#2 My Daddy
Damian Xe Axelle Defron, bangsawan tampan yang mengalami kecelakaan hebat yang membuat matanya buta sebelah kanannya. sebenarnya ia bisa membuat matanya melihat kembali tapi ia harus melakukan sesuatu sebelum membuat matanya kembali normal.
Kelly De Savillion, gadis cinta pertamanya. Kini ia menemukan gadisnya di waktu yang tepat namun dengan matanya yang cacat.
"Gadis kecil, kita bertemu lagi. apa kau merindukan ku?" ujar Damian.
"Dami?"
"Yes, i am,"
Namun kali ini pertemuan mereka menghadapi situasi yang sangat sulit. seorang pria yang terobsesi dengan Kelly salah satu musuh Damian dan juga merupakan bangsawan ternama Calvin Molive Defron, memiliki marga yang sama dengan Damian karena mereka masih memiliki hubungan darah. sangat terobsesi gila dengan Kelly, gadis manis milik keluarga Xander dan Xavellion.
"Oh Damn! You touched something you shouldn't, you bastard!" Damian murka
Calvin menyeringai. "Why not? I'm crazy about that woman."
"She's mine dammit!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sofy adisty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
Damian menatap Kelly yang tengah tertidur sambil menyenderkan kepalanya di bahu nya, ia tersenyum tipis lalu mengelus kepala Kelly perlahan.
"Jadi, apa rencana mu?" tanya Dalton yang sedang duduk di hadapan Damian dengan di sampingnya ada Revana yang ikut menatap penasaran.
"Bagaimana pergerakan Calvin?" tanya Damian.
Dalton membuka tablet miliknya dan menunjukkan nya pada Damian. "Dia ada di rumah kakek mu, beberapa hari terakhir ini tidak ada pergerakan mencurigakan," ucapnya.
"Justru itu yang paling mencurigakan," gumam Damian kecil, perasaannya tidak enak untuk saat ini. Damian menghela nafas gusar.
"Berhenti disini!" perintah Damian membuat Dalton bingung.
"Ada apa?" tanya Dalton heran.
"Bukannya kau sudah menyadari sesuatu lebih dulu dari pada aku?" tanya Damian dengan kesal.
Dalton hanya tertawa kecil. "Kau menyadarinya ya, aku kira kau hanya sibuk menatap wanitamu seperti kau hidup di dalamnya," sindir nya sambil mengintip kaca spion mobil terlihat beberapa mobil van hitam tampak mengikuti di belakang.
Damian memutar bola matanya dengan malas. Revana ikut bertanya, "Ada apa?" tanyanya.
Dalton menarik tangan Revana untuk keluar dari mobil, sebelum itu Dalton memakaikan syal dan topi milik Kelly.
"Mirip tapi terlihat lebih seksi," ucap Dalton saat melihat belahan dada Revana terlihat di depan matanya.
Bugh'
Dalton meringis saat kepalanya di hantam Revana dengan tas hitam di tangannya. Damian mengusap wajahnya frustasi.
"Cepat pergi sebelum aku menendang bokongmu Dalton!" ancam Damian membuat tubuh Kelly tersentak.
Kelly mengusap matanya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara parau.
Damian mengecup pipi Kelly. "Tidak ada, apa kau merasa tidak nyaman?" tanyanya.
Kelly menggelengkan kepalanya. "Tidak apa apa," ucapnya.
Dalton langsung keluar menarik tangan Revana keluar dari mobil. "Mereka kemana?" tanya Kelly heran.
Damian hanya menggelengkan kepalanya singkat. "Kita sebentar lagi akan sampai, jadi aku minta mereka berdua untuk pergi secara terpisah," balasnya.
Kelly hanya mengangguk paham. Damian menggenggam tangan Kelly dengan erat.
"Jangan berada jauh dari ku," ucap Damian.
"Promise me?"
∆∆∆
Mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan, Kelly mengedarkan pandangannya pada bangunan megah di depannya.
Damian menggandeng tangan Kelly, ia menepuk punggung tangan Kelly dengan perlahan untuk membuat Kelly nyaman.
"Ayo," ucap Damian.
"Apa Papa dan Ayah menyusul kesini?" tanya Kelly.
Damian menganggukan kepalanya. "Mereka menyusul dan akan datang tepat waktu saat acara berlangsung," ucapnya.
Kelly menggandeng tangan Damian. Mereka akhirnya masuk ke dalam bangunan megah di depannya.
"Akhirnya cucuku datang," celetuk seseorang dari arah tangga.
Kelly menatap bingung, pria paruh baya dengan tongkat kayu di tangannya, ia berjalan mendekati mereka berdua.
Damian tersenyum tipis melihat Kelly. "Ini kakek ku, Kevan," ucapnya.
