Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
Vina mengambil ponsel milik Faris itu, ia melihat- lihat foto di sana. Ada beberapa foto yang semuanya menampilkan seseorang yang dikenalnya. Ia mengernyit heran, di dalam pikirannya sudah muncul berbagai pertanyaan.
“Ngapain, Kak?” tanya Faris.
Hampir saja Vina melempar ponsel itu, Faris mengikuti arah pandang kakak perempuannya itu. Spontan bocah itu merebut ponsel di tangan Vina.
“Ngapain lo buka- buka HP gue?!”
“Lo kenal Fena?” tanya Vina tidak mengindahkan pertanyaan Faris yang nyolot.
Faris mengernyit, “Jadi tuh cewek namanya Fena?”
“Lo kenal?”
“Gue nggak kenal dia.”
“Kenapa lo punya foto dia? Jujur sama gue, Dek!”
“Gue nggak kenal dia! Mantan lo yang kenal sama dia, tanya aja ke dia!” bentak Faris dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Vina terdiam mendengark bentakan Faris tadi, baru kali ini Faris ekstra nge- gas. Faris terlihat benar- benar marah, tapi mengapa? Itulah yang Vina bingungkan. Lalu kenapa lagi- lagi Dafa dan Fena?
...🐈🐈🐈...
Pagi- pagi buta, Dafa sudah sampai di rumah Eky. Cowok itu berniat jogging bersama dengan Eky. Eky sudah siap di teras rumah dengan celana trainingnya dan kaos warna hijau ngejreng, membuat Dafa sedikit malu jika mengajak Eky berkeliling komplek.
“Vina belum bangun?” tanya Dafa melirik ke dalam rumah.
“Tadi bangun subuhan, terus tidur lagi. Harusnya lo udah hafal,” jawab Eky berlari meninggalkan Dafa.
Dafa menghembuskan nafasnya dan ikut berlari mengekori Eky. Eky jogging dengan semangat, apalagi banyak cewek- cewek komplek sebayanya yang juga lari pagi. Cowok itu sesekali tebar pesona. Sementara Dafa menggelengkan kepala, merasa malu sendiri. Padahal bukan dirinya yang sok- sok tebar pesona.
“Selamat pagi Kak Roro,” sapa Eky dengan senyum terbaiknya.
Cewek bernama Roro itu menoleh dan membalas senyum Eky, “Pagi Eky, tumben lari pagi.”
Roro adalah salah satu tetangga Eky, rumahnya berjarak dua rumah. Roro seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri, jurusan akuntansi.
“Iya, Kak. Mau lari bareng?”
“Aku lari sama pacarku, duluan ya?”
Senyum Eky luntur seketika, ia menatap nanar punggung Roro yang berlari menjauh bersama seorang pemuda tampan. Dafa tertawa ngakak melihat Eky di tolak.
Setelah mengelilingi komplek, dua cowok itu beristirahat di taman yang sudah ramai dengan para penjual. Eky menselonjorkan kakinya, sementara Dafa menjadi pesuruh cowok tak berakhlak itu. Dafa sedang mengantre di depan penjual sate. Dalam hati sebenarnya cowok itu banyak mengumpati Eky.
‘Untung calon kakak ipar lo,’ batin Dafa melirik kea rah Eky yang asyik tebar pesona.
“Ini, Dek. Semuanya 30 ribu,” ucap penjual sate membuyarkan lamunan Dafa.
“Oh iya, ini uangnya.”
Dafa kembali ke tempat Eky dengan membawa dua porsi sate ayam dengan lontong, asap masih mengepul dan bau harum bumbu kacang membuat perut Eky keroncongan.
“Sekolah lo kapan ngadain piknik?” tanya Eky dengan mulut penuh lontong.
“Study tour?”
“Iye lah sejenis itu, kapan perginya?”
“Bulan depan kayaknya, tau sih gue juga lupa.”
“Ke mana?”
“Bali katanya.”
“Wih mantep, dulu gue cuma ke Jogja.”
“Udah emang nasib lo kalo itu.”
Sate dan lontong di piring dua cowok itu sudah berpindah ke dalam perut mereka, kini keduanya memutuskan untuk pulang. Dafa mampir ke rumah Eky terlebih dulu untuk mengambil motornya. Dafa menghentikan langkahnya melihat ada Vina sedang menyiram tanaman di depan rumah, ditemani Faris yang asyik mengobrol bersama Oren.
“Tumben udah bangun, Dek,” ucap Eky.
“Gue udah bangun daritadi.”
“Tukang selingkuh dateng, Ren,” celetuk Faris kepada si Oren.
“Siapa?” tanya Eky mengernyitkan dahi.
Faris menujuk Dafa dengan dagunya, tentu hal itu membuat semua yang di sana serempak mengernyitkan dahinya. Termasuk Dafa yang dituduh selingkuh.
