Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23 : Kembali Bekerja
Kedatangan Paman Ardi ke Jakarta rupanya karena Paman Ardi sebentar lagi akan pindah alias menetap di Jakarta bersama Tante Susi yang kebetulan masih berada di Sumatera Selatan. Paman Ardi juga telah mendapatkan pekerjaan yang bisa terbilang cukup menjanjikan bagi ia dan istrinya.
“Bu, Paman mana? Apa Paman sudah kembali ke Palembang?” tanya Gea yang baru saja tiba di ruang tamu.
“Paman Ardi baru saja pergi karena ingin melihat rumah barunya. Nanti malam Paman akan kembali berkunjung kemari sekaligus ingin bertemu Ayahmu,” jawab Ibu Sri.
“Rumah baru?” tanya Gea penasaran.
Ibu Sri seketika itu menjelaskan kepada Gea tentang Paman Ardi yang akan menetap di Jakarta sekaligus bekerja di kota besar tersebut.
Gea tersenyum bahagia karena saudara Sang Ibu akan menjadi penduduk Jakarta dan ia merasa senang karena Paman yang dulu begitu menyayangi dirinya ada didekat mereka.
Ayah Budi akhirnya pulang dan membawa kabar baik untuk Gea. Gea yang tak sabar ingin mendengar kabar baik tersebut tanpa pikir panjang memeluk lengan Ayah Budi dengan tatapan penasaran.
Gea bahkan tak membiarkan Sang Ayah ganti baju lebih dulu karena Gea tak sabar ingin mendengar kabar baik dari Sang Ayah tercinta.
“Kabar baiknya apa Ayah? Cepat beritahu Gea!” Gea dengan sangat antusias menatap Sang Ayah.
Ayah Budi mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya kepada Gea agar Gea membaca isi dari selembar kertas tersebut.
“Restoran ini buka cabang ternyata dan letaknya tidak jauh dari rumah kita,” ucap Gea setelah mengetahui bahwa Restoran yang dekat dengan kantor di mana ia bekerja sedang buka cabang dan membutuhkan cukup banyak tenaga kerja.
“Selain dekat dengan rumah, gajinya juga lumayan. Kalau Gea mau, sore ini juga Ayah antar kamu kesana!” Ayah Budi terlihat sangat antusias mengantarkan Gea melamar kerja di restoran tersebut.
Gea yang memang sangat membutuhkan pekerjaan dan lokasinya yang terbilang cukup dekat dengan rumah, pada akhirnya mengiyakan dan tanpa pikir panjang saat itu juga Gea membuat lamaran pekerjaan untuk dirinya sendiri.
Melihat suami dan putri mereka begitu antusias, Ibu Sri hanya bisa tersenyum lebar dan berharap besar pada restoran baru tersebut untuk bisa menjadikan Gea sebagai salah satu tenaga kerja di restoran baru itu.
Tak berselang lama, Gea sampai di restoran baru tersebut dan rupanya sudah ada beberapa pelamar yang datang dengan membawa berkas-berkas untuk menjadi salah satu bagian dari restoran tersebut.
Gea tiba-tiba menjadi pesimis karena ia merasa bahwa dirinya tidaklah menarik. Meski begitu, Sang Ayah terus mendukung Gea dan menyemangati Gea akan tetap tenang dalam situasi apapun.
Tibalah dimana Gea mendapatkan giliran untuk masuk ke sebuah ruangan dan disitulah Gea langsung diwawancarai. Gea mengira bahwa ia hanya perlu memasukan lamaran tanpa harus diwawancarai.
“Selamat Sore!” Wanita berusia 30 tahunan menyapa Gea dan mempersilakan Gea untuk duduk santai dikursi yang telah disediakan.
Gea membalas sapaan tersebut dan perlahan duduk dikursi yang sudah disediakan khusus untuk para pelamar kerja.
“Cerita dengan singkat mengapa kamu ingin bekerja disini dan menjadi bagian dari restoran ini!”
“Alasan saya ingin bekerja disini dan menjadi bagian dari restoran ini adalah karena lokasinya dekat dengan rumah sekaligus saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,” jawab Gea apa adanya.
“Lalu dari mana kamu mendapatkan informasi soal kami yang membutuhkan tenaga kerja?”
