Seorang model cantik yang sangat terkenal, tiba-tiba harus menjalani takdir kehidupannya dengan menjadi seorang Dewi Kupu-kupu, dia terbang begitu jauh menembus ruang dan waktu, sampai dia terjebak di sebuah kerajaan bernama Awan Langit untuk menyelesaikan misinya di sana, agar dia bisa memenuhi satu keinginan terbesarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
.
23
.
"Lunar... Kamu harus ikut denganku. Aku masih memiliki satu hutang janji padamu. Aku belum membantumu untuk mengembalikan semuanya yang seharusnya menjadi milikmu." ucap Vivi saat dia berkemas untuk kembali ke istana kerajaan Awan Langit.
"Iya Vivi. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Aku juga tidak tahu memiliki tempat lain untuk aku tinggali. Lagi pula aku sangat suka mengikutimu." jawab Lunar dengan senyuman lebarnya.
"Baguslah. Sekarang aku merasa sangat tenang." Vivi sudah selesai membereskan barang-barangnya. Dia di bantu oleh Sky dan juga Cloud yang begitu bersemangat untuk membawanya kembali ke istana.
Cloud melirik ke arah Astrid yang terlihat terus melihat ke Vivi , seolah-olah dia takut jika Vivi akan kabur begitu dia berkedip saja.
"Kapan gadis menyebalkan itu menjauh! Aku sedang bermain cacing di benda yang Vivi berikan. Tadi sudah sangat panjang, tapi menabrak temannya gara-gara aku harus menyembunyikannya dari Astrid!" gerutu Cloud pada kakaknya yang tidak peduli dengan itu.
"Aku tidak mau terlibat dengan urusanmu itu. Aku sudah memiliki gambarku dengan Vivi. itu yang terbaik dari semuanya. Aku bisa melihatnya kapan saja aku memiliki kesempatan..." sky tersenyum manis pada Vivi yang tengah melihat ke arahnya.
"Kamu haus?" tanya Vivi.
Sky melihat ke arah Astrid yang terus saja mengawasinya.
Sky menggelangkan kepalanya, dia tidak mau jika sampai Astrid mengatakan hal buruk jika Vivi memberikan dia sesuatu yang Vivi miliki.
"Apa sudah selesai?" tanya Astrid yang tengah berjalan mendekati mereka.
"Sudah." jawab Vivi.
"Kalau begitu, kita harus segera kembali ke kerajaan. Kita harus sampai sebelum hati gelap." ucap Astrid.
"Iya, kami tahu! kenapa kamu sangat berisik!" sungut Cloud. Dia selalu tidak suka pada sikap Astrid yang selalu saja seenaknya sendiri.
"Cloud. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian semua." jawab Astrid dengan lembut. Dia tahu jika Cloud memang selalu seperti itu padanya. Bahkan Belinda juga sama. Mereka juga tidak pernah menyukainya, hanya Sky saja yang selalu bersikap ramah padanya. Namun sejak adanya Vivi di sana, Sky tidak pernah lagi bersikap ramah padanya.
"terserah! ayo Lunar, kamu ikut denganku. kita akan bersenang-senang selama perjalanan." ajak Cloud agar Lunar naik kuda bersamanya.
"Iya pangeran Cloud." jawab Lunar.
"Kita bisa sembari bergantian bermain game. aku harus melanjutkan ke level berikutnya." bisik Cloud.
Lunar tersenyum lebar, "iya, aku juga." jawab Lunar.
"Kamu ikut denganku Vi.." ajak Sky.
"Tidak! Vivi bisa ikut denganku!" tolak Astrid.
"Aku sendiri saja. Bukankah ada kuda lainnya?" tanya Vivi.
"Tidak. ikut saja denganku." jawab Astrid.
"Iya. Aku akan ikut denganmu." jawab Vivi pasrah
Sky hanya bisa membiarkan Astrid semaunya sendiri. Dia juga hanya bisa membiarkan Vivi untuk naik kuda bersama dengan Astrid.
"Sudahlah. kita harus bergegas." Cloud mendahului mereka semua, agar dia bisa menjauh dari Astrid yang akan terus mengawasinya
Sementara Sky, dia kini berada di belakang kuda Astrid. Dia harus mengawasi Astrid, jika dia tiba-tiba bertindak gila pasa gadis cantik kesayangannya.
Sky tersenyum malu-malu, saat dia mengingat kembali ciumannya dengan Vivi beberapa saat yang lalu.
