Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai
Likha masih terlihat begitu mengarapkan seseorang menghubunginya.
Dan menatap layar pipih yang ia genggam.
Ingin rasanya benda itu ia lempar.
Namun di urungkanya.
Dia memasuki kamarnya dan mencoba menelpon kekasihnya sekali lagi.
Namun masih sama,tak ada jawaban.
Akhirnya ia pun membaringkan tubuhnya dia atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
"kemana sih " tak terasa buliran bening jatuh dari matanya.
Dia begitu kesal dengan Irfan yang tak mengangkat teleponya.
"Besok harus kasih aku penjelasan" dia berbicara sendiri dan menaruh telepon genggamnya di samping bantalnya.
Dan mencoba memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi.
Ia pun kini sudah tertidur.
***
Irfan yang baru pulang dari acaranya. Dan berada di kamarnya ,dengan memijat pelan tengkuk lehernya yang terasa pegal.
"Pegel banget" decahnya.
Dia ingin meletakan telepon genggamnya , namun saat matanya terkesiap saat melihat layar pipihnya tersebut.
"Likha" di melihat dua puluh panggilan tak terjawab dari kekasihnya.
Ia lupa jika telepon genggamnya dalam mode silent.
Dan melihat pesan singkat dari Likha sekitar 30 pesan singkat.
Yang menanyakan kabar dirinya.
Dan ia pun mencoba menghubungi kekasihnya.
Namun sayang tak ada jawaban dari sebrang sana.
"mungkin sudah tidur" batin Irfan lalu meletakan handphonenya di atas nakas di samping ranjang tidurnya.
Ia pun membaringkan tubuhnya dan terlelep.
***
Hari ini adalah jadwal dimana Likha dan Irfan berbeda shif.
Likha yang memasuki shif sore dan Irfan shif pagi.
"nik kamu shif apa?" Likha bertanya pada Enik yang sedang menguyah sarapan.
"Liburrrr" dengan girang Enik menjawab namun matanya menatap Bagas yang di sampingnya.
Bagas pun tersenyum dan mengerti maksud Enik.
Hubungan Enik dan Bagas semakin hari semakin mesra.
Layaknya pengantin baru, yang tak kenal kata lelah dan tak tau tempat.
Likha pun memutar bola matanya.
Dia tau drama yang akan di lakukan kakak sepupunya dan sahabatnya itu.
Tanpa malu, mereka akan bermesraan di depan Likha.
Likha yang mulai terlihat kesal pun, meninggalkan mereka di meja makan menuju ruang TV.
Likha menatap layar pipihnya, hanya satu panggilan tak terjawab dari kekasihnya.
Dan tak ada pesan atau membalas chatnya yang begitu banyak ia kirimkan kepada Irfan.
Dia menatap sebal di layar pipihnya tersebut.
"Liatin ajah'' decahnya, dan meletakan handphone di sampingnya.
Matanya kini tertuju pada layar TV dia sibuk mencari yang menurutnya menarik.
Dan Ia pun menetapkan tontonanya pada drama Ku Menangis .
***
"Irfan" Irfan yang mendengar namanya di sebut pun menghentikan langkahnya.
"Lo may " Irfan melanjutkan langkahnya kembali, saat maya sudah berada di sampingnya.
Dengan nafas yang masih naik turun, Maya berusaha menetralkan nafasnya.
"Fan"
"eem" jawab Irfan tanpa menghentikan langkahnya yang terlihat santai.
"lo cinta nggak sih sama Likha" seketika Irfan menghentikan langkahnya, dan menatap Maya dengan serius, Irfan tak menyangka, Maya bertanya yang tak seharusnya ia memberi tahu pun dia sudah tau.
Jika dirinya mencintai Likha, Irfan menggelengkan kepalanya mengganggap konyol pertanyaan sahabatnya itu.
Lalu ia melajutkan langkahnya kembali.
"Gue serius" dengan menarik lengan Irfan, agar Irfan mendengarkanya saat ia berbicara.
"May, tanpa gue kasih tau pun loe tau kalo gue tuh sayang dan cinta sama Likha" dengan menangkup kedua bahu Maya dan menatapnya penuh dengan keseriusan.
"Tapi gue emang gini, gue bukan cowok romantis" Irfan melepaskan tanganya dari bahu Maya, dan melangkahkan kakinya kembali.
"Terus perlakuan loe sama Hani kok masih gitu fan ?" dengan mensejajarkan langkahnya agar tak tertinggal dari Irfan
"Ya loe kaya nggak tau dia ajah" Irfan dengan entengnya menjawab.
Perlakuan Hani yang lakukan di cafe bukanlah yang pertama.
Bagi Irfan itu adalah sebuah kewajaran, dalam hubungan persahabatan.
Apalagi dia dan Hani sudah bersahabat sejak lama.
"Emang kalo Likha tau nggak apa-apa ?" Maya terlihat cemas dengan sikap Irfan.
"memang kenapa ? toh dia nggak tau kalo gue, loe sama Hani sahabatan jadi nggak bakalan tau lah dia" dengan menoyor kepala Maya sekilas dan mulai memasuki restoran.
Maya yang melihat perlakuan Irfan pun hanya berdecah kesal namun ada kebahagian sedikit di hatinya.
***
Enik yang tengah siap-siap, akan pergi ke kantor Bagas, untuk memberinya surprise dan makan siang bersama.
Dia melihat ke arah jam ding-ding yang berada di kamar Bagas, menunjukan pukul sebelas siang.
Enik mengguratkan senyum di bibirnya.
"sebaiknya berangkat sekarang" dengan penuh ke gembiraan ia keluar dari kamar Bagas.
"Kemana ?" Likha yang juga baru saja keluar dari kamarnya menatap Enik heran.
"ke kantor mas Bagas" dengan masih tersenyum menatap Likha.
"mau ngapain ?" tanya Likha dan medekat ke Enik.
"mau makan siang berdua sekalian mau buat kejutan" di akhiri tawa ringan yang keluar dari mulut Enik.
Likha yang melihat sahabatnya penuh dengan kegemberiaan pun ikut tersenyum melihat Enik.
"Ya sudah hati-hati" Enik pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan melambaikan tanganya pada Likha.
Dan masih membiarkan senyum terpapang di wajahnya, menandakan ia sangat bahagia hari ini.
Tak terasa perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu pun terbayar.
Enik tengah berdiri di depan pintu masuk kantor Bagas dan bertanya pada security.
"Pak maaf, ruangan Pak Bagas dimana ya pak ?" satpam pun menunjukan arah ruangan Bagas yang berada di lantai tujuh.
"Terimakasih" Enik mengakhiri percakapan dengan satpam itu dan memasuki gendung kantor Bagas dan menuju lift.
Lift pun berhenti, namun bukan di lantai tujuh, Enik melihat tombol yang berada di dekat pintu lift menunjukan ia berada di lantai tiga gedung tersebut.
Ia tiba-tiba terkesiap melihat orang di yang akan masuk di dalam lift.
Dan membuatnya terasa sakit di dalam sana.
Tatapanya enggan ia indahkan, ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.
Dengan memegang dadanya dan menutup mulutnya ia menggelengkan kepalanya.
Ia masih tak percaya dengan yang ia lihat.
,
.
.
Hallo guys jangan lupa Like vote dan komen.
Maaf ya guys baru bisa up minggu lalu aku baru operasi.
Dan saat ini aku dalam masa pemulihan dan harus mondar mandir RS.
Terimakasih untuk pengertianya.