Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Satu tapi Dua
Papa Fandy masih belum bisa terima dengan perbuatan Ahimsa . Beliau bahkan tidak mau melihat wajah Ahimsa ketika calon menantunya itu mengulurkan tangannya. Hanya Mama Eliza yang sudah bersikap normal meskipun tadi sempat pingsan. Shock karena pengakuan Ahimsa atau beliau miris melihat suami tercintanya yang mendadak menjadi jagoan karena memukul Ahimsa. Sepertinya alasan yang kedua.
" Sabar ya.., om masih marah. Nanti juga hilang..",
" Iya tante.., Himsa ngerti.."
" Makasih ya Aa' udah jadi pembohong hari ini. Kamu seharusnya kerja sama dulu sama tante, jadi tante bisa bantu kamu..",
Seketika senyum Ahimsa mengembang mendengar tante Eliza yang mendukung keputusannya untuk menipu seluruh anggota keluarga.
" Tante harap, ini kebohongan kamu kalian yang terakhir kalinya. Tante nggak mau ada surat perjanjian lagi, kalian harus nikah beneran..,"
" Iya tante.., Himsa janji..",
" Ya udah, tante sama Om pulang dulu ya..",
" Iya tante, hati-hati..",
Sevim melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya. Kakek memang melarang Sevim untuk pulang, kata beliau ada hal yang harus dibicarakan.
" Ngomong apa aja sama tante Eliza? Kok serius gt? Kamu sampe senyum-senyum, ada apa Aa'.."
" Mami kepo ya..?",
" Jelas lah.., heh.., emangnya kalian ngelakuinnya dimana? Perasaan kalian nggak pernah pulang malam..",
" Emangnya kalo ngelakuin itu harus malam hari Mi? Pagi, siang, atau sore..kan juga bisa..",
" Mami tanya..kamu ngapai-ngapain Sevim dimana? "
" Di hotel lah..",
" Hotel mana?"
" Ada deh.., kepo banget sih Mi..",
" Hotelnya temen kamu? Siapa namanya..., hmmm Rendra?"
" Iya..",
" Yang ada dimana?"
" Udah deh Mi.., nggak usah kepo gitu.., yang penting kan Himsa jadi nikah sama Sevim. Tuh, si Abang akhirnya bakalan jadi mantu Mami.., biar Hyana nggak mewek-mewek lagi kayak kemarin..",
" Sttttt,, ngomongnya jangan kenceng-kenceng..Papi sama Kakek nanti bisa denger.."
" Iya.., Himsa sama Sevim ke ruang kerja kakek dulu ya Mi.., udah ditunggu kakek.., yuk Se.."
" Sevim permisi dulu ya tan.."
" Iya sayang..",ucap Mami Anin, dengan membelai rambut panjang calon menantunya.
Ahimsa tahu jika calon istrinya sedang gelisah. Berkali-kali Sevim menghela nafasnya panjang ketika berjalan menuju ruang kerja kakek.
" Kenapa?"
" Takut Aa'.."
" Nggak usah takut, ada Aa'.., masuk yuk..",
Benar, kakek sudah menunggu kehadiran Ahimsa di ruangannya. Layaknya interview, Sevim dan Ahimsa duduk di depan meja kerja kakek.
" Kalian berdua, duduk.."
" Terima kasih kek..", ucap Sevim sopan.
" Kalian tau, kakek panggil kesini , karena apa?"
Sevim menggeleng pelan.Sedang Ahimsa menaikkan bahunya.
" Kakek masih nggak percaya sama pengakuan Himsa.."
" Kakek harus percaya.."
" Nggak..kamu itu penipu.., Vim.., kakek tanya sekali lagi.., Himsa bener udah ngelakuin itu sama kamu?"
Sevim hanya mengangguk. Dia benar-benar ketakutan jika usahanya kali ini akan gagal.
" Him..him.., malu-maluin aja.., kapan kalian ngelakuinnya..?"
Kekepoan Mami Anin, ternyata menurun dari kakeknya. Pertanyaannya bahkan sama dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada Ahimsa tadi.
