NovelToon NovelToon
My Baby Mafia

My Baby Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:161.4k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!

Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.

Hingga pria itu kembali.

Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.

Melainkan rencana.

Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MBM — BAB 23

PIKIRAN YANG LICIK

Pagi sudah benar-benar mengambil alih langit ketika pintu besar mansion kedua terbuka perlahan. Udara segar menyusup masuk, membawa aroma rumput basah dan sisa embun yang belum sepenuhnya hilang.

Aria melangkah keluar lebih dulu, mantel tipisnya yang baru sudah membungkus tubuhnya meski matahari mulai hangat. Di belakangnya, langkah Lorenzo terdengar tenang namun berat—seperti biasa, kehadirannya selalu terasa bahkan tanpa suara.

“Selamat pagi, Tuan.” sapa beberapa pelayan dan penjaga yang menunduk hormat bahkan pada Aria juga.

Wanita itu mengamati suaminya yang benar-benar tegap dan berwibawa. Pakaian sederhananya benar-benar malah membuat Lorenzo nampak menggoda.

Kerikil halus di halaman utama berderak pelan di bawah sepatu mereka.

Belum sampai beberapa langkah, Aria langsung menghentikan diri.

Di depan sana, tepat di jalur menuju garasi utama, Emilio dan Monica berdiri. Seolah sudah menunggu, atau mungkin hanya kebetulan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Tatapan Monica langsung jatuh pada Aria. Tajam. Menilai. Tidak menyembunyikan apa pun.

Sementara Emilio, seperti biasa, tetap tenang. Terlalu tenang untuk rumah yang sedang menyimpan banyak rahasia.

“Pagi sekali,” ujar Emilio lebih dulu, suaranya datar namun tidak dingin. Tatapannya bergeser dari Aria ke Lorenzo. “Kalian berdua mau ke mana?”

Lorenzo tidak langsung menjawab. Tangannya meraih pergelangan tangan Aria dengan santai, tapi cukup kuat untuk menahan langkah wanita itu agar tidak mundur.

“Ada sesuatu yang perlu dipastikan oleh istriku.” jawabnya singkat yang membuat Aria seolah terpojok hingga tersenyum ragu saat Emilio dan Monica seketika itu menatap ke arahnya.

Alis Emilio terangkat sedikit, seolah menunggu penjelasan lebih. Tapi sebelum Lorenzo sempat menambahkan apa pun, suara Monica menyela, halus tapi penuh racun yang dibungkus rapi.

“Tentu saja keluar,” katanya sambil menyilangkan tangan di dada. Bibirnya melengkung tipis. “Wanita seperti dia pasti tidak betah terlalu lama di dalam rumah besar. Terlalu... asing, mungkin.”

Aria tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan beralih ke Monica. Diam. Mengukur. Namun penuh kekesalan.

Lorenzo menoleh sedikit, mata peraknya menatap tegas.

“Monica.” Nada suara Emilio berubah, peringatan halus tapi jelas.

Namun Monica hanya tersenyum kecil, pura-pura tidak mengerti. “Aku hanya bicara jujur.”

Hening sejenak.

Lalu Aria menarik napas pelan. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah—lebih dingin, lebih tajam.

“Benar,” katanya akhirnya, suaranya lembut tapi tidak goyah. “Aku memang tidak terbiasa tinggal di tempat yang penuh kepura-puraan. Dan setidaknya aku tidak bermain dengan suami orang, Bibi.”

Monica terdiam. Namun diam yang menatap tajam. Begitu juga Emilio yang terkejut hingga tak bisa berkata-kata karena dia tahu Lorenzo ada disamping Aria.

Dan Lorenzo sendiri yang mendengarnya hanya berkernyit namun tersenyum kecil hampir tak terlihat.

Aria melangkah setengah langkah lebih dekat, cukup untuk memastikan setiap katanya terdengar jelas. “Di tempatku,” lanjutnya, “orang yang tidak menyukaiku biasanya tidak repot-repot tersenyum di depan.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tapi efeknya seperti tamparan.

Monica membeku. Senyumnya tidak benar-benar hilang, tapi jelas tertahan. Matanya menyala—kesal, tersinggung, tapi tidak bisa membalas tanpa membuka wajah aslinya di depan Emilio.

Lorenzo menoleh pada Aria. Sudut bibirnya terangkat tipis. Hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa dia menikmati itu.

“Kami pergi dulu. Soal Don Vito, kita akan bahas lagi nanti.” kata Lorenzo pada ayahnya sebelum akhirnya ia melangkah pergi.

