NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam telah jatuh sepenuhnya, menyelimuti Jakarta dengan lampu-lampu kota yang tampak buram melalui mataku yang masih terasa panas. Aku melangkah keluar dari lobi gedung dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Angin malam yang dingin langsung menusuk blazerku, namun aku terus berjalan menuju area parkir, hanya ingin segera sampai di rumah dan menenggelamkan diri dalam pelukan Ibu.

Namun, langkahku terhenti sebelum aku mencapai mobil putihku.

Di bawah temaram lampu parkiran, sebuah siluet tinggi tampak menyandar pada pintu mobilku. Dia masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan yang ia pakai di ruang rapat tadi siang, namun kali ini dasinya sudah dilonggarkan dan lengannya digulung hingga siku.

Farez.

"Kenapa kamu masih di sini?" tanyaku dengan suara serak. Aku melirik jam tangan—sudah hampir jam delapan malam. Seharusnya dia sudah berada di rumahnya atau masih berkutat dengan dokumen di gedung kantornya sendiri.

Farez menegakkan tubuhnya saat melihatku mendekat. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Sebaliknya, matanya langsung turun ke arah tanganku yang tadi ia plester di depan toilet. "Aku hanya ingin memastikan kamu bisa menyetir sendiri sampai rumah."

Aku menghela napas, mencoba mencari kunci mobil di dalam tas dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku bukan anak kecil, Rez. Aku bisa pulang sendiri."

"Aku tahu kamu bisa," potongnya dengan suara rendah yang sangat tenang. "Tapi aku juga tahu kalau konsentrasimu sedang tertinggal di dalam ruang rapat tadi. Menyetir dalam kondisi hancur itu berbahaya, Rana."

Aku terdiam, tanganku membeku di dalam tas. Dia benar. Pikiranku masih penuh dengan bayangan Ayah dan suaranya yang memanggilku 'Nak Rana'.

Farez melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa kembali menghirup aroma kayu cendana yang kini bercampur dengan dinginnya udara malam. Dia mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka di hadapanku.

"Berikan kuncinya. Aku antar kamu pulang. Mobilku akan dibawa oleh asistenku nanti," ucapnya tanpa nada memaksa, namun penuh ketegasan yang sulit ditolak.

Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya yang dalam. Selama lima tahun aku membangun tembok agar tidak ada laki-laki yang memegang kendali atas hidupku lagi. Tapi malam ini, di depan laki-laki yang tetap menungguku meski aku sudah mengusirnya berkali-kali, tembok itu terasa begitu melelahkan untuk dipertahankan.

"Kenapa kamu harus sebaik ini, Rez? Setelah semua yang kulakukan?" bisikku, air mata yang kukira sudah habis kembali mendesak di sudut mata.

Farez hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang menyiratkan luka sekaligus kesetiaan yang luar biasa. "Karena melindungimu adalah satu-satunya hal yang tidak pernah berhenti kulakukan di kepalaku, bahkan saat kamu tidak ada di depanku selama lima tahun ini."

Dengan tangan gemetar, aku akhirnya menjatuhkan kunci mobil ke telapak tangannya. Malam ini, aku menyerah pada egoku. Aku membiarkan "kerikil" itu kembali mengambil kemudi, membawaku menjauh dari bayang-bayang gedung yang menyakitkan ini.

Mobil mulai melaju pelan, meninggalkan gedung kantor yang hari ini menjadi saksi bisu kehancuran batinku. Farez tidak bertanya ke mana tujuan kami, dia seolah sudah tahu bahwa satu-satunya tempat yang ingin kutuju saat ini adalah tempat di mana aku bisa menghilang sejenak dari kenyataan.

Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Tidak ada musik, tidak ada suara radio, hanya deru halus mesin dan gesekan ban dengan aspal basah. Aku menyandarkan kepalaku di jendela, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak mundur seperti fragmen memoriku yang berantakan.

Farez sesekali melirik ke arahku melalui spion tengah, memastikan aku masih terjaga dalam lamunanku. Dia tetap konsisten dengan diamnya, membiarkan aku memproses rasa pahit di lidahku setelah pertemuan dengan Ayah tadi siang.

Tiba-tiba, Farez memutar kemudi ke arah kiri. Mobil melambat dan akhirnya berhenti di pinggir jalan yang cukup ramai, tepat di depan sebuah gerobak sederhana dengan kepulan asap yang menebarkan aroma kaldu gurih.

Seorang penjual bakso sedang sibuk melayani beberapa pelanggan di bawah tenda plastik yang diterangi lampu neon putih.

"Kita belum makan," ucap Farez lirih sembari mematikan mesin.

Aku menoleh padanya, sedikit bingung. "Rez, aku nggak lapar."

"Kamu belum makan sejak tadi siang, Rana. Aku lihat kamu bahkan nggak menyentuh suguhan di ruang rapat tadi," sahutnya tanpa membantah. Dia melepaskan sabuk pengamannya, lalu menatapku dengan sorot mata yang tak menerima penolakan. "Duduk di sini sebentar, atau ikut aku turun?"

Aku menghela napas. Perutku memang perih, tapi rasa sesak di dadaku jauh lebih mendominasi. Namun, melihat Farez yang sudah turun dan memesan dua mangkuk tanpa menunggu jawabanku, aku pun menyerah. Aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menghirup udara malam yang sedikit beraroma asap pembakaran dan bawang goreng.

Kami duduk di bangku plastik panjang di bawah tenda. Suara dentingan sendok dan mangkuk dari pelanggan lain menjadi distraksi yang kubutuhkan. Farez duduk di sampingku, masih dengan kemeja hitamnya yang kini lengannya sudah tergulung rapi.

Tak lama, dua mangkuk bakso panas diletakkan di depan kami.

"Makanlah. Setidaknya isi tenagamu sebelum sampai di rumah. Ibu pasti sedih kalau melihatmu pulang dengan keadaan selemas ini," ucap Farez sembari menyodorkan sendok padaku.

Aku menatap uap panas yang membumbung dari mangkukku. Di tempat sederhana pinggir jalan ini, di antara bisingnya suara motor yang lewat, Farez kembali menunjukkan bahwa dia tahu cara menjagaku tanpa perlu banyak bicara. Dia tahu bahwa saat ini aku tidak butuh restoran mewah atau kata-kata romantis. Aku hanya butuh sesuatu yang nyata untuk membuatku tetap memijak bumi.

Aku mulai menyuap kuah hangat itu. Rasanya sederhana, namun entah kenapa sanggup menghangatkan bagian di dadaku yang sejak tadi siang terasa membeku. Farez makan dalam diam di sampingku, sesekali memastikan aku menghabiskan porsiku.

Di bawah lampu tenda yang remang-remang, aku menyadari satu hal. Ayah mungkin tidak mengenaliku di ruangan megah tadi, tapi laki-laki di sampingku ini justru mengenali rasa laparku di pinggir jalan yang berdebu ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!