NovelToon NovelToon
Introvert Racer And Coldnest Mafia

Introvert Racer And Coldnest Mafia

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:865.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: D and D

Diajeng Anindita Oliver, seorang gadis yang lulus kuliah diumur yang masih muda. Putri dari seorang pembalap legendaris dan model terkenal, yang di dalam dirinya mengalir kental darah seorang pembalap.

Mengorbankan masa depan nya demi keselamatan sahabatnya Mutia. Menikah dengan seorang mafia yang terkenal kejam dan dingin, tapi tidak di hadapannya.

Memiliki kepribadian introvert cenderung membuatnya tertutup dengan perasaannya pada siapapun, termasuk orang terdekat nya.

Akan kah Ajeng lebih terbuka, setelah menikah dengan Griffin seorang coldnest mafia? atau semakin membuatnya menutup dirinya dari dunia luar? Dan akan kah Griffin juga menghangat setelah mengenal Ajeng?

Yuks simak ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D and D, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita ciptakan Dunia kita sendiri

Griffin beranjak dari duduknya, berjalan ke lemari mengambil sebuah selimut. Di selimutinya Ajeng dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan. Ia tidak ingin sampai membuat gadisnya terbangun.

Setelah itu ia kembali ke meja kerjanya, tangannya menekan panggilan keluar, menelepon asistennya, Lyman.

"Aku akan terlambat datang, handle sementara," perintahnya kepada Lyman di telepon.

"Baik bos," jawab Lyman dengan patuh.

Lyman yang telah mendapat perintah dari bosnya langsung menuju aula tempat pasar gelap dimulai. Sudah banyak mafia yang datang, bahkan mereka sudah siap dengan barang lelangan nya masing-masing. Ada yang mulai mencari barang incaran yang akan di beli ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat saja.

Sebenarnya bukan hanya para mafia, pembesar dari semua kalangan juga ikut hadir. Mereka memang sudah biasa menghadiri acara ilegal seperti ini. Bukan tanpa alasan, mereka sudah terikat kontrak dengan sebagian mafia, karna saling membutuhkan, dengan keuntungan yang tidak sedikit. Makanya tak jarang mereka yang memiliki jabatan besar di suatu negara banyak melakukan tindakan kotor, yaitu bekerja sama dengan para mafia untuk mencapai kesuksesan.

Tapi tidak dengan Griffin, ia tidak akan pernah terkontrak ataupun memiliki perjanjian dengan siapapun. Ia berdiri sendiri, kokoh dan kuat, jadi tidak perlu sebuah perjanjian yang saling menguntungkan ity. Kekayaan Louis yang tidak terhingga, sudah diwarisi kepadanya. Jadi ia tidak perlu ambil pusing dengan apapun yang menyangkut soal materi.

Lagi pula Griffin memang bukan tipe orang yang akan tunduk dan patuh pada seseorang, kecuali kepada papanya Louis, dan mungkin, kini seorang gadis yang telah memikat hatinya juga akan mampu membuat Griffin tunduk dan patuh dengan mudahnya.

Lyman berjalan dengan tegap, sorot matanya tajam, hawa yang dibawanya dingin, dan mencekam. Walaupun ia hanya seorang asisten atau tangan kanan Griffin, namun sifat dan kemampuannya tidak jauh beda dengan Griffin. Ia mampu membuat lawannya tunduk dengan mudah. Walau ia tidak sekejam bosnya, tapi setidaknya ia memiliki jiwa psyco yang jarang diketahui oleh orang lain.

Ia naik ke atas panggung, matanya menatap tajam ke segala arah, lalu mulai menghidupkan mic.

"Ini sudah menjadi hal biasa bagi kita, transaksi ilegal, penjualan, dan lelangan besar-besaran berbagai jenis barang ilegal dilakukan disini, pasar gelap . Mari kita buka pasar gelap malam ini." Lyman memimpin pembukaan pasar gelap, tangan kanannya mengangkat segelas win. Mengangkat win adalah kebiasaan ketika akan membuka pasar gelap, lalu dilanjutkan bunyi terompet yang keras dan nyaring.

"Cheers ..." Sontak semuanya mengangkat segelas win mereka masing-masing, dan bersorak gembira menyambut pembukaan pasar gelap.

