Karya Jalur Kreatif
Anzel Ashakalif punya cita-cita menjadi dokter. Tapi keluarganya, terutama ayahnya tidak mengizinkan Anzel menjadi dokter karena kelemahan dan kemampuan Anzel yang sedikit. Bahkan keluarganya selalu melarang Anzel melakukan apa saja yang membuat malu keluarganya itu.
Suatu hari tanpa sepengtahuan keluarganya,Anzel mendaftarkan diri ke fakultas kedokteran, dia berjalan kaki dari rumah menuju universitas yang di inginkan karena jaraknya tidak jauh. Ketika pulang setelah mendaftar, tiba-tiba sebuah mobil menyerempetnya dengan sengaja hingga dia terpental ke selokan pinggir jalan.
Tidak ada yang tahu kejadian itu, Anzel pun tak sadarkan diri. Setelah sadar, dia ternyata di tolong oleh seorang kakek berjanggut panjang berwarna putih. Dia kaget ketika sadar berada di mana, sebuah laboratorium besar dan kuno.
"Siapa kamu?"
"Saya adalah seorang profesor. Kamu akan jadi seorang profesor yang sangat terkenal dan hebat dengan segala kemampuanmu dalam meracik apa pun, termasuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Mengakui
"Profesor Anzel Arshakalif?"
Ucapan Natasya membuat tuan Barraq penasaran dengan brosur di tangan anak gadisnya itu.
"Apa yang kamu baca, Natasya?" tanya tuan Barraq.
Natasya menoleh pada papanya, menyerahkan brosur berisi daftar nama ilmuwan yang mengikuti pameran tersebut. Tuan Barraq diam saja, dia ragu mengambil brosur di tangan anaknya.
"Nama kak Anzel ada di brosur ini papa, kalau penasaran kita cari apa yang kak Anzel pamerkan di sini," kata Natasya.
"Apa kamu yakin kakakmu ikut pameran ini? Jangan-jangan hanya namanya saja, hanya untuk sensasi agar dia masuk jajaran ilmuwan tersohor. Heh, memalukan sekali jika dia melakukan itu," ucap tuan Barraq.
"Terserah papa, aku malu lihat karya cipta kak Anzel. Kalau papa mau cari yang lain, bisa pergi sendiri saja. Aku mau mencari pameran milik kak Anzel," ucap Natasya meletakkan brosur di mejanya lagi.
Gadis itu melangkah pergi meninggalkan papanya yang masih berdiam diri di tempatnya. Memandang kepergian Natasya, tapi kemudian matanya beralih pada brosur yang tadi di pegang anaknya. Tangannya terulur mengambil brosur tersebut, membaca nama-nama ilmuwan yang mengikuti pameran.
Matanya meneliti dengan seksama, apa benar anaknya Anzel mengikuti pameran IT itu? Dan benar saja. Nama Anzel ada di urutan ke dua puluh dengan jumlah nama ilmuwan lima puluh orang, termasuk profesor Ghaaziy. Yang lebih mengagetkan tuan Barraq itu nama Anzel ada tambahan titel di depannya profesor Anzel Arshakalif.
Tidak menyangka anaknya sekarang jadi profesor, dia tidak kuliah tapi sudah di juluki profesor. Tuan Barraq hanya menatap brosur di tangannya saja, menarik napas panjang kemudian meletakkan brosur itu di mejanya kembali.
Dia lalu berjalan memasuki lorong museum, melihat di sisi lorong kanan kiri yang banyak di tempeli lukisan di temboknya. Baru setelah melewati lorong itu, laki-laki yang masih terlihat gagah meski usianya sudah menginjak kepala hampir enam puluh tahun berhenti di depan ruangan yang cukup luas. Banyak sekali berbagai macam hasil karya yang berjejer, juga ada etalase yang memajang berbagai alat teknologi juga.
Tuan Barraq terus melangkah mrnuju ruangan lebih besar lagi, di sana juga ada spanduk besar akan di adakan pelelangan barang. Serta penjelasan mengenai hasil karya para ilmuwan yang waktu dan tempat penjelasan para ilmuwan itu sudah di tentukan.
"Papa mau lihat karya kak Anzel?" tiba-tiba putrinya berdiri di sampingnya.
Natasya menunggu persetujuan papanya, dia tahu papanya belum menerima kemampuan dan kecerdasan anak keduanya. Kakaknya, Anzel Arshakalif.
"Di mana karya Anzel di pamerkan?" tanya tuan Barraq membuat Natasya melebarkan matanya.
