Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 23
Safira mematung di ambang pintu, menatap sosok Bara yang sudah berdiri di depannya dengan stelan jas yang sangat rapih.
"Apa kita ada janji?" tanya Safira ragu ragu. Siapa tau dia lupa kalau mereka sudah buat janji bertemu.
Bara menggeleng, "Tidak."
"Lalu.."
"Aku akan mengantar mu, bersiaplah aku tunggu." Potong Bara cepat.
"Tapi hari ini aku harus kesekolah, aku janji mengantar.."
"Tidak apa, aku akan mengantar mu kesana juga." Potong Bara lagi.
Safira menarik nafas panjang, walau bingung tapi dia tak punya pilihan selain menuruti kemauan Bara. Mengingat pria itu sudah menunggunya bersiap.
Dengan tergesa dia bersiap, lalu kekamar Rifai memberi penjelasan singkat pada bocah itu kenapa mereka harus di antar Bara. Sebelum bocah itu bertanya macam macam pada Bara, lebih baik Safira memberi penjelasan singkat padanya.
Sebab sudah dua hari ini bocah itu bertanya ayahnya. Tapi karena kesibukannya di kota B, Safira lupa menyampaikan pada mantannya kalau Rifai memintanya datang.
"Sudah siap?" tanya Bara begitu Safira keluar dari pintu bersama Rifai.
"Sudah." jawab Safira, sedang Rifai tampak menatap Bara intens.
Melihat itu Bara melangkah kearah bocah itu, lalu mengulurkan tangannya .
"Halo, aku teman ibumu. Kau pasti Rifai kan?" ucap Bara sebagai salam perkenalan. Ekspresi wajahnya yang datar membuat Rifai menatap uluran tangan Bara sejenak, lalu menyambut uluran tangan itu dengan tangan mungilnya. Sementara Safira menatap Bara dengan dahi berkerut. Dari mana dia tau putranya bernama Rifai, mereka tak pernah membahas bocah ini sebelumnya.
"Ayo, nanti kamu terlambat masuk kelas." imbuhnya.
Safira mengikuti langkah Bara dengan perasaan bingung. Lelaki perlente berwajah kaku ini datang ke rumahnya pagi pagi tanpa buat janji, siapa pun orangnya pasti di buat bingung.
Setengah jam kemudian mobil mewah Bara sampai di depan gedung sekolah Rifai. Begitu mobil berhenti Safira dan Rifai bersiap turun. Tak di sangka Bara pun ikut turun dari mobil, kini pria ikut masuk kedalam gerbang sekolah.
"Maaf pak, orang tua hanya boleh mengantar anak nya sampai di depan gerbang sekolah." tegur guru yang bertugas menyambut murid yang baru datang, saat Bara ikut masuk kedalam bersama Rifai.
Safira juga kaget, kenapa Bara malah ikut Rifai masuk.
"Saya tau, tapi saya ada kepentingan dengan kepala sekolah disini. Apa bisa saya bertemu beliau?"
"Oo begitu, boleh pak. Ruang kepala sekolah ada di sebelah kiri."
"Baik terimakasih." ucap Bara dengan sopan. Lalu dia berbalik menatap Safira yang masih bingung menatapnya.
"Kau tunggulah disini, ada yang harus aku selesaikan di dalam sebentar." Pintanya pada Safira. Safira hanya bisa mengangguk bodoh.
Ada kepentingan apa Bara dengan kepala sekolah Rifai? Atau anak Bara satu sekolah dengan anak nya? Tapi pria itu mengaku lajang padanya. Lalu ??
Safira menunggu di luar dengan gelisah, walau bukan urusannya apa yang di lakukan Bara tapi entah mengapa dia kepikiran apa yang di lakukan pria itu.
Setelah Bara keluar dari gerbang sekolah barulah Safira bernafas lega.
"Ada apa? kenapa kau cemas begitu." tanya Bara begitu sampai di depan Safira. Safira menggeleng pelan.
"Gak kok.."
"Benar kah?"
"Hhhmm."
"Baguslah, ayo aku antar kau ke kantor mu. Atau kau mau pergi ketempat lain?"
Safira kembali menggeleng. "Gak ada, kita kekantorku aja." sahutnya.
Ada banyak pertanyaan di kepala Safira, tapi dia memilih diam. Dia berharap lelaki itu sendiri yang memberitahu apa yang dia lakukan sendiri apa yang dia lakukan tadi. Tapi sayang, Bara bungkam sampai mereka sampai di tempat tujuan.
"Turunlah, aku akan menjemputmu pulang kerja nanti. Ada yang ingin aku bicarakan padamu, penting." ujar Bara sebelum Safira turun dari mobil.
"Baiklah." sahut Safira, tak ada pilihan selain mengiyakan ucapan Bara, sebab dia sendiri penasaran dengan tingkah lelaki itu sepanjang pagi ini.
Sepeninggal Bara, Safira merasa tak tenang. Dia bahkan tak henti melihat pergelangan tangannya sepanjang hari berharap waktu cepat berlalu agar dia bisa mendengar penjelasan Bara.
Hingga waktu menunjukkan pukul lima sore bersamaan dengan dering ponselnya, panggilan dari Bara.
"Turunlah, aku sudah di bawah." terdengar suara berat pria itu memberi perintah. Dan anehnya untuk kesekian kalinya Safira menuruti pria itu tanpa protes.
Safira melangkah ragu, mendekati mobil mewah Bara yang tertutup rapat. Begitu Safira sampai, sopir Bara turun membukakan pintu untuk Safira.
Didalam sana terlihat Bara duduk sembari memangku laptop yang menyala.
"Masuklah." pinta Bara tanpa menoleh. Dia terlihat sibuk berkutat dengan laptopnya.
Ragu, tapi akhirnya Safira masuk kedalam mobil dan pintu langsung di tutup oleh sopir Bara.
"Kita kemana pak?" tanya sopir sembari menatap Bara dari kaca spion tengah.
"Cari restauran dekat sini yang biasa aku kunjungi." sahutnya tanpa berpaling dari laptopnya. Setelahnya hanya hening sampai mobil berhenti di sebuah restauran mewah bintang lima.
Menyadari mereka sudah sampai, barulah Bara menutup laptopnya. "Kita makan dulu, aku belum makan dari siang." ujar Bara, yang disambut anggukan halus oleh Safira.
Keduanya turun lalu masuk kedalam, lalu keduanya di pandu oleh waitress menuju ruang vip.
"Bagaimana?" tanya Bara begitu berada di ruang vip.
"Apanya?" Safira balik bertanya.
"Ruangan nya, kalau kau tidak suka kita akan pindah."
"Bagus kok."
"Baiklah, kalau begitu kami pakai ruang yang ini." ujar Bara pada waitress yang berdiri di sampingnya.
Setelah mereka memesan beberapa hidangan waitress itu pun keluar dari ruangan itu, kini tinggal mereka berdua disana.
Suasana mendadak sepi, keduanya tak ada yang bicara. Walau banyak yang ingin di sampaikan Safira tapi dia memilih menunggu Bara memulainya.
"Tanyakan lah, apa yang ingin kau tanyakan sedari tadi." ucap Bara membuka percakapan.
Safira menatap Bara yang juga sedang menatap kearahnya. "Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi aku bingung mulai dari mana." ujar Safira jujur.
"Tentang aku yang menjemputmu tanpa janji?" tanya Bara dengan ekspresi datar.
Safira mengangguk. "Salah satunya iya."
"Mulai besok aku akan menjemputmu dan Rifai setiap hari."
"Hahh? Kenapa?"
"Demi keselamatanmu dan Rifai."
"Aku gak paham deh, memangnya kami kenapa?"
"Orang orang kakekku sedang mengincar nyawa mu dan Rifai."
"Mengincar nyawaku, memangnya kenapa? Aku bahkan tidak mengenal kakek tuan."
"Tapi dia mengenal mu."
"Bagaimana bisa?"
"Bisa, karena kau calon istriku." sahut Bara dengan suara dalam.
Safira terdiam seketika, apa dia tidak salah dengar? kalimat Bara barusan membuatnya linglung sesaat.
Dia bilang calon istri? Memangnya kapan mereka pacaran? Jangankan pacaran bertemu juga baru beberapa kali, itu pun secara kebetulan.
"Hhh, tuan pandai bercanda rupanya."
"Aku tidak sedang bercanda Safira."
"Apa?!"
.
bersambung