NovelToon NovelToon
Against The World: Initiation

Against The World: Initiation

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Near

"Kami tidak bisa melihat masa depan dengan sempurna – kemampuan itu hanya dimiliki [Divine Insight]. Namun, kami menyimpan segala pengetahuan semesta. Sebagai hadiah untukmu, dan sebagai salam sampai jumpa dariku, kuberitahu kau satu hal: Mengesampingkan Edenia, makhluk terkuat dalam semesta adalah Vermyna Hellvarossa dan Fie Axellibra. Namun, di antara semuanya, hanya kau saja yang bisa menyerap semua Supreme Magic tanpa memerlukan Air Ethereal ataupun Throne of Heaven. Bahkan, kau bisa meraihnya... pendewaan tanpa Throne of Heaven."

—"Mother of Nature" to Xavier von Hernandez—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Promise, part 10

Evana lekas melompat mundur menjauhi Evillia. Ratusan lingkaran sihir hijau kecoklatan muncul berbaris-baris di lantai tempatnya tadi berpijak, lalu mencuatlah pohon-pohon dari dalam lingkaran sihir dan dalam sekejap tumbuh membesar. Evana membuat semua pepohonan raksasa itu bergerak menyerang Evillia, sementara dirinya mundur sejauh mungkin seraya mengamati kedua inti jiwa yang melayang di atas sana.

“Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, TIDAK MUNGKIN!!!” teriak Evana dengan wajah penuh amarah. Meskipun inti jiwanya masih bergerak, inti jiwa Evillia juga bergerak mendekati inti jiwanya. Hal ini hanya mungkin terjadi karena satu hal: dimensi jiwa ini tidak berada di bawah kendalinya maupun Evillia. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Malaikat Agung Luciel ikut campur dalam hal ini?!

Buum! Buum! Buuuaaaaaaaaaaaaammmmm!

Evana menggeretakkan gigi-giginya melihat beratus-ratus pohon raksasanya sudah musnah dalam sekejap. Evillia sangat kuat, sangat-sangat kuat. Ia sendiri tidak mungkin bisa menang melawan anak itu. Meskipun ia adalah mantan anggota Deus Guardian; meskipun ia adalah pengguna sihir tumbuhan terbaik di dunia; meskipun ia dapat mengalahkan belasan naga dewasa seorang diri; meskipun ia sendiri juga sangat kuat… mengalahkan Evillia adalah sesuatu yang mustahil baginya. Ia harus melarikan diri dari tempat ini, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya.

Evana menyatukan kedua telapak tangannya. “Bangkitlah, Holy Guardians of Demeter!” seru Evana, delapan lingkaran sihir raksasa berwarna hijau kecoklatan seketika muncul berbaris di hadapannya. Dari dalam masing-masing lingkaran sihir itu keluarlah makhluk-makhluk raksasa yang terbuat dari tumbuhan. Dari kanan ke kiri berturut-turut adalah Hydra, Singa, Banteng, Kambing Gunung, Badak, Beruang, Ular, dan terakhir adalah Gorila. Masing-masing dari mereka lebih besar daripada rumah pohon tempat Evana tinggal.

Jauh di depan Evana dan monster-monster tumbuhannya, Evillia berdiri dengan senyum lebar di bibir. Ia tahu apa yang dipikirkan Evana saat ini. Wanita itu pasti berkeinginan untuk melarikan diri dari sini, monster-monster itu ia panggil untuk mendistraksi dirinya. Tetapi itu adalah pemikiran yang bodoh, terburu-buru, dan putus asa dari Evana, bukankah dia sudah membuatnya sehingga tidak ada yang bisa melarikan diri sewaktu ritual dilangsungkan? Tetapi tidak masalah, sama sekali tidak masalah; ia cukup menikmati melihat raut frustasi dan putus asa di wajah wanita tua itu. Oleh sebab itu, ia tidak akan langsung melenyapkan kesemua monster itu; ia akan menghibur mereka dan membuat Evana sedikit bernapas lega, sebelum kemudian menyudutkannya.