“Foto yang lo liat itu gue ambil pas Kak Vina masih pacaran sama Kak Dafa,” jelas Faris memutar bola matanya, karena mereka tidak paham.
Kini pandangan Vina tertuju pada Dafa, ia menaikkan sebelah alisnya. Mencium aka nada bau peperangan, Eky segera membawa Faris beserta Oren masuk.
Setelah kepergian dua makhluk tadi, masih terjadi keheningan antara Vina dan Dafa. Vina menatap Dafa meminta penjelasan tentang apa yang tadi Faris ucapkan. Sementara Dafa juga merasa kebingungan, ia tidak paham apa yang tadi Faris bicarakan. Dirinya selingkuh? Kapan? Lalu foto apa yang dimaksud bocah SMP itu?
Vina menghembuskan nafas kesalnya, “Lo dulu pernah pergi sama Fena? Pas kita masih pacaran.”
Dafa mengernyitkan dahi mencoba mengingat- ingat, kejadian itu sudah sangat lama. Memang Dafa akui pernah pergi bersama Fena ketika ia masih berstatus pacar Vina, tapi itu hanya untuk membuat tugas kelompok.
“Kayak si Faris salah paham, Vin. Gue nggak pernah selingkuh. Gue memang pernah pergi sama Fena, tapi cuma buat tugas kelompok.”
Vina memicingkan matanya menatap Dafa, mencari kebohongan di wajah tampan cowok itu. Lalu gadis itu membuang nafas.
“Hmm, toh itu udah masa lalu. Kita sekarang cuma teman, kan? Terserah lo juga mau deket sama siapa pun,” ucap Vina tak acuh.
Gadis itu melanjutkan aktivitasnya menyiram tanaman, sementara Dafa masih menatap Vina. Entah mengapa cowok itu merasa kesal saat Vina mengucapkan bahwa dirinya kini boleh dekat siapa pun.
“Sebenernya dulu pernah merasa lelah sama hubungan kita. Lo mau tau kenapa kita putus, kan? Itu alasan gue mutusin lo,” tukas Dafa tajam, “Sampein Eky, gue balik,” lanjutnya.
Dafa melirik Vina dari kaca spion, gadis itu masih mematung diam di sana. Cowok itu mencengkeram stang motornya dengan kuat. Ia segera menggas motornya manjauh dari rumah Vina.
Sesampainya di rumah, Dafa langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Bu Ririn yang melihat putranya itu mengernyit heran. Raut wajah cowok itu mengatakan jika sedang tidak dalam keadaan yang baik.
“Loh kok cepet, Fa? Nggak main dulu sama Vina?” tanya Bu Ririn yang sedang membaca majalahnya.
“Nggak, Ma. Lagian kita udah putus buat apa sering- sering ketemu,” jawab Dafa dingin.
“Kamu ada masalah? Kalian berdua berantem ya?”
Dafa diam tidak menjawab pertanyaan sang mama, cowok itu menutup wajahnya dengan lengan kanannya.
“Kamu belum cerita ke Mama lho, kenapa kalian putus? Vina ada salah sama kamu?” tanya Bu Ririn masih mencoba bersabar dengan putranya ini.
“Maaf, Ma. Dafa masih belum siap cerita ke Mama,” jawab Dafa dan bangkit dari duduknya, cowok itu masuk ke dalam kamarnya.
Bu Ririn hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dafa yang sangat mirip dengan sang suami jika sedang ngambek.
“Dasar bapak sama anak nggak ada bedanya. Ini juga, bapaknya nggak pulang- pulang. Awas aja kalo kecantol pramugari seksi,” geram Bu Ririn meremas majalahnya.
“Siapa yang kecantol pramugari, Ma?” tanya sebuah suara.
Bu Ririn menoleh dan mendapati sang suami berdiri tidak jauh darinya, masih memakai seragam pilotnya. Terlihat sangat gagah juga berwibawa. Bu Ririn segera menghambur ke pelukan sang suami.
Sementara itu Dafa mengurung diri di dalam kamar, ia tidak tau bahwa sang Papa sudah pulang ke rumah. Cowok remaja itu tengah galau. Ia merasa perkataan yang ia lontarkan untuk Vina sangat menyakiti gadis itu. Dafa sangat sadar jika belakangan ini ia terlalu sering menyakiti Vina dengan kata- kata pedas nan tajam itu.
Dafa benar- benar egosi, ia baru merasakannya sekarang. Ia benar- benar menyesal telah melepas Vina dan membuat gadis itu menangis. Cowok itu memejamkan matanya, kembali teringat momen- momen manis bersama Vina dulu. Sudut matanya mulai berair.
...🐈🐈🐈...
Hai ini Kak Roro ya... 🤗🤗🤗
Dan jangan lupa mampir ke cerita Mbaknya Hana, beri dukungan untuk Mbaknya Hana 👇👇👇👇👇
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah