Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 28
Sementara itu, di Anyer, Diana baru saja menyadari sesuatu yang janggal. Dia memeriksa rekening ponselnya. Uang bulanan yang biasanya masuk dari yayasan atas nama perusahaan Antanagara yang selama ini disamarkan sebagai biaya operasional yayasan. Masih belum masuk padahal sudah memasuki tanggal satu.
"Ren," panggil Diana dengan nada gelisah.
"Transferan dari kantor Andra belum masuk."
Reno yang sedang bersantai di balkon langsung mengernyit.
"Mungkin masalah sistem bank? Atau Andra sedang sibuk?"
"Tidak mungkin. Andra tidak pernah telat semenit pun soal uang," sahut Diana.
Wajahnya memucat. Dia mencoba menghubungi Andra, namun panggilannya langsung dialihkan ke kotak suara. Dia mencoba menghubungi sekretaris kantor, namun jawaban yang Dia terima membuatnya hampir melempar ponselnya ke lantai.
"Maaf, Bu Diana. Bapak sedang dalam rapat tertutup dengan dewan direksi yang dipimpin langsung oleh Tuan Ardi. Anda bisa menghubungi beliau nanti. Atau ada pesan? Biar saya bisa sampaikan nanti kepada Pak Adrian."
"Mereka Meeting apa? Apa kamu tahu?" tanya Diana.
"Mana aku tahu! Kan aku sedang cuti menemani kamu di sini. Baru besok aku masuk kerja. Tenang, Diana. Kamu jangan panik seperti itu! Toh selama tiga tahun adanya Yayasan itu juga mereka tak pernah curiga kan? Apalagi Ardhan yang selalu membela kamu! Jadi santai saja!" Reno meremehkan.
"Jangan bodoh!" bentak Diana.
"Ardi Antanagara bukan pria yang bisa dibohongi dengan alasan murahan! Jika dia tahu kita mencuri dana perusahaan, dia bisa mengirim kita ke penjara atau mungkin jauh lebih buruk lagi!"
Di kediaman utama Antanagara, Andra sedang berdiri di depan meja kerja ayahnya. Ardi duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam ke arah anaknya.
"Andra," suara Ardi dingin dan menggema.
"Aku sudah mengaudit keuangan selama tiga bulan terakhir. Aku melihat banyak lubang yang tidak masuk akal. Dan aku tahu persis ke mana uang itu mengalir."
Andra menegang.
"Aku membiarkan istrimu bermain-main di luar selama ini karena aku berpikir dia akan memberikan cucu. Tapi ternyata, dia hanya parasit. Mulai hari ini, aku membekukan semua rekening pribadinya. Aku ingin lihat, apakah dia tetap akan mencintaimu saat semua fasilitas mewahnya kucabut."
"Papa, jangan...!
"Aku tidak butuh perdebatan," potong Ardi.
"Yang aku butuhkan adalah anak dari wanita yang kau nikahi kemarin itu. Beritahu istrimu yang bernama Nadhira itu bahwa mulai besok, dia akan tinggal di paviliun rumah utama sampai kalian bisa memiliki anak. Dan kau juga jangan terlalu bodoh dengan istri pertamamu! Apa kau tak curiga kenapa dia selalu pergi ke luar kota? Seorang wanita akan selalu senang dan bahagia bisa hamil anak dari laki-laki yang dia cintai. Apa mungkin sebenarnya dia tak pernah mencintai kamu?"
Ucapan Papa Ardi terakhir membuat tubuh Andra menegang. Dia tak mengira jika ayahnya akan berbicara seperti itu.
"Apa maksud papa? Diana jelas sangat mencintai aku, Pah! Dia menolak hamil karena sedang ada project..."
"jangan naif Adrian. Kau terlalu polos untuk seorang profesional seperti Diana. Kau cari tahu lah sendiri. Karena kau tak akan percaya jika aku yang mengatakannya sendiri. Pastinya kau akan mengatakan jika aku memfitnah istrimu itu. Karena dari awal aku memang tak pernah suka padanya. Muak!"
Setelah melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya, Andra berjalan menyusuri koridor rumah utama dengan langkah yang terasa sangat berat. Kepalanya berdenyut hebat, berputar di antara kecurigaan tajam Papa Ardi dan pembelaan buta yang baru saja dia lontarkan demi Diana.
Andra masuk ke dalam kamarnya yang kosong, kamar pribadinya saat di rumah orang tuanya. Pria itu mengempaskan tubuhnya ke atas sofa kulit, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kebimbangan yang teramat sangat mulai merayap dan menggerogoti hatinya, perlahan-lahan meretakkan dinding keyakinan yang selama ini ia agungkan.
“Apa kau tak curiga kenapa dia selalu pergi ke luar kota? Seorang wanita akan selalu senang dan bahagia bisa hamil anak dari laki-laki yang dia cintai. Apa mungkin sebenarnya dia tak pernah mencintai kamu?"
Kata-kata Papa Ardi bergema di telinganya. Andra mencoba menepisnya.
"Tidak, Diana tidak mungkin mengkhianatiku. Dia hanya terlalu mencintai kariernya," bisik Andra pada keheningan kamar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri yang mulai goyah.
