Saling mencintai, namun restu tak menyertai. Tetap memaksakan untuk menjalankan pernikahan tanpa restu. Namun ternyata restu masih di atas segalanya dalam sebuah pernikahan.
Entah apa yang akan terjadi lada pernikahan Axel dan Reni, ketika mereka harus menjalani pernikahan tanpa restu. Apa mungkin restu itu akan di dapatkan suatu saat nanti. Atau bahkan perpisahan yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada Solusi Terbaiknya!
Suara bell membuat kedua insan yang masih terlelap dengan saling berpelukan itu, terpaksa harus membuka mata mereka yang masih mengantuk. Kegiatan semalam telah membuat mereka begitu kelelahan, apalagi mereka tidur terlalu larut semalam.
"Jam berapa Sayang? Kenapa sudah ada orang yang datang" ucap Axel dengan matanya yang masih terpejam.
Reni mencoba beranjak dari bantal, dia menatap jam dinding. Memang masih terlalu pagi untuk seseorang berkunjung.
"Sudah bangun dulu saja, Sayang. Kita lihat siapa yang datang" ucap Reni.
Akhirnya Axel menurut saja, dia pun ikut terbangun. Mereka kembali menggunakan pakaian mereka. Mencuci muka sekilas, dan langsung keluar kamar karena bell yang terus berbunyi. Sepertinya orang yang datang tidak sabar sekali.
Ketika Reni membuka pintu, Papa langsung masuk dengan mendorong tubuh Reni sampai gadis itu hampir saja terjatuh jika suaminya tidak berada di belakangnya.
"PA!" teriak Axel yang begitu terkejut dengan kedatangan Papanya dan apa yang dia lakukan pada istrinya.
"Kalian masih berani untuk tinggal bersama seperti ini. Axel! Kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang. Ceraikan istrimu sekarang juga!"
"PA!" teriak Axel dengan penuh amarah, tidak menyangka kalimat perceraian akan keluar dari mulut Ayahnya ini.
Derry langsung menarik tangan Reni untuk keluar dari ruangan ini. Dia tahu jika gadis ini tidak akan terlalu kuat untuk berdiri disana dan mendengarkan semua perkataan Pak Ketua yang pastinya akan sangat menyakiti hatinya.
"Tuan, kita mau kemana? Bagaimana dengan suamiku" ucap Reni yang cukup kaget dengan Derry yang tiba-tiba menarik tangannya keluar dari rumah.
"Suami anda akan bisa mengatasi semuanya. Sekarang ikut saja denganku"
Reni hanya mengikuti langkah kaki Derry, sampai mereka masuk ke dalam lift.
Kembali ke dalam Apartemen, suasana masih tegang. Kemarahan yang terlihat jelas dari wajah keduanya. Ayah dan anak ini sedang bersiteru tegang.
"Kau harus segera menceraikan istrimu! Karena yang harus menikah denganmu hanya Avinna!" tekan Papa.
"TIDAK!" suara Axel tidak kalah tegasnya. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan istriku. Karena aku sangat mencintainya!"
Haha.. Papa tertawa hambar, dia menatap tajam anaknya. "Cinta? Hidup tidak akan bahagia jika hanya dengan cinta. Sampai kapan kau akan menyiksa istrimu dalam keadaan seperti ini? Dia juga pasti akan merasa lelah dengan semuanya. Jadi, sebaiknya kau lepaskan saja"
Tangan Axel langsung mengepal erat, tidak suka dengan ucapan Ayahnya itu. "Aku tidak akan melepaskannya! Apa Papa tidak dengar ucapanku itu"
Papa menghembuskan nafas kasar, dia mulai tidak bisa menahan diri lagi. "Kau tetap harus menikahi Avinna. Apapun yang terjadi, kau tidak akan bisa membatalkan pernikahan ini. Karena jika kau berani saja membatalkan pernikahan dengan Avinna, maka kau akan sangat menyesal, karena entah apa yang akan terjadi pada istrimu!"
Wajah Axel berubah cemas sekarang. Dia tahu jika Papanya tidak pernah bermain-main dengan ancaman yang dia berikan.
"Baik, aku akan tetap menikahinya!"
*
Sekarang Reni sedang berada di taman yang tak jauh dari Apartemennya itu. Mendengarkan semua cerita Derry tentang awal mula perjodohan ini dimulai. Semuanya hanya atas kesepakatan kedua orang tua dan bisnis mereka. Namun sadar jika suaminya juga pasti tidak akan bisa membantah apapun sekarang ini.
