Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23
Cindy duduk termenung diteras depan rumah seorang diri. Ketika sedang melamunkan nasib dirinya dimasa mendatang, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk.
Karena penasaran Cindy segera membuka nomor baru tersebut yang isinya adalah kalimat bahwa si pengirim pesan tengah merindukan dirinya.
Cindy, aku saat ini sangat merindukanmu. (Isi Pesan Si Pengirim)
Tak ingin ambil pusing, Cindy segera memblokir nomor tak dikenal tersebut dan kembali melanjutkan lamunannya yang sempat tertunda.
Lamunan Cindy lagi-lagi terganggu dan kali ini adalah sebuah panggilan dari Sang Ibu.
“Hallo, Ibu. Tidak biasanya Ibu menghubungi Cindy,” ucap Cindy.
Tanpa berbasa-basi, Ibu Julia meminta Cindy untuk segera kembali ke rumah karena Sang Ayah sakit. Cindy yang panik langsung menutup telepon dan berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa barang penting yang harus dibawanya.
“Cindy, kenapa kelihatan panik begitu?” tanya Mama Ratih menghentikan langkah kaki Cindy.
“Mama, Cindy harus pulang sekarang. Ayah sakit dirumah, baru saja Ibu memberitahu Cindy,” jawab Cindy.
“Pergilah dan ajak suamimu untuk pergi kesana!”
Sebenarnya Cindy sangat malas jika harus mengajak suaminya untuk ikut. Namun, ia tidak mungkin membiarkan suaminya untuk tidak ikut.
Cindy pun permisi dan kembali berlari kecil menuju kamarnya.
“Ayah sakit di rumah, Paman mau ikut atau tidak?” tanya Cindy ketus.
“kalau bicara dengan suaminya jangan ketus begitu, bicaralah dengan lemah lembut,” sahut David yang baru saja selesai mandi dengan handuk yang masih terlilit sempurna dipinggang.
Dengan rambut yang masih basah, perut sixpack yang begitu sempurna. David bergerak cepat untuk bisa memeluk Cindy.
“Paman ini bukan saatnya bagi Paman untuk mesum seperti ini. Cepat berpakaian dan antar Cindy pulang ke rumah,” ucap Cindy secara tegas.
David langsung mundur menjauh seraya tersenyum puas melihat raut wajah Cindy yang sangat tegang.
“Santai saja, Paman tadi hanya bercanda. Tidak perlu dipikir serius,” pungkas David dengan tenang.
Cindy berbalik membelakangi David untuk memberikan waktu bagi David mengenakan pakaiannya.
“Sudah selesai, bagaimana penampilanku?” tanya David yang sudah selesai.
Cindy tak langsung berbalik badan, ia yakin kalau David sengaja ingin membuatnya melihat betapa indahnya tubuh seorang David Wijaya.
“Paman pikir Cindy akan percaya begitu saja?” tanya Cindy yang memilih memasukkan beberapa pakaian miliknya daripada harus berbalik memandangi tubuh sempurna suaminya.
Bohong jika Cindy tidak tergoda dengan tubuh David. Namun, sebisa mungkin Cindy terlihat cuek bebek didekat suaminya itu.
“Paman, Cindy sudah lama tidak bekerja. Apa boleh Cindy mengambil beberapa pekerjaan untuk mengisi waktu dikala jenuh?” tanya Cindy yang tidak ingin asal mengambil pekerjaan tanpa seizin David.
“Untuk apa bekerja? Dengan uangku kamu bisa membeli apapun yang kamu mau,” balas David yang tak setuju jika Cindy bekerja.
“Paman lebih tahu kalau Cindy selama ini tidak pernah menggunakan uang pemberian Paman lebih dari 500 ribu dalam sebulan,” terang Cindy yang sudah selesai mengemas barang penting miliknya dan beberapa pakaian.
“Salah satu bawahanku memiliki usaha butik didekat sini. Bagaimana jika kamu melamar di sana?” tanya David barangkali Cindy mau bekerja di butik yang letaknya tidak jauh dari rumah.
David berharap istrinya tertarik untuk bekerja di butik tersebut. Selain jaraknya dekat dari rumah, David juga bisa mengawasi istrinya.
Bukan apa-apa, beberapa hari yang lalu David sempat melihat Dimas mantan kekasih istrinya di depan rumah orang tua Cindy. Yang artinya, Dimas masih berusaha untuk mendekati Sang istri.
“Cindy belum ada kepikiran untuk bekerja di butik yang Paman maksud. Lebih baik kita berangkat sekarang, Cindy khawatir sakit Ayah semakin parah,” pungkas Cindy.
Cindy menarik koper miliknya menuju teras depan rumah, sementara David mengikuti langkah kaki Sang istri dari belakang.
“Paman tidak bawa pakaian ganti?” tanya Cindy menyadari bahwa David tidak membawa perlengkapan menginap.
“Kamu lupa ya? Aku masih ada beberapa setel pakaian dirumahmu,” jawab David santai.
“Oh,” balas Cindy dengan wajah datar.
***
Cindy meletakkan kopernya begitu saja di ruang keluarga, kemudian berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Rupanya Sang Ayah tengah berbaring dengan 8 jahitan di kening.
“Ibu, Ayah kenapa? Kenapa bisa ada jahitan di kening Ayah?” tanya Cindy yang sudah berlinang air mata.
“Ayah baik-baik saja, kamu tidak perlu menangis seperti itu. Wajahmu jadi makin jelek,” jawab Ayah Rianto yang sudah jauh lebih baik.
“Ayah kenapa? Kenapa tidak pergi ke rumah sakit saja? Semua biaya rumah sakit akan aku tanggung,” tutur David.
“Tidak perlu ke rumah sakit, kemarin sudah ditangani dengan baik dan sekarang Ayah hanya harus banyak istirahat,” pungkas Ayah Rianto.
“Ayah kenapa bisa begini?” tanya Cindy mendesak agar Ayah Rianto menceritakan sebab dari luka di kening tersebut.
“Bukan apa-apa, ini semua karena kesalahan Ayah. Kemarin Ayah kurang hati-hati ketika menyebrang jalan, makanya hal ini terjadi.”
“Lain kali Ayah lebih berhati-hati lagi. Bagaimana kalau Ayah tidak usah bekerja dan tiap bulannya David yang akan memberikan uang agar Ayah dan Ibu tidak perlu bekerja lagi,” ucap David yang sangat siap membiayai semua kehidupan mertuanya.
Ayah dan Ibu dengan tegas menolak niat baik David. Bagi mereka, selama mereka masih mampu bekerja maka mereka akan terus bekerja bila perlu sampai Tuhan memanggil.