Tapi dia pun tersenyum, dia menunjukkan arah di mana karya kakaknya di pamerkan itu.
"Mari pa, aku antar. Karya kak Anzel ada di ruangan sebelah, itu kumpulan karya-karya ilmuwan terkenal termasuk karya milik profesor Ghaaziy," ucap Natasya.
Tuan Barraq mengikuti kemana langkah anak gadisnya itu. Pandangannya terus menyapu segala benda yang di pamerkan, di sana juga terdapat panitia yang siap memberi penjelasan ketika pengunjung bertanya tentang karya yang di pajang tersebut.
Natasya mendekati sebuah tempat yang agak memojok, terdapat dua robot dengan petugas yang akan menjelaskan cara kerja robot tersebut.
"Ini karya kak Anzel pa, aku sangat suka dengan karya kak Anzel. Dia sangat hebat sekali, bukan hanya bisa meracik obat yang mujarab. Tapi juga membuat robot juga dan robotnya bisa di manfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kekurangan gerak melakukan kegiatan sehari-hari," kata Natasya menjelaskan pada papanya penuh semangat.
Tuan Barraq hanya diam saja, dia masih memperhatikan robot-robot hasil karya anaknya itu. Ada kekaguman dalam hatinya dengan pencapaian anak keduanya itu. Meski sejak kecil Anzel selalu di abaikan dan di sisihkan, tapi nyatanya dia lebih dulu sukses dari kedua anaknya Mervin dan Natasya. Bahkan melesat begitu jauh dengan semua karya ciptanya.
"Kapan akan ada seminarnya?" tanya tuan Barraq pada petugas yang menjaga robot milik Anzel.
"Satu minggu lagi tuan, nanti akan ada banyak para ilmuwan yang akan menjelaskan karyanya itu. Termasuk pencipta robot ini, profesor Anzel," jawab petugas itu dengan tersenyum ramah.
"Ooh, begitu ya."
"Ya, anda bisa memesan tiket untuk mendaftarkan diri jika ingin hadir dalam seminar itu," kata petugas itu lagi.
"Di mana saya memesan tiketnya?" tanya tuan Barraq.
"Tiketnya terbatas, jadi anda harus cepat membeli tiketnya tuan. Nanti dalam seminar itu juga ada pelelangan benda-benda yang ada di museum ini, dan bisa juga karya dari ilmuwan lainnya."
"Baiklah, saya akan hadir. Saya akan membeli empat tiket," kata tuan Barraq.
"Baik tuan, mari saya antar untuk pemesanan tiketnya," kata petugas itu.
Tuan Barraq mengikuti kemana langkah petugas pameran yang akan mengantarkannya memesan tiket seminar. Natasya melihat papanya pergi mengikuti petugas merasa heran, dia pun mengikuti juga kemana papanya melangkah. Dan papanya berhenti pada resepsionis, dengan pembicaraan yang kurang jelas. Natasya akhirnya menghampiri papanya dan bertanya.
"Papa sedang memesan sesuatu?" tanya Natasya.
"Papa memesan tiket untuk seminar minggu depan, katanya akan ada seminar juga di sini," jawab tuan Barraq.
"Benar itu pa, tapi apa benar papa ingin mrnghadiri seminar itu? Kalau tidak salah, kak Anzel juga akan hadir jadi pembicara juga," kata Natasya memastikan papanya tidak membatalkan niatnya memesan tiket karena ada Anzel ikut seminar juga.
"Ya, papa tahu. Setidaknya papa ingin melihat dia bicara di depan dengan menjelaskan apa yang dia buat itu," kata tuan Barraq.
Natasya terkejut, dia menatap tuan Barraq kemudian tersenyum. Ternyata papanya sudah menerima keberhasilan kakaknya Anzel, tinggal kakak sulungnya yang masih keras kepala tidak mau mengakui kejeniusan seorang Anzel Arshakalif.
"Jadi papa sudah mengakui kak Anzel dan menerimanya juga?" tanya Natasya memastikan.
"Ya, dia kakakmu dan anak papa juga Natasya. Sama sepertimu dan Mervin."
Setelah berkata seperti itu, tuan Barraq berlalu begitu saja setelah membayar tiket yang dia beli. Sedangkan Natasya kembali terkejut dengan ucapan papanya itu.
"Ini nona, tiketnya," kata petugas itu.
"Waah, papa ternyata sudah menyadari kalau kak Anzel adalah anak yang sangat di banggakan."
_
_
*********