Kegiatan pasar gelap ini dilakukan 3 bulan sekali. Sangat jarang seorang Griffin ikut gabung ke dalamnya. Biasanya ia akan mengirim orang kepercayaan nya untuk mewakili dirinya. Dan memantau semua pergerakan dari CCTV tersembunyi yang di sambungkan langsung ke laptopnya.

Pembawa acara mulai memperkenalkan barang milik masing-masing mafia. Dibuka dengan harga yang fantastik. Banyak yang ikut menawar dengan harga yang terus meningkat, hingga sampai titik harga yang pas.

***

"Emmmhhhh." Ajeng menggeliatkan tubuhnya, mengerjapkan matanya,menyesuaikan dengan lampu di dalam ruangan itu. Matanya perlahan terbuka, ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Sudah bangun? " Griffin tiba-tiba datang menghampiri Ajeng dan memposisikan dirinya duduk di samping Ajeng.

"Hem." Dijawab dengan anggukan oleh Ajeng, tangannya menutup mulutnya yang tengah menguap.

" Masih mengantuk? atau mau ikut dengan ku ke aula pasar gelap, hem...?" tanya Griffin dengan suara lembut, tangannya bermain di ujung rambut Ajeng, dengan sesekali mencium nya.

"Sebenarnya masih, tapi aku sangat penasaran bagaimana pasar gelap itu," jawab Ajeng dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Bangunlah, cuci muka dulu, habis itu kita kesana," perintah Griffin.

Ajeng mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia mulai membersihkan wajahnya, agar terlihat lebih Fresh. Selesai cuci muka Ajeng langsung menghampiri Griffin dan duduk di sampingnya.

"Kenapa masih pakai topeng?" tanya Ajeng menatap heran pria di sampingnya.

"Pakailah topengmu, kita akan segera pergi," ucap Griffin, ia tak menghiraukan pertanyaan Ajeng.

Ajeng mendengus kesal, dan segera memakai topengnya.

Cantik

"Kenapa melihatku seperti itu hah?" Ajeng menatap waspada Griffin.

"Tidak, ayo." Griffin mengalihkan pandangannya, berjalan mendahului Ajeng. Ajeng mengikuti Griffin dari belakang.

"Berjalanlah di sampingku, kau bukan pengawalku," ucap Griffin dengan suara kembali dingin.

Tadi sikapnya lembut, sekarang balik ke mode kulkas lagi, dasar manusia tanpa ekspresi. Ajeng menggerutu di dalam hati.

Ia mulai mempercepat langkahnya, berjalan di samping Griffin. Di depan pintu mereka disambut oleh Lyman.

Lyman segera menunduk hormat.

"Selamat malam bos, nona," sapa Lyman yang hanya ditanggapi anggukan oleh Griffin dan Senyuman oleh Ajeng.

Lyman mengikuti Griffin di belakangnya. Mereka bertiga mulai memasuki aula pasar gelap, di sana sangat ramai, rata-rata menggunakan pakaian serba hitam, dengan pistol di belakang atau di samping pinggang mereka.

Semua yang di sana menyadari kedatangan Griffin, mereka mulai menyapa Griffin dengan membungkukkan badan tanda hormat pada Griffin.

"Malam tuan .... dan ... nona," ucap mereka bersamaan, mereka menatap bingung kearah Ajeng, pasalnya selama ini tidak ada wanita yang bisa mendekati seorang Griffin, tapi kenapa malam ini Tuan mereka bisa membawa seorang gadis.

"Siapa wanita itu? jika dilihat-lihat dia masih gadis."

"Gadis itu berjalan berdampingan dengan tuan Griffin."

"Wah siapa gadis itu? mustahil jika dia seorang pengawal atau bodyguard."

"Iya benar, jika pengawal wanita tidak mungkin berjalan berdampingan dengan menggunakan topeng juga."

Ajeng hanya diam, mendengar apa yang diucapkan oleh orang-orang di dalam ruangan itu. Pada dasarnya sikapnya yang cuek dan acuh tak acuh, membuat Ajeng tak begitu mempermasalahkan hal sepele. Telinganya cukup kebal untuk mendengar hal seperti itu.