Emilio menghela napas pelan dan membalas dengan anggukan singkat. Hal itu, cukup untuk menutup ketegangan yang mulai memanas.

Lorenzo tidak menunggu lebih lama. Tangannya kembali menggenggam Aria, kali ini lebih tegas.

“Ayo.”

Tanpa melihat ke belakang lagi, mereka berjalan melewati Emilio dan Monica. Kerikil kembali berderak di bawah langkah mereka. Tidak ada yang berusaha menghentikan.

Pintu mobil dibuka. Aria masuk tanpa ragu, diikuti Lorenzo beberapa detik kemudian. Mesin menyala, dan mobil itu melaju meninggalkan halaman tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Monica masih berdiri di tempatnya. Rahangnya mengeras, matanya mengikuti mobil itu sampai menghilang dari pandangan.

“Kurang ajar, berani sekali dia berkata seperti itu, Emilio!” gumamnya pelan, nyaris seperti mendesis.

Emilio menoleh padanya. Tatapannya tidak marah, tapi berat. “Kau sendiri yang tidak bisa menjaga sikapmu, Monica,” katanya tenang. “Dan lebih penting lagi—jaga mulutmu.”

Monica mendengus pelan. “Dia bukan siapa-siapa.”

“Dia mengandung anak Matteo, ingat itu.”

Kalimat itu langsung memotong.

Hening.

Emilio melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Dan dalam kondisi sekarang, itu cukup untuk membuatnya menjadi seseorang yang harus dijaga.”

Monica memalingkan wajah, jelas tidak suka arah pembicaraan itu. “Aku tidak peduli,” katanya malas.

“Kau harus peduli,” balas Emilio, kali ini lebih tegas. “Apa pun yang terjadi di keluarga ini—apa pun kabar buruk yang kita terima—jangan sampai dia tahu.”

Monica menatapnya lagi, alisnya berkerut. “Kenapa?”

Emilio tidak langsung menjawab. Pandangannya mengarah ke gerbang besar yang sudah tertutup kembali.

“Karena jika sesuatu terjadi pada anak itu,” katanya pelan, “kita tidak hanya kehilangan pewaris… kita bisa kehilangan kendali atas Lorenzo.”

Monica terdiam. Tidak membantah lagi, tapi jelas tidak sepenuhnya setuju. Ia hanya menggerutu kecil, lalu berbalik pergi dengan langkah kesal.

“Ya.. Sekarang tambah satu orang lagi kesayangan mu, Emilio.” sindir Monica dengan malas dan hanya dibalas lirikan sinis oleh Emilio.

Di sisi lain halaman, tepat di balkon mansion utama, dua sosok berdiri bersandar santai.

Vittorio menghembuskan asap cerutunya perlahan, matanya mengikuti arah mobil yang baru saja pergi. Di sampingnya, Matteo berdiri diam, tangan dimasukkan ke saku, wajahnya sulit ditebak.

“Menarik bukan,” gumam Vittorio, suaranya ringan tapi penuh arti.

Matteo menoleh sekilas dengan wajah bingung. “Apanya?”

Vittorio melirik ke arahnya. “Kau lihat itu?”

“Apa?” jawab Matteo datar.

“Cara Lorenzo menjaganya.” Vittorio tersenyum tipis. “Seperti sesuatu yang… berharga.”

Matteo mengalihkan pandangan ke halaman. Rahangnya sedikit menegang. Dan memang benar, Vitorio adalah ahli psikologis. Mereka di mansion sudah mengenalnya.

Vittorio menghisap cerutunya lagi sebelum melanjutkan, santai seolah membicarakan hal sepele.

“Padahal…” katanya pelan, “anak yang dia jaga mati-matian itu… seharusnya milikmu.”

Hening.

Kali ini Matteo benar-benar diam. Tatapannya mengeras sedikit, tapi dia tidak menyangkal.

Vittorio tertawa kecil, pendek. “Lucu, bukan? Sesuatu yang bisa jadi milikmu… sekarang justru jadi tameng kekuasaan Lorenzo. kau tahu maksudku, Nak?” kata Vitorio yang berbalik menatapnya.

Matteo menelan pelan. Pikirannya jelas berjalan ke arah yang sama, meski ia tidak mengakuinya.

“Seorang pewaris,” lanjut Vittorio, suaranya lebih rendah, “Bisa jadi segalanya di keluarga seperti ini.”

