NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20

***

Kegelapan malam di Desa Sukamaju kian pekat, menyisakan suara jangkrik yang bersahutan di balik rimbunnya kebun mangga. Di dalam kamar utama, udara terasa dingin sekaligus menyesakkan. Kehadiran empat orang di atas satu ranjang kayu jati itu seharusnya menciptakan kehangatan, namun bagi Laras dan Bagas, jarak beberapa puluh sentimeter di antara anak-anak mereka terasa seperti jurang yang tak berujung.

Sekitar pukul tiga subuh, suasana sunyi itu pecah oleh sebuah rintihan halus yang tertahan.

"Nngghhh... aakh..."

Laras terbangun dengan sentakan kecil. Rasa sakit yang luar biasa tajam menghujam betis kanannya. Otot-ototnya menegang hebat, memendek dan mengeras seperti ditarik paksa. Kram. Sakitnya begitu menusuk hingga air mata Laras seketika meleleh. Ia mencoba meluruskan kakinya, namun perut besarnya yang berusia delapan bulan menghalangi gerakannya. Ia justru nyaris terguling dari pinggiran ranjang karena kehilangan keseimbangan.

Bagas, yang sebenarnya hanya memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap, langsung bangkit duduk. Refleks kepemimpinannya berganti menjadi refleks seorang suami yang waspada.

"Ras? Kenapa? Kakinya lagi?" tanya Bagas cepat dengan suara parau khas bangun tidur.

Laras tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibir bawahnya kuat-kayat, tangannya mencengkeram sprei hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya meringis dalam remang lampu tidur.

Tanpa menunggu izin, Bagas merangkak melewati kaki Gilang dan Arka yang masih terlelap. Ia segera meraih kaki kanan Laras, menaruhnya di atas pangkuannya yang beralaskan sarung. Dengan gerakan yang sangat hafal, ia meraba otot betis Laras yang keras membatu.

"Kenapa nggak bangunin Mas, Ras? Kamu kalau kram begini bahaya kalau dipaksa gerak sendiri," ucap Bagas pelan, nada bicaranya antara khawatir dan sedikit menyesali sifat keras kepala istrinya.

"Enggak... nggghhh... nggak usah repot-repot," bisik Laras, suaranya bergetar menahan nyeri. "Cuma... mau pipis tadi. Lepasin, Mas. Laras bisa sendiri."

Laras mencoba menarik kakinya, namun Bagas memegangnya dengan teguh namun lembut. Ia meraih botol minyak hangat yang selalu tersedia di nakas.

"Jangan keras kepala dulu. Ini ototnya keras banget," Bagas mulai mengoleskan minyak dan memijat dengan jempolnya, menekan titik-titik saraf yang tegang. "Mas ini suamimu, Ras. Setengah mati pun Mas akan bangun kalau kamu yang panggil. Jangan anggap Mas orang asing di sini."

Laras terdiam, hanya desis napasnya yang menahan sakit yang terdengar. Saat rasa kram itu perlahan mengendur di bawah pijatan Bagas, Laras mencoba duduk. Ia harus ke kamar mandi tekanan di kandung kemihnya kian tak tertahankan karena posisi janin yang kian turun.

"Bisa berdiri?" tanya Bagas, sudah berdiri di samping ranjang dan mengulurkan tangannya.

Laras mengabaikan tangan itu. Ia mencoba menapakkan kaki ke lantai, namun rasa lemas di kakinya membuat tubuhnya limbung.

Sebelum ia jatuh, sepasang lengan kekar sudah menyusup di bawah ketiak dan lututnya.

Bagas mengangkat tubuh Laras dengan satu gerakan mantap. Meski tubuh Laras kini jauh lebih berat karena kehamilan, Bagas menggendongnya seolah Laras tidak memiliki beban sama sekali.

"Mas! Turunin! Laras bisa jalan sendiri!" protes Laras lemah, tangannya terpaksa berpegangan pada bahu Bagas yang kokoh.

"Diamlah, Ras. Kakimu masih gemetar begitu," sahut Bagas tegas. Ia berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar mereka, mendudukkan Laras dengan sangat hati-hati di depan pintu.