“Saya mendapatkan informasi ini dari Ayah saya,” jawab Gea dengan tersenyum.
Tak berselang lama Gea keluar dan menemui Sang Ayah yang sudah menunggunya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Ayah Budi penasaran.
Gea tertunduk lemas dan menjelaskan bahwa ia akan dihubungi keesokan harinya dan Gea sudah lebih dulu berpikir bahwa dirinya tidak diterima.
“Kita langsung pulang saja ya Ayah. Gea rasa selamanya Gea akan menjadi pengangguran,” ucap Gea pesimis.
“Kok bicaranya begitu? Kita tunggu sampai besok ya! Sekarang Ayah mau mengajak Gea berkeliling sekalian cari cemilan,” sahut Ayah Budi yang ingin menghibur putrinya agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.
Keesokan Pagi.
Gea terbangun dari tidurnya setelah mendengar notif pesan yang cukup mengganggu tidurnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka lebar, gadis itu meraih ponselnya dan membaca isi pesan tersebut yang rupanya adalah pesan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Ayah! Ibu!!” Karena terlalu bahagia, Gea sampai berteriak kegirangan.
Ayah Budi dan Ibu Sri seketika itu berlari menghampiri Gea mengira ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada putri mereka.
“Kamu kenapa?” tanya Ayah panik begitu juga dengan Ibu Sri.
Gea menutup mulutnya karena teriakan justru membuat kedua orang tuanya panik dan saat itu juga ia memperlihatkan isi pesan dari restoran yang sebelumnya telah mewawancarai dirinya.
“Alhamdulillah Ya Allah.” Orang tua Gea langsung mengucapkan syukur karena akhirnya Gea bisa mendapatkan pekerjaan dan tak lupa keduanya mengucapkan selamat kepada Gea yang nampak sangat bahagia itu.
“Ayah, Ibu! Gea sepertinya harus bersiap-siap karena mulai hari ini Gea diterima menjadi pelayan di restoran itu dan hari ini adalah hari pertama Gea bekerja!”
Gea sangat antusias dengan pekerjaan barunya dan berharap ini adalah pekerjaan terakhir untuknya. Gea berharap pekerjaannya kali ini sesuai dengan apa yang diinginkannya.
“Gea pergi dulu ya Bu, Assalamu'alaikum!” Gea berangkat kerja diantar oleh Sang Ayah karena Gea ingin hari pertama ia bekerja ada Ayah Budi tercinta yang mengantarkan dirinya.
Sampailah Gea di depan restoran dan Ayah pun pamit pergi ke sekolah untuk mengajar.
Dengan jantung berdetak tak karuan, Gea tersenyum dan melangkah masuk ke dalam restoran.
Rupanya sudah ada beberapa pekerja lainnya yang sudah datang.
Wanita yang sebelumnya mewawancarai para pelamar kerja, meminta mereka yang diterima untuk berbaris rapi dan mulai membagikan seragam untuk mereka.
Wanita yang biasa dipanggil Bu Rika mulai menjelaskan satu-persatu tugas serta tanggung jawab disetiap bagian yang akan mereka ambil.
Kali ini Gea mendapat bagian dapur yaitu bagian menyiapkan alat makan sekaligus memastikan setiap alat makan yang hendak disajikan benar-benar higienis.
“Sekarang pergi ke bagiannya masing-masing!” Perintah Ibu Rika.
Tak berselang lama orang-orang pun datang untuk menikmati masakan di restoran tersebut dan hari itu restoran sedang ada diskon spesial 50% bagi setiap orang yang datang membeli makanan di restoran tersebut.
Tak sampai 5 jam restoran akhirnya tutup karena orang-orang yang berdatangan membludak hingga makanan pun habis lebih awal.
Ibu Rika mengucapkan terima kasih kepada para pekerja restoran dan setiap pekerja mendapat amplop sebagai tanda terima kasih atas kerja kerasnya di hari pertama mereka bekerja.
“Amplop ini bukan dari saya, melainkan dari pemilik restoran ini. Pak Hasan mengucapkan terima kasih kepada kalian dan semoga kerja sama ini terjalin baik sampai akhir.”
Mereka pun dipersilakan untuk pulang karena sudah tidak ada lagi yang disajikan untuk orang-orang dikarenakan semua makanan sudah habis terjual.