Setelah menempuh separuh jarak perjalanan mereka menuju ke istana kerajaan. Mereka semua beristirahat. Hari sudsh terlihat sore, mereka yakin jika mereka pasti akan sampai di istana saat hari sudah gelap.
"Kita akan terlambat sampai ke istana!" sungut Astrid.
"lalu? kamu ingin menyalahkan Vivi?" tanya Cloud sarkis.
"Tidak Cloud. Kenapa kamu selalu saja berfikir buruk padaku?" jawab Astrid.
"Karena memang kamu orang yang seperti itu." jawab Cloud dengan santai.
"sudah cukup! kalian sangat berisik!" ucap Sky menghentikan keduanya yang lagi-lagi beradu mulut.
Astrid tersenyum pada Sky yang hanya menatapnya kesal.
"Pengawal! cepatlah cari air dan makanan. Aku benar-benar haus dan lapar." perintah Astrid pada para pengawal.
"Tapi ini adalah di tengah-tengah jalan menuju Medan perang. Di sini bahkan tidak ada tumbuhan satupun. saya khawatir, jika kita tidak akan bisa menemukan makanan dan minuman." jawab salah satu dari pengawal
Vivi tersenyum mendengar itu. Walaupun dia bisa membantu Astrid, tapi dia tidak akan pernah melakukannya. bukan apa-apa, wanita tipe seperti Astrid adalah seseorang yang tidak tahu berterima kasih. dia justru nantinya akan menganggapnya sebagai penyihir dan justru akan membahayakan dirinya.
Melihat Vivi yang diam saja tidak mengeluarkan apapun, Sky, Cloud dan Lunar tahu, jika dia memang tidak akan membantu Astrid.
"Bagaimana bisa! lakukan sesuatu!" perintah Astrid pada para pengawal.
Mereka saat ini berada di sebuah tanah lapang yang sangat luas dan tandus, dan menang tidak ada satupun tumbuhan yang ada disana. juga tidak ada satu hewan pun yang lewat di sana, apa lagi manusia. Mereka semuanya tidak ada di tempat seperti itu.
"Aku hanya punya satu botol minuman. Itupun sudah tinggal separuh. Aku yakin tuan putri Astrid tidak akan pernah mau meminum dari orang rendahan seperti ku." Vivi menunjukkan setengah botol air minumnya, lalu meminumnya tepat di depan hadapan Astrid yang sedang terlihat sangat kehausan.
"Aku mau Vivi..." ucap Cloud.
"Aku dulu. aku lebih tua darimu." jawab Sky seraya mengambil lebih dulu botol minuman dari tangan Vivi. dia tidak mau, jika adiknya sampai minum bekas bibir Vivi.
Melihat itu Astrid benar-benar geram! sky bahkan sampai mau meminum bekas mulut Vivi.
Dengan cepat Sky meminumnya, bahkan sampai menghabiskannya.
"Cih! Kakak!" gerutu Cloud saat melihat Sky menghabiskan minumannya.
"Aku tidak tahu, jika ini habis." jawab Sky.
"Vivi lihatlah..." Mendengar itu Vivi hanya mengangkat kedua bahunya.
"Astrid! pergilah lebih dulu! kamu mengacaukan semuanya!" sungut Cloud. dia tahu jika Vivi tidak mau mengeluarkan makanan dan minuman saat ini karena ada Astrid di sana.
"Aku tidak mengacaukan apapun!" sungut Astrid.
"Sudahlah. kita lanjutkan perjalanan. Aku naik kuda bersama Lunar saja kali ini. biarkan Sky dan Cloud bersama." ujar Vivi.
"Ayo Lunar." Vivi berjalan lebih dulu mendekati kuda milik Cloud dan segera naik ke atas diikuti oleh Lunar di belakangnya.
"Ha!" Vivi mulai mengendalikan kuda yang sudah mulai berjalan
"Ayo Cloud." ajak Sky yang juga segera naik ke atas kudanya, diikuti oleh adiknya di belakangnya.
Melihat itu Astrid lagi-lagi harus menahan kemarahannya.
"Aku benar-benar akan menghancurkan Vivi saat aku memiliki kesempatan!" geramnya seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Ayo tuan putri Astrid." ucap salah satu pengawal yang bersamanya.
Tanpa berkata-kata, Astrid segera menyusul mereka berempat yang sudah lebih dulu pergi darinya.
"Kamu pasti lapar kan? makan ini." Vivi memberikan roti pada Lunar, selain itu dia juga memberikan satu minuman kotak dingin rasa jeruk.
