Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 30
Nadia meneteskan air mata perlahan.
Air mata itu jatuh tanpa suara di pipinya yang tenang. Dengan pelan, ia menyekanya menggunakan ujung jari.
Karena rasa resah yang tidak juga hilang, akhirnya Nadia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada Mbak Tari.
“Mbak Tari, kalau bisa buatkan sarapan untuk Nanda.”
Pesan itu langsung terkirim.
Centang dua berwarna abu-abu muncul di layar, tanda pesan sudah sampai meski belum dibaca.
Nadia menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya mematikan ponselnya.
Ia masuk ke dalam kamar, menutup jendela balkon, lalu berbaring di atas kasur.
Matanya mencoba terpejam.
Namun, yang terus muncul justru wajah Nanda.
Wajah kecil dengan mata bulat yang selalu mengikutinya ke mana-mana.
“Bunda, lihat gambar Nanda.”
“Bunda, hari ini Nanda pintar.”
“Bunda, peluk.”
Semua suara itu memenuhi kepala Nadia.
Ia membuka mata lagi.
Dadanya terasa sesak.
Nadia bangkit perlahan. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Sudah lama ia tidak melakukan ini dengan tenang.
Selama menikah dengan Raka, hidupnya selalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Bangun pagi untuk memasak, menyiapkan pakaian, mengurus Nanda, melayani keluarga suaminya, hingga malam hari memastikan semua orang tidur nyaman.
Dirinya sendiri sering terlupakan.
Kini, di rumah yang sunyi itu, Nadia kembali duduk di atas sajadah.
Tangannya membuka Al-Qur’an perlahan.
Lalu, suara lembut mulai melantunkan ayat demi ayat suci.
Rumah kecil itu menjadi begitu tenang.
Semakin lama membaca, hatinya perlahan terasa ringan.
Resah yang tadi memenuhi dada mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Setelah hampir satu jam membaca Al-Qur’an, rasa kantuk akhirnya datang.
Nadia menutup mushafnya pelan lalu kembali ke atas kasur.
Kali ini matanya benar-benar bisa terpejam.
Pagi datang perlahan.
Mbak Tari baru bangun ketika melihat ada pesan masuk di ponselnya.
Matanya langsung membesar saat membaca nama pengirim.
Nadia.
Perempuan itu segera membaca isi pesannya.
“Mbak Tari, kalau bisa buatkan sarapan untuk Nanda.”
Mbak Tari langsung menutup mulutnya sendiri.
Air matanya jatuh tanpa sadar.
Meski sudah pergi dari rumah itu, Nadia masih memikirkan Nanda terlebih dahulu.
Padahal sekarang Mbak Tari sudah tahu kenyataan sebenarnya.
Nanda adalah anak Raka dan Ratna.
Namun, justru karena itu hatinya semakin terenyuh.
Selama ini Nadia merawat Nanda dengan seluruh kasih sayang tanpa pernah membedakan.
“Ya Allah, baik sekali kamu, Mbak,” gumam Mbak Tari pelan.
Ia segera mencoba menelepon Nadia.
Namun, telepon itu tidak diangkat.
Akhirnya Mbak Tari langsung menuju dapur dan mulai membuat sarapan sehat sesuai arahan Nadia.
Ia sudah terbiasa memasak makanan sehat untuk Nanda mengikuti resep-resep dari Nadia.
Mulai dari sayur, sup hangat, sampai telur yang dimasak tanpa terlalu banyak minyak.
Di rumah Raka
Nanda bangun lebih dulu.
Begitu membuka mata, hal pertama yang ia lakukan adalah mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.
Mencari sosok bundanya.
Namun, seperti hari-hari sebelumnya, kamar itu kosong.
Nanda menundukkan kepala.
“Bunda, Nanda janji enggak akan nakal lagi,” bisiknya lirih.
Anak kecil itu tidak ingin mengecewakan bundanya.
Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mandi sendiri.
