul tiga pagi, Reihan keluar dan menemukan Laluna sedang duduk di teras, menatap kegelapan kebun.

"Malik baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya," ucap Reihan sambil duduk di samping Laluna.

"Dia pikir dia bermain di area abu-abu, tapi pembakaran ruko adalah tindak pidana murni.

Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV dari gedung seberang ruko yang memperlihatkan wajah orang suruhannya."

"Apakah itu cukup untuk menjatuhkannya?" tanya Laluna.

"Itu cukup untuk menyeretnya ke kantor polisi, tapi aku tidak ingin dia hanya dipenjara,"

Reihan menggenggam tangan Laluna, menyadari bahwa tangan istrinya masih berbau asap.

"Aku akan menghancurkan kerajaan bisnisnya sampai ke akar-akarnya. Besok pagi, aku akan merilis bukti manipulasi pasar yang kau temukan tadi, ditambah dengan bukti sabotase ini. Malik Group akan kehilangan seluruh nilai sahamnya dalam satu jam perdagangan."

Laluna menyandarkan kepalanya di bahu Reihan.

"Aku ingin ikut ke kantor besok."

"Terlalu berbahaya, Luna."

"Aku pemegang 15% saham, ingat?" Laluna mendongak.

"Aku tidak akan bersembunyi di sini sementara kau berperang. Jika dia ingin bermain dengan api, maka dia harus bersiap melihat siapa yang akan terbakar paling akhir."

Pagi hari di Bursa Efek Indonesia menjadi saksi sejarah. Saat lonceng pembukaan berbunyi, berita tentang penangkapan orang suruhan Malik dan keterlibatan Malik dalam manipulasi saham Arta Wiguna meledak di semua portal berita.

Di ruang rapat Arta Wiguna, Reihan dan Laluna duduk berdampingan. Reihan tampak sangat tenang, sementara Laluna mengenakan bros gandum pemberian Ibu Ratna di dadanya, sebuah simbol kesuburan dan ketahanan.

Tuan Malik masuk dengan pengawalan ketat, mencoba tetap terlihat berwibawa meski wajahnya pucat pasi.

"Kalian pikir serangan murahan ini bisa menjatuhkanku?" gertak Malik sambil menggebrak meja.

"Ini bukan serangan murahan, Tuan Malik," sahut Laluna, suaranya menggema di ruangan.

Ia melemparkan sebuah tablet ke tengah meja.

"Itu adalah laporan kebangkrutan perusahaan cangkang Anda di Singapura yang baru saja diproses satu jam lalu. Tanpa dukungan dana dari sana, seluruh aset Anda di Indonesia telah dibekukan sebagai jaminan."

Reihan berdiri, menatap Malik dari ketinggian posisinya.

"Kau menyentuh istriku. Kau membakar mimpinya. Dan di duniaku, itu berarti kau memilih untuk musnah."

Dua petugas kepolisian masuk ke ruang rapat. Malik yang tadinya sombong kini terduduk lemas di kursinya. Saat ia diborgol dan dibawa keluar, ia sempat menatap Laluna dengan penuh kebencian.

"Ini belum berakhir, Nyonya Arta Wiguna!" teriaknya.

Laluna hanya menatapnya dengan tenang.

Setelah ruangan kosong, Reihan menarik napas panjang dan menatap Laluna. Ada rasa lega, namun juga ada rasa bangga yang mendalam.

"Kau benar-benar luar biasa, Luna. Kau bahkan lebih kejam dariku saat sedang marah," goda Reihan, mencoba mencairkan suasana.

Laluna tersenyum kecil, namun matanya masih menyiratkan kesedihan saat mengingat rukonya yang hangus.

"Aku belajar dari yang terbaik, bukan?"

Reihan memeluknya erat.

"Kita akan mulai dari awal. Bukan sebagai Pihak Pertama dan Pihak Kedua, tapi sebagai Laluna dan Reihan."

Namun, di tengah momen kemenangan itu, Dimas masuk dengan tergesa-gesa. "Tuan, maaf mengganggu. Ada telepon dari rumah sakit. Kakek Surya... beliau sadar dan mendesak ingin bertemu dengan kalian berdua sekarang juga. Beliau bilang, ada 'bagian ketiga' dari dokumen itu yang belum sempat beliau berikan."

Laluna dan Reihan saling pandang. Ternyata, labirin rahasia Arta Wiguna masih memiliki satu lorong lagi yang belum terjamah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!