"Terimakasih Vivi " ucap Lunar sembari memakan roti yang ada di tangannya. Sementara Vivi masih terus mengendalikan kuda yang talinya sedang berada di tangannya
"Vivi... kamu tidak ingat dengan ku?" Cloud cemberut pada Vivi, namun Vivi segera memberikan sesuatu yang sama seperti yang Vivi berikan pada Lunar.
"Maaf, aku tidak bisa membiarkan Astrid tahu." ucap Vivi.
"Tidak apa-apa. kami tahu, jika kamu tidak pernah mempercayainya." jawab Sky yang juga sedang sama-sama mengendalikan kudanya, sementara Cloud makan roti di belakangnya.
"Kita harus bergegas untuk segera sampai di istana. aku tidak tahu kekacauan apa yang sudah di lakukannya." ujar Sky.
"Iya." jawab Vivi seraya mempercepat laju kudanya.
"ha!" teriaknya agar kudanya segera melaju dengan lebih kencang.
Mlam harinya, mereka semuanya baru saja sampai di sana. Terlihat banyak orang yang menyambut kedatangan mereka semuanya. Yang mulia raja Orion Janus juga ada di sana. Bahkan tetua guru Oberon juga ada di sana dan tersenyum pada Vivi.
"Dia tidak jadi pergi? Kupikir dia akan pergi jika aku pergi." gumam Vivi.
Ratu Amalthea tersenyum menyambut kedatangan Vivi dan putra-putranya.
"Vivi..." teriak Belinda seraya berlari ke rah Vivi.
"Selamat datang kembali Vivi..." ucap ratu Amalthea begitu Vivi turun dari kudanya.
Vivi memaksakan senyumnya.
"Terimakasih banyak yang mulia ratu Amalthea." jawab Vivi sembari membungkuk hormat pada ratu Amalthea.
"Sama-sama. Maafkan sikapku yang kemari itu. Aku benar-benar menyesal."
Vivi menggelengkan kepalanya
"Tidak. Itu semuanya karena hamba yang terlalu sombong. Hamba minta maaf untuk apa yang sudah hamba lakukan." jawab Vivi dengan ekspresi penuh penyesalan.
"Vivi... kami berterimakasih pada mu, karena kamu sudah menyelamatkan kedua putraku. Aku tidak akan pernah tahu, jika Sky tidak mengatakan hal ini padaku. Aku melakukan banyak kesalahan." lagi-lagi Vivi menggelengkan kepalanya.
"Tidak yang mulia. Hamba hanya melakukan sesuatu yang sudah seharusnya di lakukan. Tidak perlu seperti ini." jawab Vivi.
"Ratu... mereka pasti lelah. Biarkan mereka masuk dan beristirahat. kita bisa berbincang lagi dengan mereka besok pagi." ucap raja Orion Janus.
"Iya yang mulia." jawab ratu Amalthea.
"Kami sudah menyiapkan semuanya di dalam. kalian duduklah untuk beristirahat. nikmati semua hidangan yang ada. Kalian pasti lapar." ucap ratu Amalthea sembari mengusap lembut puncak kepala putra keduanya yang masih saja selalu bersikap seperti anak kecil.
"Aku tidak lapar ibunda...Selama ada Vivi, aku tidak akan pernah kelaparan." jawab Cloud.
Sky menginjak dengan keras kaki adiknya.
"Ouch!" teriak Cloud kesakitan.
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Sky sembari menepuk pundak adiknya.
ratu Amalthea hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku putranya yang selalu saja seperti itu saat mereka bersama.
.
Penyambutan Vivi selesai. Kini Vivi kembali ke kamarnya yang saat pertama kali dia datang ke sana.
Di mana tempat itu ternyata sudah di tempati oleh Belinda.
"Aku harus tidur bertiga? selama aku di sini? di tempat kecil ini?" tanya Vivi saat melihat kamarnya yang sempit harus diisi oleh dirinya, Lunar dan Belinda.
"Aku tidak mau tidur di kamarku. Aku mau tidur dikamar Vivi." jawab Belinda
Vivi menghela nafasnya, dia hanya bisa mengalah untuk tidur bersama dengan dua gadis yang sudah memposisikan diri mereka di ranjangnya.
Tok Tok Tok Tok
Vivi segera membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya saat ini.
"Sky?! Apa kamu juga ingin tidur denganku?" tanya Vivi.
"Huh? Aku? Tidur bersama mu? Apa kamu mau?" jawab Sky yang justru membuat Vivi kembali menghela nafasnya.
"Cih... semuanya benar-benar keterlaluan!" desisnya.
.
siapa yang sudi mampir di novel pertama qu