Evillia menghilangkan beberapa lingkaran sihirnya dan hanya menyisakan delapan. Kemudian kedelapan lingkaran sihir itu langsung menembakkan kedelapan Extra Mini Less-Powered Supernova ke arah kedelapan monster raksasa yang sedang melesat ke arahnya itu. Monster-monster itu bergerak lincah, namun bola-bola energi miliknya yang sangat rapat itu melesat dengan kecepatan super.

Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buuuuuaaammmmm!

Ledakan beruntun menggema menggetarkan dimensi, Evillia harus menyipitkan matanya agar dapat melihat efek serangannya dengan jelas. Dan tatkala kepulan-kepulan debu ledakan menghilang, monster-monster itu masih berusaha bergerak ke arah dirinya kendati tubuh mereka dipenuhi retakan dan beberapa bagian tubuh mereka hancur tak berbekas. Evillia menyipitkan matanya tatkala retakan-retakan itu menutup lalu bagian-bagian tubuh mereka yang hancur perlahan-lahan mulai beregenerasi.

Hydra membuka kedelapan mulutnya lebar-lebar, dari dalam mulut itu keluarlah api oranye yang menyembur menuju tempat Evillia berdiri. Singa membuka rahangnya kuat-kuat, dia mengaum menciptakan gelombang kejut yang sangat memekakkan yang diarahkan kepada Evillia. Monster ular juga ikut membuka mulutnya, menyemburkan kabut bisa ke arah gadis elf jelita itu. Kelima monster sisanya meningkatkan lari mereka ke berbagai arah, mengepung Evillia dari berbagai penjuru.

“Tidak buruk,” gumam Evillia sambil menciptakan sebuah lingkaran sihir hijau muda di punggungnya, lalu dari situ terbentuklah dua sayap naga yang terbentuk dari konsentrasi angin. Ia lalu melesat ke atas tepat sebelum serangan monster-monster itu mengenainya, membuat serangan Hydra, Singa, dan Ular hanya berlalu tidak mengenai apa-apa, lalu terdispersi dan menghilang.

“Ghaauuuuuu!” aum Singa dengan wajah mendongak, monster-monster yang lain langsung berkumpul di bawah Evillia bersama dengan Singa, Hydra, dan Gorila. Mereka melompat-lompat mencoba menggapai Evillia yang melayang ratusan meter di atas. Hydra, Singa, dan Ular kembali membuka mulut-mulut mereka. Lalu mereka menyemburkan api, gelombang kejutan suara, dan kabut bisa ke atas, mencoba menyerang Evillia.

Melihat itu, Evillia menyatukan kedua telapak tangannya, seketika lingkaran sihir hijau muda berukuran super masif muncul di bawah kakinya. Lingkaran sihir itu sangat luas, lebih luas daripada seluruh kota Evrillia. “Ultimate Pressure!”

Whuuuusssssssssssss, buuaaammmmmmmmm!

Semburan api, gelombang kejutan suara, juga kabut bisa langsung tersapu ke bawah dan semuanya menghantam kedelapan monster-monster kayu itu dengan sangat keras. Jika Evillia berada di langit Evrillia saat ini, maka sudah pasti kota itu akan rata dengan tanah.

Tak puas sampai di situ, Evillia mengarahkan lingkaran sihir merah gelapnya yang masih tersusun rapi di atasnya ke arah para monster itu. “Multiple Extra Mini Less-Powered Supernova!”

Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buum! Buuuuuaaammmmm!

Tanpa melihat apakah monster-monster itu sudah menjadi debu atau tidak, Evillia langsung mengarahkan lingkaran sihir merah gelapnya ke arah Evana. “Waktumu bernapas lega sudah habis, Evana,” gumamnya seraya meluncurkan dua bola energi Extra Mini Less-Powered Supernova ke arah elf tua itu yang sudah berlindung di dalam ratusan lapis kubah kayu, dan jumlah lapisan itu terus bertambah detik demi detik.

Buum! Buuuuuaaammmmm!

“Ghaaauuuuuu!”

