NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tamu Tak Diundang dan Harga Sebuah Memori

​Pagi itu, Karangbanyu menyambut Gani bukan dengan dering alarm digital bernada tinggi, melainkan dengan harmoni suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah pekarangan.

​Gani mengayunkan sapu lidi itu dengan ritme yang konstan, mengumpulkan guguran daun mangga dan daun rambutan kering menjadi sebuah gundukan kecil di sudut halaman. Keringat tipis mulai membayang di dahinya, namun napasnya teratur. Ia mengenakan kaus abu-abu yang lengannya ditarik hingga ke bahu, mengekspos otot lengannya yang mulai terbiasa dengan pekerjaan fisik selama beberapa hari terakhir.

​Ia berhenti sejenak, menumpukan kedua tangannya pada ujung sapu lidi, lalu menengadah menatap langit pagi yang bersih tanpa selembar awan pun.

​Tadi malam, ia tidur dengan sangat nyenyak. Tidak ada mimpi buruk tentang ruang sidang, tidak ada bayangan wajah Raka yang menyeringai, dan tidak ada perasaan tercekik saat ia terbangun. Alih-alih obat penenang, rasa lelah akibat membuat layang-layang dan kehangatan dari obrolannya dengan Kirana di teras semalam telah menjadi obat tidur paling mujarab yang pernah ia konsumsi.

​Gani menatap kedua telapak tangannya. Kalus di pangkal jarinya mulai menebal, menyembunyikan kulit halusnya yang dulu rutin mendapatkan perawatan manikur di salon pria eksklusif Jakarta. Plester di pergelangan tangan kirinya sudah ia lepas tadi pagi sehabis mandi. Luka sayatan itu kini telah mengering, menyisakan bekas garis kemerahan yang akan menjadi parut permanen.

​Sebuah pengingat abadi tentang seberapa dekat ia dengan jurang kematian, dan seberapa bersyukurnya ia karena ada sebuah tangan kecil yang menariknya mundur.

​Setelah membakar tumpukan daun kering itu—membiarkan asap putih beraroma khas menguar ke udara—Gani melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menuju kamar mandi, mencuci tangan dan wajahnya, lalu mengambil dompet kulit tipis dari dalam tas ranselnya.

​Ia membuka dompet itu. Di dalamnya, tidak ada lagi deretan kartu kredit kelas platinum tanpa limit. Hanya tersisa KTP, SIM, dan tiga lembar uang seratus ribu rupiah yang lecek. Tiga ratus ribu rupiah. Itulah total sisa kekayaan likuid dari seorang pria yang pernah menandatangani kontrak bernilai ratusan miliar.

​Gani tersenyum getir, menatap uang itu. Saldoku saat ini tidak cukup bahkan untuk membeli seekor ayam pelung, batinnya, mengulangi kata-kata sarkastisnya pada Kirana di hari pertama mereka membuat kesepakatan.

​Namun, perutnya kembali berbunyi pelan. Ia tidak bisa terus-menerus bergantung pada belas kasihan dan rantang nasi liwet Bibi Ratna. Ia masih punya harga diri, dan ia berniat menggunakannya hari ini. Mengambil selembar uang seratus ribu rupiah itu, Gani melangkah keluar rumah, mengunci pintu depan, dan berjalan menuju warung sembako Bibi Ratna.

​Perjalanan singkat menuju pertigaan desa itu terasa sangat berbeda hari ini. Jika beberapa hari yang lalu Gani berjalan dengan kepala menunduk dan aura permusuhan yang pekat, hari ini ia berjalan dengan postur tegak.

​Berita tentang kemenangannya di festival layang-layang kemarin sore rupanya telah menyebar lebih cepat daripada api yang melahap rumput kering. Ditambah dengan jasanya memperbaiki atap Balai Desa, status sosial Gani di Karangbanyu telah mengalami lonjakan yang drastis.

​"Pagi, Mas Gani Arsitek!" sapa Pak Yono dari pos ronda, mengangkat cangkir kopinya tinggi-tinggi.

​"Pagi, Mas Gani! Kemarin layangannya Udin mantap betul! Kapan-kapan buatkan untuk anak saya ya, Mas!" sahut seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.

​Gani merespons sapaan-sapaan itu dengan anggukan hormat dan senyum tipis. Panggilan 'Mas Gani Arsitek' tidak lagi terdengar sebagai sebuah sindiran atau beban di telinganya, melainkan sebagai sebuah pengakuan. Di Jakarta, gelarnya dirampas oleh ketok palu pengadilan. Di Karangbanyu, gelar itu dikembalikan kepadanya oleh senyum anak-anak dan sorak-sorai warga desa.