Ia menunggu di luar dengan sabar, dan saat Laras keluar, Bagas kembali menggendongnya. Namun kali ini, Bagas tidak membawanya kembali ke ranjang. Ia membawa Laras ke sofa panjang di ruang tengah yang lebih luas dan udaranya lebih segar.

Di ruang tengah, hanya ada cahaya remang dari lampu teras yang masuk melalui celah jendela. Bagas mendudukkan Laras di sofa, lalu ia sendiri duduk bersimpuh di lantai, tepat di bawah kaki istrinya. Ia kembali meraih kaki bengkak Laras, melanjutkan pijatannya yang belum tuntas.

Suasana sangat hening. Dan dalam keheningan itu, Laras mendengar suara isakan.

Awalnya pelan, lalu kian jelas. Laras menunduk dan tertegun. Bagas, pria yang dikenal tegas, pria yang disegani seluruh warga desa, kini sedang menangis tersedu-sedu di atas kaki bengkaknya. Bahu lebar itu berguncang hebat.

"Mas..." bisik Laras, hatinya yang keras mulai goyah melihat kerapuhan suaminya.

"Mas benar-benar pria paling bodoh, Ras," ucap Bagas di sela isaknya, suaranya pecah. "Mas terlalu sibuk jadi 'Pak Kades' sampai Mas lupa jadi manusia buat kamu. Mas lihat kaki ini... bengkak begini karena mengurus rumah Mas, mengurus anak-anak Mas... tapi Mas malah bentak kamu semalam. Mas minta maaf, Laras... Mas minta maaf."

Bagas mendongak, matanya yang sembab menatap Laras dengan tatapan yang sangat hancur. "Jangan pulang ke rumah Bapak kamu. Mas mohon. Mas nggak tahu gimana caranya hidup di rumah ini kalau nggak ada kamu. Berikan Mas satu kesempatan terakhir, Ras. Sebelum bayi ini lahir... biarkan Mas buktikan kalau Mas mencintai kamu sebagai Laras, bukan sebagai Ibu Kades."

Laras menatap wajah suaminya. Ia melihat ketulusan yang murni, sebuah pengakuan dari jiwa yang selama ini tertutup oleh ego dan jabatan. Rasa lelahnya selama lima tahun seolah beradu dengan rasa iba yang mendalam. Laras tidak menjawab dengan kata-kata—suaranya seolah masih terkunci oleh trauma semalam.

Namun, perlahan Laras mengulurkan tangannya. Ia meraih tangan kanan Bagas yang kasar dan penuh urat, lalu membimbing tangan itu naik. Laras meletakkan tangan Bagas tepat di atas perutnya yang menonjol besar di balik daster batik.

Saat itu juga, perut Laras sedang mengencang—kontraksi palsu yang sering datang di bulan kedelapan.

Dug! Dug!

Ada sebuah tendangan kuat dari dalam sana, tepat mengenai telapak tangan Bagas.

Bagas tertegun, napasnya tertahan. Ia merasakan gerakan kehidupan yang sangat aktif di bawah tangannya.

"Dia... dia gerak, Ras," bisik Bagas, air matanya kian deras mengalir.

"Dia juga merasakannya, Mas," ucap Laras lirih, akhirnya bersuara. "Dia merasakan kesedihan Mamahnya... dia merasakan ketakutan Bapaknya. Dia pengingat kalau Laras ini bukan cuma mesin... tapi ada detak jantung yang kita buat berdua di sini."

Laras membiarkan tangan Bagas tetap di sana. "Laras nggak janji luka ini langsung sembuh, Mas. Tapi... demi dia, dan demi Gilang serta Arka... Laras akan coba bertahan sedikit lagi. Tapi tolong... jangan pernah buat Laras merasa sendirian lagi di rumah ini."

Bagas mencium punggung tangan Laras dengan sangat lama, membasahinya dengan air mata penyesalan dan syukur. Di sepertiga malam itu, di tengah kegelapan ruang tengah, dinding es yang membeku di antara mereka mulai retak. Tidak ada gairah yang menuntut, hanya ada dua jiwa yang sedang mencoba saling meraba kembali di tengah puing-puing kepercayaan yang mulai dibangun ulang.

***

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!