Evillia melirik sinis pada kumpulan monster yang sudah beregenerasi sepenuhnya ratusan meter di bawahnya. “Diamlah sampah, aku sudah bosan dengan kalian.” Evillia mengarahkan tangan kirinya ke bawah, sebuah lingkaran sihir kecil berwarna merah gelap muncul di bawah telapak tangannya. “Mini Less-Powered Supernova,” bisik Evillia, dan seketika ledakan yang jauh lebih dahsyat dari yang sebelum-sebelumnya menggema memecah dimensi, sampai-sampai membuat Evillia terdorong ratusan meter ke atas sebelum dirinya dapat menyeimbangkan dirinya kembali. Dan ketika efek ledakan itu menghilang, tidak ada lagi bekas-bekas keberadaan monster-monster itu.

Evillia kembali mengarahkan pandangannya pada Evana yang bersembunyi di dalam kubah raksasa belasan kilometer dari tempatnya melayang. Serangannya tadi sudah tidak berbekas sama sekali, justru kubah itu kian tebal dan membesar. “Usaha yang bagus, Evana,” gumam Evillia seraya menghilangkan semua lingkaran sihirnya, kemudian ia mengepakkan sayap anginnya dan melesat mendekati kubah itu. Ia berhenti sekitar lima puluh meter dari pinggir kubah, seratus meter dari bawah.

Evillia menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, lalu menyatukan kedua telapak tangannya. Sebuah lingkaran sihir merah gelap tercipta menyelubungi kedua telapak tangannya. Lalu di atas lingkaran sihir itu tercipta lingkaran sihir yang serupa yang sedikit lebih besar dari yang di bawah, lalu di atas lingkaran sihir itu tercipta lingkaran sihir lain, dan seterusnya hingga tercipta beratus-ratus lingkaran sihir di atas satu sama lain seolah-olah membentuk tiang yang menopang langit.

Partikel-partikel cahaya merah gelap yang diselimuti percikan listrik perlahan-lahan tercipta mengisi ruang yang dibentuk ratusan lingkaran sihir itu. Partikel-partikel cahaya itu terus mengumpul, terkonsentrasi, merapat dan menyatu satu sama lain membentuk pedang raksasa merah gelap yang diselimuti petir-petir yang menyambar-nyambar yang ukurannya melampaui rumah pohon tertinggi di Kerajaan Elf. Evillia memfokuskan pandangannya pada kubah kayu yang sudah semakin tebal itu, kemudian ia mengayunkan kedua tangannya dengan kuat ke depan. “Sword of Nebula!”

Wuuusssss, buaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmmmmmmm! Ayunan pedang energi yang sangat terkonsentrasi seketika membelah kubah super tebal itu dengan tanpa hambatan, kemudian menimbulkan ledakan super dahsyat yang bahkan membuat ledakan Mini Less-Powered Supernova milik Evillia seperti sebuah apel yang pecah. Kejutan yang dihasilkannya sangatlah dahsyat, Evillia sendiri sampai terlontar dari posisinya beratus-ratus kilometer dan tak ada tanda-tanda akan berhenti. Evillia sampai harus mengerahkan cukup banyak tenaga untuk membuatnya terhenti, ia jatuh dengan kedua kaki berlutut dengan napas tersengal-sengal dengan darah sedikit mengalir dari sudut bibirnya.

“Hhaaa, hhhaaa, haaaaa…, jika saja aku punya sihir teleportasi maka aku tidak akan terkena dampak ledakan itu hingga seperti ini,” gerutu Evillia seraya bangkit berdiri.

Evillia mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Ia dapat melihat retakan-retakan kecil yang memanjang dari titik di mana ia menjatuhkan pedang nebula itu, di tempat Evana bersembunyi sebelum dia dan kubahnya lenyap. Evillia kembali menciptakan sepasang sayap angin di punggungnya, lalu melesat cepat menuju titik itu.

