Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.
Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Mahkota Energi Hitam
# Bab 17 — Mahkota Energi Hitam
**POV: Reiki**
---
Aku membuka mata, dan dunia di sekelilingku telah berubah.
Aku berdiri di tengah ruangan yang luas—lebih luas dari stadion. Dinding-dindingnya terbuat dari kristal hitam yang memantulkan cahaya biru dari sumber yang tidak kelihatan. Di atas, tidak ada langit-langit—hanya kegelapan tak berujung yang dipenuhi bintang-bintang yang tidak bergerak.
"Ini... di mana ini?" tanya Hime di sampingku.
"Ruang Raja," jawabku, tanpa sadar. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, seolah aku sudah tahu.
Hime menatapku. "Kau tahu tempat ini?"
"Aku... aku pernah di sini sebelumnya."
Kami berjalan maju. Setiap langkah menggema di ruangan yang luas. Udara di sini dingin, tapi tidak menusuk—seperti suhu yang disesuaikan dengan kehadiranku.
Di tengah ruangan, ada sesuatu yang melayang.
Sebuah mahkota.
Terbuat dari energi hitam pekat, berdenyut dengan cahaya merah di intinya. Ia melayang di atas sebuah altar batu, berputar pelan seperti sedang menunggu seseorang untuk mengambilnya.
"Itu," bisikku. "Itu yang memanggilku."
"Jangan mendekat," kata Hime. "Itu bisa berbahaya."
Tapi kakiku sudah bergerak. Seperti di gerbang tadi, tubuhku bergerak sendiri, membawaku mendekati mahkota itu.
*Ambil aku.*
Suara itu. Bukan dari luar—tapi dari dalam diriku. Dalam, tua, dan penuh kekuasaan.
*Ambil aku\, dan kau akan menjadi dirimu yang sebenarnya.*
Aku berhenti di depan altar. Mahkota itu hanya beberapa jengkal dari wajahku. Aku bisa merasakan energinya—kuat, gelap, dan sangat familiar.
"Ini milikku," kataku.
"Reiki, jangan!" Hime meraih lenganku. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi!"
"Aku tahu. Ini adalah kekuatanku. Kekuatan yang hilang."
"Tapi jika kau mengambilnya, kau mungkin tidak akan bisa kembali!"
Aku menatapnya. Matanya berkaca-kaca. Tangannya gemetar.
"Hime, aku harus melakukan ini."
"Kenapa?"
"Karena jika tidak, gerbang itu tidak akan pernah tertutup. Dan aku tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya."
Hime diam. Air mata mengalir di pipinya.
"Kalau begitu... aku di sini. Apa pun yang terjadi."
Aku tersenyum. "Terima kasih."
Aku mengulurkan tanganku ke arah mahkota itu.
---
Saat jari-jariku menyentuh permukaannya, dunia meledak.
Energi hitam mengalir deras ke dalam tubuhku—dingin, tapi juga hangat. Seperti lautan yang menenggelamkanku. Aku bisa merasakan setiap sel dalam tubuhku berubah, beradaptasi, menjadi sesuatu yang lebih.
Dan di dalam pikiranku, ribuan gambar melintas.
Aku melihat diriku—Dewa Psikis—berdiri di atas medan perang. Mayat bergelimpangan di sekelilingku. Darah mengalir di tanganku. Tapi aku tidak merasa apa-apa. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan. Hanya kekosongan.
Aku melihat Hime—menangis, memohon padaku untuk berhenti. Tapi aku tidak bisa. Kekuatan itu terlalu besar. Ia mengendalikanku.
Aku melihat diriku mati. Bukan dibunuh musuh, tapi karena aku memilih untuk mati. Karena aku tidak tahan lagi menjadi monster.
Dan janji terakhirku: *"Aku akan kembali."*
Aku membuka mata. Air mata mengalir di pipiku.
"Aku ingat," bisikku. "Aku ingat semuanya."
Hime menatapku dengan cemas. "Apa yang kau ingat?"
"Aku ingat mengapa aku mati. Aku ingat mengapa aku berjanji untuk kembali. Dan aku ingat..." Aku menatapnya. "Aku ingat mengapa aku mencintaimu."
Hime tersentak. Air mata mengalir deras di pipinya.
"Kau... kau ingat?"
Aku mengangguk. "Aku ingat."
Kami berpelukan. Untuk pertama kalinya dalam 38 tahun—atau mungkin selamanya—kami benar-benar bersama.