​Setibanya di warung Bibi Ratna, wanita paruh baya itu sedang sibuk melayani dua orang pembeli. Begitu melihat Gani datang, wajah Bibi Ratna langsung semringah.

​"Wah, ini dia pahlawannya Udin!" seru Bibi Ratna heboh, membuat ibu-ibu pembeli lain ikut menoleh dan tersenyum pada Gani. "Gimana, Mas? Menang besar toh kemarin lawan anak Sukatani?"

​"Bukan saya yang menang, Bi. Udin yang menerbangkannya," jawab Gani rendah hati, berdiri di depan etalase kaca yang berisi aneka jajanan pasar. "Saya mau beli telur setengah kilo, beras dua liter, kopi bubuk, gula, dan kecap, Bi. Sekalian sabun mandi satu."

​Bibi Ratna dengan cekatan membungkus pesanan Gani ke dalam kantong plastik hitam. "Tumben belanja, Mas? Mau masak sendiri?"

​"Iya, Bi. Saya tidak mungkin merepotkan Bibi terus-menerus. Saya juga harus mulai merapikan dapur rumah," jawab Gani, menyerahkan selembar uang seratus ribuannya.

​"Alah, repot apa toh. Kan Bibi sudah bilang anggap saja rumah sendiri," Bibi Ratna memberikan kembalian berupa beberapa lembar sepuluh ribuan dan uang koin yang terasa dingin di telapak tangan Gani. "Oh ya, Mas. Hari ini Kirana bilang dia libur dulu dari taman bacaan. Katanya mau seharian rebahan di rumah."

​Tangan Gani yang sedang memasukkan uang kembalian ke dalam saku celananya terhenti sejenak. "Libur? Apa dia... apa dia sakitnya kambuh, Bi?" nada kecemasan yang tulus tidak bisa ia sembunyikan dari suaranya.

​Bibi Ratna menghela napas pelan, mengusap meja kayu warungnya dengan lap basah. "Ya begitulah, Mas. Kemarin kan dia panas-panasan di lapangan, pasti badannya lelah banget. Dia itu pantang capek sedikit. Tapi Mas Gani tenang saja, dia bilang cuma butuh istirahat sehari. Nanti sore kalau Bibi tutup warung, Bibi bawakan sayur sop ke rumahnya."

​Gani mengangguk pelan, meski rasa cemas itu masih menggantung di dadanya seperti awan mendung. Pantas saja tadi pagi tidak ada gedoran keras di pintunya, tidak ada suara cempreng yang menagih 'Permintaan Keempat'. Tiran Kecilnya sedang beristirahat. Alam semesta seolah memberikan jeda agar tubuh rapuh gadis itu bisa memulihkan diri.

​"Titip salam untuk Kirana, Bi," ucap Gani akhirnya, mengangkat kantong belanjaannya. "Kalau ada apa-apa, atau butuh bantuan untuk mengangkat barang-barang di rumahnya, tolong panggil saya."

​"Pasti, Mas. Pasti," Bibi Ratna tersenyum penuh arti, menangkap kilatan kepedulian yang sangat nyata di mata pria kota tersebut.

​Gani melangkah kembali menuju rumahnya. Sepanjang jalan, ia memikirkan Kirana. Ia ingat bagaimana wajah gadis itu memucat semalam saat tersedak teh, dan bagaimana tangan kecil itu mencengkeram dadanya. Gani menyadari bahwa waktu yang dimiliki gadis itu mungkin tidak sebanyak yang Gani harapkan. Pemikiran itu membuatnya merasa takut—sebuah ketakutan yang anehnya tidak membuatnya ingin lari, melainkan membuatnya ingin memastikan setiap detik yang tersisa terasa bermakna.

​Namun, lamunan melankolis Gani pecah seketika saat ia berbelok memasuki pekarangan rumahnya.

​Di depan pagar kayu tuanya yang catnya mengelupas, terparkir sebuah mobil SUV hitam mengilap keluaran terbaru. Mobil besar berbodi bongsor itu tampak sangat tidak pada tempatnya di jalanan desa yang sempit, memblokir sebagian jalan setapak. Lapisan debu jalanan menempel di bagian bawah bumpernya, namun tidak bisa menutupi kesan mewah dan arogan yang dipancarkan oleh kendaraan tersebut.

