Mimpi seorang Hasna adalah sembuh dari penyakit yang dia derita dan karena mimpinya itu membutuhkan banyak uang, Hasna pun pergi ke ibu kota untuk mencari uang disana, walau izin dari sang ayah tidak dia dapatkan.
Mungkin karena berangkat tanpa izin dari sang ayah, Hasna yang berada diibukota telah salah memilih kawan, dan berakhir dengan dia yang malu untuk pulang walau hanya bertemu keluarga apalagi sang Ayah yang dulu bersikeras melarangnya pergi.
Dan Kini Dunia Hasna semakin rumit manakala seseorang yang dia sukai hadir kembali dihidupnya, yang sudah tidak berharap akan mendapatkan pasangan, karena kesalahannya dulu yang membuatnya merasa tidak pantas untuk siapapun terutama Burhans yang begitu baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Diah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Harian
Setelah Hasna pergi Burhan yang masih duduk diteras sendirian, dihampiri calon kakak iparnya, dan sang kakak berkata sambil menyodorkan sebuah buku yang seperti sebuah buku harian seorang gadis remaja "Ini untukmu"
Burhan yang bingung langsung berkata "Ini punya siapa? dan kenapa diberikan padaku?"
"Itu punya Hasna."
"Oh, tapi kenapa mas memberikannya padaku?"
"Agar kamu tidak merasa sakit hati atas segala sikap buruk Hasna sekarang."
Burhan tersenyum karena senang diperdulikan calon kakak iparnya lalu dia berkata "Aku tidak sakit hati mas, aku sudah biasa menghadapi sikap Hasna yang seperti itu."
"Bagus kalau begitu, tapi untuk berjaga-jaga, agar kamu tidak menyerah, sebaiknya kamu baca buku harian ini, bukan apa-apa hanya saja jika kita berjuang sendiri, pasti ada masanya kita jenuh, dan lelah untuk berjuang seorang diri dan menurutku buku Harian ini akan sangat menbantu." dan Burhan setuju dengan ucapan calon kakak iparnya yang mengatakan jika dia pasti akan berada dititik jenuh dan akhirnya Burhan pun menerima buku Harian itu dan akan membacanya nanti.
Burhan yang merasa sudah tidak memiliki urusan lagi dirumah Hasna, langsung pamit pulang, kerumah masa kecilnya dulu, yang berada di kecamatan yang sama dengan Hasna.
Setelah kepergian Burhan, Hasna yang sejak tadi menunggu kepulangan Burhan langsung keluar kamar, saat mendengar motor Burhan pergi meninggalkan rumahnya.
Hasna yang ingin bertanya pada sang Kakak langsung menghampiri sang kakak dan berkata "Kak, apa kamu tahu kenapa dia berada didaerah kita selama seminggu ini? bukan apa-apa setahu aku dia baru akan pulang kenegara kita satu bulan lagi?"
Sang kakak tersenyum saat mendengarkan perkataan Hasna lalu setelah itu dia berkata "Kenapa tidak bertanya pada orangnya langsung"
"Sudah, tapi dia menjawab jika dia bisa ada didaerah kita karena takdir" ucap Hasna kesal.
"Kenapa kamu terlihat kesal, bukankah memang benar yang diucapkan Burhan" balas sang Kakak.
"Iya tapi aku ingin jawaban yang lain" ucap Hasna.
"Baiklah, eh tunggu kenapa kamu tahu jika dia baru akan pulang kenegara kita satu bulan lagi?" ucap Sang Kakak yang baru sadar atas ucapan Hasna tadi.
"Oh, itu karena aku bekerja menjadi pembantu, selama tiga bulan ini dirumahnya."
"Hah, jadi selama ini kamu mengurus rumah dia" kaget sang kakak, tidak menyangka jika selama tiga bulan ini Hasna bekerja dirumah Burhan.
"Iya, tapi selama itu aku tidak pernah bertemu dengannya, karena dia baru akan pulang satu bulan lagi, tapi tidak disangka aku malah bertemu dengannya disini dirumah kita" jelas Hasna.
"Oh seperti itu," ucap Sang Kakak kini mengerti.
"Jadi...?" Hasna
"Dia berada disini karena harus menghadiri undangan dari beberapa sekolah yang mengundangnya sebagai pembicara yang berprofesi sebagai dokter, biasa pengenalan profesi dan kebetulan dia yang diundang karena berasal dari daerah kita dan ibu bidan mamahnya, yang menjadi pelantara dia bisa diundang sebagai pembicara" dan Kata ooooh keluar dari mulut Hasna, walau pertanyaan kenapa Burhan bisa pulang cepat dari luar negri belum terjawab, karena sang kakak juga tidak tahu.
Sementara di tempat yang berbeda dan dijam yang berbeda, Burhan yang akan tidur merasa penasaran dengan isi buku harian Hasna, ean dia pun langsung membuka buku tersebut, selembar demi selembar dan dia tersenyum saat tahu jika isi buku tersebut berisi tentang dirinya semua.
Walau isinya bukan tulisan mengagumi tapi sebuah tulisan yang mencerminkan jika Hasna merasa tidak suka dengan sikap Burhan dari A sampai Z dan hal itu membuat Burhan tersenyum.
Tersenyum karena sikap dia dulu yang cuek membuat perhatian seorang Hasna yang diidolakan banyak temannya, ternyata tertuju padanya.
"Pantas saja tidak satu pun dari mereka yang diterima, ternyata ini alasannya." ucap Burhan yang berpikir, jika alasan teman-temannya dulu ditolak oleh Hasna, lantaran Hasna sudah tertarik padanya dengan sikapnya yang dingin seperti salju yang tidak akan pernah dia sentuh sampai kapan pun.
Burhan terus membaca sampai pada halaman terakhir yang isinya adalalah curhatan Hati Hasna tentang alasan kenapa Hasna harus menjauhi dirinya.
"Jadi ini alasannya" ucap Burhan dan kini dia tersenyum bahagia dan dia siap untuk terus berjuang sampai hati beku Hasna mencair.