Tapi di atas kami, mahkota itu masih berdenyut. Dan aku bisa merasakan bahwa ini belum berakhir.
---
Mahkota itu berbicara padaku.
Bukan dengan kata-kata, tapi dengan perasaan. Ia menawarkan kekuatan tanpa batas. Kemampuan untuk mengubah realitas. Untuk menjadi dewa yang sebenarnya.
Tapi ada harga yang harus dibayar.
*Jika kau mengambil kekuatan ini\, kau akan kehilangan dirimu yang sekarang. Emosi. Perasaan. Kemanusiaan.*
Aku menatap mahkota itu. Di sampingku, Hime memegang tanganku.
"Apa yang harus kau lakukan?" tanyanya.
"Aku harus memilih."
"Memilih apa?"
Aku menatapnya. "Antara menjadi dewa... atau tetap menjadi manusia."
Hime diam. Ia tahu apa artinya itu.
"Jika kau menjadi dewa, kau bisa menyelamatkan semua orang. Tapi kau akan kehilangan dirimu sendiri."
"Dan jika aku tetap menjadi manusia?"
"Maka kau akan tetap menjadi Reiki. Tapi kau mungkin tidak akan cukup kuat untuk menutup gerbang."
Aku menatap mahkota itu. Kemudian menatap Hime.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku.
Hime tersenyum. Air mata masih mengalir di pipinya. "Apa pun yang kau pilih, aku akan tetap di sini."
Aku meraih tangannya. "Terima kasih."
Lalu aku menatap mahkota itu.
Dan aku membuat keputusan.
---
## BAGIAN 2: HIME
Aku berdiri di samping Reiki, memegang tangannya, saat ia menatap mahkota itu. Aku bisa merasakan pergulatan di dalam dirinya—antara keinginan untuk menjadi kuat dan keinginan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
"Kau tidak perlu memutuskan sekarang, " kataku. "Kita punya waktu. "
"Tidak. Aku harus memutuskan sekarang. "
Ia melepaskan tanganku dan melangkah maju. Mahkota itu berdenyut lebih cepat, seolah menyambutnya.
"Reiki... "
Ia berhenti. Menoleh. Menatapku.
"Hime, apa pun yang terjadi, ingatlah ini: aku mencintaimu. Bukan karena aku adalah Dewa Psikis di masa lalu. Tapi karena aku adalah diriku yang sekarang. "
Air mata mengalir di pipiku. "Aku juga mencintaimu. "
Ia tersenyum. Lalu ia berbalik menghadap mahkota itu.
"Aku tidak akan mengambilnya, " katanya.
Mahkota itu bergetar. Cahaya merahnya semakin terang.
* "Kau menolakku? "* suara itu bergema\, penuh kemarahan. * "Setelah semua yang kau lalui? "*
"Aku tidak butuh kekuatanmu. Aku punya sesuatu yang lebih berharga. "
* "Apa? "*
"Aku punya dia. " Ia menunjuk ke arahku. "Aku punya teman-temanku. Aku punya hidup yang layak dijalani. "
Mahkota itu berteriak—gelombang energi menghantam kami. Tapi Reiki berdiri tegak, tidak bergerak.
"Ini adalah pilihanku, " katanya. "Aku memilih menjadi manusia. "
Mahkota itu mulai retak. Cahaya merahnya meredup. Dan perlahan, ia hancur menjadi ribuan kepingan yang melayang di udara.
Aku berlari menghampiri Reiki dan memeluknya. "Kau berhasil. "
Ia tersenyum, meskipun wajahnya pucat. "Kita berhasil. "
Tapi aku bisa merasakan bahwa ada harga yang harus dibayar. Energi di dalam dirinya mulai surut. Kekuatannya memudar.
"Reiki? " Aku memegang wajahnya. "Kau baik-baik saja? "
"Aku... aku kehilangan kekuatanku. "
"Tapi kau selamat. Itu yang penting. "
Ia tersenyum lemah. "Ya. Aku selamat. "
Kami berpelukan di tengah reruntuhan mahkota itu. Gerbang di belakang kami mulai tertutup, dan cahaya biru perlahan memudar, meninggalkan kami dalam kegelapan yang hangat.
---
## BAGIAN 3: KEMBALI
Kami berjalan melalui lorong kristal yang mulai runtuh. Kepingan-kepingan cahaya berjatuhan di sekitar kami, seperti salju yang bercahaya.
"Kau yakin dengan pilihanmu? " tanyaku.
