Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deru Besi di Batas Horizon
Peluit panjang masinis melengking membelah kabut pagi yang menggantung malas di atas peron Stasiun Kota Tua. Suaranya yang melengking tinggi bergaung di antara pilar-pilar besi penyangga atap berarsitektur kolonial, terdengar laksana jeritan buras yang menandai titik pisah sebuah takdir. Kereta eksekutif Argo Lawu fajar itu berdiri megah, sebongkah ular besi raksasa berbalut warna biru tua dan putih, napas mesin dieselnya berderu konstan, menggetarkan kerikil-kerikil tajam di sela bantalan rel semen.
Dika melangkah menyusuri peron dengan mantel wol panjang berwarna hitam—sebuah jubah fana yang ia beli kemarin sore di pasar loak premium menggunakan lembaran uang kompensasi Johan. Kerah mantelnya sengaja ditegakkan, separuh menyembunyikan rahangnya yang tegas dan tirus. Di bawah siraman cahaya fajar yang masih ranum, postur tubuh Dika tampak begitu anggun, melangkah dengan ritme yang lambat dan penuh perhitungan laksana seorang kaisar buangan yang sedang meniti jalan pulang menuju singgasananya.
Namun, di balik lapisan wol tebal itu, realitas yang terjadi di dalam tubuh Dika tidak seindah estetika visualnya.
“Aduuuh, mak! Ini mantel kenapa berat banget sih?! Kulit pundak gue berasa kayak dipajang batu bata!” ratap sebuah suara di balik batok kepalanya, menjerit pilu menembus batas kesadaran monokrom. “Mana ini stasiun tangganya tinggi-tinggi banget lagi. Setiap gue ngangkat kaki kanan buat naik tangga gerbong, otot pinggang belakang gue langsung berasa ketarik kayak karet kolor melar! Tenang Dika, jaga wibawa. Di sebelah lo ada rombongan mbak-mbak kantoran yang dari tadi ngeliatin lo sambil bisik-bisik. Jangan sampai lo mendadak nungging sambil megangin tulang ekor di depan mereka!”
Lina yang berjalan setengah langkah di belakang Dika hanya bisa menutup mulutnya dengan manifes tiket kereta. Kebocoran energi takdir yang masih terjalin di antara mereka membuat telinga batin gadis itu dipenuhi oleh ratapan histeris sang mantan dewa yang begitu kontras dengan tatapan matanya yang sedingin es kutub.
"Jalan lo kurang natural, Yang Mulia," bisik Lina menyenggol pinggang Dika dengan tas ransel kanvasnya yang baru. "Kaku banget kayak robot kekurangan pelumas. Kalau mantel itu bikin lo encok, mending lepas aja, pake kaos biru lo yang robek kemarin."
"Fisik fana ini hanya sedang menyesuaikan diri dengan gravitasi bumi yang pekat, Lina," jawab Dika dingin, suaranya diatur serendah mungkin, memantul penuh wibawa di antara gemuruh langkah para penumpang yang bergegas masuk gerbong. "Mantel ini adalah pelindung dari angin fana yang membawa partikel debu dosa kota ini."
Lina memutar matanya malas, lalu mendorong punggung Dika agar segera menaiki tangga besi Gerbong Eksklusif 3. “Halah, bilang aja lo gengsi karena kemarin udah terlanjur puji-puji ini mantel di depan kaca kosan!” batin Lina membalas, yang langsung membuat bahu Dika bergetar kecil menahan malu.
Begitu mereka duduk di kursi beludru biru nomor 7A dan 7B yang empuk, Dika melepaskan hela napas panjang yang sarat akan rasa syukur spiritual. Sandaran kursi yang bisa diatur kemiringannya itu terasa laksana bantalan awan surga tingkat lima bagi tulang belakangnya yang merana. Di luar jendela kaca yang tebal dan bersih, pemandangan kota tua perlahan mulai bergerak mundur seiring dengan merayapnya ular besi itu meninggalkan stasiun.
Roda-roda baja mulai menghantam sambungan rel dengan ritme yang dinamis—jedug-jedug, jedug-jedug—menciptakan getaran konstan yang merambat melalui lantai gerbong. Aroma pengharum ruangan beraroma kopi berpadu tipis dengan hawa dingin dari AC sentral, menciptakan atmosfer yang tenang namun sarat akan ketidakpastian tentang apa yang menanti mereka di ujung rel: Jakarta.
Dika menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, memejamkan mata. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan menit setelah kereta melewati batas pinggiran kota, Mata Takdir di balik kelopak matanya mendadak menyengat panas.
Denyut. Denyut. Denyut.
Rasa panas itu mengalir cepat, sewarna emas purba yang mendidih. Dunia di sekeliling Dika seketika luntur menjadi lanskap monokrom. Seluruh penumpang di dalam gerbong berubah menjadi siluet abu-abu yang bergerak lambat laksana patung lilin. Di tengah keheningan mistis itu, Dika melihat sesuatu yang janggal merayap dari arah saluran udara di langit-langit gerbong.
Seutas benang takdir berwarna ungu kelam—jenis warna beracun yang sama dengan yang melilit leher Baskoro kemarin pagi—menyembul keluar, meliuk-liuk di udara malam laksana tentakel gurita gaib. Benang itu membawa aroma sangit yang pekat, bau dupa murah berbaur dengan anyir darah ayam cemani yang merangsang indra penciuman spiritual sang mantan dewa.
Mata Dika mendadak terbuka lebar, pendar emasnya menyala tipis, memancarkan aura dingin yang membuat suhu di sekitar kursi nomor 7 langsung turun beberapa derajat hingga membuat Lina menggigil spontan.
“Cakar takdir dari hulu...” bisik suara batin Dika, kali ini sepenuhnya sunyi, tajam, dan kehilangan unsur komedinya. Aura kemurkaan seorang penguasa jagat yang tersisa bangkit perlahan. “Baskoro benar-benar bergerak cepat. Bajingan tua itu tidak menunggu kita sampai di Jakarta. Dia telah menggunakan jasa seorang dukun modern di ibu kota untuk melemparkan kutukan pengikat takdir melalui media angin dan udara kereta ini. Mereka ingin mengunci aliran darah gue agar gue mati karena henti jantung sebelum kereta ini sampai di Stasiun Gambir!”
Lina menoleh cepat, merasakan perubahan atmosfer yang mencekam. Ia melihat jemari Dika yang mencengkeram erat sandaran tangan kursi hingga kain beludrunya berkerut parah. "Dika? Ada apa? Muka lo pucat banget!"
"Duduk diam di tempatmu, Lina. Jangan menyentuh aliran udara di atas kepalamu," perintah Dika, suaranya sangat rendah namun mengandung tekanan emosional yang mutlak, membuat Lina terpaku di kursinya dengan jantung yang berdegup kencang.
Di mata batin Dika, benang ungu beracun itu kini mulai meluncur turun, mengarah tepat ke arah ubun-ubun kepalanya laksana sebilah belati gaib yang siap menghujam kesadaran spiritualnya. Jaraknya hanya tersisa beberapa jengkal.
“Sialan... energi gue baru pulih lima belas persen dari makan steak kemarin!” umpat batin Dika yang asli mulai panik di balik topeng ketenangannya. “Kalau gue pakai jentikan maut lagi, pinggang gue beneran bisa lumpuh permanen! Tapi kalau gue diemin, ini kutukan bau kemenyan bisa merusak kaos biru andalan gue yang ada di dalam koper! Nggak bisa dibiarin, dukun kota metropolitan harus dikasih paham bedanya ilmu hitam lokal sama jalinan takdir langit!”
Dengan gerakan yang sangat halus dan lambat agar tidak menarik perhatian penumpang lain, Dika mengangkat tangan kanannya. Dua jarinya—telunjuk dan jari tengah—merapat, membentuk formasi pedang gaib yang biasa ia gunakan untuk membelah bintang di alam atas. Sisa-sisa energi emas purba dikumpulkan di ujung jemarinya, menciptakan pendar tipis yang tak kasat mata bagi manusia fana.
Tepat saat ujung benang ungu itu menyentuh sehelai rambut Dika, ia menjentikkan jarinya ke atas udara kosong.
Ting!
Sebuah suara berdenting yang sangat halus, sewarna genta perunggu kuno yang diketuk di tengah kesunyian malam, bergaung di dimensi spiritual. Jentikan jari Dika tidak menghancurkan benang itu, melainkan memotong simpul utamanya dan membalikkan arah alirannya dengan sudut kemiringan takdir yang presisi. alur energi kutukan itu mendadak patah, berbalik arah dengan kecepatan tiga kali lipat, melesat kembali menembus langit-langit gerbong, mengikuti jalur frekuensi gaib menuju sang pengirim di Jakarta.
Di saat yang sama, ratusan kilometer di sebuah ruangan apartemen mewah di kawasan kuningan, Jakarta Selatan, seorang pria paruh baya berambut gondrong yang sedang merapalkan mantra di depan sebuah cawan kuningan mendadak tersedak. Mata sang dukun melotot parah, sebelum akhirnya memuntahkan darah hitam pekat yang mengotori seluruh sesajen di depannya. Cawan kuningannya retak menjadi dua bagian dengan suara hantaman yang nyaring.
Kembali ke dalam gerbong kereta Argo Lawu, Dika menurunkan tangannya perlahan, menyusupkannya kembali ke dalam saku mantel wol hitamnya. Wajahnya tetap sedatar dinding batu, namun napasnya tersengal tipis.
“Hahahahaha! Mampus lo, dukun langganan koruptor! Rasakan itu serangan balik takdir tingkat tiga!” sorak batin Dika dengan kepuasan yang luar biasa konyol. “Tapi astaga... pinggang gue beneran bunyi 'kletuk' barusan! Aduh, linu banget demi langit dan bumi! Lin, buru-buru ambilin balsem otot yang ada di kantong depan ransel lo dong, gue udah nggak kuat ini, seluruh punggung gue berasa kayak disengat tawon satu sarang!”
Lina yang melihat pendar emas di mata Dika meredup digantikan oleh air muka pemuda kos-kosan yang sedang menahan tangis, langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Rasa tegang yang sempat mencengkeram dadanya buyar seketika, berganti dengan rasa gemas yang tak tertahankan.
"Iya, iya, ini balsemnya," bisik Lina geli sembari merogoh ranselnya dan menyelipkan sebotol kecil botol balsem panas ke dalam genggaman tangan Dika yang gemetar. "Makanya, lain kali kalau mau bertarung gaib, pemanasan dulu, Kaisar Naga. Jangan sampai menang tarung tapi kalah sama encok."
Dika hanya mendesah pasrah, menggenggam botol balsem itu laksana memegang pusaka paling berharga di semesta, sementara kereta terus melaju kencang menembus horizon pagi, membawa mereka semakin dekat ke dalam jantung badai Jakarta.