Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Yudha melirik Wulan dengan heran. Ternyata gadis ini mengincar posisi penting. Di kelas universitas, biasanya hanya ada tiga posisi yang paling menguntungkan: Ketua Kelas, Sekretaris, dan Bendahara. Sisanya biasanya hanya pelengkap.
Ketua Kelas punya hubungan paling dekat dengan Dosen Pembimbing, sehingga segala urusan akan lewat dia. Sekretaris juga punya peran vital dalam administrasi yang berhubungan dengan organisasi kemahasiswaan, yang bisa mempermudah jalan bagi mereka yang ingin aktif di politik kampus. Sementara Bendahara memegang kendali atas dana kegiatan.
"Memangnya kamu sanggup? Aku rasa kamu tidak cocok jadi Ketua Kelas," goda Yudha dengan senyum tipis, nada bicaranya sukses membuat Wulan hampir meledak karena kesal.
"Hehe! Aku kan cuma jujur," ujar Yudha kikuk melihat Wulan yang mulai naik darah.
"Hmph! Coba bicara sekali lagi... kalau berani, aku pukul kamu!" ancam Wulan.
"Oke, oke. Aku tidak akan menolak untuk memilihmu. Tapi... kasih cium dulu dong..." Yudha menunjuk pipinya sambil menyeringai nakal ke arah Wulan.
Wulan tertegun mendengar ucapan blak-blakan itu, melirik Yudha dengan tajam, lalu memalingkan wajahnya. Jelas sekali ia tidak mau meladeni Yudha lagi.
Dalam perjalanan kembali ke asrama, Yudha tiba-tiba menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya ia malas mengangkat, tapi entah kenapa jarinya justru menekan tombol jawab.
Sebuah suara yang sangat merdu terdengar dari balik telepon. Begitu lembut hingga terasa menyejukkan di telinga Yudha.
"Halo, Si Pemula?"
Yudha terpana sejenak sebelum akhirnya tersadar. Ia teringat nama akunnya saat bermain gim daring, "Rookie" alias "Si Pemula". Ia tak menyangka nama itu akan dipanggil oleh seseorang di saat seperti ini.
"Eh, kamu... Anya?" tanya Yudha dengan nada tak percaya.
"Iya! Ini Anya. Kamu di mana sekarang? Aku lagi di jalan menuju kampusmu untuk mencarimu!" Suara riang dan penuh semangat itu terdengar sangat nyata dari balik ponsel.
Yudha benar-benar terkejut mengetahui bahwa penelepon itu adalah Anya, gadis yang sempat menghilang dari dunia maya selama beberapa hari terakhir. Ini adalah pertama kalinya Anya menghubunginya sejak ia memberikan nomor ponselnya. Secercah kebahagiaan menyelinap di hati Yudha, meski ia tetap heran mendengar gadis itu nekat menyeberang pulau demi mencarinya ke sini.
"Lho, mau apa kamu datang jauh-jauh ke sini?" tanya Yudha dengan nada sangsi. Setahunya, Anya seharusnya masih berada di kediamannya yang mewah di seberang sana.
"Jangan tanya aku mau apa! Pokoknya, kamu mau kan menjamin keramah tamahanmu sebagai tuan rumah? Urusan makan, minum, sampai tempat menginap, kamu yang tanggung ya?" seru Anya di seberang telepon.
"Hah?!" Yudha terperangah. Mendengar nada bicaranya, Anya sepertinya bukan sedang berkunjung, tapi lebih seperti sedang melarikan diri untuk mencari suaka.
"Kenapa tiba-tiba sekali?" Yudha benar-benar bingung; aneh rasanya Anya muncul di saat seperti ini.
"Hehe, ada teman datang dari jauh, mana mungkin aku menolak?" lanjut Yudha sambil tersenyum tipis.
"Oke! Bagus kalau begitu... Jangan sampai nanti aku telepon tapi tidak kamu angkat ya!" Anya memastikan dengan nada mengancam yang manis.
"Tenang saja, kredibilitasku sebagai pria masih sangat kokoh kok," tawa Yudha pecah.