Reiki menatapku. "Aku yakin. "
"Tapi kau kehilangan kekuatanmu. "
"Aku tahu. Tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. "
"Apa? "
Ia tersenyum. "Kebebasan. Aku tidak lagi terikat oleh masa lalu. Aku bisa menjadi diriku sendiri. "
Aku meraih tangannya. "Aku bangga padamu. "
"Terima kasih. Karena tidak pernah menyerah padaku. "
Kami berjalan bersama menuju cahaya di ujung lorong. Di belakang kami, Ruang Raja mulai hancur—tidak dengan ledakan, tapi dengan tenang, seperti pasir yang tertiup angin.
Ketika kami mencapai ujung lorong, aku melihat gerbang di depan kami—terbuka lebar, memperlihatkan dunia di luar. Desa. Rumah-rumah. Sawah. Langit biru.
"Kita hampir sampai, " kataku.
Tapi Reiki berhenti. Ia menatapku.
"Hime, sebelum kita keluar, aku ingin kau tahu sesuatu. "
"Apa? "
"Aku tidak ingat semuanya. Tapi aku ingat satu hal dengan jelas. "
"Apa itu? "
Ia meraih wajahku. "Aku ingat mengapa aku mencintaimu. Di kehidupan sebelumnya. Dan di kehidupan ini. "
Air mata mengalir di pipiku. "Reiki... "
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi aku tahu satu hal: aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. "
Aku memeluknya. "Aku juga. "
Kami berdiri di ambang gerbang, berpelukan, sementara Ruang Raja hancur di belakang kami. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa semua pencarianku selama 38 tahun terbayar lunas.
---
## BAGIAN 4: KELUAR
Kami melangkah melewati ambang gerbang. Cahaya biru menyelimuti kami, lalu meredup. Ketika aku membuka mata, aku melihat langit-langit batu di bawah balai desa. Udara dingin. Bau tanah. Dan suara KSAN yang berteriak.
"Mereka kembali! "
Aku melihat KSAN, Dila, dan Hubble berlari menghampiri kami. Wajah mereka lega.
"Syukurlah! " KSAN memelukku—aku terkejut, karena ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. "Kami pikir kalian tidak akan kembali! "
"Kami hampir tidak kembali, " kataku.
Hubble berdiri di depanku. Wajahnya serius, tapi ada kelegaan di matanya. "Gerbangnya? "
"Tertutup. Selamanya. "
Ia mengangguk. "Kau melakukan hal yang benar. "
Aku tersenyum lelah. "Aku tahu. "
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku benar-benar pulang.
---
## BAGIAN 5: PERTANYAAN
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku dan Hime duduk di atap laboratorium. Bulan bersinar terang, dan bintang-bintang berkelap-kelip di langit yang cerah.
"Hime. "
"Ya? "
"Aku ingin bertanya sesuatu. "
Ia menatapku. "Apa? "
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Setelah semua ini selesai? "
Hime diam sejenak. Lalu ia berkata, "Aku akan tetap di sini. Di desa ini. "
"Bersamaku? "
Ia tersenyum. "Bersamamu. "
Aku merasakan dadaku hangat. "Bagus. "
Kami duduk di atap, menatap bintang, tanpa perlu bicara. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa masa depan yang menanti adalah masa depan yang indah.
---
## BAGIAN 6: PAGI BARU
Keesokan paginya, aku bangun dengan perasaan damai. Tubuhku masih lemah, tapi pikiranku jernih. Aku berjalan ke laboratorium, dan Hime sudah ada di sana dengan secangkir kopi untukku.
"Selamat pagi, " katanya.
"Selamat pagi. "
Aku duduk dan menyesap kopi itu. Hangat. Pahit. Tapi sempurna.
"Hime. "
"Ya? "
"Terima kasih. Untuk semuanya. "
Ia tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih. Aku di sini karena aku mau. "
Aku meraih tangannya. "Aku tahu. Tapi aku tetap berterima kasih. "
Kami duduk di laboratorium, menikmati pagi yang tenang. Di luar, burung-burung berkicau. Matahari mulai naik, menyinari desa dengan cahaya keemasan.
Ini adalah awal yang baru. Dan untuk pertama kalinya, aku siap menghadapinya.
---
## BAGIAN 7: PERPISAHAN DENGAN HUBBLE
Seminggu setelah gerbang tertutup, Hubble dan timnya bersiap untuk pergi. Markas memanggil mereka kembali untuk laporan lengkap tentang insiden ini.
