"Menjadi asisten pribadi seorang CEO paling dingin di ibu kota bukanlah rencana awal hidupku."
Bagi Kenzo, perfeksionisme adalah segalanya. Baginya, asisten bukan sekadar pembantu, tapi mesin yang harus bekerja 24/7 tanpa celah. Namun, kedatangan asisten barunya yang "tak terduga" mulai mengacaukan ritme hidupnya yang kaku.
Ia tidak menyangka bahwa di balik kopi yang selalu pas suhunya dan jadwal yang tertata rapi, asistennya menyimpan rahasia besar yang bisa menjungkirbalikkan dunia bisnisnya. Setiap babak baru dalam hubungan mereka hanyalah awal dari lapisan misteri dan percikan rasa yang lebih dalam.
Akankah hubungan profesional ini tetap pada jalurnya, atau justru terjebak dalam permainan perasaan yang tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Pertama Sang CEO
Suasana di lantai empat puluh Aditama Group pagi ini terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Kenzo Aditama baru saja tiba, dan langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer seolah memberikan tanda bahwa hari ini tidak akan berjalan mudah. Sebagai asisten baru, (Masukkan Nama Tokoh Wanita) sudah berdiri tegak di depan meja kerjanya dengan setelan blazer yang rapi dan sebuah tablet di tangan.
"Kopi," ucap Kenzo singkat tanpa menoleh sedikit pun saat ia melewati meja asistennya.
Tanpa perlu diperintah dua kali, ia segera menyodorkan cup kopi hitam yang suhunya sudah diatur sedemikian rupa—persis seperti kemarin. Namun, Kenzo tidak langsung meminumnya. Ia berhenti sejenak, menatap kopi itu, lalu menatap asistennya dengan tatapan menyelidik.
"Jangan berpikir satu keberuntungan kecil kemarin bisa membuatmu merasa aman di sini," bisik Kenzo dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Hari ini, kamu akan menghadapi rapat direksi. Jika ada satu data saja yang salah di dalam presentasiku, kamu tahu konsekuensinya."
Ia hanya tersenyum tipis, menutupi rasa gugup yang mulai merayap. "Semua data sudah saya verifikasi dua kali, Pak Kenzo. Termasuk laporan keuangan rahasia yang sempat Bapak ragukan semalam."
Kenzo sedikit terkejut. Bagaimana asisten baru ini bisa tahu soal laporan rahasia itu? Padahal, ia belum memberikan akses penuh ke server pribadinya. Ada sesuatu yang mencurigakan, namun Kenzo memilih untuk menyimpan kecurigaan itu dalam hati. Ia harus fokus pada rapat besar yang akan menentukan masa depan salah satu anak perusahaannya.
Rapat dimulai satu jam kemudian. Ruangan itu penuh dengan pria-pria tua berwajah serius yang siap menjatuhkan Kenzo jika ia melakukan satu kesalahan saja. Sebagai asisten, ia berdiri di belakang Kenzo, siap memberikan data apa pun yang dibutuhkan.
Di tengah rapat, salah satu komisaris senior menggebrak meja. "Kenzo! Kenapa angka kerugian di proyek pelabuhan ini bisa sebesar ini? Kamu bilang asisten barumu sudah merapikannya!"
Kenzo menoleh ke arah asistennya dengan tatapan tajam yang seolah siap membunuhnya saat itu juga. Suasana menjadi hening. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah momen "hidup atau mati" dalam kariernya.
Dengan tenang, ia melangkah maju sedikit. "Mohon maaf, Pak Komisaris. Angka yang Anda lihat di layar adalah data lama yang sengaja disisipkan oleh pihak internal yang ingin menyabotase kepemimpinan Pak Kenzo. Jika Anda melihat tablet yang baru saja saya bagikan ke masing-masing meja, di sana ada data asli yang menunjukkan bahwa proyek pelabuhan sebenarnya sedang mengalami keuntungan 15%."
Ruangan kembali riuh. Kenzo terdiam, menatap layar lalu menatap asistennya. Ia tidak menyangka asistennya berani melakukan manuver seberani itu di depan para petinggi perusahaan. Kenzo merasa harga dirinya terselamatkan, namun di sisi lain, ia benci karena harus merasa berhutang budi pada seorang gadis yang baru bekerja dua hari.
Setelah rapat berakhir dan semua orang keluar, Kenzo menarik tangan asistennya hingga punggung gadis itu membentur dinding kaca. Jarak mereka sangat dekat, Kenzo bisa merasakan embusan napas asistennya yang sedikit memburu.
"Kamu bermain api," desis Kenzo. "Dari mana kamu dapat data itu?"
Gadis itu menatap mata Kenzo tanpa rasa takut. "Sudah saya katakan, Pak. Saya tahu apa yang Anda butuhkan sebelum Anda memintanya. Dan saya juga tahu ada orang di perusahaan ini yang ingin menjatuhkan Anda."
Kenzo mencengkeram lengan asistennya sedikit lebih kuat, namun bukan karena marah, melainkan karena rasa penasaran yang luar biasa. "Siapa kamu sebenarnya? Tidak mungkin asisten biasa bisa masuk ke sistem keamanan data tertutup itu."
"Saya hanya asisten Anda, Pak Kenzo. Setidaknya, untuk saat ini," jawabnya dengan nada misterius.
Kenzo melepaskan cengkeramannya. Ia mulai merasa asisten ini bukan sekadar pekerja profesional, tapi ada motif lain yang ia bawa. Namun, di balik rasa curiga itu, Kenzo juga merasakan ketertarikan yang tidak biasa. Ia terbiasa dengan orang-orang yang gemetar ketakutan di depannya, tapi gadis ini justru menantangnya dengan senyuman.
"Kerja bagus untuk hari ini," ucap Kenzo dingin sambil berjalan kembali ke mejanya. "Tapi jangan senang dulu. Malam ini, kamu harus menemaniku ke pesta makan malam bisnis. Dan ingat, kamu bukan hanya asisten di sana. Kamu harus berperan sebagai orang yang paling dekat denganku."
Asisten itu tertegun. Pesta makan malam bisnis? Itu berarti ia harus bertemu dengan keluarga besar Kenzo dan para sosialita yang licin. "Maksud Bapak...?"
"Gunakan gaun terbaikmu. Dan pastikan semua orang percaya bahwa kita punya hubungan lebih dari sekadar bos dan asisten," perintah Kenzo tanpa menoleh. "Ini adalah misi pertamamu untuk menjaga nama baik Aditama Group."
Ia hanya bisa mengangguk, meski dalam hati ia tahu bahwa malam ini akan menjadi awal dari drama yang jauh lebih rumit. Ia datang ke Aditama Group untuk membalas budi masa lalu, namun sepertinya ia justru akan terjebak dalam jaring perasaan yang dibuat oleh Kenzo Aditama sendiri.