" Kek.., udah nggak penting. Kakek nggak usah tanya sejauh itu sama Sevim kek, kasian.., dia pasti malu. Ahimsa disini yang salah..",
" Kakek mencoba untuk percaya. Meskipun, kakek nggak yakin, Sevim bisa ketipu sama buaya kayak kamu.."
" Wajarlah kek, perempuan kan lubang buaya..",
Sevim yang mendengar ucapan Ahimsa barusan mendadak menjadi kesal. Dia menginjak kaki calon suaminya dengan menggunakan heels yang dipakainya.
" Aww....", Himsa menoleh ke arah Sevim, namun langsung dibalas dengan raut muka Sevim yang terlihat garang.
" Nggak keberatan kan kalo kakek tes Sevim?",
" Tes kek?"tanya Sevim.
" Apa lagi sih kek?"
" Untuk membuktikan kalo pengakuan kalian itu benar. Kakek nggak mau ketipu lagi sama kalian..",
" Oke.., Himsa sama Sevim setuju tes. Kapan Kek?",
Tok tok tok..
Seseorang mengetuk pintu, dan masuklah salah satu pengawal kakek dengan membawa sebuah ponsel milik beliau.
" Maaf pak, ada telepon penting..",
Kakek langsung berdiri, menyambar ponselnya, lalu keluar dari ruangannya.
Sevim, langsung bersuara ketika kakek sudah benar-benar hilang.
" Aa'.., Sevim kan masih virgin.., kalo dites pasti udah langsung ketahuan..",
" Iya..Aa' tahu..",
" Mau ketahuan lagi?"
" Nggak, kamu tenang aja. Nggak masalah di tes, makanya Aa' tadi tanya sama kakek, mau ditesnya kapan?",
" Terus.., Sevim harus gimana kalo ketahuan?",
" Nggak bakalan ketahuan, percaya sama Aa'.."
" Udah pasti ketahuan dong.., kita nggak jadi nikah.."
" Kamu takut nggak jadi nikah sama Aa', atau takut kalo nikah sama bang Harsa?",tanya Himsa serius.
" Dua-duanya Aa'..belum lagi orang tua Sevim, kalo sampe Sevim dioper ke bang Harsa lagi, gimana perasaan mereka?"
" Udah, tenang aja. Nggak bakal ketauan, Kita pasti nikah.."
" Tapi tes itu..",
" Kita ngelakuin itu beneran, kalo emang kakek mau tes kamu..nggak bakal ketauan dan sudah pasti tes itu akan menunjukkan kalo kamu udah nggak virgin lagi..",
" Hah..?"
" Kamu nurut sama Aa' lagi ya..",
" Tapi Aa'..",
" Aa' rela dipukul sama om Fandy tadi. Udah bikin pengakuan memalukan kayak tadi, kamu pasti malu banget kan? Usaha Aa'.., udah sejauh itu, kamu masih mau nggak nerusin rencana kita? Keputusan ada dikamu Se....denger Aa..cepat atau lambat, kita juga ngelakuin itu. Inget kan? Kakek minta cicit dari kita? ",
Sevim mengangguk mengerti. Sepertinya dia menyetujui ide gila Ahimsa untuk kedua kalinya.
Sevim dan Ahimsa langsung diam kembali ketika mendengar tanda-tanda jika kakek masuk kembali.
" Kakek memberikan syarat sama kamu lagi Him..",
" Apa kek?"
" Kakek nggak akan langsung menyerahkan jabatan presdir ke kamu..",
" Lalu?"
" Kakek akan memberikan semuanya sama kamu, bukan setelah punya satu anak, tapi kalo kalian udah punya dua anak..",
" Du...dua kek?", ulang Sevim .
" Iya Vim, setelah kamu melahirkan anak kedua. Kakek nggak akan menuntut anak kalian harus laki-laki. Mau perempuan, mau laki-laki kakek akan terima. Tapi, Kakek tetap akan tes DNA.., untuk memastikan kalo itu anak kalian..",
" Oke kek..Himsa setuju.."