Setelah selesai mandi, Nanda memakai mukena kecilnya lalu melaksanakan salat Subuh.
Usai berdoa, kedua tangannya masih terangkat.
“Ya Allah, Nanda cuma mau Bunda pulang.”
Air mata jatuh perlahan.
Nanda menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak terisak.
Ia takut membuat orang lain sedih karena dirinya menangis.
Setelah itu, Nanda mulai memakai seragam sekolah sendiri.
Tangannya mengambil sisir kecil di meja.
Namun, saat melihat rambutnya yang panjang terurai, matanya kembali memanas.
Biasanya Nadia akan mengepang rambutnya sambil bercerita banyak hal.
Sekarang tidak ada siapa-siapa.
“Bunda, Nanda enggak akan nangis supaya Bunda pulang,” bisiknya lagi.
Dengan tangan kecilnya, ia mencoba menyisir rambut sendiri meski hasilnya sedikit berantakan.
Setelah itu, Nanda mulai memasukkan buku pelajaran satu per satu ke dalam tas sekolahnya.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Raka dari ambang pintu.
“Sudah, Pah,” jawab Nanda pelan.
Raka menatap putrinya dengan dada sesak.
Anak itu menjadi terlalu mandiri dalam waktu singkat.
Mereka turun ke meja makan bersama.
Di atas meja sudah tersedia ayam goreng pedas dan teh manis kemasan.
Jelas terlihat itu makanan siap saji yang dipesan secara daring oleh Ratna.
“Nanda sayang, ini ada ayam goreng pakai saus enak, loh,” ucap Ratna dengan suara lembut dibuat-buat.
Nanda langsung menggeleng.
“Kata Bunda, aku enggak boleh makan sembarangan.”
Raka langsung menoleh pada Ratna.
“Ratna, kenapa kamu enggak masak buat Nanda? Nanda enggak terbiasa makan makanan dari luar.”
Ratna langsung mendecih kesal.
“Ribet amat sih, Mas. Sama-sama makanan juga. Ini ada label halal, berarti sehat.”
Ratna lalu menoleh ke arah Nanda.
“Nanda, kamu enggak usah takut dimarahi Bunda. Kamu boleh makan apa saja.”
Nanda kembali menggeleng kecil.
“Enggak mau. Nanda enggak boleh makan sembarangan nanti sakit. Nanti Bunda enggak pulang kalau Nanda sakit.”
Raka langsung merasa nyeri mendengar ucapan anaknya.
“Kamu harus belajar menyiapkan sarapan sehat untuk Nanda, Ratna.”
“Ck!”
Suara sendok Ratna beradu keras dengan piring.
“Mamah sudah susah payah pesan online, ya. Kalau kamu enggak makan berarti kamu enggak menghargai Mamah.”
“Ratna!” bentak Raka.
Ratna langsung berdiri dengan wajah kesal.
Ia berjalan masuk ke kamar sambil menggerutu.
Bahkan setelah Nadia pergi, perempuan itu masih bisa membuatnya kesal.
Tak lama kemudian, Mbak Tari datang membawa beberapa kotak makanan.
“Ini saya buatkan sarapan buat Nanda.”
Mata Nanda langsung berbinar.
“Mbak Tari, ini dari Bunda ya? Bundanya ada di rumah Mbak Tari ya?”
Mbak Tari langsung menahan air mata.
“Ini buatan Mbak, Neng.”
Wajah Nanda langsung meredup.
“Yah… kirain ini dari Bunda.”
Anak itu mendadak kehilangan nafsu makan.
Mbak Tari segera berjongkok di depan Nanda.
“Neng Nanda harus makan biar Bunda enggak sedih.”
Hampir saja air mata Mbak Tari jatuh.
Nanda akhirnya mengangguk kecil.
“Iya, Nanda makan.”
Ia mulai makan perlahan.
Nanda tidak mau sakit.
Ia ingin sehat supaya bundanya cepat pulang.
Setelah selesai sarapan, Nanda mencuci tangan sendiri.
