NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 10

Jantung Alyra berdesir, seperti sesuatu tengah merayap perlahan sampai ke ulu hati.

Ia masih menatap ponsel milik Erlan tanpa berkedip, benaknya mulai penuh dengan tanda tanya.

‘Stefani? Siapa dia?’ batinnya mencoba menerka.

“Akhirnya selesai juga?” tanya Erlan, kini menatap sekilas istrinya, lalu kembali fokus pada buku bacaan.

Alyra buru-buru mengalihkan pandang, berpura-pura tak tahu apa-apa tentang notifikasi pesan yang ia baca barusan.

“Apakah lama?” Ia menyahut singkat.

“Menurutmu?” sahut Erlan tanpa menoleh.

“Ya maaf, saya merasa gerah, jadi agak sedikit menikmati ....” Alyra tak menyelesaikan kalimat, buru-buru melangkah ke arah meja rias.

Ia duduk seraya menegakkan bahunya, menatap gelisah pada cermin, berusaha menyembunyikan rautnya yang tak tenang.

‘Dia nggak curiga kalau aku udah baca pesan di hpnya, ‘kan? Lagipula … ini tidak sengaja, aku nggak sengaja membacanya.’ Alyra menghembuskan napas pelan.

“Ha ha ha!” Tiba-tiba tawa Erlan membahana.

Alyra spontan menoleh, menatap heran.

“Tokoh di ceritamu ini … unik sekali, lucu dan sedikit ceroboh,” komentar Erlan, tampak begitu menikmati bacaan yang menghibur. “Bisa-bisanya kepikiran menciptakan tokoh yang memiliki pribadi unik, hobi unik … gue akui Lo cukup jenius, Alyra. Ha ha ha!”

Hilang sudah wibawa dan tutur kata formal, ia tunjukan sisi baru pada Alyra.

Alyra menatap tak percaya, wajah kaku yang selalu dilihatnya bisa terpingkal sedemikian rupa.

Erlan melihat respon tak biasa di wajah istrinya, segera ia paksa berhenti tawanya. “Sorry, kelepasan. Saya ….” Ia mengatupkan bibir, menahan tawa yang nyaris lepas. “Hahaha!” Namun akhirnya lepas juga.

Hancur sudah rencananya yang hendak menunjukan image dingin dan berkelas di hadapan Alyra. Tokoh Ayumi yang Alyra tulis dalam novel, berhasil membuat Erlan hilang kendali. Ia terpingkal hanya dengan membayangkan tingkah lucu dan ceroboh tokoh fiksi Ayumi.

Perempuan berambut panjang yang dibiarkan tergerai itu hanya menghela napas.

Setelah beberapa menit, akhirnya Erlan kembali diam.

“Sudah cukup tertawanya?” Alyra melirik tanpa menoleh.

“Heem.” Si pria menganggukan kepala. “Eh, Lo. Sini.” Ia gunakan gerakan jari, meminta Alyra mendekat.

Ia sudah tak peduli lagi soal image, dan memilih melanjutkan bersikap santai.

Alyra menghentikan tangan yang tengah menyisir rambut, masih terheran mendengar Erlan tak lagi menggunakan bahasa sopan. ‘La Lo La Lo. Dih, sok akrab!’ Ia tak merespon, hanya menggerutu di dalam hati.

“Alyra ….” Kini Erlan menutup bukunya.

“Anda memanggil saya?”

“Ya iya, lah! Siapa lagi? Cuma ada gue sama Lo di kamar ini,” kata pria yang telah resmi menyandang status suami.

Akhirnya Alyra memutar badan. “Ada apa?”

“Lo nggak punya baju ganti buat gue?” Begitu ringan mulut bertanya, seolah tak ada rasa canggung.

“Ya Anda pikir saja sendiri, saya perempuan, mana ada baju lelaki di kamar ini,” sahut si wanita, wajah menyimpan kesal.

