Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.
Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.
"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.
Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Win-Win Solution
Happy reading dear 🤗
***
Siang telah merayap bergantikan malam, sang bulan tampak mengendap dibalik awan hitam tapi masih membawa cahaya terang. Di sudut langit bintang bertebaran berkerlap-kerlip. Deburan ombak terdengar di pinggir pantai. Anggin berhembus menggoyangkan nyiur dan dedauan. Mengizinkan dingin mencumbu kulit hingga ke tulang. Suara jangrik mulai saling bersautan satu sama lain.
Hingar bingar kehidupan malam makin terlihat mencolok. Bar-bar sudah terbuka secara lebar mempersilahkan tamunya untuk datang. Cahaya rembulan dan lampu yang berkerlap-kerlip menghiasi pulau.
Maira dan Azzam sudah duduk manis di depan layar berukuran lebar. Sesekali mereka merapatkan jaketnya, hawa dingin yang ditiupkan angin pantai seperti menusuk sampai ke tulang. Mereka sedang menikmati outdoor cinema, beratapkan langit malam dekat bibir pantai.
Layar lebar itu menampilkan film action dengan judul war horse. Maira yang melihat kuda pada layar itu langsung teringat dengan kejadian tadi sore saat di sunset stables. Pasalnya Azzam sangat percaya diri ingin menaiki kuda yang tinggi dan besarnya tentu melebihi Azzam. Kuda berwarna hitam yang tampak gagah perkasa itu ternyata dalam mood yang kurang baik. Saat Azzam ingin naik ke atas pelana tiba-tiba kudanya berdiri, mengangkat kakinya ke atas. Sehingga Azzam yang tak sempat berpegangan itupun jatuh. Untunglah dia jatuh di atas pasir bukan di air. Maira sebenarnya kasihan tapi jika mengingatnya membuat dia ingin tertawa tebahak-bahak. Padahal sudah jelas ada trik khusus untuk mendekati kuda dan membuat moodnya baik. Tapi Azzam justru dengan percaya diri malah menjerumuskan dirinya sendiri.
"Mai kamu kenapa kok malah cengengesan? Perasaan film action bukan komedi..." tanya Azzam yang melihat Maira cengar-cengir, padahal Maira tidak fokus pada film yang sedang berputar.
"Haha gapapa.... aku inget kejadian tadi sore" Azzam yang mendengar langsung mendengus kesal, masih saja dia ungkit-ungkit hal menjengkelkan itu.
"Badan kakak masih sakit?" imbuh Maira.
"Emmm kalo engga emang kamu mau mijitin?"
"Engga sih hahahaha..." Maira tertawa sangat kencang. Menjadikan dua insan itu sebagai pusat perhatian.
"Silent please!" hardik wanita bule yang ada di sampingnya.
"I don't know that my laugh disturb you. I do really sorry for what I've done. Please forgive me" jawab Maira sopan lalu menundukkan kepalanya, sangat merasa menyesal.
Bule itu hanya mengganggukkan kepalanya lalu kembali fokus pada layar di depannya tanpa menjawab permintaan maaf Maira.
"Kualat kan kamu sama suami... udah abis film ini kelar kita pulang aja ke resort. Besok jadwal pesawat kita berangkat pagi"
Maira sebenarnya ingin kembali protes tapi dia urungkan niat itu. Dia kembali memfokuskan matanya pada film yang ditayangkan.
Sudah hampir satu setengah jam Maira dan Azzam berada di sana. Sementara film masih diputar, durasinya memang sedikit lama. Ternyata hawa angin pantai membuat Maira mengantuk. Tak lama dia sudah membenamkan kepalanya pada dada bidang Azzam. Azzam mengulum senyum, dia semakin mengeratkan rangkulannya pada tubuh Maira, lalu menempelkan dagunya di atas kepala Maira. Detak jantungnya berdesir, sepertinya malam ini menjadi saksi bagaimana dia akan menjaga Maira nantinya dan berusaha membuatnya jatuh cinta padanya.
Tak terasa film yang membuat Maira dimarahi wanita bule sudah selesai dan akan berganti dengan film ke dua. Azzam mengangkat tangannya mengusap-usap pucuk kepala Maira, lalu mengelus lembut pipi istrinya itu agar terbangun.
"Mai... pulang yuk kita bobok dikamar jangan di sini..." ucap Azzam dengan lembut. Maira mengerjapkan matanya, dia sedikit menggeliat.