Yuni sibuk bermain ponsel di ruang tamu.
Raka sedang berada di kamar mandi.
Sedangkan Ratna sejak tadi tidak keluar kamar setelah Nanda menolak sarapan darinya.
Rumah itu terasa begitu hampa.
Tidak ada yang mengantar Nanda sampai ke gerbang seperti biasanya.
Melihat Mbak Tari sedang mencuci piring, Nanda akhirnya berjalan pelan menuju teras rumah.
Ia duduk diam menunggu mobil jemputan sekolah.
Biasanya di sampingnya ada Nadia yang akan bicara banyak hal.
Tentang pelajaran sekolah.
Tentang cuaca.
Tentang bunga di halaman.
Atau sekadar memeluk dirinya sebelum berangkat.
Namun sekarang tidak ada siapa-siapa.
Mobil jemputan akhirnya datang.
Nanda berdiri perlahan lalu masuk ke dalam mobil tanpa suara.
Seminggu berlalu.
Kehidupan Nanda terasa begitu hampa.
Namun, anak kecil itu masih terus berharap bundanya akan datang pulang.
Nanda jadi lebih banyak diam di kamar.
Belajar sendiri.
Membaca buku.
Mengaji.
Semua dilakukan dengan tekun karena ia percaya jika menjadi anak baik, Nadia pasti akan kembali.
Orang-orang di rumah melihat Nanda tampak baik-baik saja.
Hal itu justru membuat mereka lega.
Mereka mengira Nanda tidak benar-benar kehilangan sosok Nadia.
Padahal sebenarnya, Nanda hanya tidak ingin membuat orang-orang di rumah sedih karena dirinya menangis.
Sementara itu, kehidupan Nadia berjalan stagnan.
Mbak Tiara, asisten rumah tangga yang disediakan Sindi, selalu menemaninya di rumah.
Kegiatan Nadia sekarang hanya membaca buku, membaca Al-Qur’an, dan sesekali berjalan santai mengelilingi kompleks perumahan.
Dalam waktu seminggu, Nadia berhasil khatam Al-Qur’an.
Untuk merayakan hal kecil itu, ia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan membeli motor N-Max keluaran terbaru secara tunai.
Pagi itu Nadia mengendarai motornya perlahan di jalanan kompleks.
Namun, pikirannya masih dipenuhi wajah Nanda.
Suara kecil anak itu.
Tawanya.
Pelukannya.
Semua masih sangat jelas di kepalanya.
Karena terlalu larut dalam pikiran, Nadia tidak fokus melihat jalan.
Dan tiba-tiba…
“Bruk!”
Motor Nadia menghantam sebuah mobil Rolls-Royce yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Suara benturan cukup keras.
Bagian samping mobil mewah itu lecet dan sedikit penyok.
Sementara spakbor motor Nadia retak.
“Astaghfirullah…”
Nadia langsung mengelus dadanya.
Ia tahu mobil seperti itu pasti milik orang kaya.
Pintu mobil terbuka perlahan.
Seorang laki-laki tinggi memakai jas rapi keluar dari dalam mobil.
Aura dinginnya langsung terasa.
Lelaki itu berjalan mendekati mobilnya, lalu membuka kacamata hitam yang dipakainya.
Nadia langsung terperangah.
“Andre?”
Lelaki itu adalah Andre.
Teman semasa SMA-nya.
Atau lebih tepatnya musuh bubuyutan.
Dulu mereka seperti dua kutub berbeda.
Nadia penuh dengan catatan prestasi.
Sedangkan Andre penuh dengan catatan kenakalan.
Namun, melihat wajah yang dikenalnya itu, Nadia justru merasa lega.
Setidaknya ia menabrak orang yang pernah dikenalnya.
Mungkin masalah ini bisa selesai dengan damai.
Andre menatap lecet di mobilnya beberapa detik.
Lalu ia menoleh datar pada Nadia.
“Biaya perbaikan sepuluh miliar,” ucap Andre tenang namun tegas.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