Jika Ahimsa terdengar antusias, tidak dengan Sevim. Dia langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Dari syarat satu, menjadi dua. Kakek maruk.
" Kakek jadi tes Sevim? Ayo kek, kapan? Kita siap..",tanya Ahimsa lagi.
" Kakek batalin..,kalo kalian bikin surat agreement kayak kemarin, jangan harap kakek akan mengampuni kalian berdua. Pernikahan itu bukan main-main.."
" Iya kek..",
"Vim.., kenapa kamu diem aja dari tadi? Himsa ngancem kamu? Himsa paksa kamu menikah sama dia?",
" Nggak kek, Sevim cuma capek aja.."
" Kalian boleh keluar..",
Sevim keluar dari ruangan kakek dengan langkah gontai. Seperti apa pernikahannya bersama Ahimsa nanti kalau mereka menjalaninya tanpa cinta? Kalaupun ingin berpisah, tapi harus menunggu sampai dia melahirkan dua anak.
Perlu berapa lama? Satu , dua , tiga, empat , lima tahun? Arggggghhhhh ," batinnya dalam hati.
Sevim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Mimpi apa dia semalam, hingga mendapati kenyataan seperti ini.
" Mau langsung pulang, apa disini dulu?"
" Pulang aja Aa'.."
" Dianter sopir ya? "
" Nggak mau nganter Sevim?",
" Bukan gitu.., pasti nggak dibolehin sama Mami..",
" Ya udah.., Tante sama Om dimana? Sevim mau pamit..",
" Se..",
" Hmmm..",
" Tau kan syarat yang dikasih kakek buat kita? "
" Buat Aa'.., bukan buat Sevim..",
" Aa..nggak bakal lepasin kamu, meskipun kamu udah kasih Aa' dua anak..",
" Aa mau Sevim tersiksa seumur hidup, gitu?"
" Aa'.., bakal ngebahagian kamu..",
" Meskipun tanpa cinta?"
" Cinta tumbuh karena terbiasa",
Saat ini aja, Aa'.. udah mulai cinta sama kamu. (*nyatain dong)
" Percuma, kalo masih ada cinta yang lain di hati Aa'..",
" Rosy lagi?"
" Iyalah.. siapa lagi.."
Aa', masih berstatus sebagai pacar Rosy, untuk melindungi kamu Se. Suatu saat kalo Aa' udah bisa bongkar kebohongan dia, pasti Aa' langsung mutusin dia. Kamu sabar ya? Tunggu Aa'...
" Aa'..bakalan jadi suami yang tanggung jawab. Kamu tenang aja..soal Rosy, itu urusan gampang..",
" Enak ya.., kalo bosen sama Sevim, larinya nanti ke Rosy..",
" Nggak Se.., percaya sama Aa'.., udah ya nggak usah bahas Rosy lagi. Mami nggak suka denger nama dia..
" Iya..iya..",
"Kamu masih mau jadi desainer?
Sevim mengangguk. Impiannya memang belum dia kubur, masih berharap suatu saat nanti akan terwujud.
" Aa' nggak ngelarang, asalkan kamu masih jadi istri Aa'.., nggak perlu jauh-jauh pergi belajar ke London, disini juga bisa. Aa' bakal wujudin apa yang jadi keinginan kamu.."
" Beneran Aa'?"
" Iya..",
" Makasih Aa..", ucapnya langsung berhambur memeluk Ahimsa dengan kencang. Namun, hanya sesaat , dia melepas pelukannya setelah sadar apa yang dilakukannya.
" Loh.., kenapa di lepas?Aa' masih pengen dipeluk sama kamu..",
"Nanti setelah jadi suami istri nggak cuma dipeluk doang kok..", ucapnya menggoda Ahimsa. Sevim langsung masuk ke dalam ruang keluarga sebelum Ahimsa benar-benar tergoda olehnya.
Sevim berpamitan kepada kedua calon mertuanya. Lengkap, dengan calon adik ipar serta mantan calon suaminya.
" Sevim, pulang ya tante..",
" Diapain sama kakek tadi di dalam?"
