Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Jeda Sebelum Badai
Kael pergi.
Bukan sebagai tahanan. Bukan sebagai musuh yang dikalahkan. Tapi sebagai saudara yang pulang — ditemani Theron, yang memutuskan untuk mengantarnya ke Kerajaan Utara.
"Aku akan kembali," kata Theron pada Nana sebelum berangkat. "Aku janji."
"Aku tidak meragukanmu," jawab Nana. "Jaga dirimu. Dan jaga adikmu."
Theron tersenyum tipis. "Dia keras kepala. Tapi aku akan coba."
Mereka berenang ke utara, meninggalkan Aequoria dalam keheningan fajar.
Nana berdiri di depan ruangan tempat Jeno terbaring.
Ia belum sadar.
Sihir hitam Kael tidak membunuh, tapi menidurkan — dan tidur itu tidak biasa. Jeno tidak bergerak. Tidak bermimpi. Tidak merespons suara atau sentuhan.
Ia hanya tidur.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Nana pada Zara, yang sedang memeriksa kondisi Jeno dengan sihir penyembuh.
Zara menggeleng. "Aku tidak tahu, Yang Mulia. Sihir Palung Hitam tidak seperti sihir biasa. Aku belum pernah melihat yang seperti ini."
"Tapi dia tidak akan mati?"
"Tidak. Tubuhnya sehat. Detak jantungnya normal. Ini hanya... tidur. Tapi aku tidak tahu cara membangunkannya."
Nana menggigit bibirnya.
Ia duduk di samping tempat tidur Jeno, meraih tangan pemuda itu — tangan yang dingin, tapi masih hangat di telapaknya.
"Kau bilang kau akan menjagaku," bisik Nana. "Tapi sekarang giliranku menjagamu. Jadi bangunlah, Jeno. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian."
Tidak ada jawaban.
Hanya detak jantung Jeno yang berdetak pelan — tup-tup-tup — seperti jam yang menghitung detik.
Lira masuk ke ruangan, membawa mangkuk berisi sup rumput laut.
"Yang Mulia, kau harus makan," katanya. "Kau sudah dua hari tidak makan."
"Aku tidak lapar."
"Jeno akan marah kalau tahu kau tidak makan."
Nana tersenyum tipis. "Jeno tidak bisa marah. Dia tidur."
"Dia akan bangun. Dan dia akan marah."
Lira meletakkan mangkuk itu di meja samping tempat tidur.
"Makanlah, Yang Mulia. Untuk Jeno. Untuk kerajaan. Untuk dirimu sendiri."
Nana menatap mangkuk itu lama. Lalu ia mengambilnya, menyeruput sup hangat — gurih, seperti yang biasa Jeno buat.
"Enak," katanya.
"Aku yang masak," kata Lira bangga.
"Jeno yang ajari?"
Lira tersenyum. "Diam-diam. Dia bilang, 'Jangan bilang siapa-siapa. Kepala Penjaga tidak seharusnya masak untuk Ratu.'"
Nana tertawa — kecil, tapi tulus. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya.
Malam harinya, Nana tidak bisa tidur.
Ia duduk di balkon istana — tempat yang sama di mana dulu ia dan Jeno sering duduk bersama, berbincang tentang apa pun, atau hanya diam menikmati keberadaan satu sama lain.
Sekarang ia sendirian.
Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — pelan, sendu, seperti sedang merindukan sesuatu.
"Jeno," bisik Nana ke laut yang gelap. "Apa kau mendengarku?"
Tidak ada jawaban.
"Aku tahu kau bisa mendengar. Kau bilang dulu kau mendengarku dari sumur desa. Dari bawah tanah. Dari jarak bermil-mil."
Nana tersenyum pahit.
"Sekarang giliranku yang bicara. Dan kau yang mendengar dari jarak dekat. Jadi bangunlah, Jeno. Aku tidak suka bicara sendirian."
Diam.
"Aku mencintaimu," bisik Nana. Suaranya serak — bukan karena sakit, tapi karena haru. "Aku belum pernah bilang itu sebelumnya. Atau mungkin sudah, tapi kau tidur. Jadi aku ulangi."
Ia menarik napas.
"Aku mencintaimu, Jeno. Sebelum kau jadi Kepala Penjaga. Sebelum aku jadi ratu. Sebelum semua ini."
"Aku mencintaimu sejak malam pertama kau mengulurkan tanganmu padaku di karang Sendu."
"Aku mencintaimu sejak kau bilang 'Mau ikut denganku pulang, Putri?'"
Air mata Nana jatuh.
"Jadi bangunlah. Karena aku tidak bisa pulang tanpa kau."
Di dalam ruangan, di atas tempat tidur, jari Jeno bergerak.
Hanya sedikit — seujung kuku. Tapi bergerak.
Zara yang sedang menjaga di samping tempat tidur terkesiap.
"Yang Mulia!" teriak Zara ke arah balkon. "Yang Mulia, kemari cepat!"
Nana berenang sekencang mungkin ke dalam ruangan.
Ia melihat Jeno — masih terbaring, masih tidur. Tapi matanya... matanya bergerak di balik kelopak. Seperti sedang bermimpi. Seperti sedang mencoba bangun.
"Jeno?"
Tangan Jeno — yang tadinya lemas — perlahan menggenggam balik tangan Nana.
Bukan erat. Hampir tidak terasa. Tapi nyata.
"Na...na..."
Suara itu keluar dari tenggorokan Jeno — serak, pecah, hampir tidak terdengar. Tapi Nana mendengarnya.
"Aku di sini, Jeno. Aku di sini."
"Ja...ngan... pergi..."
"Aku tidak akan pergi. Aku janji."
Nana mencium kening Jeno — lembut, hangat, pulang.
"Sekarang tidurlah. Tapi bangunlah besok. Aku tidak mau menunggumu terlalu lama."
Jeno tidak menjawab.
Tapi sudut bibirnya — sedikit — terangkat.
Senyum.
Senyum kecil di tengah tidurnya.