Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Di Paviliun Pedang
Hari pertama sebagai murid elit Paviliun Pedang dimulai. Lin Han bangun sebelum matahari terbit, seperti kebiasaannya selama ini. Kamar pribadinya memang lebih nyaman, tapi itu tidak mengubah disiplinnya.
Ia mencuci muka, merapikan jubah barunya. Jubah biru dengan sulaman pedang perak di dada kiri, tanda resmi murid Paviliun Pedang. Bahannya lebih halus dari jubah murid luar, dan ada formasi ringan yang tertanam di dalamnya untuk menangkal debu dan kotoran.
Lin Han keluar dari asrama baru dan berjalan menuju aula utama Paviliun Pedang. Jalan setapak dari batu putih membawanya melewati taman kecil dengan kolam ikan dan pohon pinus yang tertata rapi. Murid murid lain yang juga baru bangun berjalan ke arah yang sama. Beberapa meliriknya dengan tatapan penasaran. Wajah baru selalu menarik perhatian.
Aula utama Paviliun Pedang adalah bangunan besar dengan atap melengkung dan pilar pilar kayu merah. Di dalamnya, sekitar tiga puluh murid sudah berkumpul, duduk bersila di lantai kayu yang mengilap. Lin Han mencari tempat kosong di bagian belakang dan duduk.
Tidak lama kemudian, Tetua Mo masuk bersama dua orang pengajar lain. Mereka duduk di kursi di depan aula. Tetua Mo memandangi para murid dengan tatapan tajamnya.
"Murid baru, berdiri. Perkenalkan diri kalian."
Lima orang berdiri, termasuk Lin Han. Mereka bergantian menyebutkan nama dan asal mereka. Ketika giliran Lin Han tiba, ia hanya menyebutkan nama dan fakta bahwa ia berasal dari murid luar. Tidak lebih.
Tetua Mo mengangguk. "Kalian berlima adalah murid baru yang diterima melalui ujian kemarin. Kalian akan mengikuti pelatihan yang sama dengan murid lain. Tidak ada perlakuan istimewa. Di Paviliun Pedang, yang menentukan posisi kalian hanyalah kekuatan dan pemahaman pedang."
Ia melanjutkan penjelasan tentang aturan dan jadwal latihan. Pagi hari digunakan untuk latihan fisik dan teknik dasar. Siang hari untuk mempelajari teknik baru atau memperdalam teknik yang sudah dikuasai. Sore hari bebas, bisa digunakan untuk latihan mandiri atau mencari bimbingan dari para senior. Malam hari adalah waktu terbaik untuk bermeditasi dan menyerap energi bulan.
Setelah penjelasan selesai, semua murid dibawa ke lapangan latihan di belakang aula. Lapangan itu luas, dengan lantai batu hitam yang keras. Di sekelilingnya berdiri boneka boneka kayu yang lebih canggih dari yang digunakan saat ujian.
"Latihan pagi ini sederhana," kata Tetua Mo. "Kalian akan menebas boneka di depan kalian sebanyak seribu kali. Gunakan teknik dasar Tebasan Lurus. Tidak boleh menggunakan Qi. Hanya kekuatan fisik."
Beberapa murid mengeluh pelan. Seribu tebasan tanpa Qi adalah latihan yang melelahkan. Tapi tidak ada yang berani membantah.
Lin Han mengambil posisi di depan salah satu boneka. Ia mengeluarkan pedang peraknya dan mulai menebas.
Satu. Dua. Tiga.
Gerakannya teratur seperti mesin. Setiap tebasan persis sama dengan tebasan sebelumnya.
Di sekelilingnya, murid murid lain mulai menebas dengan ritme mereka sendiri. Beberapa melakukannya dengan malas malasan. Beberapa dengan semangat berlebihan yang membuat gerakan mereka tidak konsisten.
Tetua Mo berjalan di antara mereka, mengamati satu per satu. Ketika ia sampai di belakang Lin Han, langkahnya terhenti.
Ia memperhatikan selama beberapa menit. Lin Han terus menebas tanpa menyadari kehadiran Tetua Mo di belakangnya. Fokusnya sepenuhnya pada pedang dan boneka di depannya.