Aku berdiri di depan pesawat, bersama Hime, KSAN, dan Dila. Hubble berdiri di tangga pesawat, menatap kami satu per satu.
"Kalian akan baik-baik saja? " tanyanya.
"Kami akan baik-baik saja, " jawabku.
Hubble mengangguk. Lalu ia menatapku. "Reiki, aku tidak akan bisa memaafkan Dewa yang dulu. Tapi aku bisa memaafkanmu. Karena kau bukan dia. "
Aku merasakan dadaku hangat. "Terima kasih, Hubble. "
"Jaga dirimu. Dan jaga mereka. " Ia menunjuk ke Hime, KSAN, dan Dila.
"Aku akan menjaganya. "
Hubble tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. Lalu ia naik ke pesawat. Pintu tertutup. Mesin menyala.
Kami melambaikan tangan saat pesawat itu melesat ke langit, meninggalkan desa kecil kami.
"Ia berubah, " kata KSAN.
"Ya. Kita semua berubah. "
Aku meraih tangan Hime. "Ayo pulang. "
Kami berjalan kembali ke desa, meninggalkan lapangan yang kosong. Di langit, pesawat Hubble sudah tidak terlihat lagi.
Tapi itu tidak masalah. Karena kami masih punya satu sama lain.
---
## BAGIAN 8: REFLEKSI
Malam itu, aku duduk sendirian di kamarku, memikirkan semua yang telah terjadi. Dalam beberapa minggu, hidupku berubah total. Dari anak SMA biasa yang tidak tahu apa-apa, menjadi reinkarnasi dewa yang harus memilih antara kekuatan dan kemanusiaan.
Tapi aku tidak menyesal.
Aku memilih menjadi manusia. Dan meskipun aku kehilangan kekuatanku, aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: teman, keluarga, dan cinta.
Aku mengambil buku catatan yang diberikan Hime—catatan tentang psikis yang dulu milik Dewa Psikis. Aku membuka halaman pertama dan mulai membaca.
Bukan untuk belajar tentang kekuatan. Tapi untuk memahami siapa diriku dulu, dan siapa diriku sekarang.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu menjadi dewa untuk menjadi berarti.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
---
## BAGIAN 9: HIDUP BARU
Hari-hari setelah kepergian Hubble berjalan dengan lambat tapi pasti. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan tanpa kekuatan psikis. Aneh pada awalnya—seperti kehilangan salah satu indra. Tapi perlahan, aku belajar bahwa aku tidak membutuhkan kekuatan itu untuk bahagia.
Aku menghabiskan waktu bersama Hime, berjalan-jalan di sawah, duduk di beranda laboratorium, atau hanya berbaring di atap sambil menatap awan. Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah aku hargai.
"Kau berubah, " kata Hime suatu hari.
"Berubah bagaimana? "
"Kau terlihat lebih tenang. Lebih damai. "
Aku tersenyum. "Mungkin karena aku tidak lagi mendengar bisikan itu. "
"Bisikan? "
"Dari mahkota. Dari masa lalu. Mereka sudah tidak ada lagi. "
Hime meraih tanganku. "Bagus. "
"Ya. Bagus. "
Kami duduk di beranda, menikmati sore yang tenang. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak perlu menjadi dewa untuk merasa utuh.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
---
## BAGIAN 10: PERTEMUAN DENGAN PAMAN
Seminggu kemudian, pamanku datang mengunjungiku. Ia sudah mendengar kabar tentang "insiden listrik " dari tetangga, dan ia khawatir.
"Kau baik-baik saja, Nak? " tanyanya.
"Aku baik-baik saja, Paman. "
"Ada yang bilang kau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. "
Aku tersenyum. "Itu sudah berlalu. "
Paman menatapku lama. Lalu ia berkata, "Kau berbeda. Ada sesuatu di matamu yang tidak ada sebelumnya. "
"Apa itu? "
"Kedewasaan. "
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi aku tersenyum.
"Aku hanya belajar banyak hal akhir-akhir ini, Paman. "
Ia mengangguk. "Bagus. Teruslah belajar. "
Ia pergi setelah makan malam. Aku berdiri di pintu, menatapnya pergi. Paman adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki—dan aku bersyukur ia ada.
"Dia orang baik, " kata Hime dari belakangku.
"Ya. Dia yang membesarkanku. "
"Kau beruntung. "
Aku menatapnya. "Aku tahu. "
---
**— Bersambung —**