⚠TAHAP REVISI
DIVANO ALKA FERANGGA. Atau kerap di sapa Vano, adalah badboy sekaligus most wanted boy.
Vano itu tengil dan humoris. Ketampanan dan kekayaan Vano membuat hampir semua siswi-siswi di SMA Trisakti menyukainya, bahkan ada yang terang terangan bilang cinta kepada Vano. Tapi semua itu Vano hiraukan.
Hanya satu yang selalu cuek dan nampak tidak peduli oleh semua yang berkaitan dengan Divano. Dia adalah...
KAYLA ALESYA RATU.
Tolong bantu like, vote, komen, rate, dan follow....😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Sabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 23
Vano menjalankan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tempat tujuannya adalah rumahnya, rumah papa dan mamanya. Rasa kecewa terhadap Kayla terus saja menghantui pikirannya.
'Apa gue emang seburuk itu di mata lo, Kay? Gue akhir-akhir ini juga udah mulai berubah kok. Gue jarang bolos, ngerokok, walaupun kadang telat. Itu semenjak gue kenal lo Kayla... Tapi emang kalo sampah ya sampah. Nggak berharga dan malah ngerusak pemandangan. Nggak mungkin tiba-tiba jadi berlian yang harganya mahal dan banyak di cari'
Tin.. tin..
Vano menelakson dan berhenti di depan rumahnya dengan gerbang yang tertutup rapat. Pak Slamet, satpam rumah Vano segera membukakan gerbang. Ia tersenyum melihat Vano.
"Eh deh Vano, udah pulang den?" tanya pak Slamet sekedar basa-basi.
"Iya pak." Jawab Vano. Kemudian Vano menjalankan motornya kembali, masuk kedalam halaman rumah dan memberhentikan motornya di bagasi.
Vano turun dari motor. Tanpa senyum dan salam Vano langsung masuk kedalam rumahnya, dan berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Ia tidak melihat Mamanya atau Papanya. Entah dimana, Vano tidak perduli.
Vano mengunci pintu kamarnya, menaruh tas besarnya, dan langsung berbaring di atas kasur. Otaknya terus saja mengingat kejadian dimana Kayla malah membela Kenan di banding dirinya, membuat rahangnya mnegeras untuk beberapa saat.
"Tapi setelah di pikir-pikir, emang betul. Gue kan bukan siapa-siapanya Kayla. Tapi dia juga harusnya nggak bersikap gitu banget dong sama gue!" kata Vano bermonolog, "secara gue seminggu lebih udah jagain dia yang di tinggal bonyoknya. O iya... Kalo gue di sini entar di bilang cowok nggak bertanggung jawab lagih sama bonyoknya Kayla. Terus gimana dong? Apa gue balik lagi?"
Lama memikirkannya tanpa sadar itu membuat Vano mengantuk, dan tertidur.
•••
Alvan mengumpat dalam hati melihat papanya yang terlihat sangat dekat dengan adik tirinya yang bernama Reno. Tangan Alvan terkepal kuat.
'Enak banget si Reno. Punya orang tua kandung lengkap. Giliran gue aja, hidupnya gini! Kenapa takdir gue begini? Gue nggak mau! Gue benci sama hidup gue! Gue benci sama mereka yang tertawa di atas penderitaan gue!!"
'Bertahun-tahun gue mencoba sabar. Ternyata ini kenyataannya. Dan dengan gampangnya anda bilang maaf? Ngomong sih enak! Gue yang ngerasain di sini! Sendirian, selalu cemburu ngeliat temen di antar jemput sama ortu waktu dulu SD. Sedangkan gue nggak pernah! Kalian itu nganggep gue apa anj*ng!!'
Alvan tidak bisa membendungnya lagi. Air matanya menetes mengingat masa lalunya.
Saat ini Alvan berada di kamarnya. Ia mengintip papanya yang tengah bermain dengan Reno di taman yang bisa di lihat dari jendela kamar Alvan.
'Gue nggak terima... Mama juga kenapa pergi ninggalin gue? Jahat! Kalian jahat sama gue!!'
Alvan menonjok tembok kamarnya keras, bahkan ia tidak merasa apapun saat tangannya tertekan kasar dengan tembok yang keras itu. Hatinya sangat sakit melihatnya. Ia cemburu, marah, dan tidak terima dengan kehidupannya.
Ternyata, dulu saat Alvan masih menginjak di bangku SD. Kedua orang tuanya bercerai tanpa sepengetahuannya. Mereka bersandiwara seolah-olah pekerjaan mereka sangatlah sibuk. Memang mereka sibuk, tapi tidak mungkinkan jika sampai tidak pulang berbulan bulan hanya karena pekerjaan kantor dalam kota? Dan papanya menikah lagi dengan perempuan bernama Sena, mereka mempunyai anak bernama Reno yang sekarang kelas 2 SD.
Dan Alvan baru mengetahuinya sekarang? Setelah ia kelas 2 SMA, itu berarti sudah 10 tahun lamanya kedua orang tuanya berbohong kepadanya. Jago sekali mereka berbohong...
Alvan mengambil hodie berwarna hitamnya, dan topi berwarma hitamnya, kemudian Alvan memakainya.
Alvan mengambil kunci motor, dompet, dan ponselnya, setelah itu ia langsung pergi.