​Langkah Gani terhenti. Darahnya yang sedari tadi mengalir tenang, tiba-tiba terasa membeku.

​Mobil seperti itu tidak mungkin milik warga Karangbanyu. Itu adalah mobil orang kota. Dan mengingat situasi Gani saat ini, tamu dari kota biasanya hanya membawa dua hal: masalah hukum, atau penagih utang.

​Gani mengencangkan cengkeramannya pada kantong plastik belanjaannya. Ia mengatur napasnya, mengunci rapat-rapat kecemasan di dalam kepalanya, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah keras bak dipahat dari batu karang.

​Saat Gani membuka pintu pagar, dua orang pria yang sedang berdiri di teras rumahnya menoleh.

​Pria pertama mengenakan kemeja batik sutra lengan pendek, celana bahan hitam, dan kacamata hitam mahal yang diselipkan di kerah kemejanya. Perutnya sedikit membuncit, dan rambutnya disisir klimis ke belakang. Pria kedua bertubuh lebih kurus, mengenakan kemeja kotak-kotak yang terlalu ketat, dengan tas selempang kulit murahan di dadanya. Pria kedua ini terus-menerus mengunyah permen karet dengan ekspresi bosan.

​Gani mengenali pria pertama dengan sangat baik.

​Itu adalah Paman Lukman. Adik kandung dari almarhum ayahnya, Pak Haris.

​Paman Lukman adalah tipe kerabat yang hanya muncul saat ada pembagian warisan atau saat ia membutuhkan pinjaman modal usaha. Saat Gani berada di puncak kesuksesan, Paman Lukman sering mengiriminya proposal bisnis abal-abal yang selalu ditolak Gani dengan halus. Dan saat Gani jatuh bangkrut bulan lalu, Paman Lukman adalah orang pertama di grup keluarga besar yang mengirimkan pesan menyalahkan Gani karena mencoreng nama baik keluarga.

​"Wah, wah, wah. Lihat siapa ini," suara bariton Paman Lukman memecah kesunyian, nadanya sarat dengan arogansi dan belas kasihan yang dibuat-buat. Pria paruh baya itu melangkah menuruni undakan teras, merentangkan tangannya seolah ingin memeluk Gani, meski jarak mereka masih terpisah beberapa meter. "Keponakanku yang hilang akhirnya kembali ke sarangnya. Makin kurus saja kamu, Gan."

​Gani tidak membalas senyuman itu. Ia tidak bergerak sedikit pun, membiarkan Paman Lukman menurunkan tangannya dengan kikuk.

​"Ada urusan apa Paman kemari?" tanya Gani dingin, nada suaranya setajam silet. Ia sama sekali tidak berniat berbasa-basi.

​Paman Lukman berdeham, senyum palsunya sedikit luntur. Ia melirik pria kurus di sebelahnya. "Kamu ini, baru ketemu paman sendiri kok nadanya sudah seperti musuh. Tidak disuruh masuk dulu? Paman jauh-jauh dari Surabaya menyetir mobil ke desa terpencil ini lho."

​"Di dalam tidak ada listrik, Paman. Dan tidak ada kursi empuk. Bicara saja di sini," tolak Gani mentah-mentah. "Siapa pria di sebelah Paman itu?"

​Pria kurus itu menyeringai, mengeluarkan selembar kartu nama dari tas selempangnya dan menyodorkannya kepada Gani. "Saya Junaedi, Mas Gani. Agen properti dari PT Nusantara Persada."

​Gani tidak mengambil kartu nama itu. Matanya kembali menatap Paman Lukman dengan sorot mata yang semakin tajam. Insting bisnisnya langsung bekerja. Kombinasi antara kerabat yang tamak dan seorang agen properti hanya berarti satu hal.

​"Langsung ke intinya saja, Paman," desak Gani.

​Paman Lukman menghela napas, seolah ia sedang berbicara dengan anak kecil yang keras kepala. Ia melipat tangannya di dada, menatap Gani dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kantong plastik kresek hitam berisi beras dan telur di tangan Gani tak luput dari penilaian meremehkannya.

​"Begini, Gani. Paman tahu keadaanmu sedang sangat... sulit," Paman Lukman memulai, menekan kata 'sulit' dengan sangat jelas. "Berita kebangkrutan firma arsitekmu, utang miliaran ke bank, belum lagi tuntutan dari para supplier itu... aduh, Paman sampai malu kalau ditanya teman-teman arisan Bibi-mu. Nama baik keluarga kita hancur lebur di kota."