Kelly mengulurkan tangannya. "Halo Mr. defron," ucapnya.
Kevan tertawa kecil melihat gadis di depannya yang terlihat canggung. "Santai saja dengan ku gadis kecil," ucapnya sambil membalas uluran tangan Kelly. "Kau Kelly bukan?" tanyanya.
Kelly menganggukkan kepalanya. "Iya, aku Kelly ehm—" Kelly menatap ragu kearah Kevan.
"Panggil aku kakek sayang," Kevan tersenyum hangat.
Kelly menatap Damian, pria itu mengangguk sambil mengusap rambut Kelly. "Kakek," ucap Kelly sambil malu malu.
Kevan hanya tertawa sambil menepuk pundak Damian. "Kau pintar mencari kekasih nak," ucapnya.
Damian mendengus. "Tentu saja," balasnya kesal.
Kevan hanya menggelengkan kepalanya. "Kamar mu sudah di bersihkan, ingat untuk datang tepat waktu nanti malam," ucapnya. Kevan beralih menatap Kelly sambil tersenyum. "Kau akan sekamar dengan gadis manis ini, ingat pesan ku. Jangan melakukan hal apapun sebelum kau menikahi gadis ini," sambungnya membuat wajah Kelly memerah sedangkan Damian hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Aku sudah tau dengan itu," balas Damian malas.
Kevan hanya tertawa kecil lalu menepuk bahu Damian. "Kakek pergi dulu. Sampai jumpa lagi cucu menantuku," ucapnya.
Kelly hanya tersenyum malu. Kevan pun berlalu pergi. Damian menggandeng tangan Kelly. "Ayo kita istirahat dulu sambil menunggu orang tua mu datang," ucapnya.
Kelly menatap ragu. "Satu, kamar?" tanyanya sambil menggaruk pipinya.
Damian terkekeh kecil, ia mengecup pipi Kelly. "Tentu saja. Kita satu kamar sayang," ucapnya.
◇◇◇
Xander menatap jam di tangannya, ia hanya mendengus sambil menoleh kearah luar jendela mobil.
"Aku tau kau sedang kesal," ucap Xavellion.
Xander berdecih. "Kalau kau sudah tau jangan bertanya lagi!" balasnya ketus.
Xavellion menggelengkan kepalanya, sebenarnya yang benar benar ayah kandung Kelly Xander atau dirinya? Terkadang Xander bisa lebih overprotective jika bersangkutan dengan Kelly.
"Dalton sedang bersama Revana, mengelabui orang yang sudah mengikuti Kelly dan Damian," ucap Xavellion.
"Aku tau," balas Xander ketus. Rasanya ia ingin menembak kepala Damian, si bocah tengik itu.
Xavellion hanya bisa menghela nafas saja melihat tingkat Xander yang seperti induk ayam yang kehilangan anaknya.
"Kau sudah persiapkan semuanya?" tanya Xander. Kali ini ia menatap Xavellion dengan serius.
Xavellion mengangguk mantap. Xander mengusap dagunya sambil berpikir. "Aku akan bergerak dengan helikopter. Kau tetap di mobil. Kita sampai disana dari arah berbeda," ucapnya.
Xavellion mengerutkan keningnya bingung. "Ada apa?" tanyanya heran.
Xander memandang keluar jendela mobil. "Aku memiliki firasat kalau helikopter akan berguna disana nanti," ucapnya dengan yakin.
Xander memerintahkan supir untuk menepikan mobilnya. Ia menatap Xavellion dengan serius. "Ingat Xavellion, kita disana bukan untuk berpesta tapi menghabisi Calvin. Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa memenggal kepala bocah itu dengan tanganku sendiri," ucapnya sambil menatap bengis. Ia pun keluar dari mobil tersebut dan menelfon bawahannya. Mobil pun berjalan pergi meninggalkan Xander disana.
Xavellion menghela nafas, ia pun menyandarkan kepalanya di kursi mobil lalu memejamkan matanya sejenak.
"Kelly, putriku. Ayah tidak akan membiarkan iblis itu kembali menyentuh mu sayang. Ayah pastikan, dia akan mati hari ini juga," gumam Xavellion.
Xavellion tertawa kecil memikirkan Xander. "Kau lihat putriku? Papa mu sekarang sudah berubah menjadi Xander yang dulu demi dirimu. Itu juga berlaku untuk ayahmu ini sayang," ucapnya sambil menatap foto Kelly yang berada di galeri ponselnya. "Kau akan menebus dosamu pada putriku sialan," Xavellion menggeram kesal.
"Calvin. Nantikan kematian mu. Berikan kematian mu pada kami bastard!"
...◇◇◇...
...TBC...
masa Damian hanya tau bucin doank
qu pikir bakal langsung perang saudara gitu