"Gadis itu... aku seperti mengenalnya, topeng itu..... yah dia Queen Race Mask, kenapa dia bisa mengenal tuan Griffin? Dan berjalan di samping tuan Griffin, saatnya membalaskan dendamku" Seringai tipis tersungging di bibir pria itu, ia mengenal Ajeng karena topeng yang dipakai Ajeng. Entah apa yang ia rencanakan, dan siapa pria itu?

"Duduklah disini, nanti aku kembali," ucapnya menatap Ajeng dengan tajam dan beralih menatap Lyman.

"Jaga nona Ajeng dengan baik," titahnya pada Lyman, dan dibalas anggukan oleh Lyman.

Griffin mulai berjalan dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya. Ia menghampiri para mafia lainnya. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui bagaimana wajah Griffin, karena, yah seperti saat ini, setiap ada pertemuan, Griffin selalu menggunakan topeng.

"Siapa namamu? Kau pria yang waktu itu kan? di tempat kejadian tabrakan," tanya Ajeng tanpa menatap Lyman.

"Lyman, panggil saja asisten Lym nona,"jawab Lyman dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Saya memang pria itu nona," lanjutnya.

Ajeng mengangguk paham. "Asisten Lym, Chelsea dan Iron kemana?" tanyanya menatap Lyman, karena sedari tadi ia belum melihatnya.

"Saya tidak tahu nona," jawab Lyman acuh tak acuh.

Persis seperti bosnya, yang satu kulkas dua pintu, yang satu es balok. Gerutu Ajeng dalam hati.

Ajeng berdiri hendak berjalan meninggalkan Lyman, ia sebenarnya sudah merasa bosan berada di dalam ruangan itu. Apalagi ia malas melihat tatapan mata keranjang dari para lelaki yang di dalam ruangan itu.

"Nona mau kemana?" tanya Griffin menatap tajam Ajeng.

"Aku bosan asisten Lym, aku butuh hiburan, ingin keluar cari angin," jawab Ajeng dengan malas.

Sejujurnya keramaian bukanlah tempat yang cocok bagi Ajeng. Ia lebih menyukai kesunyian dan keheningan. Diam di rumah lebih baik baginya dari pada pergi seperti gadis sebayanya, yang menyukai belanja, pesta dan jalan-jalan. Ingat, Ajeng tipe orang yang tidak mudah bergaul, ia tidak akan menyapa orang jika tidak terlalu penting dan mendesak.

"Nona jangan pergi dari sini sebelum bos datang, ingat pesan bos nona, atau nona akan menyesal nanti," tegur Lyman pada Ajeng, tatapannya masih tajam, suaranya begitu dingin, ucapannya mengandung ancaman yang bukan omong kosong belaka.

"Tapi...." rengek Ajeng.

"Duduk lah nona, sebentar lagi bos akan datang," potong Griffin dengan tegas.

Ajeng mendengus kesal, ia langsung mendudukkan tubuh nya dengan kasar, wajahnya ditekuk bak pakaian yang belum disetrika. Seorang pria berjalan perlahan ke arah Ajeng, dan menyapanya.

"Selamat malam nona," sapa pria yang baru saja datang menghampiri Ajeng, ia langsung duduk seenaknya di samping Ajeng. Ajeng mengernyitkan dahi menatap pria itu.

Sedangkan Lyman, ia menatap tajam ke arah pria di depannya, yang dengan seenak hati duduk di samping nona nya.

"Sabar asisten Lyman, aku hanya ingin mengapa nonamu ini." Pria itu tersenyum manatap Lyman, "Benar kan Queen .... " Ucapnya berbisik di telinga Ajeng dengan seringai di bibirnya.

Queen... bagaimana dia tahu? Aku seperti pernah bertemu pria ini . Batin Ajeng.

"Apa nona lupa? Kita pernah bertemu, perlu saya memperkenalkan diri kembali? " Ia kembali menyunggingkan senyum ke arah Ajeng, sedangkan Ajeng, ia hanya diam, memperhatikan pria di sampingnya.

"Saya yang pernah menantang Queen di race ilegal, malam itu, malam yang sangat panas Queen," lanjutnya dengan berbisik di telinga Ajeng.

Ajeng tersentak, ia ingat pria di depannya, pria yang mengajaknya tanding dengan sombong di race ilegal.