​Gani mengatupkan rahangnya. Kalimat itu persis seperti yang selalu menghantui mimpi buruknya. Namun kali ini, alih-alih merasa hancur dan ingin mati, Gani justru merasakan amarah murni yang membara di dadanya. Pria di depannya ini tidak peduli pada penderitaannya; ia hanya peduli pada gengsi sosialnya sendiri.

​"Kalau Paman ke sini hanya untuk menceramahi saya soal nama baik keluarga, Paman salah alamat. Silakan putar balik mobil Paman sekarang," usir Gani tanpa rasa gentar sedikit pun.

​"Tunggu, tunggu! Jangan emosi dulu," sela Paman Lukman cepat, menyadari taktik intimidasinya tidak mempan pada keponakannya yang dulu selalu menurut. "Paman ke sini justru mau membantumu keluar dari lubang neraka ini, Gan."

​Paman Lukman menunjuk dengan gerakan melingkar, mencakup seluruh bangunan rumah tua Gani dan pekarangannya yang luas.

​"Tanah rumah ini kan luasnya hampir seribu meter persegi. Teman Paman dari perusahaan properti—Bosnya si Junaedi ini—sedang mencari lahan di daerah Karangbanyu untuk dibangun proyek vila liburan eco-tourism. Lokasi rumahmu ini sangat strategis, ada di ujung desa, dekat dengan akses ke perbukitan dan hutan."

​Junaedi, si agen properti, menyela sambil menyeringai. "Betul, Mas Gani. Bos saya berani bayar dua ratus juta rupiah cash, hari ini juga. Uangnya bisa langsung ditransfer. Mas Gani bisa pakai uang itu untuk mulai mencicil utang bank di Jakarta, atau setidaknya... ya, tidak perlu makan telur dan beras murahan dari warung kecil lagi."

​Dua ratus juta rupiah.

​Gani tahu persis harga pasaran tanah di daerah ini. Dengan luas seribu meter persegi dan prospek proyek pariwisata yang sedang naik daun di kabupaten ini, nilai tanah dan rumah ini setidaknya mencapai enam ratus hingga delapan ratus juta rupiah. Penawaran dua ratus juta ini bukan sekadar penawaran rendah; ini adalah perampokan di siang bolong yang dibalut dengan kedok 'bantuan keluarga'.

​Paman Lukman pasti sudah membuat kesepakatan di bawah meja dengan pihak developer untuk mengambil komisi gila-gilaan dari selisih harganya.

​Namun, bukan nilai nominal itu yang membuat darah Gani mendidih.

​Ini adalah rumah ayahnya. Rumah tempat ibunya menyimpan piring keramik kesayangannya. Rumah tempat ia pertama kali menemukan bakat menggambarnya. Dan lebih dari itu... tempat ini adalah jangkar terakhirnya di dunia.

​Gani menatap pekarangan rumahnya. Di teras tempat Paman Lukman berdiri, baru kemarin sore Kirana duduk bersandar, tertawa melihatnya berdebat dengan Udin soal bambu. Di dalam laci bufet ruang tengah, tersimpan gulungan sketsa taman bacaan yang ia buat semalaman suntuk. Jika ia menjual tanah ini, Paman Lukman dan developer itu akan mendatangkan buldoser. Mereka akan meratakan rumah ini, merobohkan kenangan ayahnya, dan mungkin juga menebang pohon Akar Tua di hutan belakang untuk memperluas akses proyek.

​Buldoser itu tidak hanya akan menghancurkan batu dan bata, tapi juga akan menghancurkan tempat Kirana bernaung, dan menghancurkan sisa-sisa terakhir dari identitas Gani yang baru saja pulih.

​"Jadi bagaimana, Gan?" desak Paman Lukman, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat dari tasnya. "Sertifikat tanah ini kan sudah balik nama atas namamu setelah almarhum Bapakmu meninggal. Tinggal tanda tangan di atas meterai, dan kamu bisa segera bebas dari desa kumuh ini. Kamu bisa kembali ke kota, menyewa apartemen kecil, memulai hidup lagi."

​Gani menatap map cokelat itu dengan tatapan mematikan. Dulu, ia selalu berpikir bahwa kembali ke kota adalah satu-satunya definisi kesuksesan. Namun sekarang, kota hanyalah sebuah mesin penggiling daging bagi jiwanya. Desa yang Paman Lukman sebut kumuh inilah yang telah menjahit kembali kewarasannya.

​"Rumah ini tidak dijual," jawab Gani pelan, suaranya sedingin es.

​Paman Lukman mengernyit, seolah ia salah mendengar. "Apa? Jangan bodoh, Gani! Kamu tidak punya uang sepeser pun! Kamu mau makan apa di sini? Makan daun? Jual rumah rongsokan ini, bayar sebagian utangmu, sebelum polisi atau bankir datang menyeretmu ke penjara!"

​"Saya bilang," Gani melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan sepatu kulit Paman Lukman. Postur tubuh Gani yang menjulang tinggi, dipadukan dengan sorot matanya yang tidak lagi memancarkan keputusasaan, membuat Paman Lukman refleks mundur selangkah.

​"Rumah ini tidak dijual, Paman. Berapa pun harganya. Meskipun Paman membawa uang dua miliar rupiah di dalam koper, saya tidak akan pernah menandatangani selembar kertas pun." Gani menunjuk ke arah pintu pagar yang terbuka. "Sekarang, bawa agen penipu Paman ini, masuk ke dalam mobil kalian, dan jangan pernah menginjakkan kaki di tanah ayah saya lagi."

​Wajah Paman Lukman memerah padam menahan amarah dan rasa malu. Ia tidak menyangka keponakannya yang sedang terpuruk berani melawannya dengan sekeras ini. Ia mengira Gani akan berlutut menangis menerima uang dua ratus juta itu.

​"Kau benar-benar anak yang tidak tahu diri!" bentak Paman Lukman, urat-urat di lehernya menonjol. "Sudah bangkrut, jatuh miskin, tapi egonya masih setinggi langit! Kau pikir kau bisa bertahan hidup di sini? Penduduk desa ini membencimu, Gani! Mereka cuma menganggapmu benalu!"

​"Penduduk desa ini tidak pernah menjatuhkan saya saat saya berada di bawah, Paman," balas Gani dengan suara bariton yang menggema di keheningan pekarangan. "Justru keluarga sendirilah yang mencoba memeras darah saya saat saya sedang sekarat."

​Kata-kata tajam itu menghantam telak ego Paman Lukman. Pria paruh baya itu terdiam, bibirnya bergetar menahan makian. Ia menatap Gani dengan kebencian yang telanjang.

​"Terserah kau, anak sombong!" Paman Lukman akhirnya meludah ke tanah, memasukkan kembali map cokelatnya dengan kasar ke dalam tas. "Jangan harap aku akan membantumu lagi saat para penagih utang itu menemukan tempat persembunyianmu! Busuk saja kau di desa ini!"

​Paman Lukman berbalik, memberi isyarat marah pada Junaedi yang tampak ketakutan. Keduanya bergegas masuk ke dalam mobil SUV hitam tersebut. Pintu dibanting dengan keras. Mesin mengaum marah, dan mobil itu melaju kencang meninggalkan pekarangan Gani, meninggalkan kepulan debu tanah kering yang tebal di udara.

​Gani berdiri mematung di halamannya hingga kepulan debu itu benar-benar mengendap.

​Napasnya memburu. Tangannya yang memegang kantong kresek gemetar pelan, namun kali ini bukan karena trauma, melainkan karena sisa-sisa adrenalin pertahanan diri. Ia baru saja menolak uang tunai dua ratus juta rupiah yang sebenarnya sangat ia butuhkan untuk menyambung hidup. Secara rasional, itu adalah keputusan bisnis paling bodoh yang pernah ia buat.

​Tapi saat Gani menoleh, menatap rumah limasan tua di hadapannya, ia tidak merasakan penyesalan sedikit pun.

​Ia memejamkan mata, membiarkan angin siang Karangbanyu menyapu wajahnya.

​Bulan lalu, ia kehilangan perusahaannya, dan ia membiarkannya terjadi karena ia merasa gagal.

​Kemarin, ia berniat menyerahkan nyawanya di pohon beringin, namun Kirana melarangnya.

​Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gani memilih untuk melawan. Ia memilih untuk mempertahankan sesuatu dengan tangannya sendiri. Bukan untuk uang, bukan untuk gengsi. Tapi karena di rumah ini, di desa ini, ada sepotong masa lalu yang mengakar kuat, dan ada seorang gadis beralasan tragis yang membutuhkannya.

​"Rumahku," bisik Gani pelan, senyum penuh determinasi terbentuk di sudut bibirnya. "Ini rumahku."

​Dan tidak akan ada satu pun ekskavator atau pengembang kota yang berani merobohkan rumah ini selama Gani Raditya masih bernapas di bumi Karangbanyu.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!