"Jadi apapun yang diusahakan, suamiku juga tidak akan bisa membatalkan tentang perjodohan ini?" ucap Reni dengan tatapan kosong saat ini.
Derry menghembuskan nafas pelan, sebenarnya dia juga tidak tega mengatakan semua ini pada gadis lemah seperti Reni. Tapi dia juga berhak tahu atas semua yang terjadi pada keluarga suaminya.
"Aku juga tidak bisa memastikan kedepannya akan seperti apa. Mungkin saja akan ada sebuah solusi terbaik untuk kalian. Tapi sekarang, sebaiknya anda mengalah saja dulu. Karena yang ditakutkan dia bisa saja melukai orang-orang di sekitarmu yang anda sayangi"
Reni memejamkan mata dengan menghembuskan nafas pelan. Ternyata memang semuanya tidak akan semudah yang di bayangkan. Solusi terbaiknya? Tidak! Tidak ada solusi terbaik untuk masalah mereka ini.
"Menurut Tuan, apa aku harus memilih pisah saja?"
Derry menggeleng pelan, dia menatap Reni yang masih memejamkan matanya. "Saya rasa Tuan Muda juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Anda lebih tahu bagaimana kerasnya dia"
Reni tersenyum tipis, namun matanya terlihat berkaca-kaca. "Ya, dia memang begitu mencintaiku. Dia selalu marah ketika aku ingin menyerah dengan keadaan ini. Tapi jika situasi sudah serumit ini, mungkin aku punya cara lain untuk membuatnya setuju dengan keputusan ini"
Derry sedikit bingung, dia mengerutkan keningnya mendengar ucapan Reni barusan. "Anda tetap bisa bersama Tuan Muda, hanya saja anda harus siap ketika Tuan Muda memang harus tetap menikahi Nona Avinna. Anda akan tetap menjadi orang pertama dan yang dicintai oleh Tuan Muda"
Reni tersenyum tipis, lalu dai menoleh dan menatap Derry yang berdiri disampingnya yang duduk di sebuah bangku taman. "Apa ada istri yang mau dan rela di madu?"
Pertanyaan yang tidak bisa Derry jawab. Sebenarnya dia juga mengerti perasaan Reni sekarang. Dia hanya seorang istri yang harus banyak berkorban atas semua ini. Pernikahannya yang terjadi tanpa restu, membuat semuanya menjadi melukai hatinya.
"Sudahlah aku harus kembali sekarang" ucap Reni yang langsung beranjak dari duduknya itu.
Derry langsung mengejarnya, masih tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Reni saat ini. Dari semua kalimat yang terucap, jelas sekali mengandung arti yang serius. Namun Derry tidak bisa memahaminya.
"Nona, anda tidak akan meninggalkan Tuan Muda 'kan? Anda tahu sendiri jika dia akan sangat hancur jika anda benar-benar meninggalkannya" ucap Derry.
Reni hanya tersenyum tipis, dia tidak menjawabnya.
Ketika mereka sudah sampai di depan Gedung Apartemen ini. Papa sudah berada di Lobby, Reni mengangguk sopan padanya. Meski diabaikan oleh Papa.
Dia langsung masuk ke dalam lift dan kembali ke rumah untuk melihat keadaan suaminya sekarang. Mungkin dia sudah dipenuhi amarah sekarang. Dugaan Reni dalam hati.
Dan ketika dia sudah sampai di rumahnya. Dia melihat suaminya yang sedang duduk bersandar di atas sofa dengan mata terpejam. Jelas sekali dia terlihat stres sekarang ini. Reni berjalan menghampirinya, duduk disampingnya.
Reni mengelus lembut pipi suaminya, sampai membuat Axel yang awalnya tidak menyadari keberadaan Reni langsung membuka matanya dan menoleh padanya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Reni.
Axel tidak menjawab, dia malah langsung memeluk istrinya. Saat ini yang dia butuhkan adalah dukungan dari sang istri dan juga pelukannya yang selalu membuatnya tenang di tengah segala pikiran yang kacau. Keduanya hanya berpelukan untuk beberapa saat. Menenangkan pikiran masing-masing.
Bersambung
Ngak ada extrapart gitu kak 😁😁😁
lanjut kak semangat 💪💪💪