"Kau tidak menghitung dalam hati?" tanya Tetua Mo tiba tiba.
Lin Han tidak menghentikan tebasannya. "Saya menghitung, Tetua. Seratus dua puluh tiga."
Tetua Mo mengangguk pelan. "Lanjutkan."
Ia berjalan menjauh. Di dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa rekomendasi Mu Wan tidak salah. Murid ini memang berbeda.
Latihan berlangsung hingga matahari mulai naik. Satu per satu murid menyelesaikan seribu tebasan mereka. Sebagian besar langsung duduk terengah engah, tangan mereka gemetar. Lin Han menyelesaikan tebasan terakhirnya dan menyarungkan pedangnya. Napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi tidak terengah engah.
"Latihan selesai," kata Tetua Mo. "Istirahat sebentar. Setelah ini kita lanjutkan dengan latihan sparring."
Para murid beristirahat di bawah pohon pinus di pinggir lapangan. Lin Han duduk menyendiri, meminum air dari kendi yang disediakan.
Seorang pemuda mendekatinya. Rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya ramah. "Hei, kau Dhu Feng kan? Yang dari murid luar?"
Lin Han mengangguk.
Pemuda itu duduk di sampingnya. "Aku Chen Rong, murid tahun kedua di sini. Aku dengar kau bertarung melawan Kakak Senior Mu Wan dan membuatnya terkesan. Itu luar biasa."
Lin Han meneguk airnya. "Kakak Senior Mu Wan yang terlalu memuji."
Chen Rong terkekeh. "Kau rendah hati, dan itu bagus. Lebih baik dari pada sombong lalu dihajar saat sparring."
Mereka mengobrol ringan. Chen Rong banyak bercerita tentang kehidupan di Paviliun Pedang. Tentang para pengajar, tentang murid murid senior yang kuat, tentang ujian kenaikan tingkat yang diadakan setiap enam bulan. Lin Han mendengarkan sambil sesekali bertanya. Informasi ini berguna.
Setelah istirahat selesai, latihan sparring dimulai. Para murid dipasangkan secara acak. Lin Han mendapat lawan seorang pemuda berbadan kekar bernama Huo Ming. Foundation Establishment tahap Akhir, sama sepertinya.
Mereka berdiri berhadapan di atas panggung batu kecil. Huo Ming memandang Lin Han dengan senyum percaya diri.
"Aku tidak akan mengalah hanya karena kau murid baru," katanya.
Lin Han mengangguk. "Itu bagus."
Tetua Mo memberi isyarat. "Mulai."
Huo Ming langsung menyerang dengan tebasan keras dari atas. Gerakannya kuat, tapi mudah ditebak. Lin Han menggeser tubuhnya ke samping dan menangkis dengan sudut yang tepat. Pedang Huo Ming meluncur di sepanjang bilah pedang Lin Han dan menghantam lantai panggung.
Sebelum Huo Ming bisa menarik pedangnya, Lin Han sudah menusuk ke arah perutnya. Huo Ming terpaksa melompat mundur, kehilangan keseimbangan. Lin Han tidak mengejar, ia menunggu.
Huo Ming menatapnya dengan tatapan baru. Rasa percaya dirinya berkurang.
"Kau cepat."
Ia menyerang lagi, kali ini dengan kombinasi tebasan dan tusukan. Lin Han menangkis semuanya dengan tenang. Setiap serangan Huo Ming ia alihkan ke samping, tidak pernah menahan secara langsung. Teknik ini menghemat tenaga dan membuat lawan cepat lelah.
Setelah beberapa saat, Huo Ming mulai kehabisan napas, serangannya melambat. Lin Han melihat celah dan melangkah maju. Satu tebasan cepat ke pergelangan tangan Huo Ming. Pemuda itu menjatuhkan pedangnya.
"Selesai," kata Tetua Mo. "Dhu Feng menang."
Huo Ming memungut pedangnya dengan wajah merah.Tapi ia tidak marah.
"Kau memang kuat. Lain kali aku akan menang."
Lin Han mengangguk. "Aku tunggu."
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..