Matteo akhirnya bicara, suaranya datar tapi lebih berat. “Dan juga bisa jadi awal kehancuran.”

Vittorio menoleh, tersenyum miring. “Tergantung siapa yang memegangnya.”

Angin pagi berhembus pelan, membawa sisa asap cerutu yang perlahan memudar.

Matteo tidak berkata apa-apa lagi. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama… pikirannya tidak lagi sepenuhnya bersih dari kemungkinan yang dulu dia abaikan.

Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, matanya menyipit dan bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil sementara pikirannya mencerna semua ucapan pamannya itu.

1
Qaisaa Nazarudin
Coba aja kalau kamu bisa,Dasar nenek sihir..🙄
Four.: awas nanti kamu disihir sama Monica loh yaaa 🤭
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Akhirnya Emilio mati juga,Dan Matteo di penjara,Rasain tuh Monica..
Four.: kasihan taukkkk harusnya dia mokad dulu /Proud/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang Emilio yg bunuh isteri nya sendiri demi selingkuhannya iaitu Monica..
Four.: emang iye/Grin/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Aku berharap mmg Lorenzo orang yang melakukannya,Bukan Matteo,Takutnya setelah anak itu lahir Matteo akan mengambil nya utk mengancam ayahnya utk mendapatkan harta dan tahta..
Four.: yakinnnnn /Chuckle/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Menang banyak Matteo,Setiap kali dia berulah, Lorenzo yang menyelesaikan masalahnya,Dan Monica makin akan terus berkuasa,Karena dia merasa menang dari mu Lorenzo..ckck
Four.: bagaimana lagi, Lorenzo sudah terikat sumpah dan janji 😌
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
OMG kok benaran MATTEO sih?? 🙇🙇🙇
Four.: gimana donggg
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Aku berharap SEMOGA YG BERSAMA ARIA MLM TADI BUKAN MATTEO MELAINKAN LORENZO..kan Lorenzo yg sudah seminggu ini selalu merhatiin Aria..
Four.: hmm tapi kejam amat kann harus diperkaos /Grimace//Scream/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Nah ini bedanya Matteo dan Lorenzo,Matteo TEH CELUP kasian Aria dapat barang BEKAS BANYAK JALANG..
Four.: ho, oh
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
OMG Matteo kah?? Ku pikir Lorenzo..🤦🤦
Four.: hmm kannn suudzon sih kamuu /Sly//Chuckle/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Inilah keadaan polisi di luar negeri,Akan tunduk dengan kekuasaan seseorang,Malah meteka seakan tak bersalah tanpa rasa tanggungjawab di pundak yg sudah diamanah keatas bahu mereka..
Four.: kalau polisi di Konoha bagaimana keadaannya yaaa?? (bertanya dengan nada lembut dan polos)
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Pria Gila,Kamu pikir Aria cewek apaan? Cewek Bayaran?😡
Four.: mohon bersabar....
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Hafal aja bau parfum nya Aria,Suatu saat kamu akan mengenalinya lewat parfumnya..
Four.: semoga aja yakk
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Kejam banget Lorenzo,Kasian Aria..
Four.: ho,oh /Sweat/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Kenapa harus di perkokos sih,Kan bisa dinikahin dulu walau cara paksa,dari pada diperkosa gitu..
Four.: eitssssss ada alasannya dong si babang Mafia /Grimace/
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Waahh ada rencana apaan nih? Inikah awal dari rencana yg bikin Rea hamil? seperti di sinopsis itu?
Four.: hmm maybe /Proud/
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya tamat dan happy ending.....
Four.: AKHIRNYA!!!!/Scream/
total 1 replies
Tiara Bella
akhirnya perang telah usai.....msh ada musuh lg kah
Four.: ada. Antara aku dan kamu uyyy
total 1 replies
Tiara Bella
wah maraton ini bacanya Thor.....yuhuuuuu....aku kangen bngt nh sm author satu ini.../Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Four.: Yuhuuuuu me too
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
terimakasih kak ceritanya sangat bagus😊
Four.: tancuuuu 😘😘
total 1 replies
Mia Camelia
widiiw udah tamat aja, gak kerasa akhir nya keluarga de santos bisa hidup tenang.🥰
semangat thor di tunggu karya baru nya yg berbau mafia lgi ya thor👍😄😄😄see you
Four.: wokayyyyyyh, pokoknya baca ya kalau aku update baru /Chuckle//Scream//Scream/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!