NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sesampainya di apartemen, ketegangan di wajah Azel belum memudar. Ia langsung membimbing Runa masuk ke kamar utama, bermaksud menyuruhnya segera berganti pakaian dan istirahat. Namun, Runa yang sudah tidak kuat menahan gejolak nyeri di perutnya, langsung bergegas masuk ke kamar mandi dengan alasan ingin membersihkan diri.

​Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Azel mulai gelisah.

​"Runa? Kamu di dalam?" Azel mengetuk pintu kayu jati itu dengan pelan. Tidak ada jawaban.

​Azel menempelkan telinganya ke pintu. Ia tidak mendengar suara gemericik air shower, hanya keheningan yang mencekam. "Runa Elainzica, jawab aku atau aku dobrak pintunya!"

​Masih hening. Kepanikan mulai menjalar di nadi Azel. Tanpa pikir panjang, ia mengambil kunci cadangan di laci nakas dan membuka paksa pintu kamar mandi tersebut.

​Cklek.

​Jantung Azel seakan berhenti berdetak melihat pemandangan di depannya. Di sudut lantai marmer yang dingin, Runa meringkuk gemetar. Ia masih mengenakan jubah handuk putihnya, wajahnya sepucat kertas, dan bibirnya membiru menahan sakit yang luar biasa. Yang membuat Azel semakin murka sekaligus sedih adalah melihat kaki telanjang Runa yang langsung menyentuh lantai tanpa sandal—padahal lantai kamar mandi sangat dingin.

​"Runa!" Azel langsung berlutut, menyambar tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Tubuh Runa terasa dingin dan berkeringat.

​"Sakit... Zel... perutku..." bisik Runa parau, tangannya mencengkeram lengan kemeja Azel hingga kusut.

​"Bodoh! Kenapa harus sembunyi di sini?" sentak Azel, namun suaranya bergetar karena panik. Ia segera mengangkat tubuh Runa, membawanya keluar dari ruangan dingin itu menuju tempat tidur yang sudah ia nyalakan pemanasnya.

​Dengan telaten, Azel menyelimuti Runa hingga sebatas dada. Ia mengambil sepasang kaos kaki tebal dari lemari dan memasangkannya ke kaki Runa yang sedingin es.

​"Dengar, jangan bergerak. Aku akan ambil kompres air hangat dan obatmu," perintah Azel, suaranya kini kembali pada mode otoriter yang tidak bisa dibantah.

​Azel bergegas ke dapur, tangannya masih sedikit gemetar saat menyalakan kompor untuk memanaskan air. Sembari menunggu bunyi peluit teko, ia merogoh ponselnya. Dengan gerakan cepat namun pasti, ia membuka folder rahasia itu.

​Runa’s Manual Book: Catatan Darurat Siklus Bulanan

​Catatan: Hari pertama menstruasi. Level keras kepala: Maksimal. Dia lebih memilih meringkuk di lantai kamar mandi daripada mengaku kalah pada rasa sakit.

​Kesimpulan: Jangan pernah tanya dia kuat atau tidak, jangan beri dia pilihan. Langsung angkut dan ambil alih semuanya. Dia butuh cokelat, pelukan, dan jaminan kalau tidak ada wanita lain—termasuk gangguan dari luar—yang bisa menggeser posisinya.

​Tindakan: Hangatkan suhu tubuhnya secepat mungkin. Singkirkan semua pikiran buruk di kepalanya soal berita sampah itu sebelum dia tidur. Besok, siapkan termos air hangat dan pastikan dia tidak menyentuh lantai dingin tanpa alas kaki lagi.

​Azel mematikan layar ponselnya kasar. Ia kembali ke kamar membawa botol kompres dan segelas teh jahe madu yang asapnya masih mengepul tipis. Di atas ranjang, Runa tampak masih memejamkan mata, namun keningnya berkerut dalam, tanda nyeri itu belum benar-benar pergi.

​Azel duduk di tepi kasur. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia menyelipkan botol hangat itu di atas perut bawah Runa, tepat di balik selimut tebal.

​"Maaf... aku ngerepotin kamu lagi ya, Zel," gumam Runa lirih. Suaranya serak, matanya yang sembab perlahan terbuka.