“Ya, baju-baju kebesaran kek, apa kek, kaos yang kedodoran juga boleh, yang penting pas buat gue, engap banget ini make setelan jas seharian,” ujar putra kedua Dirham Pradana.

“Ya, lagian … tidak dipersiapkan dahulu—”

“Ya, namanya juga manusia biasa … bukan wali,” sergah Erlan. “Pasti ada silapnya, udah buruan carikan baju ganti, gerah banget ini,” pintanya buru-buru pada sang istri. “Lagian kan tadinya nggak ada rencana juga buat pulang ke sini.”

“Situ yang engap, mengapa pula saya yang direpotkan!” Suaranya ditekan pelan.

“Apa? Nggak denger gue!”

“Iya, iya, tunggu! Saya carikan dulu di lemari.”

Dengan malas Alyra melangkahkan kaki, memasuki dressing room yang menyatu dengan kamarnya yang cukup luas.

Tak berselang lama, wanita yang berwajah muram keluar dengan membawa kaos polos dan celana training berukuran besar, kedodoran.

“Ini.” Ia sodorkan pada suaminya. “Ini baju saya saat masih memiliki badan yang subur.”

Erlan meraihnya, ia bentangkan kaos lebar di hadapan Alyra. “Astaga … Lo pernah segendut ini dulu?”

“Saya tidak gendut! Hanya sedikit subur saja badannya!” sahutnya kesal.

“Subur?” Alis si pria terangkat sebelah, bibir bawahnya maju, seolah mengejek. “Baiklah … subur.”

“Lo nggak punya penyakit kulit, ‘kan? Eksim, panu, kurap? Gue takut menular, bisa-bisa kulit mulus nan selembut sutra ini rusak dibuatnya!” lanjutnya, ia usap lengan kekar berbulu halus, kemejanya digulung hingga siku.

“Pak Erlan!” Alyra menatap tajam. “Letakkan saja di atas kasur bila enggan memakainya. Jangan banyak bicara!”

“Iya, iya. Cuma nanya. Gitu aja sewot!” Akhirnya Erlan berjalan menuju bilik mandi yang menyatu dengan ruang kamar, ekor mata melirik, sudut bibir berkedut menahan tawa.

“Badannya subur, katanya ….” Erlan terlihat cekikikan.

“Dasar Curutt …,” geram Alyra, samar dia mendengar tawa pelan saat sang suami berjalan melewatinya.

.

.

.

Esok harinya.

Di hunian rumah Pradana, keadaan masih menegang meski hari telah berganti.

Para bibi sibuk membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh nyonya muda, amukan tak terkendali yang memporak-pondakan seisi ruangan.

Sengaja Ervin meminta para pembantu untuk tak langsung membereskannya semalam, ia hendak memberi pelajaran pada istrinya. Namun pagi ini, Dirham selaku tuan rumah mutlak memberi titah langsung untuk segera dirapikan.

“Emang ya, orang kaya. Kalau ngamuk teh sesuka hatinya, mecahin guci, membalikan meja, ngacak-ngacak hiasan dinding, dikira teh nggak repot bersihinnya,” gerutu Wina, salah satu asisten rumah tangga, ia merapatkan diri seraya bersisik di samping Mbok Tumini — sesama art.

“Sudah, diam. Jangan sampai majikan dengar ocehanmu,” tegur Mbok Tum, berusaha memperingati gadis muda yang berusia sama dengan cucunya.

“Ahh … Mbok Tum teh nggak seru kalo diajak ghibah,” sahut Wina dengan nada khas orang sunda.

Mbok Tum hanya geleng-geleng kepala, memilih tak lagi menanggapi. Bila diladeni, Wina akan berkepanjangan menggerutu, berakhir pekerjaan tak cepat usai karena sibuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu.

Pyar!!

Keduanya kembali tersentak, bersamaan menatap ke arah lantai dua.

“Astaghfirullah … eta teh kenapa lagi si belegug!”

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!