•••
Alvan
No, kita ketemu di kafe biasa. Gue mau curhat. Sekarang nggak pake lama
Begitulah isi pesan yang Vano lihat dari ponselnya. Baru bangun tidur karena mendengar suara nontifikasi, dan ia di suruh pergi sekarang?
Demi apapun Vano masih mengantuk sekarang. Vano beranjak berdiri, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat suntuk itu.
17.00
Vano dan Alvan kini berada di sebuah kafe dengan makanan dan minuman di depannya.
"Kenapa?" tanya Vano to the poin.
"Gue pengen kabur dari rumah," jawab Alvan yang membuat mata Vano langsung melotot sebentar.
"Kalo lo mau kabur dari rumah, terus lo mau kabur kemana? Lo belum kerja Alvan. Dan harusnya lo mikirin itu dulu lah!" ujar Vano sedikit kesal.
Alvan mengangguk pelan. "Iya juga sih. Tapi gue udah muak, No. Setiap hari gue selalu liat mereka ketawa haha hihi di depan gue, sedangkan gue nggak di ajak. Mereka tertawa di atas penderitaan gue. Bayangin aja, sepuluh tahun lo di bohongin sama orang tua lo. Menurut lo gimana rasanya? Marah kan? Kesel kan?" Vano mengangguk-nganggukan kepalanya ia setuju dengan perkataan Alvan.
"Tapi lo harus sabar, Van. Semuanya butuh proses. Tunggu lo lulus kuliah, setelah lo dapet pekerjaan lo baru boleh langsung pergi dari rumah itu. Dan gue nggak ngizinin kalo lo pergi sekarang!"
Alvan berdecak kesal. "Iya-iya. Tapi gue suntuk di rumah Vanooo,"
"Lo bisa kok pergi ke rumah gue, ke rumah Naqa, atau ke rumah Rafa, biar lo nggak suntuk. Lo setiap hari emang harus main sih sama gue, Alvan, dan Naqa,"
"Emang kenapa?"
"Biar lo nggak emosi dan merasa sendirian di rumah lo,"
"Rumah bonyok gue," ralat Alvan.
"Iya itu lah pokoknya," balas Vano. Kemudian Vano minum.
"Thank you, bro. Lo yang terbaik," ujar Alvan dengan senyumnya.
Vano membalas senyum Alvan. "Iyalah yang terbaik. Vano gitu lho!"
'Untuk sebentar gue ngelupain masalah Kayla. Tapi di ganti dengan masalahnya Alvan. Sekarang masalahnya Alvan udah selesai. Tinggal masalahnya Kayla. Apa gue curhat sama Alvan aja ya? Hm perlu di coba nih. Iya deh'
"Em, Van." Panggi Vano.
"Iya, kenapa?" jawab Alvan.
"Gue lagi galau nih" ujar Vano dengan ekpresi sedihnya.
"Tentang?"
"Tentang Kayla. Tadi gue sempet marah kan, eh bukan marah tapi gue sempet ngusir Kenan. Ya emang sih tempatnya di rumah Kayla. Dan gue bukan siapa-siapanya Kayla tapi..."
"Stop!" Vano menaikan satu alisnya bingung.
"Lo ngomong jangan muter-muter elah. Gue bingung nj*r. Poin-poinnya aja yang lo ceritain. Tadi lo bilang tempatnya di rumah Kayla kan kejadian itu?"
Vano mengangguk. "Oke iya, gue ambil poin-poinnya. Gue kan masuk ke rumah Kayla, gue liat tuh Kenan lagi sama Kayla. Gue bilang sama si kenan 'udah sore, sana pulang!' Gue kan bener, Van. Orang udah sore tu orang masih aja berduaan sama Kayla. Gue kesel lah!"
'Kayaknya Vano beneran suka sama Kayla'
"Terus?"
"Terus si Kayla malah marahin gue, dia ngebela Kenan, Van. Dia bilang, 'Elo tuh bukan siapa-siapa gue! Jangan sok deh' gitu kata Kayla, Van. Ya gue marah lah, gue balik aja ke rumah bonyok gue." Setelah itu tawa Alvan meledak.
"Hahahaha yah kasian nggak di belain," Vano menatap Alvan dengan pandangan tak suka.
'Nyesel gue cerita sama Alvan'
"Ah udahlah gue balik," Vano beranjak berdiri, hendak berjalan pergi. Tapi sebelum itu Alvan mencekal pergelangan tangan Vano.
"Apun mas, jangan pegang-pegang, saya masih perawan" kata Vano dramatis. Udah gelo lo, No...
Alvan langsung berdiri dan menjitak kepala Vano, membuat tangan Vano terulur dengan sendirinya mengusap jidatnya yang menjadi korban oleh Alvan. "Yee dasar. Gue ogah juga perawanin lo!"
"Heh, lo lupa? Gue cowok lho!"
Alvan terkekeh bodoh. "Oh iya ya. Yaudah lah balik aja. Ngapain lama-lama di sini. Bye Vano!" Alvan berjalan pergi.
Sedang kan Vano. "Lah, kan gue yang tadi mau pergi duluan. Ck, yaudah lah bye!" Vano pun ikut pergi dari Kafe itu.
Like, Komen, dan Vote...
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🔥🔥🔥
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos 🌸🌸🌸
tinggalkan like and comment ya 🙏🙏