​Azel terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu meraih tangan kanan Runa yang terasa mungil dalam genggamannya. Ia mengecup punggung tangan itu lama.

​"Runa, dengerin aku baik-baik," suara Azel terdengar berat namun sangat dalam. "Di catatanku, nggak ada kata 'repot'. Yang ada cuma kata 'lindungi'. Jadi kalau kamu sakit lagi dan milih sembunyi di toilet daripada manggil aku, aku nggak main-main soal nyopot semua pintu di rumah ini biar aku bisa lihat kamu setiap detik."

​Runa tersenyum tipis, meski wajahnya masih sepucat kapas. "Kamu... kamu selalu ekstrim kalau ngomong."

​"Aku serius, Runa. Kamu pikir aku bisa tenang di kantor sementara istriku sendiri lagi nahan sakit sampai biru begini di rumah?" Azel mengusap sisa keringat dingin di dahi Runa dengan ibu jarinya. "Minum tehnya dulu. Sedikit-sedikit aja, yang penting masuk."

​Azel membantu Runa bangun dengan menyangga punggungnya menggunakan bantal tambahan. Dengan telaten, ia menyuapkan teh itu ke bibir Runa yang bergetar.

​"Zel... soal foto itu," suara Runa kembali mengecil. "Teman-teman di sekolah tadi... mereka semua liat. Aku ngerasa—"

​"Mereka nggak liat apa-apa selain kebohongan yang dibuat wanita itu," potong Azel tajam. Ia meletakkan gelas teh di nakas dan menangkup wajah Runa, memaksa wanita itu menatap matanya. "Dunia bisnis itu kotor, Runa. Glenka cuma mau manfaatin momen. Dia bukan siapa-siapa. Dia nggak punya tempat di sini," Azel menunjuk dadanya sendiri. "Cuma ada kamu, guru honorer yang paling bikin aku pusing, tapi paling aku sayang. Ngerti?"

​Runa menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi dia cantik banget, Zel. Dia selevel sama kamu. Dia bisa bantu kerjaan kamu, sedangkan aku?"

​Azel mendengus, sebuah tawa hambar keluar dari bibirnya. "Dia nggak bisa bantu apa-apa. Dia cuma beban yang harus aku singkirkan. Dan soal cantik? Cantik itu relatif, Runa. Bagiku, ngeliat kamu sehat dan nggak pucat begini jauh lebih indah daripada maket bangunan mana pun."

​Azel menarik Runa ke dalam pelukannya. Bukan pelukan yang menuntut, melainkan dekapan yang seolah ingin membagi beban rasa sakit Runa ke tubuhnya sendiri.

​"Besok nggak usah ke sekolah. Aku udah urus semuanya ke Pak Haris," gumam Azel di telinga Runa.

​"Zel, tapi ujiannya—"

​"Nggak ada tapi-tapian. Kamu dilarang keluar kamar sampai pipi kamu merah lagi. Kalau kamu nekat bangun, aku beneran bakal mindahin kantorku ke kamar ini biar aku bisa ngawasin kamu makan vitamin 24 jam."

​Runa akhirnya tertawa kecil di balik dada bidang Azel. "Dasar CEO sombong."

​"Sombong buat kamu, apa salahnya?" Azel mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Runa berkali-kali. "Tidur sekarang. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku bakal di sini, megangin kompres kamu sampai besok pagi."

​Malam itu, di tengah kemegahan apartemen yang biasanya terasa sunyi, Runa akhirnya bisa memejamkan mata dengan tenang. Ia tidak lagi merasa sendiri. Di sampingnya, ada pria yang mungkin tampak dingin di mata dunia, namun di depannya, pria itu hanyalah seorang suami yang rela begadang hanya demi memastikan perut istrinya tidak lagi sakit.

​Azel menatap wajah tidur Runa dengan tatapan posesif yang tak terbantahkan. Ia merogoh ponselnya sekali lagi, menambahkan satu kalimat terakhir di catatannya malam itu:

​'Catatan tambahan: Jangan pernah biarkan dia ngerasa nggak berharga lagi. Karena bagi Dazello Zelbarra, Runa adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih mau pulang ke rumah ini.'

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!