Gadis manis itu menghilang begitu saja meninggalkan luka yang cukup dalam untuk seorang sang most wanted. Hingga bertahun-tahun lamanya Darren memendam kebencian pada Dila
Setiap mengingat gadis itu darah Darren mendidih, Darren merasa terbuang, padahal Darren yang digilai para gadis itu memilih Dila, gadis sederhana yang energik. Darren tak ingin bertemu gadis itu lagi
Namun takdir berkata lain, ia malah dipertemukan lagi dengan Dila >>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teringat sakit kembali
Darren mencengkram stir kemudi mobilnya begitu kencang ketika melihat Dila masuk kedalam mobil Adrian. Padahal Darren akan mengantar Dila pulang hari ini, entah kenapa Darren ingin meminta jatahnya sebagai seorang suami malam ini, entah Darren yang mulai kecanduan sekss atau tubuh Dila. Yang jelas Darren membutuhkan kehangatan malam ini apalagi saat ini hujan begitu lebat
" Dila, berani sekali kau!" Gumam Darren lalu melajukan mobilnya mengikuti mobil Adrian
Dalam 45 menit mobil Adrian berhenti didepan gedung Apartement Dila. Darren agak bernafas lega karena Adrian langsung pergi, sejak tadi ia selalu berpikir yang tidak-tidak mengenai keduanya
Didalam Apartement Dila menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah ke sofa. Sambil menatap langit-langit, Dila memikirkan ucapan Darren
" Bagaimana dengan Mama dan Aera." Gumam Dila
Ting
Tong
Ting
Tong
Ting
Tong
" Aku tidak akan membukanya." Gumam Dila, ia begitu yakin yang sekarang menekan bell rumahnya adalah Darren. Tadi ia tak sengaja melihat Darren mengikutinya dan Adrian, pria itu benar-benar bodoh dalam hal menguntit
Benar saja, pria itu kini mengirimi Dila pesan beruntun
Buka pintunya
Dila, buka pintunya
Buka pintunya sekarang
Kau tidak mendengarku
Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak buka pintunya akan kudobrak pintu ini
Dila, kita perlu bicara
Kau akan benar-benar mengabaikanku seperti ini?
Dila menarik nafasnya pelan, Dila benar-benar tak ada tenaga untuk meladeni Darren. Begitu banyak ketakutan yang Dila rasakan, Dila takut Darren hanya memanfaatkan tubuhnya saja, Dila takut jatuh cinta pada Darren dan Dila takut menjadi wanita yang serakah
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Tringgg
Darren membuat berisik apartement itu dengan suara bell dan panggilan telpon membuat Dila kesal dan akhirnya menjawab panggilan dari Darren
" Buka pintunya!" Bentak Darren
Dila hanya diam
" Dila, berani sekali kau mengabaikan suamimu!"
" Dila, buka pintunya. Aku ingin menginap, bukankah bayi kita mau tidur denganku?"
" Tidak, bayinya tidak mau tidur denganmu." Jawab Dila
" Kalau begitu aku yang mau tidur dengan bayiku." Suara itu tampak memohon namun Dila tak gentar
" Pulanglah Darren, aku tidak membutuhkanmu."
" Berani sekali kau mengatakan itu." Dila menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena teriakan Darren
Pria itu sudah seperti orang gila yang teriak-teriak didepan rumah orang lain
" Dila, buka pintunya sekarang. Atau aku akan mendobrak pintu ini."
" Lakukan saja jika kau berani."
" Meratakan bangunan inipun aku berani."
Tak ada jawaban dari Dila, malah Dila mematikan panggilan telpon Darren
" Sial." Gerutu Darren menendang pintu
Cukup lama ia berdiri menunggu Dila membuka pintu sambil terus menekan bell namun sepertinya wanita itu benar-benar sedang tak ingin diganggu Darren. Alhasil Darren memutuskan pulang ke rumahnya
" Dila, berani sekali kau." Gerutu Darren mencengkram stir kemudinya begitu kencang, ia bahkan tak fokus menyetir dan terus memikirkan Dila
Berkali-kali Darren menggelengkan kepala mencoba mengenyahkan pikirannya tentang Dila
" Apa aku salah bicara padanya, jadi dia marah padaku." Gumam Darren
Tak sadar ia sudah sampai didepan rumahnya. Rumah mewah tiga lantai dengan nuansa putih dan abu-abu. Darren segera keluar dari mobilnya, ia masuk kedalam rumah sambil membuka dasi hitam yang masih terpasang dilehernya
" Darren, darimana saja kamu?" Pertanyaan itu menghentikan Darren yang tak sadar, ternyata di ruang tamu banyak orang
" Oh, aku mampir sebentar ke tempat teman." Saut Darren lalu ia mencoba bersikap sopan pada kedua orangtua Natasha. Keduanya tampak senang melihat Darren
" Apa kabar om dan Tante?" Tanya Darren lalu duduk didepan Natasha
" Lihatlah, mereka sudah sangat cocok sekali ada dipelaminan." Ucap ibu Darren memperhatikan Natasha dan Darren yang duduk berdampingan
" Ma, aku bahkan baru tiga bulan dihotel. Masih banyak yang ingin kupelajari."
" Darren, ingat! Kau punya adik perempuan yang usianya tak jauh darimu."
" Aku tidak akan melarang Rein untuk menikah duluan." Saut Darren menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa
" Tidak usah buru-buru tante, aku dan Darren masih ingin saling mengenal lagi." Saut Natasha dengan senyumannya
" Nat, tante hanya ingin segera punya cucu." Saut sang ibu membuat semua orang tertawa kecuali Darren, berbicara mengenai cucu, dalam 7 bulan kedepan ibu Darren akan punya cucu. Darren jadi memikirkan Dila saat ini. Apa yang akan terjadi dengannya bila semua orang tahu, sebejad apa Darren. Darren menggigit bibir bawahnya, apa ia sanggup berkata jujur atau ia memang akan menyembunyikan bayi itu selamanya. Dan apakah Natasha bisa menerima anak Darren dari perempuan lain?
Darren anak yang sangat baik, tidak pernah mabuk, tidak pernah berkelahi. Pria itu fokus pada pendidikannya, ia bahkan bukan seorang pemain wanita. Tapi sejak bertemu Dila, jiwa nakal Darren yang terpendam menjadi-jadi
" Kalau tidak ada yang mau menikah, biar Diego saja yang menikah." Celetuk adik bungsu Darren membuat tawa kembali diruangan itu bahkan Darren sampai melemparnya dengan bantal
" Akan kau beri makan apa anak dan istrimu, kau saja kalau makan masih disuapi mama." Ucap Rein
Darren tersenyum memandangi adik bungsunya itu. Usia Diego yang baru menginjak 18 tahun mengingatkan Darren saat seusia Diego. Bocah itu mirip bahkan bersekolah disekolah Darren dulu
Tapi tiba-tiba senyum Darren memudar, Darren jadi mengingat masa lalu. Kenangan manis dan pahitnya. Darren kembali mengingat rasa sakit ketika Dila meninggalkannya
Kehadiran bayi diantaranya dan Dila membuat Darren lupa dengan kekejaman wanita itu, membuat Darren melunak, membuat Darren mempertimbangkan pernikahannya bersama Dila
" Darren."
" Darren."
Darren tersadar, ia malah melamun sendiri
" Aku mandi sebentar." Ucap Darren lalu bangkit dan naik kelantai meninggalkan semua orang
Ketika sampai dikamarnya, Darren memegang dadanya yang terasa sesak tiba-tiba, lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Dila
"Aku membencimu, detik ini ataupun 10 tahun lalu aku sangat membencimu"