"Jam berapa ini kak... Kakak kenapa ga bangunin aku..."
"Udah ayok pulang kamu lanjutin tidur di resort jangan di sini"
Akhirnya Maira beranjak dari tempat duduknya dia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari outdoor cinema itu, Azzam mengikutinya dari belakang.
Karena jarak antara tempat outdoor cinema dengan resort tidak begitu jauh mereka memilih jalan kaki.
"Mai... kamu masih kuat jalan?" tanya Azzam mensejajari langkah Maira.
"Hoaaam... masih kok kak" Maira menutup mulutnya yang menguap dan mengucek-ucek matanya dengan sebelah tangannya.
"Kalo ga kuat kakak gendong aja... ga jauh kok dari sini jugaa"
"Engga kak... Maira masih kuat!" Maira langsung berdiri tegak.
"Yaudah deh. Oh iya Mai... kamu mau ikut ke Malaysia ga? Kamis besok, Jumat kakak sidang..."
"Yah kak.... maaf banget tadi pagi Maira dapet pesan kalo ada ulangan dadakan terus Jumat juga ada praktikum"
"Maira sebenarnya pengen ikut, tapi nanti gimana praktikumnya masa praktikum sendiri... Kan kelompok" imbuh Maira.
"Hmmm gitu yaaa... yaudah deh kakak ke Malay sendiri aja"
"Iya kak... Maira minta maaf yaa ga bisa nemenin kakak... nanti Maira vidcall deh sebelum kakak masuk ke ruang sidang"
"Iya gapapa.. yang penting kuliah kamu lancar, kasian juga kamu udah bolos hampir 2 minggu"
"Bukan bolos ih..."
"Terus apa? Emangnya kamu izin cuti dengan alasan menikah gitu?"
"Engga siapa juga yang bilang cuti... orang Maira memanfaatkan jatah absen, sayang-sayang ada jatah absen tapi ga dipake hehehe"
"Yaampun itu sama aja bolos Mairaaa!"
"No no no.... Aku ga mau dibilang bolos. Oiya kak terus Maira nanti tinggal di mana dong?"
"Ehmmm di mana yaa... kayanya kakak ga akan tega ninggalin kamu di rumah baru. Mau ke tempat mama atau balik ke rumah mu?" tanya Azzam sembari berjalan menuju resort tempatnya menginap.
"Ke rumah aku aja deh... pasti canggung kalo di rumah mama. Mana jarak ke kampus lebih jauh lagi"
"Oke akan kakak kabulkan permintaan mu. Tapi dengan satu syarat" ucap Azzam kemudian mengangkat jari telunjuknya tepat di muka Maira. Maira mengernyitkan dahinya.
"Masa begitu doang harus pakek syarat-syarat segala sih kak..." gerutu Maira lalu menepis jari telunjuk Azzam yang masih berada di depannya.
"Yaaa kalo ga mau yaudah sekarang ku telponin mama biar barang-barangnya dianterin ke rumah baru" ucap Azzam dengan senyum menyeringainya.
"Ga boleh bantah perintah suami Maira..." Azzam mengeluarkan ultimatumnya.
"Hah iya deh iyaaa... apa syaratnya?" tanya Maira ketus.
"Pijitin Aku yaaa... sakit banget tau Mai besok kalo tiba-tiba sakit gimana?"
"Yaampun kakak... Maira kira apaan. Gitu doang aja sampe bikin win-win solution" Maira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bisa-bisanya gua punya suami macam dia gumamnya dalam hati
"Yaaaa siapa tau kamu ga mau Mai... Eh bentar kamu mau gelato?"
"Ice cream?? waah maulah Maira mah ga usah ditawarin 2 kali...." ucap Maira dengan senyum lebarnya.
Azzam dengan gemas mencubit pipi Maira.
"Aawwwww.... kakak mah kalo pipi Maira jadi kaya bapao gimana?" Maira mengelus pipinya tepat di bekas cubitan Azzam.
"Yaaa gapapa nanti tinggal dimakan... haha"
Maira langsung menimpuk Azzam dengan tasnya.
"Udahlah yuk nanti keburu nambah malem, malah bangun kesiangan jadi gawat"
Maira dan Azzam langsung berbaikan lagi, mereka berjalan ke arah toko Gili gelato. Azzam menggandeng tangan Maira dengan erat seakan enggan untuk berpisah bahkan untuk satu detikpun.
***
Thank you guys 😘💝