“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 Keanehan
Sudah dua bulan Arumi menikah ia hanya menelan ludah pahit, hidupnya memang di limpahkan harta bahkan saat ini ia tidak kekurangan apapun. Namun kasih sayang dari sang suami yang tidak ia dapatkan
Suaminya lebih memilih semalaman di kantor daripada dirumah, entah sudah berapa kali dirinya memeluk tubuh ringkihnya — Angin malam menusuk setiap inci kulit gadis itu.
Entah sudah malam keberapa dirinya, selalu tidur sendirian — ia tidak ingat seingatnya suaminya tidak. Mau tidur berdua dengannya alasannya kantor, tangan Arumi meraba ponselnya yang ada di samping tempat nya
" Pukul tiga dini hari " Gumam Arumi ia menuruni kaki nya dari kasur. Ia bergegas ke kamar mandi mengambil whudu dengan cepat ia solat tahajud menuangkan segala keluh kesah nya pada sang Pencipta,
Selepas solat ia melipat mukena, saat melipat mukena ia menoleh ke arah pintu berharap sosok sang suami datang menemani malam yang begitu sunyi sekali. Entahlah sudah malam keberapa dirinya hanya tidur sendiri,
𝘒𝘳𝘦𝘬!
Pintu terbuka lebar membuat Arumi menoleh ke sosok lelaki yang berada di depan pintu, Senyuman merekah di bibir cantik tersebut — Arumi bergegas mendekati sang suami yang nampaknya sangat letih sekali.
" Kamu belum tidur dek? " Tanya Adrian sembari menyerahkan Jas yang ia kenakan ke Arumi.
" Aku habis tahajud " Sahut Arumi membuat raut wajah Adrian berubah, " Besok jangan lagi tahajud lebih baik kamu tidur! " Kata Adrian lalu bergegas ke kamar mandi
" Abang kenapa sih? " Gumam Arumi ia menepis pikiran nya, entah apa yang merasuki suaminya yang selalu marah kalau dirinya beribadah.
Tidak lama kemudian Adrian keluar dari kamar mandi. Arumi tidak tinggal diam ia memberikan kaos dan celana pendek untuk sang suami,
" Ini sudah terlalu malam, jadi berhentilah beribadah! " Kata Adrian nada suaranya terdengar marah
" Tapi bang bukannya, kita harus beribadah ya? Kita harus menyembah tuhan bang. " Sahut Arumi matanya menatap lekat Adrian
" Mulai sekarang kamu itu istriku, turuti apa mau ku saja! " Tekan Adrian membuat Arumi menggeleng kan kepalanya.
" Abang tahu kan kenapa nenek, menginginkan aku menikah dengan abang?.. Karena nenek mau abang jadi imam ku! " Ungkap Arumi dengan suara serak Adrian menggeram ia menaruh bobotnya di pinggir kasur.
" Tapi, sekarang berbeda berhentilah beribadah dan ikuti suami mu! " Perintah Adrian
" Lalu abang menyembah siapa? " Tanya Arumi tidak percaya menatap Adrian
" Nanti pagi ke loteng lah, kau tahu apa yang selama ini kami sembah " Sahut Adrian ia merebahkan tubuhnya di ranjang — lalu tertidur. Arumi termangu dengan apa yang dikatakan Adrian ia memegangi dadanya perasan tidak enak menyerangnya
" 𝘠𝘢𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘵𝘢.. 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 " Batin Arumi
****
Pagi hari nya Arumi selepas solat subuh pergi ke loteng, dengan kaki yang bergemetar ia memberanikan dirinya — untuk menaiki satu demi satu tangga besi tersebut — gelap hanya itu yang ia lihat di loteng.
Tangan nya tergerak membuka pintu berharap menemukan sesuatu, di balik semua ke curigaan nya belakangan ini.
Pintu loteng terbuka menganga.
Kegelapan gulita menyergap mata Arumi.
Lalu ia melihatnya Laila. Mama mertua nya. Berlutut sendirian. Dupa mengepul, putih dan lambat, seperti arwah yang di panggil dengan paksa.
Udara mendadam berat, seolah loteng itu menyimpan doa yang bukan untuk Tuhan.
" Mama! " Suara nya nyaring di loteng yang hanya di isi kesunyian yang mencekam