Evillia menghentikan terbangnya dan mendarat tiga langkah dari titik di mana partikel-partikel mana mulai berkumpulan, membentuk kembali tubuh Evana yang sudah lenyap dalam serangan peringkat ke tiga dari tiga serangan terkuatnya. Evillia membentuk belasan lingkaran sihir berwarna hijau muda tepat belasan meter di atas partikel-partikel [mana] itu berkumpul. Dari dalam lingkaran-lingkaran sihir itu keluar tombak-tombak angin yang siap meluncur kapan saja. Dan tatkala tubuh Evana kembali terbentuk, tombak-tombak itu meluncur cepat menghujam tubuh itu bahkan sebelum kedua kelopak mata itu terbuka.

“Arghhhh!” Jerit kesakitan terselip keluar dari mulut Evana, membuat kedua kelopak matanya terbuka lebar. Evana mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi ia sama sekali tidak bisa bangun. Rasa sakit langsung menjalar menyelimuti tubuhnya setiap kali ia berusaha bergerak.

Evillia tersenyum puas melihat darah merembes keluar dari setiap tusukan tombak anginnya di sekujur tubuh Evana kecuali leher dan kepala. Raut kesakitan yang terlukis di wajah tua itu sangat indah di mata Evillia, sampai-sampai ia menendang sebuah tombak angin dengan keras, membuat Evana menjerit meradang.

“Nah, bagaimana, apa kau menikmatinya, Evana?” tanya Evillia seraya berdiri di sisi kiri kepala Evana.

Evana mendelik tajam pada Evillia. “Sia-uhuukkk!” Mulut Evana memuntahkan darah dalam jumlah yang banyak, paru-parunya sudah benar-benar dipenuhi oleh darah. Wanita tua ini merasakan rasa sakit yang teramat perih yang meronggoti tubuhnya, bahkan berbicara saja ia sangat kesusahan.

Evillia tersenyum manis melihat wajah kesakitan Evana. Ia mengangkat tangannya, sebuah pedang angin tercipta di tangan kanannya. Tanpa belas kasih dan dengan senyum manis di bibir ia mengayunkan pedang itu memotong kuping kiri Evana. Kemudian ia menusukkan ujung pedang itu menembus pipi kiri Evana, membuat wanita tua itu kembali menjerit. Evillia mencabut pedang itu dan kembali menusuk-nusuk bagian tubuh Evana yang lain, membuat jeritan pilu menggema memenuhi dimensi jiwa kosong ini. Dan setiap jeritan yang diteriakkan Evana, senyum Evillia semakin manis dan menjadi lebih bersemangat dalam melanjutkan aksinya.

Evana sudah tidak tahu berapa lama ia mengalami penyiksaan ini, otaknya tidak lagi sanggup memikirkan apa-apa selain memberinya rasa sakit. Ia sudah tidak lagi merasakan keberadaan kedua kakinya, pun kedua tangannya sudah mati rasa. Perutnya sudah terbelah, ia bisa merasakan usus-ususnya yang keluar dari perutnya. Satu-satunya yang membuatnya masih hidup hanyalah inti jiwa miliknya yang belum termakan sepenuhnya oleh inti jiwa Evillia, namun hanya masalah waktu sampai itu tertelan dan dirinya mencapai ajal.

“Hei, apa kau tersenyum sepertiku, saat melihat anak-anak tak berdosa menjerit kesakitan menjalani eksperimen gilamu?”

Tersenyum…? Tentu saja ia tersenyum. Siapa yang tidak tersenyum jika melihat eksperimen yang dilakukan orang-orangnya atas perintahnya itu berjalan lancar dan membuahkan hasil?

“Apa kau tersenyum saat membunuh kedua orangtua dari anak yang orang-orangmu culik?”

Tentu saja ia tidak tersenyum, namun ia juga tidak prihatin. Itu adalah harga yang harus dibayarkan untuk mewujudkan keinginannya. Ia akan mengorbankan apa pun untuk mewujudkan hasratnya.

“Apa kau merasa bersalah sekarang?”

Merasa bersalah, katanya? Tentu saja tidak; ia justru merasa frustasi karena tidak bisa menyelesaikan ritual ini. Padahal tinggal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi hingga ia mendapatkan tubuh sempurna, muda, kuat, dan abadi.

Evillia memandang datar wajah penuh sayatan Evana. Sama sekali tidak ada penyesalan yang terpancarkan di mata birunya itu, yang ada justru frustasi dan kemarahan. “Kau sangat menjijikkan sekali, Evana,” gumam Evillia, mengayunkan pedang anginnya memotong tubuh Evana secara diagonal dari bahu kanan ke kiri. Kemudian ia menusuk kedua bola mata Evana secara bergantian dimulai dari yang kanan. Tak ada lagi jeritan kesakitan yang keluar dari mulut wanita itu, pitu suaranya sudah Evillia hancurkan.

“Selamat tinggal, Evana,” bisik Evillia, menancapkan pedang anginnya ke dahi Evana. Bersamaan dengan itu, inti jiwa milik Evana ditelan habis oleh inti jiwa miliknya. Dan perlahan-lahan, tubuh Evana yang telah ia mutilasi memudar, lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan Evillia.

“Aku merasa sedikit lega setelah melihatnya mati, tetapi…rasanya aku akan merindukan melihat ekspresi kesal di wajah tuanya….”

Evillia menggelengkan kepalanya pelan, kemudian ia menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Gadis Elf itu lalu menengadahkan wajahnya memandang inti jiwanya yang kini berwarna abu-abu kehijauan. “Kekuatan dan kapasitas mana-ku bertambah drastis,” ucapnya, memejamkan mata. Dan tatkala Evillia membuka kedua matanya, ia mendapati dirinya sudah kembali berada di ruangannya Evana di lantai teratas rumah pohon ini.

“Masuklah, Camelia, semuanya sudah selesai.”

1
Muh Nasar
kurang seru menurutku karena lumayan banyak yg mengenal identitas el
Muh Nasar
Luar biasa
Muh Nasar
Lumayan
its SAL
Luar biasa
FalseHeaven
complete annihilation
Las Ruinas
ini keren, betul kata achilles 'sangat brilian'
Ro13
Luar biasa
Rokapelo
/Good//Good//Good/
Ardianovich
Akhirnya publikasi terang-terangan dadi NWO
malest
bagus,
malest
bagus
Arief Wahyu's
Luar biasa
Hero_1ndo
Udah pernah baca sejak kelas 5 tahun lalu, tapi historinya kehapus dan baru nemu lagi sekarang. Akhirnya bisa lanjut baca masterpiece satu ini ea
isra lahusaeni
Damn!!!!
GV
Adamantite, jadi keingat ama Momon di Overlord
GV
waduh telat banget gw. baru tahu kalau ada novel yang penulisannya bagus banget.

gas maraton, buat nambah referensi. apalagi ini udah tamat.
懷疑.
• Kualitas Penulisan: ★★★★★
• Stabilitas Pembaruan: ★★★★★
• Pengembangan Cerita: ★★★★★
• Desain Karakter: ★★★★★
• Latar Belakang Dunia: ★★★★★


Ulasan: Yes, sama dengan pemikiran pembaca yang lainnya, saya juga merasa ini adalah salah satu Novel terbaik yang pernah saya baca dalam hidup saya.

Dan alasan saya memberikan bintang lima untuk semua kriteria tersebut alasannya jelas.

Untuk kualitas penulisan: Author (Against The World) sendiri memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan banyaknya Author pada umumnya, selain kata-kata nya yang terkadang memiliki makna tersirat di dalamnya, Author juga memiliki cara tersendiri untuk membuat penjelasan secara detail tanpa mengurangi atau melebihi makna yang terkandung di dalam penjelasannya tersebut.

Untuk stabilitas pembaruan: Kalian bisa cek sendiri tanggal kapan Author (Against The World) meng-upload setiap chapternya, dan itu menunjukkan bahwa dia hampir sama sekali tidak absen untuk meng-upload setiap chapter perharinya.
懷疑.: udah selesai, segala nyasar sempe kesini dirimu.
total 5 replies
Ardian Uzumaki
Jadi pengen maraton ulang nih novel, cuman lagi sibuk jadi gk sempat.
blueby
Rekomendasi banget cerita fiction!
leona
raphael
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!