"Sip! Awas ya kalau tidak diangkat! Aku bakal sampai di sana sebentar lagi... Aku tidak kenal siapa-siapa di sini selain kamu..." ucap Anya dengan nada yang tiba-tiba berubah serius.
Mendengar itu, Yudha sadar bahwa Anya tidak sedang bercanda. Namun, tepat saat ia hendak menanyakan detail lebih lanjut, sambungan telepon langsung diputus secara sepihak.
Yudha menggelengkan kepalanya sambil membatin, "Jangan sampai tertipu suaranya yang merdu; jangan-jangan aslinya dia itu 'dinosaurus' (gadis yang tidak menarik)." Pikiran ini muncul berdasarkan pengalaman bertahun-tahun Yudha berpetualang di chatting dunia maya! Biasanya, semakin agresif dan misterius seorang gadis di aplikasi pesan singkat, semakin besar kemungkinan wajah aslinya jauh dari ekspektasi. Anya yang seolah "menyerahkan diri" ini sudah dicap sebagai 'dinosaurus' di benak Yudha. Ia mendadak ragu, haruskah ia benar-benar menjemputnya nanti?
Tepat saat Yudha hendak berbalik menuju asrama, ia mendengar suara lembut memanggilnya dari belakang.
"Kapten..."
Yudha menoleh dan melihat Mina sedang menggandeng seorang mahasiswi lain dari Jurusan Akuntansi. Keduanya menatap Yudha dengan binar mata yang campur aduk.
Yudha memandang gadis di sebelah Mina dengan dahi berkerut. Ia samar-samar ingat namanya adalah Rani, mahasiswi asal daerah di Jawa Barat. Keduanya memiliki kepribadian yang sama-sama pemalu, tak heran mereka langsung akrab.
"Ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanya Yudha dengan senyum ramah yang menjadi andalannya.
Mina menatap Yudha dengan malu-malu dan berkata, "Kapten, Rani melihat jerawat di wajahku sudah bersih total. Dia tahu kalau kamu yang membantuku menghilangkannya. Nah, di wajahnya juga ada satu-dua jerawat yang membandel, dia ingin minta tolong supaya kamu membantunya juga..."
"Ealah!" Yudha memperhatikan wajah Rani. Memang ada, tapi benar-benar hanya satu atau dua bintik kecil. Apa perlu sampai dibersihkan secara khusus? Yudha benar-benar dibuat mati kutu.
Melihat ekspresi Yudha yang tampak ragu, Mina mengira sang Kapten keberatan. Ia pun segera merayu, "Kapten, tolonglah! Semua jerawat di wajahku hilang seketika kemarin. Waktu aku balik ke asrama, kamu tidak tahu betapa irinya teman-teman satu kamar melihatku! Kamu kan tahu perempuan paling sensitif soal kecantikan. Kalau kamu bisa bantu, tolong dibantu ya!"
"Oh begitu..." Yudha melirik Mina sejenak, lalu beralih menatap Rani.
Meskipun tidak semua gadis di kelas Akuntansi memiliki wajah secantik model, harus diakui mereka semua memiliki postur tubuh yang menarik dan proporsional. Dengan aset fisik seperti itu, selama wajah mereka tidak buruk-buruk amat, kebanyakan pria pasti akan antre untuk mengajak mereka kencan. Tubuh Rani pun terlihat sangat sintal dan terjaga, membuat secercah gairah nakal kembali muncul di benak Yudha.
Menatap Rani, Yudha akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Kita teman sekelas, jadi aku setuju. Tapi kamu sudah tahu prosedurnya, kan? Aku tidak ingin ada salah paham saat aku membantumu nanti." Tentu saja, maksud Yudha adalah kontak fisik yang tak terhindarkan selama proses berlangsung. Hanya dengan memperjelas hal ini, ia bisa beraksi tanpa beban.
"Iya, Kapten. Aku mengerti. Mina sudah menjelaskan semuanya padaku," jawab Rani dengan kepala tertunduk dan wajah yang memerah sempurna.
Yudha membawa mereka berdua ke ruang ganti gedung olahraga kampus yang sedang sepi, lalu mengunci pintunya. Ia menarik tirai penutup, memberikan sebuah bantalan empuk kepada Rani, dan berkata, "Berbaringlah dulu."