Namun, logika Andra yang selama ini dibutakan oleh cinta kini mulai menuntut jawaban atas hal-hal yang sebelumnya dia abaikan. Mengapa Diana begitu mudah menyuruhnya mencari rahim lain? Mengapa istrinya begitu acuh tak acuh saat tahu pernikahan mereka berada di jurang perceraian?
Dan Reno pria itu selalu ada di samping Diana, bahkan di jam-jam yang tidak masuk akal untuk urusan pekerjaan. Mengapa Andra baru menyadari betapa janggalnya kedekatan mereka setelah diingatkan oleh sang ayah?
Di tengah badai kecurigaan tentang Diana, pikiran Andra mendadak bergeser pada sosok wanita lain yang kini berada di paviliun belakang rumah kedua orang tuanya.
Nadhira.
Andra menatap telapak tangannya yang semalam bergetar hebat saat hampir merenggut kesucian sahabat lamanya. Rasa bersalah yang teramat masif kembali menghantam dadanya. Nadhira telah mengorbankan reputasinya lima tahun lalu demi melindunginya dari Viona.
Semalam, wanita itu rela menyerahkan seluruh harga dirinya untuk menyelamatkan ibunya. Nadhira masih suci murni, sebuah fakta yang membuktikan betapa terhormatnya wanita itu menjaga diri di tengah kerasnya hidup.
Kini, batin Andra tercabik-cabik menjadi dua bagian yang sama besar. Sisi hatinya yang penuh cinta buta mendesaknya untuk tetap mempercayai Diana sebagai istri yang baik dan segera memberikan anak lewat rahim Nadhira demi mempertahankan pernikahan mereka.
Namun, sisi kemanusiaan dan nuraninya sebagai seorang sahabat berteriak menolak. Bagaimana mungkin dia sekejam itu menyentuh Nadhira secara alami, menghancurkan kesucian seorang gadis baik-baik yang tak berdosa, demi menyenangkan istri yang bahkan saat ini tidak bisa dihubungi dan entah berada di mana? Bahkan tanpa ada cinta di antara mereka. walau terikat dalam status pernikahan yang sah secara agama.
"Apa yang sudah kulakukan?" gumam Andra frustrasi. Dia menjambak rambutnya sendiri, merasakan sesak yang teramat sangat di dalam dada.
Andra terjebak dalam lingkaran yang dia ciptakan sendiri. Jika dia bersikeras memegang janjinya pada Nadhira untuk tidak melakukan kontak fisik dan memanipulasi berkas medis bersama Dokter Haryo. Ancaman kejam dari Viona dan ketajaman mata Papa Ardi siap menghancurkan mereka dalam waktu tiga bulan.
Namun, jika dia menyerah pada keadaan dan benar-benar mengambil kesucian Nadhira demi mengejar target kehamilan alami, dia akan selamanya mengutuk dirinya sebagai bajingan paling keji.
Andra bangkit dengan gusar, meraih ponselnya di atas meja. Rasa cemas yang tiba-tiba datang tanpa alasan membuatnya ingin memastikan bahwa Nadhira baik-baik saja di rumah sakit. Namun, saat jemarinya baru saja hendak mencari nomor Nadhira, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal mendadak memotong layarnya.
Jantung Andra mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Firasat buruk yang sangat tajam seketika menyergap kesadarannya, seolah memberi tahu bahwa kebimbangan yang sedang meremukkan hatinya saat ini akan segera digantikan oleh sebuah kenyataan pahit yang jauh lebih mengerikan.
Ponsel di genggaman Andra terus bergetar. Saat dia menggeser layar untuk mengangkatnya, ternyata suara di seberang telepon bukanlah nomor darurat dari rumah sakit, melainkan suara akrab yang sudah sangat dia kenal.
"Andra," panggil suara di seberang sana. Itu Diana.
Andra menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya dan menekan semua kecurigaan yang baru saja ditanamkan oleh Papa Ardi.
"Diana? Kamu ke mana saja? Kenapa kamu ganti nomor? Ponselmu tidak bisa dihubungi."
"Maaf, Sayang. Sinyal di pantai Anyer benar-benar buruk," kilah Diana dengan nada manja yang dibuat-buat, memandang Reno yang berdiri di sampingnya dengan senyuman licik.
"Bahkan aku sampai harus membeli nomor baru agar bisa menghubungimu, Andra. Aku menelepon hanya untuk memberi tahu, setelah pemotretan fajar ini selesai. Manajerku bilang kami harus langsung terbang ke Bali lalu lanjut ke Lombok. Ada proyek fashion show mendadak di sana selama satu minggu penuh."
Mendengar hal itu, kebimbangan Andra seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Satu minggu? Itu jelas-jelas sebuah pelarian. Diana sengaja mengulur waktu dan menjauh demi menghindari rentetan pertanyaan dan desakan dari Papa Ardi serta Ibu Viona mengenai program anak.
"Tidak, Diana. Aku tidak mengizinkanmu pergi!" ucap Andra tegas, suaranya meninggi menahan amarah.
"Pernikahan kita berada di ujung tanduk! Papa sudah memberi ultimatum tiga bulan. Kamu tidak bisa terus-menerus lari dari tanggung jawab ini dan membiarkan aku menghadapi orang tuaku sendirian!"
Diana mendengus pelan di seberang telepon, nada suaranya mendadak berubah menjadi dingin dan keras kepala.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