" Cuma ngobrol aja tan..",
" Oh.., pulangnya dianter sama sopir aja ya sayang , jangan sama Aa'..,",
" Iya tan, Sevim ngerti.., Sevim pamit ya , Om..",
" Hati-hati Vim..",
" Iya om..Bang, Sevim pulang ya..",
" Hati-hati.."
" Kak.., Na anter ya..", pinta Hyana.
" Sama sopir aja Na.., ini udah malam..",
" Maksud Na.., sama sopir Mi... Tapi Na ikut..",
" Oh.., ayo boleh..", ucap Sevim.
Ahimsa berjalan mengekor dibelakang kedua perempuan kesayangannya. Yang cerewet dan banyak omong adalah adik satu-satunya. Yang diam cenderung galak, adalah perempuan yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupnya.
" Kamu mau ngerencanain apalagi?"
" Apa sih Aa'..Na kan pengen nganter kak Sevim aja, pengen ngobrol..."
" Awas aja aneh-aneh..",
"Nggak kok Aa'.."
" Sevim pamit dulu ya Aa'.."
" Kabari ya nanti kalo udah sampe rumah..",
Cup..
Ahimsa mencium kening Sevim sebelum calon istrinya itu masuk ke dalam mobil.
" Dih.., Aa' pikir Na apa? Boneka? Main ciam cium di depan orang..",
" Berisik.., udah sana masuk. Calon istri Aa' harus utuh sampai rumah. Lecet dikit aja, Aa' bikin perhitungan sama kamu.."
" Emangnya Na mau apain kak Sevim sih? Mana berani Na macem-macem.., udah ah. Bye..."
Hyana sebenarnya canggung berada di situasi seperti ini. Namun, dia juga harus membiasakan diri, karena sebentar lagi Sevim akan menjadi kakak iparnya. Hyana canggung , karena sempat sinis dan cemburu kepada Sevim yang dekat dengan Harsa kekasihnya. Namun, kecurigaannya ternyata salah, karena Sevim bukan perempuan centil yang selama ini dia pikirkan.
" Kak.., makasih ya udah ngelepasin bang Harsa.."
" Iya..sama-sama.., bang Harsa masih marah sama kamu?"
" Masih, tapi nggak apa-apa. Nanti Na bujuk kak. Oh ya.., Kak Sevim beneran udah....hmmmm...anu...sama Aa' Himsa?"
Cuma Mama kamu aja yang tau kebohongan kita. Kalau nggak karena Aa' yang nggak tega liat Mama kamu terpukul, Aa' nggak bakalan kasih tau. Lebih sedikit orang yang tau rahasia kita, lebih baik. Tahan sebentar rasa malu kamu, yang penting kita jadi nikah.
Sevim mengingat pesan Ahimsa untuknya. Terpaksa, dia juga harus berbohong kepada Hyana.
" Bener Na.."
" Bener ya, hehehe..",
" Na.., kamu kan tinggal di KL, Bang Harsa juga sering nemenin kamu. Kakak tanya, tapi kamu jangan tersinggung ya? Kamu belum pernah ngapa-ngapain sama Bang Harsa kan?"
" Na? Macem-macem? Nggak lah kak, semenjak Mami tau Na pacaran sama abang, Mami over protect sama Na.., tidur aja ditemenin sama Maid disana...",
" Syukur deh, jangan marah ya kalo kakak tanya gitu.."
" Nggak kok.., kok lama diruangan kakek kak? Ada apa lagi?"
" Nggak apa-apa.., kakek minta dua anak dari kak Sevim. Baru Aa' Himsa bisa jadi presdir..",
" Wah.., jadi nggak sabar deh liat anak-anak kak Sevim sama Aa' nanti. Pasti ganteng sama cantik deh..",ucapnya dengan bertepuk tangan
" He.. ", Sevim tersenyum kecut mendengar adik Ahimsa yang malah kegirangan.
" Na bentar lagi juga lulus kuliah. Nanti Na bantu ngasuh kak, tenang aja.."
Satu aja belum , udah minta dua. Sepertinya , nanti harus kerja keras sama Aa'. Huh..😌
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl