NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Marmer dan Aroma Basil

Sloane masih duduk bersimpuh di atas lantai marmer kamar Alistair yang baru saja ia pel hingga mengkilap. Di depannya, kotak kayu tua itu terbuka, memperlihatkan sisi lain dari sang penguasa London yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Foto-foto itu menceritakan kisah seorang bocah lelaki dengan setelan jas mini yang duduk sendirian di meja makan panjang, atau berdiri kaku di depan jendela besar menatap hujan tanpa ada seorang pun di sampingnya.

"Jadi, kau memang sudah kaku sejak kecil, ya?" gumam Sloane pelan. Jari jemarinya yang masih terbungkus sarung tangan karet tipis mengusap permukaan foto.

Ia membaca kembali catatan itu: "Mansion ini terlalu luas untuk satu orang."

Sloane merasakan denyut nyeri di dadanya. Ia tahu rasanya kehilangan keluarga, ia tahu rasanya berdiri di tengah puing-puing dan menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk pulang. Namun, ia tidak menyangka bahwa pria sekuat Alistair—pria yang bisa menggerakkan ribuan anak buah dengan satu jentikan jari—ternyata merasa begitu kecil di dalam rumahnya sendiri.

Brak!

Suara pintu utama di lantai bawah tertutup dengan keras. Alistair sudah pulang lebih awal.

Sloane tersentak. Dengan gerakan ceroboh yang khas, ia mencoba memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam kotak, namun tangannya justru menyenggol tumpukan foto hingga berserakan di bawah tempat tidur.

"Aduh! Tanganku benar-benar tidak bisa diajak kompromi!" Sloane merangkak ke kolong tempat tidur, mencoba memungut foto-foto itu dengan panik.

Langkah kaki Alistair yang berat dan teratur terdengar menaiki tangga. Tap. Tap. Tap. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya sendiri yang terbuka.

Alistair Thorne berdiri di sana. Ia melepaskan kacamata bacanya, matanya yang biru tajam langsung menangkap sosok Sloane yang hanya terlihat bagian kakinya saja dari bawah tempat tidur.

"Nona Sterling. Secara administratif, pembersihan kolong tempat tidur seharusnya sudah selesai tiga jam yang lalu berdasarkan jadwal operasional Anda," suara Alistair terdengar dingin, namun ada nada penasaran di sana.

Sloane merangkak keluar dengan wajah merah padam dan rambut yang sedikit berantakan. Di tangannya, ia memegang kotak kayu itu. "Aku... aku tadi... sedang melakukan audit debu tingkat lanjut! Dan aku tidak sengaja menemukan kotak ini!"

Alistair membeku saat melihat kotak itu. Ekspresinya yang kaku mendadak berubah menjadi sangat tegang. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, auranya berubah menjadi sangat defensif. "Berikan kotak itu pada saya. Itu adalah properti pribadi yang seharusnya tidak anda sentuh. ini adalah rahasia tingkat tinggi."

Sloane berdiri, memeluk kotak itu di dadanya. "Kerahasiaan apa? Ini cuma foto! Kenapa kau harus menyembunyikan wajah kecilmu yang lucu itu di bawah tempat tidur? Kau takut kuman-kuman melihatmu sedang cemberut di hari ulang tahunmu?"

Alistair terdiam. Ia menatap Sloane, lalu menatap kotak itu. Ia merasa telanjang secara emosional. Baginya, foto-foto itu adalah bukti kelemahannya—bukti bahwa ia pernah menjadi manusia biasa yang merindukan kasih sayang.

"Berikan, Sloane," suara Alistair merendah, kali ini tidak kaku, tapi terdengar... rapuh.

Sloane melihat perubahan itu. Ia tidak lagi ingin mengejek. Ia mendekati Alistair dan menyerahkan kotak itu dengan sangat lembut. "Alistair... rumah ini memang terlalu luas kalau kau hanya mengisinya dengan peraturan dan jas kaku. Tapi sekarang ada aku di sini. Kau tidak akan bisa merasa sepi lagi karena suaraku akan memenuhi setiap sudut ruangan ini sampai kau bosan."

Alistair menerima kotak itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Sloane. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata apa-apa. Kalimat Sloane barusan meruntuhkan tembok pertahanan yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

"Anda... terlalu berisik secara operasional," gumam Alistair, namun ia tidak melepaskan tangan Sloane. Ia menatap gadis di depannya dengan tatapan yang dalam. "Tapi... mansion ini memang terasa sedikit lebih... sempit sejak Anda datang. Dan saya rasa itu adalah variabel yang bagus."

Wajah Sloane memanas. Ia segera menarik tangannya dan berpura-pura sangat sibuk merapikan selimut Alistair. "Sudahlah! Jangan bicara puitis, itu tidak cocok dengan wajah kulkasmu! Sekarang, karena kau sudah pulang awal, kau harus membantuku di dapur. Aku mau masak pasta pesto, tapi aku tidak tahu cara menghancurkan daun basilnya tanpa membuatnya meledak!"

Alistair berdeham, mencoba mengembalikan citranya. "Menghancurkan basil adalah masalah tekanan mekanis. Saya akan membantu Anda untuk mencegah terjadinya insiden kebakaran jilid tiga."

Dua puluh menit kemudian, dapur mansion Thorne kembali menjadi saksi bisu diplomasi antara gangster dan asisten rumah tangga. Alistair sudah menggulung lengan kemeja putihnya, tangannya yang terbiasa memegang senjata kini memegang lesung batu untuk menumbuk basil.

"Lakukan dengan gerakan memutar, Alistair! Kau menumbuknya seolah-olah kau sedang menginterogasi tahanan!" Sloane memarahi Alistair sambil menuangkan minyak zaitun.

"Saya sedang menerapkan tekanan konstan agar sarinya keluar secara optimal," jawab Alistair kaku.

"Pakai perasaan! Bayangkan basil ini adalah... adalah sesuatu yang kau sayangi!" Sloane tanpa sadar berkata demikian.

Alistair berhenti menumbuk. Ia menatap basil di depannya, lalu melirik Sloane yang sedang sibuk merebus pasta. Sesuatu yang saya sayangi? pikir Alistair. Matanya tertuju pada Sloane. Jika ia harus membayangkan sesuatu yang ia sayangi, ia tidak perlu membayangkan basil. Ia cukup melihat gadis galak yang sedang mengomel soal suhu air di depannya.

"Saya... saya sedang mencoba," gumam Alistair pelan.

Sloane mendekat untuk mengecek hasil tumbukan Alistair. Karena jarak mereka yang dekat di depan meja dapur yang sempit, Sloane tidak sengaja menyenggol botol keju parmesan yang terbuka.

Srett!

Bubuk keju itu tumpah dan mendarat dengan sukses di atas sepatu pantofel Alistair yang sangat mengkilap.

Sloane membelalakkan mata. "Waaa! Keju parmesannya mendarat di sepatumu!"

Alistair melihat sepatunya yang kini tertutup bubuk putih. Ia baru saja akan bicara, tapi Sloane sudah berlutut di depannya, mengambil tisu dan mulai mengelap sepatu Alistair dengan panik.

"Maaf! Maaf! Aku benar-benar ceroboh! Aku akan membersihkannya sampai kau bisa bercermin lagi di sepatumu!" Sloane menggosok dengan semangat.

Alistair menatap puncak kepala Sloane. Ia merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengusap rambut gadis itu. Secara administratif, ini adalah momen yang sangat tidak profesional, namun secara emosional, Alistair sudah kalah telak.

"Nona Sterling... berhentilah. Sepatu ini bisa dibersihkan nanti," suara Alistair melembut.

Sloane mendongak, matanya bertemu dengan mata Alistair. Jarak mereka sangat dekat. Sloane bisa merasakan napas Alistair. "Tapi aku tidak mau ada noda di depan mataku, Alistair..."

Alistair mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu benar-benar mengusap pipi Sloane yang terkena sedikit percikan tepung. "Anda sendiri... adalah noda paling indah yang pernah masuk ke rumah saya, Sloane."

Sloane mematung. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia takut Alistair bisa mendengarnya. "Kau... kau baru saja merayuku dengan bahasa kaku itu?"

Alistair tersadar, wajahnya seketika memerah. Ia segera menarik tangannya kembali dan berdiri tegak. "Saya hanya melakukan observasi visual terhadap kondisi wajah Anda. Sekarang, selesaikan pastanya sebelum suhunya turun di bawah standar konsumsi."

Sloane tertawa kecil, suara tawa yang jernih. Ia berdiri dan kembali ke kompor. Namun, matanya menangkap sesuatu yang lain. Di atas kursi dapur yang berada tepat di jalur uap pasta, Alistair meletakkan jaket jas abu-abunya yang tadi ia lepas.

"ALISTAIR THORNE!!!"

Alistair tersentak hebat, refleks mengambil posisi waspada. "Apa?! Apakah ada serangan udara?!"

"ADA! SERANGAN UAP MINYAK!" Sloane menunjuk ke arah jas itu dengan spatulanya. "Kau menaruh jas wolmu di dekat kompor?! Kau mau jas mahalamu ini berbau bawang putih dan keju selamanya?! Apa kau tidak punya otak kebersihan sedikit pun?!"

Alistair menatap jasnya, lalu menatap Sloane yang kini kembali ke mode galaknya. Ia menghela napas panjang, namun ada binar bahagia di matanya. "Saya... saya lupa secara strategis. Saya akan memindahkannya sekarang."

"Gantung di luar dapur! Dan jangan berani kembali sebelum tanganmu bersih dari bau basil!" Sloane mendorong Alistair keluar dapur.

Alistair Thorne berjalan menuju gantungan jas, menggelengkan kepalanya pelan. Ia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak akan pernah tenang lagi, namun ia juga menyadari bahwa ia tidak pernah merasa sehidup ini. Mansion ini mungkin masih luas, tapi sekarang, diisi oleh suara Sloane, rumah ini tidak lagi terasa kosong.

Ia menggantung jasnya, lalu kembali ke dapur dengan satu tekad: ia akan memastikan mawar jalanan ini tetap berada di sisinya, tak peduli berapa banyak jas yang harus ia korbankan untuk dimarahi oleh Sloane setiap harinya.

To be continued.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!