Melihat reaksi Ajeng pria itu hanya tersenyum sinis. "Sampai bertemu di race yang sesungguhnya Queen," ucapnya berbisik kembali

"Mari asisten Lym " ucapnya sebelum meninggalkan Ajeng dan Lyman.

Ajeng masih terdiam, ia masih mencerna setiap kalimat yang diucapkan pria itu. Entah siapa namanya, dan dari keluarga mana Ajeng tidak mau tau tentang semua itu. Tapi, yang membuat Ajeng berpikir adalah ancaman dari pria itu. 'Sampai bertemu di race yang sesungguhnya.'

Ketika Ajeng sedang berkutat dengan pikirannya, ia dikejutkan dengan suara yang memanggil namanya.

"Ajeng," panggil pria itu, dia adalah Griffin.

"Ada apa? kenapa melamun? apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanyanya dengan suara datar.

"Ah... tidak ada, apa kau sudah selesai?" elaknya, Ajeng mengalihkan pembicaraan.

"Apa kau bosan?" tanya Griffin dengan lembut.

Kadang lembut, kadang datar, kadang dingin, arogant, ngeselin, dan egois, sebenarnya wataknya bagaimana sih.

"Emmm," Ajeng menganggukkan kepala menjawab Griffin.

Griffin menggandeng tangan Ajeng, menakutkan jarinya ke jari Ajeng. Mengajak Ajeng keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan beriringan melewati ribuan orang yang menatap mereka.

Ajeng terdiam, entah perasaan apa yang ia rasakan. Jantungnya berdetak tak menentu. Dirinya mulai merasa nyaman ketika berada di dekat Griffin. Walau terkadang ia merasa kesal dengan tingkah Griffin yang suka berlaku seenaknya.

"Lyman, pulanglah, nanti jika aku membutuhkan mu aku akan menelponmu," perintahnya pada Lyman dengan suara dingin, Lyman mengangguk dan segera pergi.

"Mau kemana?" suaranya kembali melembut saat bersama Ajeng, menatap lembut penuh perasaan.

"Kemana saja, yang penting tidak di keramaian" jawabnya dengan senyum kikuk, entah karna gerogi atau merasa tak nyaman.

"Kenapa?" tanya Griffin pada Ajeng, kini mereka tengah berada di dalam mobil, Griffin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

"Aku tidak menyukainya, keramaian bising, aku lebih menyukai kesunyian, aku menyukai duniaku sendiri" Ajeng tersenyum menatap luar kaca mobil, menikmati indahnya pemandangan.

"Tapi manusia adalah makhluk sosial, perlu untuk bersosialisasi, berbaur dengan yang lainnya." Griffin menatap gadis manis di sampingnya.

"Keramaiannya membuatku merasa sendirian." Wajahnya berubah muram.

Griffin terdiam, mengamati wajah gadisnya yang tiba-tiba muram, apa yang membuatnya merubah raut wajah bahagianya itu. Tangannya memegang tangan Ajeng, kembali menautkan jari nya satu sama lain, seolah memberi kekuatan agar Ajeng melupakan kesedihannya.

"Jika kesunyian yang kau sukai, maka izinkan aku menjadi teman hidupmu selamanya, menemanimu dalam kesunyian itu, menciptakan dunia kita sendiri," ucap Griffin yakin.

Ajeng menatap haru Griffin, sesaat kemudian ia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Mereka masih berpegangan tangan, merasakan hangatnya suasana di dalam mobil itu, saling menyalurkan apa yang dirasakan.

1
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
semoga saja sella dan toni tidak seperti papanya
epifania rendo
siaap yang salah
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
sella sma ansel
epifania rendo
syukurlah
epifania rendo
pengawal bayangannya lambat
epifania rendo
pengawal bayangan mana
epifania rendo
jangan melanggar ajeng
epifania rendo
terharu
epifania rendo
romantis bangat
epifania rendo
buka segel
epifania rendo
tunggu saja di jadikan perkedel sma griffin
epifania rendo
kasian ajeng di bohongi sama paman nya
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
😄😄😄
epifania rendo
bucinkan griffin
epifania rendo
makin seruh
epifania rendo
sabar mutia
epifania rendo
mutia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!